Showing posts with label tere liye. Show all posts
Showing posts with label tere liye. Show all posts

Monday, October 15, 2018

Komet -- Tere Liye

Komet, by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

Aaahh suka-suka-SUKA sama seri ini. Komet adalah buku terbaru dari Seri Bumi yang ditulis sama Tere Liye. No wonder ya buku-buku beliau laris manis tanjung kimpul semua... (well, saya baru baca buku Tere Liye yang Angpao merah itu sih, sama seri Bumi ini deh!) Tapi dari seri Bumi ini aja nih, penggarapannya sepertinya nggak ngasal deh. Dunia paralel diceritakan berbeda satu sama lainnya. Jadi setiap dunia paralel itu deskripsinya unik, dan khas. *Eh, ngerti kan ya maksud saya? Soalnya nafsu banget ini pingin bikin review mumpung ada waktu dan masih inget :D*

Jadi, Raib, Seli dan Ali bermain-main lagi nih di dunia paralel. Kali ini, mereka bertiga diundang ke klan Matahari untuk mendiskusikan cara mencegah si Tanpa Mahkota merebut bunga matahari yang pertama mekar, untuk membuka portal ke klan Komet. Eh,s ebenarnya ada nggak sih klan Komet itu? Nah, ini yang jadi pertanyaan panjang dan selesai buku ini pun baru jelas di bagian akhir tentang si klan misterius ini.

Anyway, di saat-saat terakhir bunga matahari  mau mekar, si Tanpa Mahkota menyambarnya (semua panglima, Miss Selena, bahkan tiga remaja jagoan kita tidak ada yang mampu mencegahnya) dan lari menuju portal yang terbuka. Refleks, Ali mengikutinya masuk ke portal disusul Raib dan Seli. Mereka memang kemana-mana selalu bertiga, jadi kalau di sini diceritakan pergi bertiga lagi, ya memang harus begitu :D

IG: @bookdragonmomma
Mereka ternyata bukan masuk ke klan Komet, 
melainkan ke suatu tempat, di dunia paralel, tentu saja, yang terdiri dari pulau-pulau. Dan tebak pulau pertama yang mereka datangi? YAP! Pulau Hari Senin. Mereka bertanya tentang Komet, disuruh ke pulau hari Selasa, begitu selanjutnya sampai habis itu nama-nama hari. Kreatif banget kan? Jempolan deh Bang Darwis!

Selama mereka di pulau-pulau itu, atau saat menuju pulau-pulau itu, mereka menghadapi berbagai rintangan, termasuk monster laut dan bajak laut. Yang tentu saja berhasil mereka hadapi meski pun sulit. Hingga di pulau terakhir, mereka mendapatkan jawaban (atau malah bingung?) dari situasi yang mereka hadapi. Saya juga yang baca sempat mikir LAAAHHH? Jadi selama ini, mereka keder? :D Tapi tidak, saudara-saudara. Mereka tidak keder. Melainkan... bingung berjamaah :P

Pendeskripsian tiap-tiap pulau di dunia paralel antah berantah yang namanya juga nggak diketahui ini, berbeda-beda. Orang-orang yang menempati dunia paralel yang ini juga berprofesi beda-beda. Pokoknya masing-masing unik dan meski udah tahu nih mereka bakal menang kalo berantem, tetep aja deg-degan, takut mereka kalah.. uuuhhh.. kasian!

Anyway, jangan dikira mentang-mentang sudah buku ke-5 trus udahan ya? Masih ada lanjutannya, bro, sis... jadi silahkan menunggu bareng saya :D Eh, btw, itu Raib sama Ali gimana tuh? **angkat-angkat alis** :D

IG: @bookdragonmomma


Sunday, May 08, 2016

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah -- Tere Liye

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

Buku ini saya baca dalam rangka mengikuti #TantanganBacaGRI bulan Mei yang bertema: Membaca buku (minimal) 500 halaman. Jujur, saya punya buku ini sudah lama. Niatnya mau saya masukkan ke koleksi perpustakaan sekolah tempat saya kerja, namun ragu karena perpus itu untuk anak SD. Apakah tidak terlalu berat? Untuk memastikan iya atau tidaknya, saya harus baca, dong? Tapi tebalnya bikin gentar! Untunglah ada #TantanganBacaGRI dari komunitas Goodreads Indonesia, makanya saya pun mencomot buku setebal 507 halaman yang sudah mulai menguning kertasnya ini.

Kisah si bujang bernama Borno dimulai dari petualangannya mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazah SMA nya, yang tentu saja diharapkan bisa membawa penghidupan yang lebih baik baginya dan ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal, karena tersengat ubur-ubur dan di akhir hidupnya, bapak tetap berbuat baik dengan mendonorkan jantungnya untuk orang yang membutuhkan.

Borno memulai karirnya sebagai petugas tiket di dermaga kapal feri. Tak disangka, ternyata keputusannya itu membuat seseorang (yang pandai mempengaruhi orang lain) kesal. Bang Togar tidak terima Borno bekerja untuk perusahaan kapal feri, karena sebagai pengemudi sepit (rakit penyebrangan di sungai Kapuas) kapal feri hanya menghabiskan penumpang mereka saja. Borno pun diberi waktu 1 bulan untuk berhenti dari pekerjaannya, atau dia tidak diperkenankan menyebrang dengan sepit. Bang Togar bahkan mencetak foto Borno dan dilaminating, untuk ditempel di setiap dermaga untuk melarang Borno menyebrang menggunakan sepit. Boikot ini justru membuat Borno terkenal. Orang yang sering naik sepit pasti kenal siapa itu Borno. Maka saat ada kesempatan bagus untuk keluar dari pekerjaannya sekarang, Borno pun mengundurkan diri. Namun harap catat, itu bukan karena ancaman Bang Togar.

