Sunday, May 08, 2016

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpao Merah -- Tere Liye

Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah by Tere Liye

My rating: 4 of 5 stars

Buku ini saya baca dalam rangka mengikuti #TantanganBacaGRI bulan Mei yang bertema: Membaca buku (minimal) 500 halaman. Jujur, saya punya buku ini sudah lama. Niatnya mau saya masukkan ke koleksi perpustakaan sekolah tempat saya kerja, namun ragu karena perpus itu untuk anak SD. Apakah tidak terlalu berat? Untuk memastikan iya atau tidaknya, saya harus baca, dong? Tapi tebalnya bikin gentar! Untunglah ada #TantanganBacaGRI dari komunitas Goodreads Indonesia, makanya saya pun mencomot buku setebal 507 halaman yang sudah mulai menguning kertasnya ini.

Kisah si bujang bernama Borno dimulai dari petualangannya mencari pekerjaan yang sesuai dengan ijazah SMA nya, yang tentu saja diharapkan bisa membawa penghidupan yang lebih baik baginya dan ibunya. Ayahnya sudah lama meninggal, karena tersengat ubur-ubur dan di akhir hidupnya, bapak tetap berbuat baik dengan mendonorkan jantungnya untuk orang yang membutuhkan.

Borno memulai karirnya sebagai petugas tiket di dermaga kapal feri. Tak disangka, ternyata keputusannya itu membuat seseorang (yang pandai mempengaruhi orang lain) kesal. Bang Togar tidak terima Borno bekerja untuk perusahaan kapal feri, karena sebagai pengemudi sepit (rakit penyebrangan di sungai Kapuas) kapal feri hanya menghabiskan penumpang mereka saja. Borno pun diberi waktu 1 bulan untuk berhenti dari pekerjaannya, atau dia tidak diperkenankan menyebrang dengan sepit. Bang Togar bahkan mencetak foto Borno dan dilaminating, untuk ditempel di setiap dermaga untuk melarang Borno menyebrang menggunakan sepit. Boikot ini justru membuat Borno terkenal. Orang yang sering naik sepit pasti kenal siapa itu Borno. Maka saat ada kesempatan bagus untuk keluar dari pekerjaannya sekarang, Borno pun mengundurkan diri. Namun harap catat, itu bukan karena ancaman Bang Togar.

Setelah itu Borno mencoba berbagai macam pekerjaan serabutan, hingga akhirnya Borno mendapat pekerjaan yang seolah sudah menjadi takdirnya untuk bertemu dengan cinta sejatinya. Awalnya Borno menolak, namun ternyata beberapa orang yang dekat dengan bapaknya sudah berembuk, dan mencari saweran untuk membelikannya sepit. Borno terperangah sekaligus haru. Dia yang pernah diboikot para penarik sepit, kini malah menjadi penarik sepit.

Suatu hari, seseorang meninggalkan sebuah angpau merah di sepitnya. Selidik punya selidik, angpau itu milik seorang gadis yang berwajah cantik namun sendu. Borno pun jadi penasaran. Maka setiap pukul 7.15, Borno menunggu kedatangan gadis itu, mengupayakan agar si sendu menawan bisa naik sepitnya. Dia pun meminta penarik sepit di depannya bertukar posisi agar si gadis bisa pas naik sepitnya. Makin lama mereka pun saling kenalan, dan perasaan Borno padanya makin tumbuh.

Pic.credit: https://www.instagram.com/sylnamira/
Mei, demikianlah namanya. Memiliki senyum menawan, serta wajah cantik jelita, khas gadis Tionghoa. Tak ada satu pun rahasia yang berhasil disimpan Borno yang tidak diketahui orang di sekitarnya. Plus mulut ember Andi, maka semua pengemudi sepit tahu bahwa Borno menyukai seorang gadis penumpang sepit bernama Mei. Kocaknya, dengan kepolosan mereka, semua mendukung Borno dengan cara mereka sendiri. Bahkan pernah saat Borno hendak jalan-jalan dengan Mei, semua pengemudi sepit menolak penumpang karena ingin melepas Borno dan Mei. Lucu banget!

Namun, ternyata Mei memiliki banyak keraguan. Beberapa kali gadis itu mengecewakan Borno dengan tidak muncul di saat yang telah ditentukan, namun Borno berkat nasehat dari Pak Tua, menolak berpikiran jelek. Dia selalu berusaha untuk berpikir positif, namun sulit kala Mei memutuskan untuk pergi dari Pontianak. Usaha Borno selalu berujung tembok, ditambah lagi Papa Mei jelas-jelas menyuruh Borno pergi dan meninggalkan Mei, pada pertemuan pertama mereka.

Keraguan Mei yang sering membuat saya gemas dan berpikir, "apa Mei merasa Borno tidak pantas untuknya?" atau "Ih, sok kecakepan amat sih Mei!" dengan emosinya, ternyata menyimpan masa lalu yang sangat membebaninya. Jadi saya ngerti deh kenapa Mei begitu. Iya, beneran! **puk-puk Mei**

Persahabatan Borno dan Andi patut diacungi jempol. Saya suka kata-kata Pak Tua saat Borno marah karena Andi mengerjainya, "hanya sahabat sejati yang bisa melakukan itu pada sahabatnya." Dan saat bapak Andi kena tipu, Borno yang juga ketipu langsung bangkit dan menyemangati bapak Andi sambil bekerja dengan kemampuan yang dia miliki. Ah, pokoknya Borno keren, lah!

Nasehat-nasehat pak Tua tentang cinta untuk Borno juga cukup mumpuni untuk anak muda yang belum pernah jatuh cinta. Semua bikin adem, meski sesekali Pak Tua suka juga menggoda Borno saat anak muda itu jumpalitan karena Mei yang sikapnya seperti tarik ulur layangan.


Beberapa kutipan dari buku ini saya suka:

"...sembilan dari sepuluh kecemasan muasalnya hanyalah imajinasi kita. Dibuat-buat sendiri, dibesar-besarkan sendiri. Nyatanya seperti itu? Boleh jadi tidak." (hal. 133)

"Camkan, bahwa cinta adalah perbuatan... kau selalu bisa memberi tanpa sedikit pun rasa cinta... tetapi kau tidak akan pernah bisa mencintai tanpa selalu memberi." (hal.168)

"Cinta sejati selalu menemukan jalan... Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya." (hal.194)

"Camkan ini anakku. Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, jangan pernah merusak diri sendiri." (hal 479)

Kisah cinta Borno dan Mei, dipadukan dengan latar setting di Pontianak, tepatnya di tepian sungai Kapuas, sungguh sangat sedap diikuti. Ditambah lagi dengan deskripsi daerah serta kegiatan penduduk di sana, membuat novel ini sarat dengan kehidupan dan kebudayaan lokal.

Dan saya senang (akhirnya) berhasil menyelesaikannya.
Post a Comment