Tuesday, December 04, 2018

The Screaming Staircase -- Jonathan Stroud

The Screaming Staircase by Jonathan Stroud

My rating: 4 of 5 stars

Suka pake banget! Sebenarnya sudah lama lihat seri ini bertebaran di mana-mana: di daftar bacaan orang di goodreads, di foto-foto instagram, juga di blog-blog reviewer buku. Tapi nggak kepingin baca karena... Well, saya penakut. Nonton Susanna aja ogah! Dikirimin foto Susanna di grup wa langsung left. Ya gitu lah saking pengecutnya.
IG: @bookdragonmomma

Tapi trus lihat dipostingan IG teman, dan baca review orang-orang, kok semua bilang seru. Semua kasih bintang banyak. Jadi penasaran dong? Padahal library tempat saya kerja ngoleksi buku ini, dan siapa yang beli waktu itu? Ya the one and only me lah! Kocak ya? Belum lagi buku serial sebelumnya yang sepertinya booming banget: Bartimaeus, menjadi buah bibir di kalangan pembaca. Jadilah makin panasaran.
“I wasn't pretty, but as my mother once said, prettiness wasn't my profession.”
Anyway, enough with the-i-can't-believe-i-missed-it story, langsung aja ke point ya, yakni novelnya itu sendiri. Ceritanya seru, gak biasa topiknya, yakni tentang agen pembasmi hantu. Diceritakan dari sudut pandang Lucy, seorang anggota baru di agen Lockwood and Co. Cara pandang Lucy simple aja tapi pengamatannya akurat. Saya ketawa sendiri membaca beberapa deskripsinya tentang George. Yah dia memang tidak suka George, karena kesan yang diberikan kurang baik. Wajar sih ya. Mungkin di buku selanjutnya lebih halus pendeskripsian tentang si mahluk gembul ini. 
“Really?"
"No. I'm being ironic. Or is it sarcastic? I can never remember."
"Irony's cleverer, so you're probably being sarcastic.”

George sangat suka riset, Dia itu pemustaka sejati :D hehehe sebagai pustakawan tentu saya bahagia jika ada karakter (manusia hidup, atau di novel) yang menganggap perpustakaan sebagai tempat paling penting dalam hidup mereka. Di setiap kasus yang akan mereka hadapi, George pasti langsung mencari tahu sejarah rumah yang akan mereka datangi, pemiliki rumah, dan orang-orang yang berada di sekitar tempat berhantu tersebut. Karena tidak jarang, hantu yang 'galak' malah bukan hantu yang dimaksud klien.

IG: @bookdragonmomma
Lockwood sendiri orangnya sepertinya santai namun sebenarnya dia pemimpin yang hebat. Saya suka gayanya yang cool tapi penuh spekulasi. Jelas dia sangat melindungi anggotanya. Trus jalan ceritanya sendiri saya suka. Meski selalu ngeri sedap kalo ada penampakan, tapi di tengah momen serius ada aja yang bisa saya tertawakan. Jadi gak terlalu serem (meski t e t a p serem). Di buku pertama ini, mereka menyelesaikan beberapa tugas sekaligus, namun ada dua kasus besar yang harus mereka pecahkan. Yang satu hantu dari masa lalu, seorang gadis yang terbunuh namun mayatnya hingga 50 tahun kemudian tidak pernah ditemukan. Dan satu kasus lagi adalah rumah tua yang terkenal apling berhantu di London. Mereka harus menghadapi gugus hantu kali ini. Jadi bukan cuma hantu sendiri-sendiri, melainkan gugus. mungkin bentar lagi ada istilah kelurahan atau kabupaten :D
“This is an interview, not a boxing match.”
Karena ini buku pertama, chemistry di antara mereka bertiga belum terlalu nyambung. Lucy masih suka melakukan kesalahan, memutuskan sendiri, dan menyimpan rahasia. Dan Lockwood tidak terlalu suka dengan hal tersebut. Beberapa kali Lucy bahkan kena teguran dan terancam dipecat, namun ternyata bakatnya lebih besar dari keteledorannya. Ya namanya juga baru kenal ya kan? Jadi masih ngetest kedalaman air lah istilahnya. Saya sangat mengantisipasi buku selanjutnya ☺️


IG: @bookdragonmomma