Showing posts with label historical fiction. Show all posts
Showing posts with label historical fiction. Show all posts

Wednesday, March 21, 2018

Salt to the Sea -- Ruta Sepetys

Salt to the Sea by Ruta Sepetys

My rating; 4 of 5 stars

"I wept because i had no shoes, 
until i met a man who had no feet."
Quote di atas menggambarkan betapa rasa kemanusiaan sangat kental di dalam novel ini. Kisah yang diangkat dari kejadian nyata yang dialami penulis saat keluarganya menjadi pengungsi di jaman perang dunia kedua ini memberikan porsinya untuk para pengungsi yang suaranya tak terdengar oleh media. Mereka yang harus berjalan ratusan kilo, menembus segala musim dan tempat berbahaya, demi mendapatkan tempat aman untuk keluarga.

Joanna, profesi suster, memiliki keahlian untuk menolong orang. Dan keinginannya untuk itu pun besar. Namun ada hal yang dia sembunyikan dari orang lain, yakni perasaan bersalah yang sangat mendalam. Hingga dirinya tak pantang mundur, bahkan seperti menantang kematian yang tak jua kunjung menjemputnya.
"How foolish to believe we are more powerful than the sea or the sky."
Alfred, seorang tentara yang dulu dikucilkan dari lingkungannya, tak memiliki teman, dan berusaha mendapatkan pengakuan hingga rela melakukan apa saja demi memenuhi dahaganya akan rasa hormat. Memendam rasa cinta pada seorang gadis, yang menjadikannya penyemangat dalam menjalani hari-harinya.

Florian, seorang seniman, ahli memalsukan apapun, yang bekerja untuk pejabat Jerman, kabur karena hati nurani yang bertentangan, dan keinginannya untuk kembali ke rumah, menemui ayahnya yang sudah memberinya peringatan tentang siapa sesungguhnya orang yang merekrutnya dan apa tujuannya, namun tak diindahkannya. Satu-satunya hal yang ingin dia lakukan adalah memohon ampun pada ayahnya, dan membalas dendam akan apa yang selama ini dilakukan atasannya, yakni memanfaatkan keahliannya untuk kepentingan pribadi para pejabat rakus.
"Just when you think this war has taken everything you loved, you meet someone and realize that somehow you still have more to give."
Emilia, seorang gadis Portugis, tanpa surat-surat yang bisa menerangkan siapa dirinya, tak bisa berbahasa Jerman, dan nyawanya terancam karena hal-hal tersebut, menyimpan satu rahasia besar dalam dirinya. Rahasia yang akan membawa siapapun yang mengenalnya, merasa sedih, simpati, dan ingin melindunginya.

Keempatnya bertemu dalam belitan takdir dalam perjalanan mereka menuju satu tempat: pelabuhan kapal yang akan membawa mereka menuju kebebasan, menuju tempat aman: Wilhelm Gustloff. Kapal dengan kapasitas terbatas yang diisi oleh ribuan manusia dengan hitungan berkali-kali lipat di dalam lambungnya. Kisah ini lebih tragis dari Titanic. Lebih tragis dari Tampomas. Ini adalah kisah yang akan terus menghantui hingga lembaran terakhir. Menghisap pembaca ingin segera mengetahui akhir cerita, namun ingin melambat-lambat karena tak ingin cepat berpisah dengan Joanna, Florian, Emilia, bahkan Alfred.
“Death, it seems, has a mind of its own.”
Belum lagi penyair sepatu, yang selalu mengucapkan kata-kata bijaknya yang berhubungan dengan sepatu dan manusia yang mengenakannya. Kata-katanya membuat kita berpikir bahwa memang ada orang yang memiliki kemampuan mengenal karakter orang lain dari sudut pandang mereka, berdasarkan keahlian yang mereka miliki.

Novel ini luar biasa! Saya sangat senang bisa 'crossing path' dengan buku ini. Nafas historical fictionnya sangat terasa, empati dan rasa kemanusiaan juga sangat kental di dalamnya. Kutipannya juga bagus-bagus dan menyentuh hati. Bisa lihat di website Goodreads.com. Pokoknya I LOVE  THIS BOOK!

Sunday, August 28, 2016

Something Wonderful -- Judith McNaught


Something Wonderful by Judith McNaught

My rating: 4 of 5 stars

Baru kenal sama Judith McNaught setelah direkomendasikan buku ini sama salah satu guru di sekolah. Ternyata ceritanya itu historical fiction yaa? Tapi full of romance. My kinda book ;)

Well, actually... saya nggak terlalu suka fiksi sejarah, tapi kalo dibumbui romance suka bangeettt!!! Seperti novel The Other Boleyn Girl by Philippa Gregory yang pernah saya baca, novel ini semacam guilty pleasure. Dan novel setebal 400-an halaman ini saya lahap hanya dalam waktu 2 hari saja. Yes! Segitunya :D

(Baca review The Other Boleyn Girl by Philippa Gregory)

Adalah Jordan, seorang anak Duke, calon pewaris titel Duke of Hawthorne, sejak masih muda sudah menjadi saksi ketidakharmonisan rumah tangga orang tuanya. Sepertinya perselingkuhan di jaman itu sangat lazim, bahkan menjadi prestise tersendiri jika ada istri yang berhasil bobo cantik bersama Duke. Jordan yang terbiasa dengan kehidupan tersebut menjadi tidak percaya pada ikatan pernikahan. Dia pun melanglang buana dengan memacari perempuan-perempuan yang 'aman', dalam arti bukan perawan ting-ting yang akan bisa menyeretnya ke dalam pernikahan, atau perempuan yang berharap lebih dari hubungan satu malam itu. Yang didekati adalah istri-istri orang yang hanya ingin bobo cantik bersamanya. Udah. Tanpa berharap lebih, tanpa komitmen.

