Sunday, October 22, 2017

The Cuckoo's Calling -- Robert Galbraith

The Cuckoo's Calling, by Robert Galbraith

My rating: 3 of 5 stars

Strike adalah seorang detektif swasta yang bekerja untuk dirinya sendiri, alias dia adalah bos dari agensi detektifnya sendiri. Saat itu, agen detektifnya lagi sepi klien, ditambah dengan hutang yang menumpuk, putus dengan pacarnya, dan tak memiliki sekretaris, hidup Strike bisa dibilang amburadul. Sebagai seorang mantan tentara yang berhenti karena kakinya diamputasi, Strike mencari penghidupan dengan mengandalkan keahliannya menginvestigasi kasus-kasus dari klien yang datang padanya.

Robin, seorang gadis yang baru pindah ke London mengikuti tunangannya, dikirim ke agen detektif Strike oleh Temporary Solution, agen penyalur tenaga kerja. Dalam hatinya dia gembira mendapat kesempatan kerja bersama seorang detektif, karena cita-citanya di masa lalu adalah memiliki agen detektif sendiri, dan menjadi sekretaris dari seorang detektif cukup menghiburnya.

Suatu hari datanglah seorang pengacara yang memintanya menyelidiki kasus kematian seorang supermodel terkenal, Lula Landry, yang juga adik angkatnya. John Bristow mengatakan bahwa polisi menganggap kasusnya bunuh diri, namun dia tak mempercayai itu. Karena Lula adalah orang yang penuh optimistik dan disayangi orang-orang di sekitarnya.
The dead could only speak through the mouths of those left behind, and through the signs they left scattered behind them.
Mulailah Strike menyelidiki, mengumpulkan informasi dan menggali kehidupan Lula Landry. Dan menemukan petunjuk ke arah pembunuh Lula. Siapakah yang telah membunuh supermodel cantik itu? Apakah benar pelakunya adalah si pacarnya yang punya sejarah putus-nyambung itu?

Terus terang, saya berjuang keras menyelesaikan buku ini. Bukan ceritanya tidak menarik, melainkan kata-kata yang digunakan J.K. Rowling (yep, Robert Galbraith adalah pseudonym) nggak lazim saya baca di buku, sehingga harus mencari definisinya dulu, dan itu melelahkan.
He had found humor in darker places.
Belum lagi deskripsi yang berbunga-bunga dan (menurut saya kurang penting) membuat saya berkali-kali skip halaman dan berpikir, "ya udah sih, mana actionnya? I don't need to know about a wall decoration!"

Anyway, bagi penggemar cerita detektif, saya yakin pembaca akan langsung menebak-nebak siapa gerangan pembunuh Lula. Tapi saya? Saya mah ikutin aja bacaaaa sampe akhir, hingga pas detektifnya nunjuk si pembunuh, saya yang... "oh, dia?" *tepok jidat* Nggak ada sama sekali niatan buat ikutan nebak. Bacaaa ajah, terus bacaaa sampe akhirnya si penulis yang ngasih tau saya pelaku utamanya.
Unhappy is he whose fame makes his misfortunes famous.
Saya suka novel ini karena pemeran utamanya yang jauh dari kata sempurna. Gak ada tuh detektif ganteng, sekretaris cantik. Ya sih, Robin memang digambarkan cantik, dan Strike sebagai lelaki normal tentu saja sempat terpukau kala Robin menunjukkan kecantikan sekaligus kepintarannya. Namun untuk Strike sendiri, gambaran yang saya dapat adalah, lelaki bertubuh besar (mungkin yang cucok sebesar Hagrid di serial HarPot kali ya?) berjalan pincang karena kakinya yang diamputasi digantikan dengan kaki palsu yang terkadang menyebabkan nyeri dan komplikasi lainnya jika dibawa jalan jauh.


Kehidupan Strike sendiri jauh dari normal, seperti yang saya sebutkan di atas PLUS dia tinggal di dalam kantornya sendiri. Rupanya bagi orang luar, tinggal di kantor itu sama menyedihkannya dengan homeless. Padahal di Indonesia mah banyak rukan alias rumah kantor, yang kerja di situ iya, tinggal di situ juga iya. Ngapain malu? Yang penting nggak tidur di jalanan, ya nggak?


Terakhir, saya dengar novel ini akan dijadikan film. Tentu saja saya akan menontonnya, meski udah tau endingnya. Dan tentang sequel dari buku ini, mungkin saya tunda bacanya sampai tahun depan saja.
He liked Robin; he was grateful to her; he was even (after this morning) impressed by her; but, having normal sight and an unimpaired libido, he was also reminded every day she bent over the computer monitor that she was a very sexy girl.
Bagi pencinta cerita detektif, misteri pembunuhan, dan sedikit cipratan roman, boleh lah coba baca novel ini. Nggak nyesel deh! Beda banget tulisan mbak Rowling dengan yang di cerita fantasinya yang fenomenal itu. Ini beneran kisah detektif, dan yah.. jangan banding-bandingin lah! Genrenya benar-benar beda.


Post a Comment