Sunday, March 25, 2018

Between Shades of Gray -- Ruta Sepetys

Between Shades of Gray, by Ruta Sepetys

My rating: 4 of 5 stars
“Have you ever wondered what a human life is worth? That morning, my brother's was worth a pocket watch.” 
Berapa harga nyawa manusia? Di jaman perang, nyawa seharga barang yang bisa ditukarkan saat itu. Yang sekiranya berharga, dan bisa menjamin kelangsungan hidup meski hanya beberapa jam, hari, minggu, bulan? Yang pasti, harganya sangat murah. Semurah siapa pun yang memiliki kekuasaan untuk mengambilnya.

Sebenarnya sulit sekali mereview buku ini. Karena sejak halaman pertama hingga halaman terakhir, saya seperti tersedot ke dalam cerita, menahan napas, takut untuk mereka, berharap bersama mereka, dan sedih bersama karakter yang ada di dalam buku ini. Ceritanya sangat terasa nyata, karena memang penulisnya mengalami jaman ini, dan dia mendapatkan banyak sumber cerita dan saudara dan keluarganya.

Tak beda jauh dengan buku Ruta Sepetys yang sudah saya baca, 'Salt To The Sea', buku ini juga mengisahkan tentang pengungsian di jaman perang dunia ke dua. Bedanya, tokoh dalam buku ini bukan pengungsian atau pelarian, melainkan orang-orang yang ditangkap dan dibuang ke Siberia. Karena dianggap menentang Stalin. Orang yang paling berkuasa saat itu.
“He threw his burning cigarette onto our clean living room floor and ground it into the wood with his boot.
We were about to become cigarettes.” 
Fokus pada Lina beserta adik dan ibunya yang ditangkap karena masuk ke dalam list. Ayahnya seorang dosen di sebuah kampus sudah ditangkap terlebih dahulu. Dan Lina hanya bisa berharap bisa bertemu dengannya di Siberia nanti, tujuan kereta yang mengangkutnya. Dalam kereta yang bertuliskan 'PENCURI DAN PELACUR', Lina berkenalan dengan Andrius, seorang pemuda yang seusia dengannya. Andrius hanya berdua dengan ibunya.

Kereta yang penuh sesak dengan orang itu membawa mereka berhari-hari, hingga mereka kehilangan jejak. Sudah berapa lama mereka di dalam kereta? Tak ada yang tahu lagi. Yang mereka tahu hanyalah, saat kereta berhenti, satu orang akan diperbolehkan turun untuk mengambil seember air bagi keperluan mereka segerbong. Dan jika ada yang mati, akan dibuang mayatnya saat pemberhentian itu pula.
“Was it harder to die, or harder to be the one who survived?”
Hingga tiba di satu stasiun, mereka dijajarkan perkelompok menurut gerbong masing-masing, lalu datang rombongan orang memeriksa keadaan grup. Jika sesuai mereka akan diangkut dengan kereta kuda ke tempat lain, yang tidak cocok akan dibiarkan dan mereka akan dinaikkan lagi ke gerbong kereta. Yap, mereka dijual untuk dijadikan entah apa dan di mana. Nasib mereka sepenuhnya ada di tangan tentara-tentara itu.

Tapi ada satu tentara yang sepertinya masih memiliki hati nurani. Tentara ini lah yang mengabarkan ke ibunya Lina tentang keberadaan ayahnya. Dengan berbekal info tersebut, Lina kerap menitipkan hasil karyanya, lukisan, gambar atau sketsa untuk dikirimkan ke ayahnya melalui tangan-tangan yang bersedia dititipkan. Dan Lina pun mencari kedamaian melalui gambar-gambarnya. Seni menyelamatkan jiwanya dari kehancuran.
“Paint it as you see it,' he had said in his lifetime. 'Even if it's a sunny day but you see darkness and shadows. Paint it as you see it” 
Kisah ini benar-benar 'gripping'. Mencekam, tak ada jeda untuk bernafas, pembaca akan dibawa tanpa jeda ke dalam penderitaan mereka. Hingga pada akhir cerita, saya merasa lembarannya terlalu sedikit untuk menceritakan apa yang seharusnya masih bisa diceritakan. Saya pikir saya sudah cukup dengan kisah mereka, tapi saya mendapati diri saya menginginkan lagi, dan lagi. Tapi tidak hanya cerita mencekam, ada sisipan romans di dalamnya. Bibit kasih sayang yang mulai tumbuh antara Lina dan Andrius, menjadi udara segar di antara sesaknya dada saat membaca buku ini.

Saya akan mencari buku-buku Ruta Sepetys lainnya. Dan berharap novel fiksi sejarah akan terus dibuat karena sangat menarik membaca kisah di jaman yang lampau.
“You stand for what is right, without the expectation of gratitude or reward.”