Friday, October 13, 2017

Every Day -- David Levithan

Every Day, by David Levithan

My rating: 5 of 5 stars

Yep! I HEART this book so much, I wanna read the next book but caught up in another good book, so right now I am thorn between finishing my currently book or just grab Levithan's next book. Ough!!! Pada akhirnya gak ada yang dibaca. Semua diam di tempat. Ha-ha!

A, tokoh utama di buku ini, menjalani hidup yang tidak lazim selayaknya manusia biasa lainnya. Setiap hari, sejak dia dilahirkan, A berpindah-pindah raga dari satu manusia ke manusia lainnya. Biasanya, setiap hari akan berbeda orang. A tidak pernah menempati satu raga lebih dari sehari.

A berusaha menghindari keterlibatan perasaan terhadap orang-orang baru yang ditemuinya setiap hari, karena apa gunanya? Toh dia akan meninggalkan mereka juga, berganti ke raga orang lain. Dan A sudah belajar bahwa menginginkan keluarga adalah hal yang mustahil baginya. Sedih banget ngebayangin keadaan A ini.
I feel the universe is telling me something. And it doesn't even matter if it's true or not. What matters is that I feel it, and believe it.
Suatu hari, A bertemu Rhiannon. Seorang gadis yang raga pacarnya sedang dia tempati. Sejak pertemuan itu, dia selalu teringat Rhiannon dan keinginan untuk kembali bertemu sangat besar. Hingga A melakukan hal yang tak pernah dia lakukan sebelumnya: mencari tahu bagaimana bisa bertemu Rhiannon. A ingin sekali Rhiannon mengerti keadaannya, dan menerimanya dengan apa adanya. Bahkan saat dia berada di raga perempuan, Rhiannon masih mengenalinya. Ini membahagiakan banget! Saya jadi semangat membacanya dan ingin tahu apa kelanjutannya.
People take love's continuity for granted, just as they take their body's continuity for granted. They don't realize that the best thing about love is its regular presence.
Lalu, mulailah masa-masa di mana seorang perempuan berharap bisa mendapatkan lebih dari yang bisa diberikan A. Rhiannon mulai ingin memiliki hubungan yang 'normal', meski dia tahu mengenal A saja sudah tidak normal. Dan hal-hal lain yang memang menjadi kendala dalam hubungan mereka, tetapi A tetap ngotot ingin Rhiannon bisa kuat dan mereka jalan terus.
In my experience, desire is desire, love is love.
Lalu A berbuat kesalahan dengan meninggalkan tubuh yang di'hinggapi'nya di tengah jalan. Dan cowok itu, Nathan, merasa ada yang merasukinya, dan mulai mengontak A melalui email yang lupa dilog-out. Nathan pun mengejar A dan meminta penjelasan. Masalah mulai rumit dengan adanya pendeta yang ikut campur ingin mengetahui tentang A. Di sini, pandangan saya tentang A mulai berubah. Dan endingnya? CETAR!!! Did I say I HEART this book? You will, too! Baca deh... Seriously.
Answerless questions can destroy you. Move on.
Novel ini bagus banget, kutipannya banyak banget yang bisa diambil, dan ngena banget. Pokoknya BANGET. Kita akan bisa melihat sisi lain dari A dan menyelami perasaan manusia, yang kadang menjadi pertanyaan dasar setiap insan **eaaa, insan banget?**
All I get is tomorrow.