Thursday, March 10, 2016

A Man Called Ove -- Fredrik Backman

A Man Called OveA Man Called Ove by Fredrik Backman

My rating: 4 of 5 stars

Got this book for free from NouraBooks publisher. Thank you!

Dari awal baca halaman-halaman pertama, saya sudah suka sama karakter Ove. Seorang lelaki tua, pensiunan, pemarah, tidak banyak bicara, sering menggerutu, jujur, memegang prinsip dengan kuat, dan fanatik sama satu merk. Kata-kata yang meluncur dari mulutnya bertaburan kata makian seperti 'sialan' dan 'bangsat'. Tapi itu tidak mengurangi keseruan saya membaca kisah Ove.

Diceritakan bahwa Ove yang sudah ditinggal mendiang istrinya, mengalami kesulitan hidup sendiri. Lelaki pemarah sepertinya sangat mudah membuat musuh di antara tetangganya. Bahkan sahabatnya sendiri pun bisa berbalik menjadi musuh jika tidak lagi sepaham dengannya. Fanatisme Ove pada mobil Saab, membuatnya masih bisa menolerir kendaraan Volvo milik sahabatnya. Namun saat Rune mengganti mobilnya dengan BMW, Ove merasa tidak lagi dapat berbicara dengannya.

Menjalani masa pensiunnya, Ove merasa kesepian. Tak ada lagi istri yang menemani, kesehariannya dihabiskan dengan inspeksi harian sekeliling perumahan, dan mencegah kendaraan berlalu lalang di dalam lingkungan perumahan karena, "begitulah peraturan sialannya!" Ove pun memutuskan untuk bunuh diri. Namun sayangnya (buat saya, lucunya) percobaan bunuh dirinya itu selalu tidak berhasil. Tiga kali mencoba dengan berbagai cara, tiga kali pula gagal. Bahkan salah satunya dia malah jadi pahlawan! :D

Lalu, tanpa diinginkannya, Ove berkenalan dengan tetangganya yang tidak bisa menyetir mobil. Tentu saja Ove harus mengajarinya. Dan kucing buduk yang hampir tidak berbulu dan sering disuruhnya minggat itu pun akhirnya malah menjadi temannya. Keanehan-demi-keanehan terjadi disekeliling Ove, seolah dirinya tidak diperkenankan mencabut nyawanya sendiri. Padahal betapa Ove sudah siap lahir batin untuk menyusul istrinya ke alam baka.

Namun ternyata, hidup menawarkan opsi lain padanya. Ove pun (di saat jeda percobaan bunuh dirinya) berusaha menyelesaikan masalah yang datang satu persatu, demi agar istrinya tidak memarahinya nanti saat mereka bertemu, jika ada sesuatu yang tidak beres yang dia tinggalkan di dunia. Ove berusaha meluruskan jalannya menuju kematian, namun kematian terus saja tertunda untuknya.

Perubahan pada diri Ove tentu saja tidak dirasakannya sendiri, namun dirasakan oleh orang yang berada di sekelilingnya. Mungkin menjadi tua juga berarti lebih terbuka, lebih toleransi, dan lebih menerima (meski sambil menggerutu) keadaan dan orang-orang di sekitar. Dan itulah yang terjadi pada Ove. Satu hal yang membuat saya hampir menangis terharu adalah saat Ove menghentikan pemuda bertato dari membunyikan klakson saat Parvaneh (perempuan hamil tetangganya, yang lagi belajar nyetir) tidak bisa memajukan mobilnya karena panik. Untuk seorang tua, Ove termasuk kuat karena memang kehidupan mudanya ditempa dengan bekerja keras.

Jika di bagian awal saya tertawa-tawa karena kata-kata Ove dan tingkah lakunya, di bagian akhir saya malah banyak terharu dan serasa ingin memeluk Ove. Dia adalah seorang pria tua yang kaku, namun hatinya selembut salju. Jadi inget sama bapak saya sendiri. Beliau kurang lebih seperti Ove (minus gerutuan) setiap saat ada saja yang dikerjakan di rumah: memasang lampu, membenarkan pintu, mengecat pagar, pokoknya selalu ada saja deh! Tapi itulah yang membuatnya istimewa. Bagi saya, bapak adalah orang hebat! He can do almost everything! You name it. Masak oke, jahit oke, betulin mesin oke, betulin rumah oke. Keterampilannya seimbang, tidak ada di matanya yang namanya pekerjaan perempuan dan pekerjaan laki-laki. Semua orang harus bisa melakukan semua hal! Itulah kunci untuk menjadi orang yang bermanfaat.

Balik lagi ke Ove, saya suka endingnya. Buku ini, meski kurang pas untuk bacaan anak dan remaja karena banyak kata makiannya, namun cukup menginspirasi. I love it!

View all my reviews
Post a Comment