Showing posts with label novel. Show all posts
Showing posts with label novel. Show all posts

Monday, March 19, 2018

Wonder -- R.J. Palacio

Wonder, by R.J. Palacio

My rating: 4 of 5 stars

Buku yang cukup unik, dengan karakter yang unik dan jalan cerita yang sebenarnya biasa-biasa aja. Tapi karena keunikan-keunikan tadi, kisahnya jadi luar biasa. Penasaran? Baca dong! ;)

Tentang August, yang seumur hidupnya sekolah di rumah dengan ibunya sebagai guru, aka home school. Saat dia menjelang usia SMP, ibunya memutuskan kalau August sudah waktunya masuk ke sekolah reguler. Awalnya ayahnya tidak setuju, namun setelah August mengunjungi calon sekolahnya saat libur, dan dikawal oleh 3 anak murid yang diminta kepsek untuk mengajak August tur keliling sekolah, August pun setuju sekolah. Dengan syarat: kalau August mau keluar, kapan saja, mereka menginjinkan dengan catatan, August menceritakan apa yang membuatnya ingin keluar, secara detail.

Kenapa soal August masuk sekolah ini seolah ribet banget? Tak lain dan tak bukan adalah karena kekurangan yang dimiliki August sejak lahir. Dia menderita satu penyakit yang membuatnya tampil 'beda' dengan anak-anak lain. Bedanya dalam arti BEDA BANGET. Wajah August tidak sempurna, membuat banyak orang yang melihatnya akan ketakutan.
Courage. Kindness. Friendship. Character. These are the qualities that define us as human beings, and propel us, on occasion, to greatness.
Keluarganya sangat melindunginya. Bahkan kakaknya pun tak akan ragu memelototi orang-orang yang berbisik-bisik tentang adiknya. Maka keputusan untuk August masuk sekolah merupakan keputusan besar untuk August dan keluarganya. Karena dengan demikian, August akan ter-ekspos ke lebih banyak orang. Apakah August siap?

IG: @bookdragonmomma
Bagi August, orang menatap wajahnya sudah merupakan hal yang biasa. Dia tak lagi merasa tersinggung, atau malu. Dia bahkan menganalisa dan menebak reaksi orang dengan tepat. Karena biasanya reaksi orang yang melihatnya akan sama: kaget, takut, penasaran. Tiga anak yang dipanggil kepsek untuk tur keliling sekolah, saat masuk sekolah dimulai, hanya Jack yang selalu duduk di sebelahnya. Sementara Julian dan Charlotte, mereka hanya sekedar bilang Hai, atau menganggukkan kepala. August mengerti kalau tak akan ada yang mau berteman dengannya. Di kantin pun dia duduk sendiri, hingga datang seorang gadis bernama Summer yang duduk di meja kantin dengannya, dan mereka mulai berteman.
Now that I look back, I don't know why I was so stressed about it all this time. Funny how sometimes you worry a lot about something and it turns out to be nothing.
Setiap makan siang, August dan Summer akan makan bareng, mendiskusikan banyak hal, dan terus terang membuat siswa lain kepo. Kok mau sih Summer temenan sama August? Tapi begitulah Summer, anak yang easy going, dan menyenangkan. Namun di sisi lain, Summer menemukan bahwa August adalah anak yang lucu dan humoris. Begitu mengenal August, memang orang akan menemukan sesuatu yang berbeda. Lelucon August yang dengan ringan menertawakan dirinya sendiri, membuat orang merasa tidak harus menjaga sikap atau apa. Karena sesungguhnya, di balik fisik yang tidak sempurna, August adalah anak normal biasa.

Balik ke Jack, suatu hari August mendengar Jack berbicara negatif tentangnya, dan August pun marah. Dia tak menegur Jack sama sekali, membuat Jack bingung. August kecewa karena ternyata kebaikan Jack hanya sebatas karena disuruh pak kepsek, bukan karena dia mau. Dan sejak itu pertemanan mereka bubar. Trus, bagaimana dong August bisa survive di sekolah selanjutnya? Belum lagi Justin sudah mulai kelihatan aslinya... Apakah August bakal bisa (at least) menyelesaikan 1 tahun di SMP?
MR. BROWNE'S SEPTEMBER PRECEPT:

WHEN GIVEN THE CHOICE BETWEEN BEING
RIGHT OR BEING KIND, CHOOSE KIND.
Ide ceritanya sederhana banget, tapi pengembangannya bikin saya beberapa kali merinding, terharu, sedih, bahkan nangis di beberapa scene. Ceritanya simple tapi menyentuh hati banget. Bagaimana pengajaran empati itu sangat penting bagi anak-anak. Tidak mudah karena anak-anak adalah makluk jujur, berkata sejujurnya, bersikap sesuai hati mereka, hingga sebagai orang dewasa, PR buat kita untuk mengajarkan semua itu kepada anak-anak. Bagaimana kita berempati, menempatkan posisi di posisi orang lain, dan mengolah emosi agar menjadi positif. Nggak gampang, karena mengolah emosi sendiri aja kadang sulit, kan ya?

IG: @bookdragonmomma

Kinder than is 
necessary. Because it's not enough to be kind. One should be kinder than needed.
Banyak yang bisa diambil dari cerita Wonder ini. Banyak banget, dan menurut saya bagus jika dijadikan novel study. Mendiskusikan buku ini dengan anak-anak, mengupas habis, dan mengungkapkan pendapat tentang karakter di dalamnya, akan memberikan banyak pengalaman bagus untuk anak-anak.

Setelah membaca bukunya, saya nonton filmnya. Secara umum ceritanya sama, namun di beberapa adegan, ada yang diubah demi visualisasi penonton. Karena memang film yang diadaptasi dari buku tidak akan sama hasilnya. Jalan ceritanya pun ada yang berbeda, namun tidak mengurangi esensi cerita itu sendiri. Namun kalau ditanya lebih suka mana? Saya LEBIH SUKA BUKUNYA. Lebih detail, lebih njleb, lebih make sense, dan lebih suka aja!

Saya merekomendasi buku SEBELUM nonton.
I think there should be a rule that everyone in the world should get a standing ovation at least once in their lives.

Monday, February 19, 2018

Origin -- Dan Brown

Origin by Dan Brown

My rating: 3 of 5 stars

Kalau bukan karena bacaan wajib book club, gak kepikiran deh bakal baca novel Dan Brown dalam waktu dekat gini. Karena di pikiran saya, Robert Langdon ini kerjaannya berat banget mikirnya: kode, pembunuhan, kejar-kejaran, kode lagi, pembunuhan lagi, ya pokoknya gitu deh.