Di sebuah desa, tinggallah seorang gadis bernama Alexandra, yang tinggal bersama ibu dan kakeknya. Ayahnya adalah seorang pejabat pemerintahan yang ganteng dan kaya, namun sering berpergian ke luar kota selama berbulan-bulan. Pulang ke rumah bisa dihitung dengan jari. Alexandra dan ibunya selalu berusaha mati-matian untuk membuat ayahnya betah di rumah. Meski ayahnya sering menyesali penampilan Alexandra yang jauh dari cantik, Alex berusaha menyenangkan ayahnya dengan belajar anggar, berburu, dan keahlian lainnya yang lazim dikuasai anak laki-laki. Dan terbukti, saat ayahnya meninggal (dan meninggalkan kegetiran teramat dalam bagi ibunya) Alex mensupport keluarga itu dengan keahliannya berburu untuk makan mereka sehari-hari.


Sepuluh tahun kemudian, Jordan yang sudah menjadi Duke, dan Alexandra bertemu tanpa sengaja. Saat itu Jordan akan dibunuh oleh bandit, dan Alex yang baru pulang dari pesta ultah temannya, menolong Jordan. Kejadiannya jadi lucu masa! Soalnya saat itu Alex mengenakan baju ksatria yang kaleng-kaleng gituuu.. Hahaha! Singkat cerita, Alex pingsan dan dibawa ke sebuah penginapan dekat situ oleh Jordan. Tapi dasar orang kampung, mereka disangka melakukan sesuatu dan reputasi Alex pun langsung rusak.

Tidak terima anaknya menjadi bahan omongan tetangga (keong racun!) mereka pun mendatangi rumah nenek Jordan tempat pria tersebut sedang berkunjung, dan menuntut agar Jordan menikahi Alexandra. Tentu saja awalnya dia menolak, namun setelah memikirkan reputasi Alex, Jordan pun menyadari kesalahannya dan menerima pernikahan tersebut. Niatnya, Alex akan ditaruh (barang kale!) di rumahnya di Devon, sementara Jordan akan tinggal di rumah keluarganya di desa lain dan bersenang-senang di London sama simpanannya. Hubungan mereka secara personal sebenarnya baik, karena Jordan juga berhutang nyawa pada Alex. Namun jadi agak baper saat dalam perjalanan, dan Jordan kepincut sama kecantikan Alex. (Dih, bahasanya.. kepincut)

Dan seperti pengantin baru lainnya, mereka pun akhirnya melakukan 'itu'. Padahal tadinya Jordan berniat menggauli Alexandra setelah beberapa tahun lagi (usia mereka terpaut 10 tahun. Bayangin nikahin anak usia 17 tahun!) Tapi yah namanya playboy cap kacang gongseng, akhirnya di hari ke empat, mereka pun resmi menjadi suami istri. Namun, malam harinya Jordan menghilang. Entah kemana. Dan Alex pun menjadi janda sebelum seminggu menjadi istri orang. Wak-waaaww!

Alexandra dibawa oleh Duchess (neneknya Jordan) dan dilatih untuk menjadi istri bangsawan yang pantas menyandang gelar sebagai istri Jordan. Tepat satu tahun kemudian, Alexandra pun diperkenalkan ke kalangan orang-orang kaya tersebut. Sayangnya, Alex menjadi tidak diterima karena melakukan kesalahan-kesalahan, dan di antaranya adalah memuji kecantikan dua wanita, yang ternyata adalah simpanan dan mantan simpanan Jordan! Kenyataan bahwa Jordan playboy yang suka main dengan istri orang pun menyakitkan hati Alex dan membuatnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dari Alex yang sopan dan baik hati, kini Alexandra menjadi penggoda. Pria mana pun bertaruh akan bisa menaklukkan istri Jordan sang playboy tersebut.

Hingga akhirnya Duchess tidak tahan akan reputasi Alex yang baru itu, dan menyuruh sepupu Jordan, Tony, yang sekarang menjadi Duke, untuk menikahi Alex. Dan di hari pernikahan tersebut... Jordan muncul! Dari mana aja sih Oom...? Alexandra yang awalnya sangat mengharap Jordan kembali, malah berbalik benci setengah mati dan ingin membatalkan pernikahan mereka. Nah lho! Gimana iniii...? Apakah mereka akan berpisah? Secara Alex sudah tahu belang suaminya di masa lalu. Atau mereka akan tetap bisa bertahan di masa-masa krisis kepercayaan seperti ini? Belum lagi kepala kepolisian membeberkan bukti yang menyudutkan Alex, bahwa dia lah orang yang berniat membunuh Jordan selama ini. Waaahhhh... complicated!

