Wednesday, February 28, 2018

Firegirl -- Tony Abbott

 Firegirl by Tony Abbott

My rating: 4 of 5 stars

Cerita semacam ini sangat menarik bagi saya. Simple, tapi bermakna. Yep, inilah buku Firegirl yang menceritakan tentang kehidupan anak-anak di sebuah kelas, yang berubah sejak mendapat teman baru.

Suatu hari, di kelas Tom masuk seorang anak perempuan dengan wajah dan sekujur tubuh meleleh karena terbakar. Tak ada yang ingin mendekat dengannya, dia ditempatkan di kursi paling belakang, dan saat berdoa bersama tak ada yang mau memegang tangannya kecuali Tom. Bahkan sahabat Tom mengolok-oloknya di belakang. Tom sebenarnya kurang suka mendengar teman-temannya mengolok Jessica, namun dia tidak melakukan apa pun untuk menghentikan olok-olokan mereka. Ya namanya juga anak-anak ya? Bisa apa mereka kalau teman-temannya ramean? Ketika sebuah foto jatuh dari tempat pensil Jessica, dan Jessica mengaku bahwa itu adalah adiknya, gosip tersebar bahwa Jessica memulai api dan menyebabkan adiknya meninggal dalam kebakaran.

ig: @bookdragonmomma 
Suatu hari, guru kelasnya meminta tolong Tom mengantarkan buku dan tugas-tugas ke rumah Jessica, karena gadis itu tidak masuk disebabkan harus menjalani serangkaian test di rumah sakit. Tom pun mendapat informasi baru tentang Jessica, dan lebih mengerti tentang gadis itu dan latar belakang mengapa wajah dan tubuhnya terbakar dari cerita ayahnya Jessica.

Sejak itu, Tom mulai mengajaknya ngobrol, dan berteman dengan Jessica. Sementara teman-temannya yang lain masih menolak berteman bahkan berbicara dengannya. Mereka takut dengan kondisi Jessica. Lagi-lagi, namanya juga anak-anak.

Ketika akhirnya Tom mulai terbiasa dengan kondisi Jessica, gadis itu berpamitan. Dan keadaan kelas kembali normal seperti sedia kala. Tapi, apakah benar sama? Apakah mereka semua sama seperti sebelum Jessica datang? Tom tidak. Dia merasa berbeda. Cara pandangnya terhadap sahabatnya, terhadap teman-temannya yang lain, dan terhadap orang yang berbeda dengannya.
On the outside it doesn't look like very much happened. A burned girl was in my class for a while. Once I brought her some homework. In class she said my name. Then she was gone. That's pretty much all that happened.
Memang belajar empati itu sulit, jendral! Tapi harus dibiasakan... Terkadang kita tidak sadar, menatap orang yang tampilannya berbeda dengan kita. Saya pernah tertangkap seorang murid dari Afrika, sedang menatap dia. PADAHAL, saya sama sekali nggak melihat dia. Tahu kan saat kita bengong, trus pandangan ngeblank, sementara kita melihat ke arah seseorang, padahal nggak lagi melihat dia! Nah, itulah yang anak itu rasakan. Hingga ketika dia bicara, "Look! She's looking at me. She's scared of me!" Saya tersentak dari bengong, dan tersadar bahwa ternyata saya sedang menatap anak itu. Saya jelaskan, namun dia seperti tidak mau menerima penjelasan apa pun. Sejujurnya, orang-orang yang berpenampilan 'beda' (mau itu karena kecelakaan, atau karena warna kulit, atau apa pun yang membuat mereka tampil beda) memang lebih sensitif terhadap orang lain. Istilahnya BAPER gitu deh. Merasa dilihatin, padahal nggak. Jadi memang rasa empati itu harus ditanamkan sejak anak masih kecil. Bayangkan, kalao tidak dilihatin aja baper, gimana kalau beneran dilihatin? Ya kan?

Perkembangan karakter Tom ke arah yang bagus, dengan usianya, dia bisa berempati dan memang membutuhkan waktu. Karena namanya juga anak-anak, ya kan? :D
Post a Comment