Namun saya mendapat hal yang berbeda di novel Origin ini. Meski yang baru saya baca ya dua aja sih, Da Vinci Code sama Angels & Demons, tapi saya merasakan perbedaannya dengan Origin.

Anyway, mari kita mulai dulu dari awal deh ya. Kisahnya tentang seorang ilmuwan atheis yang katanya cerdas banget, hingga penemuannya selalu spektakuler, yang mengunjungi 3 pemuka agama (islam, yahudi, dan kristen) untuk meminta pendapat mereka tentang temuan ilmiahnya yang terbaru. Awalnya tentu tidak dijelaskan apa itu penemuan Edmond Kirsch, ilmuwan jenius tersebut. Tapi yang pasti para pemuka agama ini merasa galau dan meminta Edmond untuk mengurungkan niatnya untuk mengumumkan penemuannya tersebut ke dunia, karena akan mengguncang keimanan semua orang yang beragama. Nah lho! Heboh bener ya kayaknya?
Sometimes, all you have to do is shift your perspective to see someone else’s truth.
Tapi Edmond tetep dong mengumumkan ke khalayak ramai, dan yep dia mendapatkan perhatian dari jutaan penonton streaming seperti yang dia inginkan. Sebelum Edmond mengumumkan apa itu penemuannya, ada yang nembak dia. DOR! Mati. Saya yang... what? Dan seperti yang sudah ditebak, Prof. Langdon bersama cewek cantik (semacam Bond dan gadis2nya ya? selalu ada ce cantik yang menemani sang profesor) bernama Ambra Vidal, seorang wanita elegan yang berprofesi sebagai direktur museum tempat Edmond mengumumkan penemuannya, mereka berdua berusaha mencari tempat di mana Edmond menyimpan data dan berniat mengumumkannya ke dunia. Karena kalau ada yang menginginkan Edmond mati, berarti ada konspirasi di balik ini semua.
Historically, the most dangerous men on earth were men of God…especially when their gods became threatened.
Mereka dipandu oleh super komputer milik Edmond yang bernama Winston. Semua jadi begitu mudah dan lancar dengan bantuan Winston, hingga memecahkan kode pun profesor kalah cepat sama si komputer. Hmm.. apakah ini menunjukkan bahwa komputer akan mengambil alih semua pekerjaan dan pemikiran manusia? Karena Winston ini cerdas banget! Super-duper cerdas! Bikin saya berharap punya komputer seperti ini. Yah, minimal henpon lah.. biar smartnya beneran :p

Jalan cerita masih sama, kejar-kejaran dengan teman yang jadi musuh, curiga mencurigai (padahal kita kan gak boleh suudzon ya?), konspirasi, dan tentu memecahkan kode-kode. Tapi sayangnya, di novel ini kecerdasan profesor tertutup si Winston. Mungkin untuk menunjukkan bahwa memang akan tiba era nya di mana manusia bergantung pada komputer. Buktinya sekarang orang nggak bisa kalau nggak pegang HP. HP ketinggalan langsung kebakaran jenggot, seolah hidupnya hancur kalau HP sampai ketinggalan. Apalagi kalau hilang. Karena semua data disimpan di sana. Belum lagi untuk foto sekarang saya mengandalkan Google Photos dan Google Drive untuk menyimpan data. Hmm...!


Dan ada issue yang agak mengejutkan juga sih di sini, yang gak ada hubungannya dengan kode dan pembunuhan, dan kalau ditiadakan juga sebenarnya gak pengaruh ke jalan cerita. Sekadar bumbu, saya rasa. Dan profesor juga kok tetiba bisa langsung kesengsem gitu sama si mbak Ambra. Apa mungkin memang kalau orang habis melewati masa menegangkan berdua, trus tetiba jadi ada ikatan batin gitu ya? Atau apakah ini juga cara Oom Brown mengemas cerita yang melulu tentang komputer dan bagaimana kecerdasan HP mengalihkan perhatian semua orang, bahwa sebenarnya rasa cinta itu masih adaaa.. pada makhluk yang bernyawaaa... *eh, maap*

Intinya, sekeren-kerennya Winston the smart computer, masih lebih baik berteman dengan manusia, gitu kali ya? Secara ada perasaan yang berkembang, ada rindu yang menyesakkan dada, ada juga rasa bersalah dan sedih yang membuat manusia tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. *ceilee.. apa ini..?*
Well, science and religion are not competitors, they’re two different languages trying to tell the same story. There’s room in this world for both.
Akhir kata, saya suka dengan novel ini, tapi nggak se-emhh yang dulu-dulu waktu baru baca karyanya Oom Brown. Soalnya kalo dipikir-pikir ya sama aja sih kejadiannya, dan plotnya kayak udah kebaca gitu. Cuma memang issue yang diangkat beda-beda tiap novelnya. Seru, dan sepertinya saya akan lanjut ke Inferno.

Someday... I don't know when... but I will.

Tuesday, April 04, 2017

The Sun is Also a Star -- Nicola Yoon

The Sun is Also a Star by Nicola Yoon

My rating: 4 of 5 stars

Kalau suka buku young adult, ini cucok untuk dibaca. Bagi yang suka buku young adult plus roman, buku ini sangat cucok. Sejujurnya agak terlalu banyak keju di dalamnya buat saya. Too romantic it makes me blah :D

Natasha adalah gadis Jamaika yang berimigrasi ke Amerika demi mengejar impian ayahnya yang katanya ingin memberikan kehidupan terbaik bagi keluarganya. Tapi apakah impian itu? Pentingkah impian saat sudah ada dua mulut kecil yang harus diberi makan? Apakah mengejar impian sangat penting hingga menganggap keluarga adalah halangan?
"Desperation translates into every language."
Natasha sangat memercayai sains dan fakta. Semua hal diukur dari data yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya. Maka saat dia bertemu Daniel, yang isi kepalanya melulu tentang puisi, tentang teori cinta pada pandangan pertama, dan tentang mereka berdua yang dipertemukan oleh takdir, Natasha hanya mencibir dan menertawakannya.

Daniel adalah anak lelaki keturunan Korea yang tinggal di Amerika. Kedua orang tuanya berharap Daniel menjadi dokter (karena semua orang tua di Korea berharap anaknya bisa jadi dokter) dan Daniel yang sejak kecil mengikuti kemauan orang tuanya, tiba-tiba ingin mengubah haluan hidupnya saat melihat seorang gadis Jamaika berdiri mengayun di tengah jalan, menikmati lagu yang hanya gadis itu bisa dengar melalui headphonenya.