Novel tebal ini alurnya cepat, bikin baper dan penasaran setengah mati. Belum lagi saat karakter utama menduga-duga, salah info, dan memojokkan. Satu per satu rahasia yang terungkap bikin tambah baper! Aaah, pokoknya baca deh! Gak nyesel :D


Monday, February 08, 2016

Tiga Sandera Terakhir -- Brahmanto Anindito

Tiga Sandera TerakhirTiga Sandera Terakhir by Brahmanto Anindito

My rating: 4 of 5 stars

Novel ini termasuk dalam genre historical fiction, yang artinya berdasarkan kisah dalam sejarah, yang dibuat fiksi. Sebagai orang yang tidak suka baca koran (kecuali saat ada berita tentang diskonan) saya memang termasuk kudet (kurang update) dan cenderung nggak peduli sama kejadian di luar rumah. Apalagi yang nun-jauh di Papua. Namun berkat novel ini, saya jadi tahu kalau pernah ada kejadian penyanderaan yang dilakukan para sempalan OPM di sana.

Bab awal menceritakan tentang bagaimana penyanderaan itu dimulai, dan perintilan tentang militer. Saya terkejut sendiri saat menemukan diri saya enjoy membacanya. Saya pikir saya bakalan bosan, ternyata malah sulit berhenti membaca. Latar belakang pemeran utama diceritakan dengan pas, nggak lebay, dan sekadarnya. Lalu masuk musuh utamanya yang bernama Jenderal Enkaeri. Sejenak saya mikir saat baca nama itu. Ini seperti pelesetan NKRI, apakah ada hubungannya? Ternyata benar. Nanti di bagian akhir buku diceritain, kok. *udah mulai penasaran?* :D

Di tengah buku, sandera ternyata berhasil dibebaskan. Jumlah yang tadinya 5, berkurang 1, shingga yang diselamatkan ada 4 sandera. Oke, saya mulai mikir, "judulnya kan 3 sandera, kok yang selamat 4?" Ya udah, baca terus deh.. ini sandera udah selamat, kok buku masih tebal aja? Berarti masih ada sesuatu.

Benar saja, salah satu anak buah Nusa (pimpinan operasi pembebasan sandera) tertangkap, dan atasannya menyuruhnya membuat tim hantu. Keren! Saat Nusa dan Nona (perempuan yang diperbantukan di tim ini) mencari para tentara desersi untuk direkrut lagi, saya jadi inget film-film Amrik yang seperti ini. Suka banget, penulis tidak terkesan buru-buru, saya sangat menikmati adegan demi adegan yang disuguhkan novel ini. *kalau sekarang, udah penasaran banget nggak?*

Menjelang bagian akhir, jagoan ketemu jagoan dan berantem. Asli saya deg-deg-an saat membaca bagian akhir. Nusa harus berkelahi tangan kosong melawan Jenderal Enkaeri yang unggul dalam semua pertarungan tangan kosongnya. Beberapa kali saya nahan napas, takut Nusa dipiting *tutup muka* Belum lagi di tempat yang lain, anak buah Nusa yang cuma 4 orang itu bertempur melawan anak buah Enkaeri yang jumlahnya banyak dan senjatanya lebih canggih. Semacam mustahil untuk menang, ya?

Keseruan demi keseruan saya dapatkan di setiap lembar novel ini. Maka tak heran jika sulit berhenti membaca, jika saja tidak ada kewajiban lain yang menanti untuk ditunaikan. Biar pun novel ini tebal, bergenre berat, tapi saya tidak merasa terintimidasi membacanya. Namun ada hal yang sedikit mengganjal. Kemana ya Nona dan Kresna saat Witir dan Aro bertempur? Kenapa nggak diceritain di akhir? Saya kepo deh, masa sih mereka sepengecut itu bersembuyi hingga kedua temannya yang lain harus mati-matian bertempur? Memang sih akhirnya muncul, tapi sebelumnya kemana...? Sebab Kresna saat masih berjaga sendiri aja, berani nekat ingin menembak sebanyak mungkin anak buah si Jenderal, masa saat bertemu temannya malah sembunyi? Ini misteri. Tolong dong penulisnya berikan jawaban, saya kepikiran banget! :D Dan menghilangnya Nona, apakah ini berarti Nusa akan menjalani misi lain? I so wish he would...! Saya bakal nungguin sequelnya.

Typo hampir tidak ditemukan, kecuali kata 'datang' yang terganti dengan 'dating' (saya nemu dua, tapi lupa halaman berapa) Selebihnya oke. Jalan cerita mulus, nggak banyak cing-cong, penulis sepertinya mengerjakan PRnya dalam riset tentang kemiliteran. No wonder sih, penulis kan wartawan ;)

Anyway, salut untuk novel yang keren ini, dan saya pasti akan merekomendasikan ke teman-teman klub buku saya. *thumbs*