Into the water by Paula Hawkins
My rating: 4 of 5 stars
Seperti halnya novel yang lalu (The Girl on The Train, bisa klik reviewnya di SINI) novel ini masih bergenre yang sama, yakni mystery thriller dan sejenisnya. Menceritakan misteri seputar kematian seorang penulis bernama Nel Abbott. Nel ini meninggalkan seorang anak perempuan, Lena, dan seorang adik bernama Jules yang sudah sekian lama hilang kontak. Bukan karena tidak bisa dikontak, melainkan karena memang Jules menghindari Nel.
Kematian Nel banyak menuai teori, karena sesungguhnya Nel kurang disukai oleh beberapa orang di kota kecil tersebut. Sebut saja Louise yang membencinya karena Nel ingin mengekspos kematian anaknya Katie dengan menuliskannya ke dalam buku yang sedang digarapnya. Buku itu adalah semacam dokumenter, tentang Drowning Pool, sebuah tempat di sungai yang mengalir di kota mereka, di mana banyak perempuan yang mati di sana. Entah itu karena diduga penyihir, atau bunuh diri. Dan Nel ingin menuliskan semua kisah perempuan-perempuan yang mati di Drowning Pool.
Jules tidak percaya kalau Nel lompat bunuh diri karena perasaan bersalah (menurut orang-orang di kota itu sih demikian) karena menurut Jules, Nel bukan jenis orang yang seperti itu. Dan Jules pun jadi perang dengan batinnya saat harus mengurus anak Nel, Lena yang berusia remaja. Somehow Lena membenci Jules karena tantenya itu tidak peduli pada ibunya, dan tentu dirinya. Jules memang tidak mengelak, namun ada rahasia di masa kecil Jules dan Nel yang tidak diketahui siapapun. Rahasia yang selama ini dipendam Jules, tentang Nel. Yang menjadi bibit kebenciannya terhadap kakaknya itu.
Penyelidikan dilakukan polisi, dan spekulasi demi spekulasi mengenai kematian Nel mulai berkembang, merambat ke kasus kematian yang lampau. Katie, sahabat Lena, yang ditemukan mati di Drowning Pool, kasusnya diangkat kembali karena misteri kematiannya yang mencurigakan dan Louise menemukan bukti baru.
Banyaknya tokoh yang disebutkan di buku ini, bagaimana masing-masing dari mereka memiliki motif dan rahasia yang disimpannya masing-masing. Agak lambat alurnya, dan saya terus terang sempat frustasi di chapter-chapter awal, karena uugghhhh... ini siapa lagi siiihhhh? **pala uyeng**
Tapi jelang ke chapter akhir, cerita sudah berkembang dan misteri mulai terkuak satu persatu, saya jadi semangat menyelesaikannya. Misterinya dapet banget, meski thrillernya agak kurang sih, buku ini kurang menegangkan buat saya. But overall, saya suka dan akan baca lagi kalo mbak Paula nulis jenis kayak begini lagi. Endingnya nggak ketebak, dan ngenes banget ni buku. :D
Showing posts with label paula hawkins. Show all posts
Showing posts with label paula hawkins. Show all posts
Monday, February 26, 2018
Sunday, August 27, 2017
The Girl On The Train -- Paula Hawkins
The Girl on the Train, by Paula Hawkins.
My rating: 3 of 5 stars.
Kisah perjalanan dengan kereta memang banyak meninggalkan kisah. Seperti misalnya di KRL jabodetabek, ada aja kisah di salamnya yang saya dengar dari teman-teman komuter. Seperti perselingkuhan *euh, bahaya*, arisan *ini seru ya*, dan lain sebagainya. Namun tidak demikian dengan Rachel. Perjalanannya di dalam kereta yang dilakoninya setiap hari, membuatnya terlibat dalam sebuah kasus.
Rachel adalah seorang pemabuk berat. Dia alkoholik tingkat dewa yang menginginkan seorang anak dalam keluarga kecilnya. Namun suaminya tak terlalu mendukung keinginannya, tetapi tidak juga melarangnya untuk memeriksakan diri mereka berdua. Istilahnya, suaminya mah nyantai aja, dikasih hayuk, nggak ya sudah. Tapi Rachel malah baper. Dan dia jadi mulai minum-minum untuk menutupi kesedihannya, hingga akhirnya Rachel kecanduan alkohol dan menjadi alkoholik akut.