Pic credit: Google.com

Daniel yang seharusnya menuju tukang cukur rambut lalu ke tempat interview untuk aplikasi kuliahnya, menemukan dirinya malah mengikuti Natasha dan mereka pun berkenalan. Daniel sangat menyukai Natasha sejak pandangan pertama, sementara Natasha tidak. Baginya, Daniel adalah seorang pemimpi yang kebanyakan makan puisi :D
"I love this part of getting to know someone. How every new piece of information, every new expression, seems magical."
Natasha pun tak memiliki waktu untuk jatuh cinta, karena keberadaannya di Amerika hanya tinggal hitungan jam. Namun Daniel yang tidak mengetahui hal itu, memaksa Natasha untuk memercayai hasil penelitian bahwa cinta adalah reaksi kimia, dan bisa dibuktikan dengan sains.

Dalam kegalauan mereka dengan masalah masing-masing, mereka menemukan kenyamanan. Dan pada akhirnya, saat mereka menemukan jalan masing-masing, apakah cinta akan menyatukan mereka?

Pic. doc. pribadi
Di antara cerita Daniel dan Natasha, diselipkan sejarah sang karakter tambahan sebagai background cerita, sebagai informasi tambahan. Kalau di buku nonfiksi mungkin footnote ya? Tapi ini dibuatkan chapter sendiri agar pembaca mengerti kenapa karakter ini melakukan hal seperti ini. Menarik! Ada pula diselipkan sejarah tentang karoke, sejarah tentang imigrasi, dan lain sebagainya.
"Karaoke is itself the Japanese word for embarrassing oneself by singing in front of a room filled with strangers who are only there to laugh at you."
Tipikal orang tua yang digambarkan Nicola Yoon sangat menggambarkan kondisi mereka. Misalnya, orang Jamaica yang tak ingin kehilangan akar asal usul mereka, namun berusaha menghilangkan aksen Jamaica mereka agar bisa diterima di lingkungan baru. Lalu tipikal orang tua Korea yang selalu ingin anaknya memiliki profesi bergengsi seperti insinyur, dokter, ahli bedah, dll. Dan pola pengasuhan mereka yang ingin anak-anaknya tidak lupa akan negara asal mereka, namun mereka sendiri lupa kalau budaya di Amerika memengaruhi perilaku anak-anak mereka. Agak rumit ya jelasinnya, tapi ngerti kan maksudnya. He-he.
"Who are we if not a product of our parents and their histories?"
Kisah remaja yang sangat klise, namun buat yang suka, jadinya so sweet. Cucok untuk remaja yang memang sukanya yang roman-roman. Eit, tapi tidak hanya remaja lho yang suka sweet stories, banyak orang dewasa yang juga menyukai kisah manis remaja semacam novel ini. Dan cinta pada pandangan pertama, siapa yang tidak pernah mengalaminya? Mungkin bisa mengikuti cara Daniel saat dia ingin membuat Natasha mencintainya: menjawab pertanyaan dari kuis untuk saling mengenal diri masing-masing.

Pic credit: Google.com
Sweet and romance. And I love the ending! ;) Dan saya suka quotes yang bertebaran di dalamnya. Selain yang sudah saya tebar di atas, ini tambahan lagi:

1. Everything happens for a reason.

2. You can't always see God's plan.


3. Good things happen to good people. Bad things only happen to bad people. No one wants to believe that life is random.


4. Everyone's got someplace to be. Finding God is not on the schedule.


5. Life is just a series of dumb decisions and indecisions and coincidences that we choose to ascribe meaning to.


6. School cafeteria out of your favorite pastry today? It must be because the universe is trying to keep you on your diet.


7. We tell ourselves there are reasons for the things that happen, but we're just telling ourselves stories. We make them up. They don't mean anything.






Tuesday, March 07, 2017

Everything, Everything -- Nicola Yoon

Everything, Everything, by Nicola Yoon

My rating: 4 of 5 stars

Melihat keluar jendela adalah hobi Madeline sejak kecil. Tak lain dan tak bukan, karena jendela adalah sarananya untuk mengerti dunia. Madeline terkurung dalam rumahnya sejak bayi, dan dia tidak bisa keluar, karena jika Madeline keluar rumah... dia akan mati.

Memandang keluar jendela dan berteman adalah hal yang mustahil untuk Madeline, karena memiliki teman berarti berharap, dan harapan itu yang tidak dimiliki Madeline. Karena teman akan pindah rumah, dan pada akhirnya meninggalkannya sendiri.

Hingga datanglah Olly. Keluarganya pindah ke rumah seberang jalan persis di depannya. Dan sekali lagi Madeline mengintip dari balik jendela. Dia tak ingin berharap apa-apa, namun Olly, anak lelaki yang masih bersekolah di SMA itu menarik perhatiannya. Dengan mudah Olly akan melompati dinding, melompati pagar, naik ke atap tanpa memerlukan tangga. Olly memiliki tubuh yang sangat lentur dan itu membuat Madeline terpana. Belum pernah dia melihat tubuh lentur seperti itu, dan Madeline penasaran. Siapa Olly?
"Life is a gift."
Waktu Madeline banyak dihabiskan bersama ibunya. Mereka akan punya game night, movie night, pokoknya setiap malam sejak Madeline bayi, ibunya selalu ada disisinya. Ibunya seorang dokter yang juga merawatnya. Hingga Madeline tak pernah perlu dibawa ke rumah sakit. Rumahnya sangat steril, hingga tak ada seorang pun yang bisa masuk tanpa disterilisasi sebelumnya. Dan sampai kehadiran Olly di perumahannya, hanya guru arsitektur yang bisa masuk mengunjunginya. Olly dan Madeline pun berkenalan melalui IM, dan percakapan mereka menjadi makin meaningful. Belum lagi Olly yang curcol tentang ayahnya, membuat hubungan mereka makin erat, meski belum pernah bertemu secara fisik.

Memandang keluar jendela menjadi tidak cukup baginya sejak ada Olly. Untunglah perawatnya bisa diajak kongkalikong. Setelah berjanji tidak akan berharap dan sakit hati, Olly pun masuk ke rumah Madeline. Namun ternyata yang namanya perasaan memang tak bisa dibohongi ya? Madeline pun jatuh cinta pada Olly. Meski dia menolak rasa itu, namun jika Olly menemukan ketertarikan yang sama, apa yang bisa dia perbuat?

Pic dok pribadi
Hidup adalah anugrah, itu yang selalu disebutkan perawatnya. Hingga dia mau membukakan pintu untuk Olly, yang mengantar Madeline pada petualangan selanjutnya. Apakah selama ini dia sudah menjalani hidupnya dengan benar? Apakah dengan tidak mengambil resiko keluar rumah dan menjaga kesehatannya, itu artinya dia sudah memaksimalkan anugrah itu? Membuat kita juga bertanya, apakah hidup kita sudah sesuai dengan apa yang diberikan Tuhan? Ataukah kita masih berada dalam gelembung keamanan, dan tidak mengeksplor sesuatu yang lain?

