Monday, February 20, 2017

P.S. I Like You -- Kasie West

P.S. I Like You by Kasie West

My rating: 4 of 5 stars

I'm in love with this cute book! Kejadian Lily nulis lirik lagu di meja sekolah, trus ada yang melanjutkan lirik itu... OMG, itu terjadi pada saya saat di SMA! Saat itu tentu saja saya tahu kalau yang menulis di bawah lirik lagu yang saya tulis adalah senior. Sekolah kami memang ada kelas pagi dan kelas sore **eaa, semacam SD pagi dan petang aja ya** Tapi saya nggak nerusin nulis liriknya sih, soalnya dia bukan nulis lanjutan dari lirik lagu itu seperti yang terjadi pada Lily, melainkan ngeledek!

Nih, yang saya tulis, "Please release me let me go." *iya, lagu jadul*

Eh, dia nulis gini: "Emang siapa yang nahan, minta di release?"

Kan ngeselin!

Anyway, untungnya Lily nggak gitu. Dia beruntung banget ada yang ngelanjutin lirik lagunya, dan menemukan semacam teman pena. *udah lama banget nggak denger kata 'teman pena'* Padahal lagu yang ditulis Lily itu adalah lirik lagi band indie. Kebayang deh senengnya Lily mendapat teman yang punya kesukaan sama.
Who are you talking to?
Myself.
You do that a lot.
I know. I'm the only one who understands me.

Dari sebaris-baris kalimat, berujung ke surat-suratan, karena menulis di meja sepertinya memang nggak cukup lagi. Dan saya suka banget surat-suratan mereka. Mulai dari cerita yang ringan-ringan, hingga curcol, dan semua itu dilakukan secara anonimous, aka tanpa nama. Memang paling asik ya nulis ke seseorang tanpa nama, kita bisa menuliskan apa aja yang ada dalam benak dan rasa tanpa terbebani rasa malu dibanding curhat beneran ke orang yang kita kenal.

Dan begitulah Lily menjalani kehidupannya di kelas Kimia yang tadinya begitu menyebalkan buat dia, tapi sejak ada teman pena, Lily malah menunggu-nunggu kelas Kimia. Apalagi kalau bukan untuk membaca surat. Dan sepertinya teman penanya juga merasakan hal yang sama. Kasian juga si Mr. Ortega :D
The library is the birthplace of silence? Asked David.
All the words are being used by the books. When I was little, that's what I used to think. That people were told to be quiet so that all their words didn't get stolen by the books. 
Pic doc pribadi
Lily memiliki keinginan menjadi penulis lirik lagu, dan kemana-mana dia selalu membawa notebooknya yang berisi kata-kata yang dia dengar sehari-hari, berharap kata-kata yang dia kumpulkan itu akan terangkai menjadi kalimat dan lirik lagu yang indah. Sebelum mendapat surat dari teman misteriusnya itu, Lily sulit mendapatkan ide. Namun sejak surat-suratan dan membaca tulisan kocak-tapi-kadang-sedih dari teman penanya itu, Lily seolah kebanjiran ide. Bahkan di saat yang bersamaan, ada kontes menulis lirik lagu! WOW! Cucok, kan?

Membayangkan Lily dan proses kreatifnya, pasti tidak jauh beda dengan seorang penulis yang membutuhkan space sendiri. Namun apa daya, sekamar dengan seorang kakak dan dua adik yang masih kecil, Lily kesulitan menuangkan idenya ke dalam lirik lagu. Bahkan waktu untuk dirinya pun tak ada! Baru sebentar sepi, ada saja suara yang menggangu. Tapi yang saya suka, semenyebalkan apa pun adik-adiknya, Lily selalu memaafkan mereka, dan menyayangi mereka tanpa syarat. I love it!
If I hummed in the school hall on a Monday, would I get kicked for it? Mondays aren't for humming.
Awalnya Lily tak ingin tahu siapa teman penanya, tapi lama kelamaan, Lily jadi penasaran. Dan kesempatan untuk mengetahui siapa teman penanya itu datang saat seorang guru menyuruhnya mengantarkan paket ke Mr. Ortega. Ini kesempatan Lily untuk masuk ke kelas itu, dan mencari tahu siapa yang duduk di bangkunya. Whaaa...!!! Saya deg-deg-aaannnn...! Ini merupakan momen terheboh sepanjang sejarah, sodara-sodara! :D **lebaaayyyyy**

Hubungan Lily dan sahabatnya Isabel juga sweet banget. Mereka solid, dan tak tergoyahkan. Memang ada saat mereka bertengkar, namun persahabatan mereka selalu bisa melalui itu semua. Senang banget bisa punya sahabat yang seperti itu.
Hugs are full of magical healing power.
Meski Lily akhirnya punya lirik lagu, namun dia tidak memiliki rasa kepercayaan diri untuk menunjukkan liriknya ke siapa pun. Dalam hal ini SIAPA PUN! Bahkan ke sahabatnya, ke kakaknya, Lily tidak ingin berbagi lirik yang belum jadi. Belum lagi buntu ide yang sering menyerangnya membuat lirik lagunya nggak jadi-jadi! Euh, pusing juga ya jadi Lily :p *etapi saya kena writer's block selama bertahun-tahun sih, jadi yah toss kita, Lil** Lalu bagaimana dong dengan si teman pena yang berhasil mengeluarkan semua ide menulisnya? Apakah mereka akan berteman dalam kehidupan nyata mereka? Dan apakah Lily akhirnya akan berani menunjukkan lirik lagu buatannya?
I feel like if I hold things close, never share, then I never give anyone the opportunity to judge me.
Seru nih, kisah romantika remaja sekolah, selalu bikin saya senyam-senyum. Apalagi seperti yang saya sebut tadi di atas, kalau kejadian nulis-nulisan lirik di meja juga pernah terjadi sama saya, meski endingnya nggak sama sih **sedih** Etapi saya juga nggak tau ya siapa senior yang nulis di bawah tulisan saya, siapa tau orangnya gendut, botak, item, tukang tidur di kelas, hahahahaa! NGERI!

Pic credit: wishfulendings.com
Novel ini cucok sangat buat remaja, juga buat orang dewasa berjiwa remaja *nunjuk diri sendiri* dan tentu saja pengamat remaja semacam kak Seto **eh apa sih**:D Percakapannya menunjukkan kalau Lily bukan anak yang minderan, cerdas, dan asik. Kocak bahkan. Quotations bertaburan di novel ini, beberapa saya tulisan dalam kutipan. Akhirul kalam, enjoy the book! Gak bakal nyesel deh bacanya :))
You're my favorite way to pass the time. But time stands still when you're on my mind.
Post a Comment