Showing posts with label frances hodgson burnett. Show all posts
Showing posts with label frances hodgson burnett. Show all posts

Wednesday, January 21, 2015

Little Lord Fauntleroy by Frances Hodgson Burnett

Little Lord Fauntleroy (Classic Starts Series)
by

My rating: 3 of 5 stars.

Cedric adalah anak berusia tujuh tahun yang tua sebelum usianya *hehe* Sebelum membahas soal Cedric dan kisahnya di buku ini, saya mau ngomentarin satu hal saja, kok sepertinya karakter anak-anak di novel klasik itu dewasa, empatik, cerdas, omongannya pinter, dan suka ngobrol sama orang dewasa ya? Seolah mereka ya itu, tua sebelum waktunya. Apakah karena memang begitu anak jaman dulu, atau keinginan terdalam penulis di jaman itu yang pingin anak-anak secerdas karangan mereka?

Anyway, Cedric tinggal berdua saja dengan ibunya yang dia panggil Dearest (karena bokapnya selalu manggil ibunya dengan sebutan itu) setelah ayahnya meninggal. Ayahnya adalah anak bangsawan di Inggris yang menikah dengan gadis Amerika, dan dicoret dari daftar waris karenanya.

Menurut aturan kebangsawanan di Inggris, gelar Lord (lalu Earl) itu hanya akan diturunkan ke anak pertama. Kalau anak pertama meninggal, diturunkan ke anak kedua, dan seterusnya. Nah berhubung Capten Errol (ayahnya Cedric) anak ketiga, maka dia pun nggak masalah dicoret dan nggak diaku anak sama Earl of Dorincourt (kakek Cedric).

Cedric tumbuh menjadi anak yang sangat ramah dan baik pada siapapun yang ditemuinya. Semua orang merasa spesial karena mengenal anak yang baik hati itu. Hingga suatu hari seorang pengacara dari Inggris datang dan menyampaikan maksud dan tujuan, bahwa Cedric adalah pewaris keluarga Earl of Dorincourt. Kedua abang dari ayahnya sudah meninggal dan tidak meninggalkan pewaris, hingga Cedric lah satu-satunya pewaris. Dan dia diminta pulang ke Inggris dan mendapat gelar Lord Fauntleroy.

Perubahan jalan hidupnya dari seorang anak Amerika menjadi anak bangsawan yang tinggal di kastil tidak membuat Cedric berubah sikap menjadi sombong. Dengan sifatnya yang easy-going dan baik hati, Cedric cepat menemukan teman di mana pun dia berada. Hanya saja satu yang membuatnya sedih: ibunya tidak tinggal di kastil bersama dirinya, melainkan tinggal di sebuah rumah tak jauh dari kastil tersebut. Kenapa? Dia pun tidak mengerti.

Hari berlalu, Cedric menjadi teman bagi kakeknya yang dikenal pelit, jahat, dan egois. Dengan kehadirannya, Earl of Dorincourt yang dikenal kejam perlahan hatinya melunak dan tanpa dia sadari mulai banyak berbuat baik karena Cedric selalu tersentuh melihat orang-orang yang susah. Sementara si kakek tidak mau cucunya menilai dia buruk, sehingga dia pun membantu orang-orang itu, meski pun dengan alasan Cedric yang menginginkannya. Orang-orang di sekitarnya merasa aneh dengan perubahan yang terjadi pada sang Earl.

Pada saat perayaan ulang tahun Cedric yang ke 8, pengacara keluarga Earl of Dorincourt membawa berita mengejutkan: Cedric bukanlah pewaris keluarga, melainkan ada anak lain dari anak pertama Earl of Dorincourt. Semua terkejut, bahkan Earl tidak rela mencopot gelar tersebut dari cucunya. Menurutnya Cedric adalah pewaris yang tepat. Kekacauan terjadi dan Cedric yang dari anak biasa, lalu menjadi Lord Fauntleroy, tiba-tiba menjadi anak biasa lagi.

Bagaimana kisah Cedric selanjutnya? Penasaran, kaaannn? Baca deh. Seru kok. Kalau nggak berani baca aslinya (tebel dan bikin keder seperti novel klasik lainnya) baca aja yang seri Classic Starts ini. Edisi singkat ini dilengkapi juga dengan tanya jawab di halaman belakang untuk bahan diskusi.

**

Review di Goodreads bisa klik di sini.


Monday, May 20, 2013

The Secret Garden -- Frances Hodgson Burnett (Abridged version by Martha Hailey DuBose)

The Secret Garden by



Akhirnya kelar juga baca buku The Secret Garden. Meskipun harus melahap yang versi abridgenya. Yang paling penting: kelar :D

Ceritanya tentang Mary yang tadinya tinggal di India, trus kedua orang tuanya meninggal karena kena wabah penyakit. Akhirnya Mary dikirim ke Inggris untuk tinggal dengan pamannya. Selama di India, Mary bersikap seperti anak-anak manja lainnya: egois, nggak peduli sama perasaan orang lain, semua kemauan harus dituruti. Ayah ibunya terlalu sibuk untuk memberi perhatian padanya, sehingga nggak heran kalau Mary jadi anak yang seperti itu.

Setelah tinggal di Inggris, pamannya ternyata juga orang sibuk yang selalu berpergian ke luar negeri. Mary nggak masalah karena memang dia biasa nggak dipeduliin juga kan? Well, akhirnya dia main aja gitu sendiri di kebun yang luas. Di malam hari, Mary suka mendengar suara-suara aneh, tapi kata Martha, pelayannya, itu hanya suara angin. Mary nggak percaya dan dia pun nekad mengeksplorasi rumah itu sendirian.

Selain mengeksplorasi rumah, Mary juga mengeksplorasi taman setelah mendengar bahwa ada sebuah taman yang ditutup selama sepuluh tahun karena majikan mereka menutupnya setelah istrinya meninggal. Suatu hari Mary menemukan sebuah kunci yang dia percaya adalah kunci ke taman rahasia itu. Dan seperti magic, angin menghembuskan tanaman ivy yang menutupi pintu ke taman itu dan Mary pun berhasil masuk ke taman itu. Mary ingin taman itu kembali hidup dan berbunga.

Mary meminta teman barunya, Dickon, yang tak lain tak bukan adalah abangnya Martha, untuk membantunya di taman tersebut. Mereka dengan rajin membersihkan dan menanam bibit bunga kembali. Mereka bekerja dengan rahasia.

Namun bukan hanya rahasia itu yang mereka jaga. Mary pun menemukan rahasia lain tentang suara di malam hari. Suara apa itu? Apa yang sebenarnya tersembunyi di rumah besar berkamar seratus itu? Apakah Mary bisa memecahkan misterinya?

Baca makanyaaa.. Biar nggak penasaran :D

Nice simple story.