Yang kemudian terjadi adalah sesuatu yang sebenarnya kurang masuk akal saya, namun ya udah lah yaaa.. Yaitu saat akhirnya Madeline membeli tiket ke Hawaii dan menginap di hotel sama Olly. Okay, dia memang baru punya kartu kredit, tapi agak maksa sih sebenarnya. Untuk anak yang tidak bakal pernah keluar rumah, buat apa ibunya memberi dia kartu kredit? Untuk belanja online? Ya gitu deh akibatnya. Anak jadi kabur!

Pesan moral: Jangan kasih anak kartu kredit. Biar mereka bikin sendiri kalo udah punya gaji. :p

Menemukan kebebasan yang belum pernah direguknya membuat Madeline haus dan ingin menghabiskan hidupnya diluar. So what kalo gue mati? Semua orang juga bakal mati. Gitu kali ya pikirnya? Dan ending novel ini ngagetin banget! Bikin saya merasa stupid, hehehe. Tapi suka banget sama perkembangan karakternya, suka ama plotnya, dan meski ada yang gak masuk akal seperti yang tadi saya sebut, plus rumah steril dengan alat sterilisasi yang canggih? WOW! Belum pernah liat sih, tapi mungkin memang ada yang punya rumah seperti itu. I dunno.

Untuk novel young adult, saya suka! Gak terlalu keju, dan surprise factornya dapet :D

Thursday, February 16, 2017

Replica -- Jack Heath

Replica by Jack Heath

My rating: 4 of 5 stars

Melihat covernya sungguh seraaaamm!! Bertanya-tanya dalam hati apakah ini novel horor pembunuhan, atau thriller hantu, rasa penasaran ini sudah tertunda selama setahun. Yap! Setahun sudah saya menunggu untuk bisa baca novel ini, dan akhirnya kesampaian juga. Hehe sabar menanti banget yes?

Kisah diawali dengan Chloe yang terbangun di basemen rumahnya, beberapa bagian ingatannya hilang. Seorang gadis duduk di dekatnya, memandang komputer dan dirinya, lalu Chloe melihat di seberang tempatnya ada tubuh tanpa kepala yang terbujur kaku. Siapa gadis yang ada di dekatnya ini? Mengapa dia memerintah-merintah Chloe seolah dia adalah masternya? Dan saat akhirnya gadis itu menoleh, wajahnya sama persis dengan dirinya! Siapa dia?
“You told me grief came from things left unsaid. But I thanked you for everything you did. I apologized for everything I did. There was nothing left to say, and still it feels like you pulled my heart right out. It’s been two hundred days. I still miss you.”
Keesokan harinya Chloe terbangun masih di tempat yang sama, dengan beberapa bagian ingatannya yang kembali. Gadis yang berwajah sama dengannya itu memberinya sederet perintah. Dan saat Chloe protes, dan menyerang gadis itu dengan kata-kata bahwa dia tidak bisa seenaknya mengambil alih kehidupannya, gadis itu malah mengatakan bahwa Chloe adalah ciptaannya. Nah lho! Kita masuk ke dunia cloning, kah ini?

Ternyata bukan cloning, sodara-sodara, melainkan articial intelligence. Chloe adalah Robot yang memiliki otak hasil unduhan, namun bisa merasakan emosi seperti manusia. Jika Chloe disakiti, meski sudah dikatakan bahwa rasa sakit itu tidak nyata, tetap saja Chloe merasa sakit. Dan mengapa pula dia diciptakan?
"You will take care of mum when I'm gone."
Chloe merasa ada yang mengikutinya, dan untuk itulah dia menciptakan robot penggantinya agar dia bisa berbalik mengintai mereka. Chloe tidak tahu siapa mereka, kenapa mengikutinya, namun saat Chloe sang robot mulai beraksi mengambil alih kehidupan Chloe, dia mulai mempelajari rahasia yang menyelimuti kepergian Chloe. Akan tetapi sebelum Chloe robot mendapatkan jawabannya, Chloe tertembak!
Pic doc pribadi

Ayahnya mulai bersikap mencurigakan, membuat Chloe makin kepo dan ingin mengungkap siapa dalang dibalik pengintaian (yang berlanjut dengan pembunuhan) Chloe, disambung dengan hilangnya ayah. Chloe juga ingin mencari tahu hubungan Chloe asli dengan Becky, gadis yang menatapnya di kelas dengan tajam seolah ingin membunuh dengan matanya. Semua serba membingungkan, dan Chloe harus bertahan.

Genre thriller science fiction sepertinya memang pas disematkan ke novel ini. Sejak awal hingga akhir, novel ini mampu membuat saya terkaget-kaget karena banyaknya kejutan yang disiapkan oleh penulis. Tidak hanya Chloe yang ternyata bukan Chloe, tapi juga siapa itu Becky, dan apa sebenarnya misteri yang melingkupi kehidupan Chloe.

Bagi yang suka science fiction, oke kok ini. Apalagi saat adegan Chloe kabur dari penjahat, itu tuh ngebayanginnya kocak banget! **gak spoiler kok** :D Kalau dibuat film mungkin novel ini bisa seru ditonton pakai efek 3D :)


Tuesday, February 07, 2017

Getting Revenge on Lauren Wood -- Eileen Cook

Getting Revenge on Lauren Wood by Eileen Cook

My rating: 3 of 5 stars.

Helen dan Lauren bersahabat sejak bayi. Mulai dari dilahirkan di rumah sakit yang sama, di kamar yang sama, bersekolah yang sama, dan hingga masa SMP mereka tak terpisahkan. Di  mana ada Lauren, di situ ada Helen. Saat mereka bersiap hendak menjadi anak baru di SMA, Lauren memutuskan untuk mengorbankan Helen guna menjadi populer. Di sisa hari-harinya di SMP, Helen menjalani kehidupan yang sangat buruk di sekolah. Semua orang membencinya, mengucilkannya, dan menganggapnya pengadu saat beberapa anak senior berbuat kekacauan di sekolah.

Untunglah alam mendukungnya dan ayahnya mendapat penawaran kerja di New York. Helen pun semangat pindah, bahkan dengan keadaannya sekarang, dia rela pindah kemana saja, asala jangan menetap di Terrace, rumahnya sekarang.
"How would the universe send you your heart's desire if you weren't clear about what you wanted?"
Tiga tahun kemudian, saat Helen menjadi senior (tahun akhir di SMA), kedua orang tuanya yang tergila-gila pada alam, dan kedamaian dalam hati melalui meditasi dan menjalani kehidupan seperti hippie, memutuskan untuk pindah keluar New York untuk mengejar impian ayahnya menjadi peneliti di negara terpencil tanpa listrik, tanpa kemudahan modern. Lalu, bagaimana dengan Helen? Dia harus kembali ke Terrace, untuk tinggal bersama neneknya.

