Sunday, April 19, 2009

A great and terrible beauty (The Gemma Doyle trilogy, bk. 1) -- Libba Bray

A Great and Terrible Beauty (The Gemma Doyle Trilogy, Book 1) A Great and Terrible Beauty by Libba Bray

My review
rating: 2 of 5 stars

Kisah diawali dengan pertengkaran antara Gemma dan ibunya, dimana Gemma ingin sekali mengunjungi London, kota asal mereka yang tak pernah dilihatnya, sementara ibunya menentang habis-habisan dengan alasan yang tidak Gemma mengerti.

Ketika akhirnya Gemma berhasil pergi ke London, Gemma tak tahu apakah dia harus gembira atau sedih, karena ibunya (satu-satunya orang yang melarangnya) telah tewas dengan cara yang mengenaskan. Dan Gemma menyalahkan dirinya atas kejadian itu.

Di London, Gemma masuk ke sekolah asrama untuk mempelajari bagaimana menjadi seorang lady. Dan cerita yang gw kira bakal seru, ternyata malah banyak menceritakan kehidupan di sekolah tersebut. Gimana Gemma berjuang untuk bisa survive di sekolah baru, lingkungan baru (yang ternyata nggak terlalu sulit), gimana Gemma akhirnya menjadi bagian dari genk orang populer (dengan mudahnya), dan sentuhan kisah klasik: mengajak seorang anak buangan (murid beasiswa, yatim piatu) ke dalam lingkarang genk populer tersebut. Yep, she's the heroine.

Lalu kisahnya perlahan mulai digulirkan ke takdir Gemma yang adalah seorang penjaga kunci ke pintu 'dunia sana'. Gimana ya bilangnya? Di buku disebut the realm. Gw sebut aja 'dunia sana' ya? Dunia tersebut adalah tempat para spirit (roh) yang terperangkap.

Gemma dan tiga orang temannya masuk ke dalam dunia tersebut (again, dengan mudahnya) dan menemukan taman yang sangat indah. Di sana mereka bisa menjadi apapun yang mereka inginkan. Dan tanpa sadar, lembar halaman buku pun mulai menipis, dan gw belum menemukan adegan pertarungan seru. Karena gw pikir, Gemma adalah kunci yang akan membuka pintu dunia tersebut. Harusnya dia sulit dong menjalani hidupnya dengan beban berat tersebut? Terlebih lagi ada dua kubu yang memperebutkannya.

Kubu pertama, adalah satu golongan yang tak menginginkan Gemma membuka pintu ke 'dunia lain' tersebut. Lalu kubu kedua, yang ingin mengambil kekuatan Gemma untuk dirinya. Semua hal tersebut harusnya sudah cukup bisa membuat kehidupan masa remaja seorang gadis menjadi berat, bukan? Tapi Gemma menanggapinya terlalu ringan. Memang ada ketakutan disana, juga kesedihan, tapi kurang terasa. Mungkin di buku kedua akan lebih berasa konfliknya? We'll see :)

Tapi over all, gw suka buku ini. Masih masuk kategori fantasi, dan nggak terlalu berat dengan istilah² yang bikin lidah keseleo dan kening berkerut². Ceritanya ringan dan cukup mengalir.

View all my reviews.
Post a Comment