Thursday, January 26, 2017

Wallbanger -- Alice Clayton

Wallbanger by Alice Clayton

My rating: 3 of 5 stars

Pertama kali melihat covernya, sempat berpikir, "euh, buku apa pula ini." Tapi penasaran. Hehe. Curiosity gets the best of me, dan akhirnya saya pun mulai baca bab per bab. Kisahnya tentang Caroline, seorang interior designer, yang baru pindah ke apartemennya di San Fransisco. Di malam pertama dia tidur di kamarnya yang baru itu, terdengar suara 'duk-duk-duk' dari balik tembok kamarnya. Seketika lukisan yang dia letakkan di atas headboard tempat tidurnya jatuh, menimpa kepalanya. Sementara suara duk-duk tadi berlanjut, ditambah suara erangan dari pasangan yang sedang... uo-oh, ngapain ituuuhhh...?

Caroline langsung gerah!!! Gimana nggak, dia bisa mendengar semua suara dari apartemen sebelahnya melalui tembok pemisah. Dan itu tidak hanya terjadi sekali, keesokan malamnya kejadian yang sama terjadi lagi, berturut-turut hingga 3 malam. Dan tidak hanya dengan seorang gadis, lelaki penghuni apartemen sebelah bercinta dengan 3 perempuan yang berbeda di tiga malam yang berbeda! WOW! Dan dari jeritan ketiga perempuan itu saat mereka mencapai puncak asmara mereka, Caroline jadi tahu nama pria itu adalah Simon. Dan Caroline menyebutnya Simon the Wallbanger.

Caroline yang 'gerah' akhirnya kesal dan menggedor pintu apartemen Simon untuk menyuruhnya meredam suara-suara apapun yang terjadi di sana. Maka setelah beberapa hari tinggal di apartemen barunya dan mendengar suara-suara misteri itu, Caroline akhirnya bertemu dengan Simon. Namun sayangnya, kostum Caroline saat itu nggak banget! Dan Caroline baru tahu ternyata Simon pun memberinya julukan untuknya setelah pertemuan pertama mereka itu.

Julukan tersebut diketahuinya saat mereka tak sengaja bertemu kembali di pesta boss nya Caroline, Jillian. Dan bukan hanya teman-teman Caroline tahu tentang julukan si Simon, teman-teman Simon JUGA tahu julukan Caroline. Eeaaa...! Skor satu sama, sister! :D

"Always take compliment, Caroline. Always take it for the way it was intended. You girls are always so quick to twist what others say. Simply say thank you and move on."

Mereka pun akhirnya setuju untuk gencatan senjata, ditambah teman-teman mereka saling suka satu sama lainnya, Simon dan Caroline pun bertemu dalam beberapa kesempatan dan mereka jadi makin akrab. Tapi namanya juga novel 'nakal', obrolan mereka nyerempet-nyerempet, meski sudah sepakat untuk jadi teman. :D Namun dialog-dialog yang mereka lontarkan satu sama lainnya lucu-lucu, utamanya dialog Caroline. Saya suka! Kocak, smart, dan lucu. Did I say kocak?

Sebagaimana pepatah Jawa, makin sering bertemu maka bisa jadi jatuh cinta, ya mungkin seperti itulah kisah mereka. Ceritanya sebenarnya ringan aja, plotnya juga lurus-lurus aja. Gak ada twist dalam cerita, misteri, pukulan mental, atau rahasia besar. Benar-benar novel ringan kok, cuma yang bikin gerah ya adegan di antaranya yang nggak biasa. Kipas dianjurkan, kalau perlu pasang AC full blast :p

Nah, untuk yang suka dengan bacaan agak 'menantang', boleh lah coba baca novel ini. Ada bumbu deskripsi tempat yang asik di Spanyol, juga makanan, kok. Jadi gak melulu tentang 'itu.' Ada juga selipan percakapan antara Caroline dan neneknya saat masih remaja. Sweet moment. Membayangkan Caroline yang suka memasak, dan Simon yang juga jago masak, bikin saya sedikit lapar dan pingin banget bisa bikin roti. Akankah itu terjadi? Entahlah...

Tapi terlepas dari soal masak-memasak, novel ini JELAS terlarang untuk anak di bawah umur, belum waktunya ya dek...! :D
Post a Comment