Pic doc pribadi
Relakah Helen kembali ke sekolah Lincoln High dan bertemu kembali dengan Lauren yang dulu menyebabkan dirinya terpuruk? Yang saya sempat bingung, emang di Terrace cuma ada satu sekolahan ya? Di Pamulang aja ada banyak pilihan! Namun seperti sudah menjadi takdir, Helen memang harus kembali ke sekolah tersebut, dan dia memutuskan untuk memberi pelajaran pada Lauren. 
"Always acknowledge perfection."
Jika selama tiga tahun di New York Helen selalu men-stalking Lauren melalui sosial medianya untuk mengetahui apa yang terjadi pada gadis itu, dan membayangkan pembalasan apa saja yang bisa dia lakukan untuk Lauren, kali ini Helen memiliki kesempatan untuk benar-benar melakukannya. Bukan cuma membayangkannya. Cita-citanya hanya sedikit kok:

1. Membuat Lauren putus dengan pacarnya
2. Mejauhkannya dari teman-temannya
3. Mengeluarkannya dari tim cheerleader

Udah kok, cuma itu. Helen yakin, setelah dendamnya terbalaskan, hidupnya akan tenang dan damai, dia akan bisa melanjutkan hidup.  Yang tidak diperhitungkannya adalah kemunculan Brenda dan Christopher. Dua orang yang kemudian menjadi penting dalam kehidupan barunya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan rencana balas dendamnya, namun aksi terakhir yang sudah keburu dijalankannya tidak sempat dibatalkan. Apakah Brenda dan Christopher, yang benar-benar tulus ingin menjadi temannya akan meninggalkannya begitu tahu rencana Helen terhadap Lauren? Dan bagaimana dengan reputasi Lauren yang ingin dihancurkannya? Apakah worth it?
"If I had to guess, Lauren's favorite saint would be Judas, patron of betrayers. I never heard either of Lauren's parents mention God, unless you counted the times her mom would say, "For the love of God, turn down the TV."
Kisah balas dendam ini sepertinya umum di novel bergenre young adult. Kisah SMA dan lika-likunya selalu menarik untuk diikuti. Bully, menusuk teman dari belakang, persahabatan, iri hati, hanyalah beberapa topik dari banyak topik di dunia remaja yang bisa dieksplor. Dan meski topik-topik tersebut sudah sering dituangkan dalam novel, tetap saja saya tidak bosan. Seru sih masa remaja itu :)

Dialog dan monolognya kocak! Beberapa kali saya terbahak saat membaca bagaimana penulis menggambarkan sesuatu kejadian secara berlebihan.
"I shrugged again. At this rate he was going to think I was a conversational retard with shoulder spasms."
Dan yang unik, kedua orang tua Helen adalah orang yang sangat percaya pada karma. Menurut mereka memaafkan lebih baik dari pada balas dendam, yang tentu saja tidak disetujui oleh Helen.
Pic doc pribadi

Ada juga nih kalimat si penulis yang sedikit membuat saya tersinggung.
"She dressed like she borrowed her clothes from a frumpy elderly librarian who had a fetish for the color beige."
Emangnya semua librarian begitu? **eh, tapi dia mah kan bahas old librarian ya? Napa saya yang tersinggung?** Merasa tua, mbak? :p

Novel ini saya baca untuk selingan setelah membaca thriller, dan sebelum balik ke thriller lagi. :D Karena sesungguhnya membaca itu sebaiknya tidak hanya satu genre saja. Buat yang suka bacaan ringan dan sweet seventeen, boleh coba baca novel ini. Novel remaja kan gak melulu khusus untuk remaja aja. Orang dewasa (baca: tua) macam saya juga boleh kaaaannn? 
"Popularity is a mathematical formula based on desirability criteria. High schools are a classic anthropological case study, and getting people to respond in the way you want is psychology. All science. It's just not the type of science that you're used to."


Sunday, February 28, 2016

Child of the State -- Catherine Lea

Child of the StateChild of the State by Catherine Lea

My rating: 4 of 5 stars

Got this book for free through Goodreads Giveaway. Thank you!

Membaca novel ini semacam nonton film aksi ala Amerika. Sejak awal sudah banyak misteri dan intrik yang dimulai sejak keluarnya Stacy dari penjara. Seharusnya Stacy menjalani 5 tahun masa hukuman, namun dengan adanya program baru dari pemerintah, khusus untuk para ibu yang memiliki anak di luar penjara, Stacy yang lolos seleksi berhasil keluar 2 tahun lebih awal. Namun di bulan terakhir masa hukumannya, sahabatnya Amy, terbunuh. Dan seseorang mengirimkan foto anaknya dengan dilingkari seolah target tembak, dengan pesan di balik foto: "He's first, you're next." Stacy makin gigih mencoba seleksi program pembebasan awal, agar bisa melindungi anak semata wayangnya, Tyler.

Di hari pertama Stacy keluar penjara dan diantar ke rumah ibunya (yang notabene tak menginginkannya) Stacy kabur membawa mobil ibunya untuk menjemput Tyler di sekolahnya. Namun apa daya, rencana yang sudah dipersiapkannya dengan matang ternyata gagal. Tyler sudah dijemput lebih awal dari sekolah oleh orang dari dinas sosial, dan sekarang Stacy tidak tahu lagi kemana mencari anaknya karena Stacy tidak tahu alamat orang tua asuhnya. Stacy lalu mencari ayah dari Tyler, yang seharusnya menjemput anak itu, namun saat dia tiba di rumah Wayne, lelaki itu sudah pindah rumah & sekarang rumahnya ditempati seorang pria tinggi besar, bernama Bear. Dan surat-surat dari Stacy yang berisi rencana penjemputan Tyler, tertumpuk di rumah lamanya itu. Ternyata Wayne tak pernah menerima suratnya. Tak heran kalau rencananya gagal!


Stacy pun buron, setelah melepaskan gelang kakinya. Stacy lalu mencari bantuan dari teman-temannya yang sudah keluar dari penjara. Untungnya, teman-temannya bersedia membantu, dan walaupun ada satu-dua yang masih teler dalam artian masih menggunakan narkoba, mereka tetap memberikan Stacy apa yang dibutuhkannya. Tapi itu saja, selebihnya Stacy yang harus mencari sendiri siapa biang keladi di balik pembunuhan Amy, yang pastinya orang yang sama dengan yang mengancam keselamatan anaknya.

