Showing posts with label sinta yudisia. Show all posts
Showing posts with label sinta yudisia. Show all posts

Sunday, March 27, 2016

Bulan Nararya -- Sinta Yudisia

Bulan Nararya by Sinta Yudisia

My rating: 3 of 5 stars

Buku ini saya beli setelah saya membaca dan terpesona sama buku yang berjudul The Road to the Empire oleh penulis yang sama. Asli, saya terpesona dengan kisah di buku tersebut, sehingga tanpa ragu lagi saya pun mengambil Bulan Nararya di rak buku. Plus label Juara III Kompetisi Menulis Tulis Nusantara 2013 yang tertera di sampul depan, membuat saya makin semangat untuk membelinya. Meski baru saya baca dua tahun kemudian *grin*

Latar belakang penulis yang seorang Master Psikologi Profesi, membuat buku ini terasa banget aura psikolognya (emang ada ya aura psikolog?) Padahal dulu saat membaca The Road of Empire, saya pikir penulisnya lulusan Sejarah. *hehe* sebagus itulah mbak Sinta Yudisia. Saya salut dengan beliau.

Anyway, kisahnya diceritakan dari sudut pandang seorang psikolog, yang bekerja di klinik rehabilitasi untuk orang-orang yang mengalami gangguan skizophrenia. Di sana, Rara bergaul dengan orang-orang yang dianggap 'gila' oleh sebagian masyarakat yang tidak mengenal dekat para penderita gangguan tersebut. Dari pendekatan Rara, pembaca dapat merasakan apa yang dirasakan penderita skizophrenia melalui interaksinya dengan sesama pasien, dengan para terapis, dan juga dengan dunia luar.

Diceritakan bahwa Yudhis, seorang lelaki muda yang mengalami gangguan tersebut, mendapat treatment dengan melukis, dan saat kondisinya sudah makin membaik, terapis memberi pengobatan lain dengan cara melatihnya berkomunikasi dengan orang lain. Yudhis pun diminta untuk mengajarkan pasien lain untuk melukis.

Pasien kedua, Sania, menderita gangguan karena sejak kecil mendapat perlakuan kasar dari ayahnya. Setiap kali gugup atau marah, Sania akan mengompol dan kadang gadis itu bahkan membuka celana dalamnya tanpa dia sadari. Ini yang sedikit mengganggu saya, karena beberapa kali pernah mendengar perempuan dengan gangguan jiwa seperti itu tiba-tiba hamil, dsb. Apa ya yang ada dalam benak pria-pria bejat yang memerkosa perempuan dengan gangguan jiwa seperti Sania? *sedih*

Anyway, ada pula pak Bulan yang suka bercocok tanam bunga mawar, dan tidak suka jika ada yang menyentuh mawarnya. Bagaimana Rara menangani para pasien ini, dan proses menuju kesembuhan para pasien digambarkan dengan cermat dalam buku ini.

Rara yang seorang psikolog, tidak lantas terbebas dari masalah. Pernikahannya yang gagal, dan mantan suaminya yang kemudian berpaling ke perempuan lain, dan bagaimana dia mengatasi kesedihannya, membuat saya berempati pada Rara yang baik hati. Hingga kemudian muncul kejadian aneh yang membuatnya mengira telah menjadi salah satu pasien skizophrenia, Rara mulai goyah. Namun harga dirinya untuk meminta bantuan dari atasannya, membuat Rara sedikit kehilangan fokus dalam pekerjaannya. Mampu kah Rara mengobati pasien dan dirinya sendiri dari luka masa lalu?

Buku ini termasuk kategori berat buat saya, karena bahasa-bahasa klinis dan jargon psikologi yang tidak saya mengerti, membuat saya beberapa kali skip dan memutuskan untuk melanjutkan saja mencari drama hidup Rara. Tapi selebihnya, buku ini memang pantas menjadi juara dalam lomba menulis. Karena isinya sangat padat dan berisi.

**

Buku ini saya baca dalam rangka mengikuti Tantangan Baca GRI di bulan Maret yang bertema: buku karya penulis perempuan.

Saturday, November 07, 2009

The Road to the Empire -- Sinta Yudisia

The Road to the Empire The Road to the Empire by Sinta Yudisia


My rating: 4 of 5 stars

Baguusss banget! Sama sekali nggak nyesel bacanya. Meskipun sempet jiper liat bukunya yang tebal itu.

Buku ini mengisahkan perjalanan Takudar, pangeran pertama kerajaan Mongol selama masa melarikan diri setelah terjadi pemberontakan yang membuat Kaisar dan Permaisuri tewas terbunuh. Takudar, memegang janji ayahnya sang Kaisar bahwa dia akan menjadi seorang muslim, akhirnya memeluk agama Islam dan tinggal bersama orang-orang Muslim.

Sementara itu adiknya, pangeran kedua Arghun Khan naik tahta menjadi Kaisar karena Takudar dianggap mati. Arghun Khan yang didampingi seorang penasehat yang juga kemaruk harta dan kekuasaan, menjadi seorang kaisar yang lalim. Tak memperdulikan bahwa perang merusak segalanya. Yang dipedulikannya hanyalah bagaimana dia bisa menaklukkan semua daerah di Mongol seperti halnya Jengis Khan, leluhurnya.

Buzun, sang pangeran ketiga awalnya tak ingin berpihak pada siapapun. Dia hanya pasif saja meskipun hati kecilnya menolak kekejaman kakak keduanya itu. Dalam gundahnya Buzun pun mencari Takudar, sekedar ingin memastikan bahwa kakak pertamanya masih hidup atau jika sudah mati dia ingin mengetahui dimana kuburnya.

Akhirnya Takudar dan Buzun pun bertemu. Takudar yang sudah menjadi seorang muslim berprilaku sangat lembut, begitu pula sahabat-sahabatnya di Madrasah Babussalam. Namun Buzun yang saat itu masih belum bisa menentukan sikap, memutuskan untuk kembali ke ibu kota.

Peperangan antara kaum muslim dan tentara Kaisar tak terelakkan lagi ketika Takudar akhirnya menerima kenyataan bahwa Arghun Khan harus dihentikan karena penaklukannya sudah banyak menelan korban. Apalagi kaisar Mongol hendak membantai kaum Muslim. Takudar tak bisa berdiam diri dan mereka pun akhirnya berhadap-hadapan beradu pedang demi mencapai tahta kekaisaran. Seperti halnya perang yang memakan begitu banyak korban, pertempuran satu lawan satu pun mengambil korban nyawa meskipun sudah diupayakan agar tak lagi banyak korban yang berjatuhan.

Ceritanya sangat memikat, dan membacanya seperti menonton film kolosal bertema kerajaan Mongol yang gegap gempita. Apalagi penggambaran pertempurannya yang demikian dahsyat. It really IS a GOOD book :)

View all my reviews >>