Setelah itu Borno mencoba berbagai macam pekerjaan serabutan, hingga akhirnya Borno mendapat pekerjaan yang seolah sudah menjadi takdirnya untuk bertemu dengan cinta sejatinya. Awalnya Borno menolak, namun ternyata beberapa orang yang dekat dengan bapaknya sudah berembuk, dan mencari saweran untuk membelikannya sepit. Borno terperangah sekaligus haru. Dia yang pernah diboikot para penarik sepit, kini malah menjadi penarik sepit.

Suatu hari, seseorang meninggalkan sebuah angpau merah di sepitnya. Selidik punya selidik, angpau itu milik seorang gadis yang berwajah cantik namun sendu. Borno pun jadi penasaran. Maka setiap pukul 7.15, Borno menunggu kedatangan gadis itu, mengupayakan agar si sendu menawan bisa naik sepitnya. Dia pun meminta penarik sepit di depannya bertukar posisi agar si gadis bisa pas naik sepitnya. Makin lama mereka pun saling kenalan, dan perasaan Borno padanya makin tumbuh.

Pic.credit: https://www.instagram.com/sylnamira/
Mei, demikianlah namanya. Memiliki senyum menawan, serta wajah cantik jelita, khas gadis Tionghoa. Tak ada satu pun rahasia yang berhasil disimpan Borno yang tidak diketahui orang di sekitarnya. Plus mulut ember Andi, maka semua pengemudi sepit tahu bahwa Borno menyukai seorang gadis penumpang sepit bernama Mei. Kocaknya, dengan kepolosan mereka, semua mendukung Borno dengan cara mereka sendiri. Bahkan pernah saat Borno hendak jalan-jalan dengan Mei, semua pengemudi sepit menolak penumpang karena ingin melepas Borno dan Mei. Lucu banget!

Namun, ternyata Mei memiliki banyak keraguan. Beberapa kali gadis itu mengecewakan Borno dengan tidak muncul di saat yang telah ditentukan, namun Borno berkat nasehat dari Pak Tua, menolak berpikiran jelek. Dia selalu berusaha untuk berpikir positif, namun sulit kala Mei memutuskan untuk pergi dari Pontianak. Usaha Borno selalu berujung tembok, ditambah lagi Papa Mei jelas-jelas menyuruh Borno pergi dan meninggalkan Mei, pada pertemuan pertama mereka.

Keraguan Mei yang sering membuat saya gemas dan berpikir, "apa Mei merasa Borno tidak pantas untuknya?" atau "Ih, sok kecakepan amat sih Mei!" dengan emosinya, ternyata menyimpan masa lalu yang sangat membebaninya. Jadi saya ngerti deh kenapa Mei begitu. Iya, beneran! **puk-puk Mei**

Persahabatan Borno dan Andi patut diacungi jempol. Saya suka kata-kata Pak Tua saat Borno marah karena Andi mengerjainya, "hanya sahabat sejati yang bisa melakukan itu pada sahabatnya." Dan saat bapak Andi kena tipu, Borno yang juga ketipu langsung bangkit dan menyemangati bapak Andi sambil bekerja dengan kemampuan yang dia miliki. Ah, pokoknya Borno keren, lah!

Nasehat-nasehat pak Tua tentang cinta untuk Borno juga cukup mumpuni untuk anak muda yang belum pernah jatuh cinta. Semua bikin adem, meski sesekali Pak Tua suka juga menggoda Borno saat anak muda itu jumpalitan karena Mei yang sikapnya seperti tarik ulur layangan.


Beberapa kutipan dari buku ini saya suka:

"...sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak." (hal. 133)

"Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan... kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta... tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi." (hal.168)

"Cinta sejati selalu menemukan jalan... Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya." (hal.194)

"Camkan ini anakku. Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri." (hal 479)

Kisah cinta Borno dan Mei, dipadukan dengan latar setting di Pontianak, tepatnya di tepian sungai Kapuas, sungguh sangat sedap diikuti. Ditambah lagi dengan deskripsi daerah serta kegiatan penduduk di sana, membuat novel ini sarat dengan kehidupan dan kebudayaan lokal.

Dan saya senang (akhirnya) berhasil menyelesaikannya.

Tuesday, December 10, 2013

Ayahku (Bukan) Pembohong -- Tere Liye


by



Read from October 21 to December 11, 2013 
 
I didn't finish the book. Sorry... I keep waiting and waiting to find out whether the dad was lying or not. While the boy (now a grown up man and married) thinks that his father told lies through his stories, the father (now a grandfather) keeps on telling the same stories to his grandchildren.

I read until half book, and still couldn't find out whether the man's thinking of his father being a liar is true or false. I should have known from the title that the father is not a liar. But how did the man find out about it? I want to know. But I still couldn't manage to finish the book. Maybe the time is just not right.

From what I've read, the way the author tells his story is amazing, as usual. He has a way with words and rich with vocabulary. I like his style. And perhaps I would try to read the book in the future, now that I've bought the book for the library collection.

Next, I want to try reading Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. My friend recommends this, and I also bought it for the library collection. This one thicker than the last one, but I hope I could find the time during Dec holiday to finish it. *hwaiting!*