Elizabeth, wanita yang ditunjuk gubernur untuk menjalankan program pembebasan cepat untuk ibu muda ini, merasa kecolongan saat Stacy kabur. Namun tidak seperti orang lain (baca: polisi dan politisi) dia merasa Stacy lari karena ketakutan. Sementara semua orang fokus pada pelarian Stacy, Elizabeth justru mencari alasan dibalik kaburnya Stacy. Dia yakin Stacy tidak merencanakan pelariannya, karena saat mengikuti ujian seleksi program, Elizabeth bisa melihat betapa kuat tekad Stacy untuk bisa lolos program tersebut.

Petunjuk demi petunjuk mulai bermunculan di sepanjang novel ini, membuat saya penasaran dengan apa yang akan terjadi kemudian. Keberanian Elizabeth dan kegigihan Stacy dalam mengungkap kebusukan yang terjadi di sekitarnya, membawa mereka ke situasi berbahaya. Mereka harus berhasil, atau semua usaha mereka sia-sia dan terbawa ke kubur bersama mereka.

Kebetulan demi kebetulan masih ditemukan di sini, saat Stacy ke rumah temannya, diberikan mobil, lalu saat mobil itu mati, petugas dereknya ternyata temannya Bear, dan Bear bersimpati kepada Stacy karena masa lalunya, membantunya dengan memberi bensin. Namun rasa sayang Stacy pada Tyler, meski anaknya itu berkebutuhan khusus, sangat mengharukan dan menginspirasi, padahal Stacy termasuk muda di usianya yang 15 tahun dan sudah memiliki anak (akibat pergaulan bebas, hmmm!). Alasan dia dipenjara pun sebenarnya kurang begitu dijelaskan, cuma sekilas aja dibilang karena cek. Cek kosong? Ah, mbuh.

Anyway, reading this novel makes me imagine that I'm watching an action movie. A really page turner and recommended.

View all my reviews

Monday, February 08, 2016

Tiga Sandera Terakhir -- Brahmanto Anindito

Tiga Sandera TerakhirTiga Sandera Terakhir by Brahmanto Anindito

My rating: 4 of 5 stars

Novel ini termasuk dalam genre historical fiction, yang artinya berdasarkan kisah dalam sejarah, yang dibuat fiksi. Sebagai orang yang tidak suka baca koran (kecuali saat ada berita tentang diskonan) saya memang termasuk kudet (kurang update) dan cenderung nggak peduli sama kejadian di luar rumah. Apalagi yang nun-jauh di Papua. Namun berkat novel ini, saya jadi tahu kalau pernah ada kejadian penyanderaan yang dilakukan para sempalan OPM di sana.

Bab awal menceritakan tentang bagaimana penyanderaan itu dimulai, dan perintilan tentang militer. Saya terkejut sendiri saat menemukan diri saya enjoy membacanya. Saya pikir saya bakalan bosan, ternyata malah sulit berhenti membaca. Latar belakang pemeran utama diceritakan dengan pas, nggak lebay, dan sekadarnya. Lalu masuk musuh utamanya yang bernama Jenderal Enkaeri. Sejenak saya mikir saat baca nama itu. Ini seperti pelesetan NKRI, apakah ada hubungannya? Ternyata benar. Nanti di bagian akhir buku diceritain, kok. *udah mulai penasaran?* :D

Di tengah buku, sandera ternyata berhasil dibebaskan. Jumlah yang tadinya 5, berkurang 1, shingga yang diselamatkan ada 4 sandera. Oke, saya mulai mikir, "judulnya kan 3 sandera, kok yang selamat 4?" Ya udah, baca terus deh.. ini sandera udah selamat, kok buku masih tebal aja? Berarti masih ada sesuatu.

Benar saja, salah satu anak buah Nusa (pimpinan operasi pembebasan sandera) tertangkap, dan atasannya menyuruhnya membuat tim hantu. Keren! Saat Nusa dan Nona (perempuan yang diperbantukan di tim ini) mencari para tentara desersi untuk direkrut lagi, saya jadi inget film-film Amrik yang seperti ini. Suka banget, penulis tidak terkesan buru-buru, saya sangat menikmati adegan demi adegan yang disuguhkan novel ini. *kalau sekarang, udah penasaran banget nggak?*

Menjelang bagian akhir, jagoan ketemu jagoan dan berantem. Asli saya deg-deg-an saat membaca bagian akhir. Nusa harus berkelahi tangan kosong melawan Jenderal Enkaeri yang unggul dalam semua pertarungan tangan kosongnya. Beberapa kali saya nahan napas, takut Nusa dipiting *tutup muka* Belum lagi di tempat yang lain, anak buah Nusa yang cuma 4 orang itu bertempur melawan anak buah Enkaeri yang jumlahnya banyak dan senjatanya lebih canggih. Semacam mustahil untuk menang, ya?

Keseruan demi keseruan saya dapatkan di setiap lembar novel ini. Maka tak heran jika sulit berhenti membaca, jika saja tidak ada kewajiban lain yang menanti untuk ditunaikan. Biar pun novel ini tebal, bergenre berat, tapi saya tidak merasa terintimidasi membacanya. Namun ada hal yang sedikit mengganjal. Kemana ya Nona dan Kresna saat Witir dan Aro bertempur? Kenapa nggak diceritain di akhir? Saya kepo deh, masa sih mereka sepengecut itu bersembuyi hingga kedua temannya yang lain harus mati-matian bertempur? Memang sih akhirnya muncul, tapi sebelumnya kemana...? Sebab Kresna saat masih berjaga sendiri aja, berani nekat ingin menembak sebanyak mungkin anak buah si Jenderal, masa saat bertemu temannya malah sembunyi? Ini misteri. Tolong dong penulisnya berikan jawaban, saya kepikiran banget! :D Dan menghilangnya Nona, apakah ini berarti Nusa akan menjalani misi lain? I so wish he would...! Saya bakal nungguin sequelnya.

Typo hampir tidak ditemukan, kecuali kata 'datang' yang terganti dengan 'dating' (saya nemu dua, tapi lupa halaman berapa) Selebihnya oke. Jalan cerita mulus, nggak banyak cing-cong, penulis sepertinya mengerjakan PRnya dalam riset tentang kemiliteran. No wonder sih, penulis kan wartawan ;)

Anyway, salut untuk novel yang keren ini, dan saya pasti akan merekomendasikan ke teman-teman klub buku saya. *thumbs*

Monday, January 25, 2016

Alias -- Ruwi Meita

AliasAlias by Ruwi Meita

My rating: 4 of 5 stars

Ini novel horror. Baca novel ini bikin adrenalin saya naik turun! Baca beberapa review tentang buku ini, katanya jangan baca saat malam hari. Tapi karena nanggung tinggal sedikit, justru malam adalah waktu yang pas untuk menghabiskan novel ini, maka saya mencari keberanian dengan menggenggam tangan anak saya yang tertidur pulas, sambil menghabiskan halaman demi halaman.

Karakter utama novel ini adalah Jeruk Marsala. Nama yang cukup unik, tapi terus terang sedikit mengganggu karena mungkin saya tidak terbiasa aja baca nama orang yang diambil dari nama buah-buahan. He-he, sebut saja saya kuno. Anyway, Jeruk adalah penulis best seller cerita romance yang banyak banget penggemarnya. Apa pun yang ditulisnya pasti langsung cetak ulang dan menjadi buah bibir, hingga beberapa karyanya diangkat menjadi film layar lebar. Yes, sesukses itulah Jeruk.

Adalah Rinai, penulis best seller genre horror. Yang baru mengeluarkan dua novel, namun sudah menandingi ketenaran Jeruk yang sudah menelurkan enam novel. Banner dan buku-buku karya mereka bersanding di rak best seller di toko buku, bahkan sebuah PH yang ingin mengadaptasi novel Jeruk berubah pikiran karena ingin mengadaptasi novel Rinai. Tanpa harus memunculkan diri, Rinai telah berhasil menjadi saingan terberat Jeruk.

pic.credit: https://www.instagram.com/sylnamira/
Misteri mulai bermunculan sejak awal cerita, mulai dari mimpi aneh Jeruk, hingga pembunuhan-pembunuhan di novel Rinai yang berubah menjadi kejadian nyata. Banyak penggemar Rinai yang menyangka Rinai adalah penulis yang mampu melihat masa depan. Spekulasi dan berita yang tersebar makin mendongkrak penjualan novel Rinai. Beberapa bahkan menyangka Jeruk dan Rinai bersaing. Ditambah lagi status di sosmed Rinai yang makin memojokkan Jeruk, membuat Jeruk jadi bingung. Siapa Rinai sesungguhnya? Dia yang merasa mengenal Rinai, kini malah ketakutan dengan sosok tersebut. *beuh, kalau tahu siapa sesungguhnya Rinai, bakal kaget deh!*

Beberapa karakter dalam novel ini diceritakan dengan sama kuatnya: Jeruk, Rinai, Darla, Uti Greti, Eru, Alan. Cuma kehadiran Inspektur Kemal kurang digali ya, tau-tau dia nongol di rumah Darla bawa liontin? Agak bingung, tapi ya sudahlah, mungkin saya yang terlewat detailnya.

Saya suka Eru! He-he who doesn't? Dia tuh likable banget! Beda sama Alan yang terlalu terpengaruh sama kehidupan metropolitannya, sehingga gayanya juga jadi terlalu metro seksual, dan memang harus dicurigai sih 'kecenderungannya.' *eh, napa jadi baper gini? Ha-ha!* Persahabatan Jeruk dan Darla, top banget! Mereka tuh cerminan sahabat sejati banget, saling bantu dalam suka-duka, and they always watch each other's back!

Adegan yang agak diulang adalah saat Jeruk harus pergi dari suatu tempat, trus menyetop taksi. Ini kebetulan? Padahal Jeruk nggak suka kebetulan. Tapi di novel ini Jeruk tampak dengan mudah melarikan diri dengan taksi. Padahal taksi kan susah didapat dalam kenyataan, but well, this IS a fiction! Lagipula naik ojek atau angkot kurang drama juga sih. He-he. Tapi selebihnya cerita dalam novel ini seru! Alurnya cepat, namun tidak tergesa, dan endingnya... dan epilognya... WOW! Saya nggak terima ending seperti itu! Pas banget sih, dan cerdas banget. Tapi tetep saya nggak terima. Jeruk tuh harusnya lives happily ever after sama si... *sensor* **spoiler allert!!* :D

Trus kata-kata yang diucapkan Uti Greti berulang-ulang kali? Bagus banget! Kok bisaaaaa penulis mendapatkan kata-kata indah seperti ini:

"Pernahkah pelangi menangis karena hujan dan langit tak mau mewarnainya? Jika sempat, tolong katakan pada hujan untuk menitik satu kali pada tiga puluh tahun kesunyian di ujung pelangi yang tak berbatas. Mungkin saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus tercurah pada telapak tangan yang beku."

Waw! Saya suka kata-kata itu. Indah, sekaligus menyeramkan. Keren!

Buat penyuka novel horor, jangan ragu deh, langsung ambil dan baca novel Alias ini. You gak bakal nyesel :D Buat yang nggak suka novel horor, karena (mungkin) takut, worry not, my friends... novel ini masih dalam ambang toleransi orang-orang penakut seperti kita kok. :) So, have fun dan selamat berkenalan dengan Rinai ;)

View all my reviews

Sunday, September 27, 2015

Escape from Mr. Lemoncello's Library - Chris Grabenstein

Escape from Mr. Lemoncello's LibraryEscape from Mr. Lemoncello's Library by Chris Grabenstein

My rating: 4 of 5 stars

Buat librarians, pecinta library, dan sobat perpustakaan, kudu nih baca buku ini. Seru banget dan petualangannya mengingatkan saya pada keasyikan saat membaca buku tentang perpustakaan juga yang judulnya Bibbi Bokken's magic library karya Jostein Gaarder. Tentu saja saya membaca edisi Bahasa Indonesia :D

Anyway, Escape From Mr. Lemoncello's Library bercerita tentang pembukaan perpustakaan kota Alexandriaville yang sudah 12 tahun direnovasi. Jadi selama 12 tahun, anak-anak di kota itu tidak mengenal perpustakaan, dan itu artinya mereka hidup tanpa mengetahui asiknya ber'petualang' di perpustakaan. Oleh karenanya, Mr. Lemoncello, pembuat game terkenal di kota itu mendanai pembangunan perpustakaan kota Alexandraville, dan beberapa hari lagi pembukaannya.

Dalam rangka pembukaan perpustakaan tersebut, akan ada acara lock-in selama semalam di perpustakaan dia mana mereka bisa main game, baca buku, makan di cafenya, sepuasnya. Untuk bisa menjadi peserta lock-in ini, akan di pilih dua belas anak berusia 12 tahun berdasarkan essay yang mereka buat tentang "Kenapa saya excited tentang perpustakaan umum yang baru."

Kyle yang lebih suka main game daripada ke perpustakaan, tentu saja lupa kalau dia harus membuat essay yang due nya hari ini. Dengan asal, dia buat essay di atas bis sekolah. Ini yang ditulisnya: "Ballons. There might be balloons." Dan dia menyesal menulis esay asal itu saat tau bahwa Mr. Lemoncello sendiri lah yang akan memilih pemenangnya. Bayangkan, Mr. Lemoncello adalah pendana perpustakaan baru ini! Pasti acara lock-in nanti akan sangat menyenangkan! Kyle adalah pengemar berat semua permainan yang diciptakan Mr. Lemoncello. Tapi bukan Kyle namanya kalau tidak memiliki daya juang.

Dan seperti yang sudah diduga, Kyle masuk menjadi salah satu dari 12 anak itu. Malamnya mereka berkumpul di perpustakaan, membawa sleping bag, pakaian ganti, dan keperluan menginapnya. Semalaman mereka menikmati perpustakaan yang baru. Mereka adalah 12 anak yang pertama kali masuk ke perpustakaan tiga lantai tersebut. Atapnya dome besar yang menayangkan langit malam, lengkap dengan galaxy dan komet, yang kemudian berganti menjadi gambar yang menunjukkan kelas DDC: Cleopatra, orang memanjat gunung, dan kapal Viking mewakili kelas 900-999: Sejarah dan geografi. Ada sepuluh ruangan yang masing-masing berisi koleksi per-kelas DDC. Lalu ada ruang baca anak-anak, ruang bermain games yang berisi semua permainan ciptaan Mr. Lemoncello. Surga banget bagi Kyle!

Hingga pukul 2 malam, mereka mengeksplore dan memainkan semua permainan yang ada (kecuali Sierra yang langsung memilih spot enak untuk baca buku) hingga pagi hari mereka bangun dan sarapan pagi, namun pintu perpustakaan belum juga dibuka. Mereka juga tidak bisa membuka dari dalam. Ada apa ini?

pic.credit:
https://www.instagram.com/sylnamira/
 
Tiba-tiba mucullah wajah Mr. Lemoncello di layar dome yang besar, mengatakan bahwa bagi yang ingin bermain game, akan ada hadiah bagi pemenangnya. Gamenya adalah "Mencari jalan keluar dari perpustakaan." Beberapa anak mengundurkan diri, sehingga tinggallah beberapa saja. Dan petualangan pun dimulai! Dengan dalam 12 jam, mereka harus menemukan cara keluar dari perpustakaan, menggunakan semua resources yang ada di perpustakaan.

Mengikuti petualangan mereka mencari jalan keluar, sekilas mengingatkan pada cerita Charlie and the Chocolate Factory, dan memang anak-anak dalam buku ini menyatakan demikian. Mr. Lemoncello mirip seperti Mr. Willy Wonka, dengan ide gila dan nyentriknya.

Judul-judul buku yang disebutkan dalam permainan dilist di bagian belakang buku ini, jika ada yang ingin mengoleksi atau mengumpulkan dalam satu rak di perpusnya, dengan diberi judul: "Buku-buku dari Perpustakaan Mr. Lemocello." *hmmm I just made up the idea, and I think I like it... if you have a huge collection* :P

Mr. Lemoncello juga suka mengutip kata-kata dari buku dalam hampir setiap ucapannya. Contoh saat dia menawarkan dua kontestan untuk mengadu peruntungan, tentunya dengan konsekuensi, saat ditanya konsekuensinya apa, Mr. Lemoncello menjawab: "Something bad. In fact, something wicked this way will probably come.." Dan dia juga senang menciptakan kata baru: Wondermous, stinkerrific, dll.

Selain bagi pecinta perpustakaan, buku ini juga cucok buat yang suka main game, atau at least familiar dengan instruksi yang ada di board game. Karena kata-kata dalam novel ini banyak mengadaptasi dari dua hal tersebut: perpustakaan dan games. Seru!

View all my reviews

Tuesday, September 22, 2015

The Ghost and Mrs. Muir -- R.A. Dick

The Ghost and Mrs. Muir: Vintage Movie ClassicsThe Ghost and Mrs. Muir: Vintage Movie Classics by R.A. Dick
My rating: 3 of 5 stars

Untuk cerita klasik, cukup seru. Apalagi ternyata ada filmnya, yang nanti akan menyusul reviewnya.

Novel yang ternyata nggak terlalu panjang ini (saya baca versi ebooknya) menceritakan tentang seorang single parent (perempuan muda dengan dua anak) yang ditinggal mati suaminya. Setelah bertahun-tahun hidup dibawah perintah kakak iparnya yang sangat mendominasi, akhirnya Lucy Muir memberanikan diri membeli rumah di kota yang jauh dari London.

Di sana, dia merasa cocok dengan sebuah rumah yang ternyata berhantu. Penjual rumah berusaha menjual rumah yang lain, namun Lucy tetap memilih rumah itu dan meminta si penjual untuk membiarkannya menginap secara gratis untuk beberapa malam sebagai percobaan.

Di malam dia menginap bersama pembantu setianya, Martha, Lucy mendengar suara Captain Gregg, hantu pemilik rumah yang gentayangan. Namun Lucy bukannya takut, malah menantang si hantu dan mengatainya bodoh. Karena kalau memang dia begitu mencintai hidup, kenapa juga bunuh diri? Si Captain tersinggung dan bercerita bahwa dia mati bukan karena bunuh diri, melainkan karena gas bocor *ngenes*.

Singkat cerita, Lucy membeli rumah itu dengan menggunakan uang si Captain, namun dengan syarat rumah itu nantinya harus dijadikan rumah peristirahatan para pelaut, setelah Lucy meninggal. Lucy pun setuju.

pic.credit:
https://www.instagram.com/sylnamira/
 
Seiring berjalannya waktu, Lucy dan Captain selalu berkomunikasi setelah anak-anak Lucy: Cyril dan Anna, tidur. Lucy tidak ingin Captain mengganggu atau menakuti anak-anaknya dengan muncul atau bersuara di depan mereka.

Keadaan jadi kocak saat Captain ikut campur dalam kehidupan pribadi Lucy, dan bertaruh bahwa Lucy akan jatuh cinta pada pria pertama yang ditemuinya *dan ternyata benar kejadian* :p

Ceritanya sih sebenarnya simple banget. Saat Lucy butuh uang, dia nulis buku *isinya tentang perjalanan hidup Captain* dan bukunya dengan mudah dipublish *aduh, itu impian semua penulis deh* dan royaltinya banyak karena buku itu terus difilmin, dan diterjemahin dalam beberapa bahasa *hiks, ngiriiii*

Dan saat anak-anaknya dewasa dan menemui rintangan dalam menjalani cita-cita mereka, Captain pun memberi solusi yang bisa diterima semua pihak. Over all, ini cerita memang ringan banget, dan typical cerita klasik ya seperti ini. Jadi kepo sama filmnya :D

View all my reviews