Rachel pun akhirnya tahu bahwa Jess adalah Megan, dan Jason adalah Scott. Keduanya tinggal tidak jauh dari rumah yang dulu ditinggalinya bersama Tom. Rachel merasa dirinya memiliki informasi penting mengenai hilangnya Megan, karena sebelumnya dia pernah melihat Megan mencium lelaki lain yang bukan suaminya. Rachel merasa harus terlibat dan itu memberinya tujuan, membuatnya mampu menahan diri dari minum. Bahkan Rachel memecahkan recordnya sendiri, mampu sadar dalam beberapa hari!
Misteri banget mengenai pembunuhan Megan ini dan baru terungkap di bab-bab terakhir. Kerapuhan Rachel dalam menjalani kehidupannya tanpa Tom sangat terasa di sini. Yang membuat saya gemes adalah ketidakmampuan Rachel menahan diri dari minum-minum. Kalau dia sudah mabuk dan menimbulkan masalah, euuhhhh... rasanya pengen jambak rambutnya. Kezel banget gitu loh! But again, seorang yang kecanduan memang harus memiliki tujuan dalam hidupnya biar dia terlepas dari kecanduannya itu. Dan bagi Rachel, mengikuti kasus hilangnya Megan membantunya mendapatkan tujuan hidup, meski ujung-ujungnya bawa masalah buat dirinya sendiri sih.
Sudah ada filmnya kan ya? Sekalian nonton kalau sudah selesai. Saya sih masih mikir-mikir dulu, soalnya udah tahu endingnya sih :D
My rating: 3 of 5 stars.
Kisah perjalanan dengan kereta memang banyak meninggalkan kisah. Seperti misalnya di KRL jabodetabek, ada aja kisah di salamnya yang saya dengar dari teman-teman komuter. Seperti perselingkuhan *euh, bahaya*, arisan *ini seru ya*, dan lain sebagainya. Namun tidak demikian dengan Rachel. Perjalanannya di dalam kereta yang dilakoninya setiap hari, membuatnya terlibat dalam sebuah kasus.
Rachel adalah seorang pemabuk berat. Dia alkoholik tingkat dewa yang menginginkan seorang anak dalam keluarga kecilnya. Namun suaminya tak terlalu mendukung keinginannya, tetapi tidak juga melarangnya untuk memeriksakan diri mereka berdua. Istilahnya, suaminya mah nyantai aja, dikasih hayuk, nggak ya sudah. Tapi Rachel malah baper. Dan dia jadi mulai minum-minum untuk menutupi kesedihannya, hingga akhirnya Rachel kecanduan alkohol dan menjadi alkoholik akut.
“It’s possible to miss what you’ve never had, to mourn for it.”Tom, suaminya, berusaha bersabar namun namanya juga manusia, kesabaran pasti ada batasnya. Hingga akhirnya Tom meninggalkannya demi Anna. Rachel bercerai dan Tom membangun kehidupan baru dengan Anna, dan memiliki seorang anak perempuan. Rachel tidak bisa menerima kenyataan, dan terus melakukan aksi teror: menelpon Tom, mengajaknya bertemu, mendatangi rumah mereka, intinya Rachel gak bisa move on.
“I have to find a way of making myself happy, I have to stop looking for happiness elsewhere. It’s true.”Saat berada di dalam kereta, Rachel selalu memperhatikan rumah-rumah yang ada di sepanjang rel, dan salah satunya menarik perhatiannya karena pasangan muda di rumah tersebut tampak sangat harmonis. Dia menamakan pasangan itu Jess dan Jacob. Tentu saja itu nama karangannya sendiri. Setiap hari Rachel ingin melihat mereka, dan menciptakan khayalan sendiri tentang kehidupan mereka. Hingga suatu hari, Jess menghilang!
Rachel pun akhirnya tahu bahwa Jess adalah Megan, dan Jason adalah Scott. Keduanya tinggal tidak jauh dari rumah yang dulu ditinggalinya bersama Tom. Rachel merasa dirinya memiliki informasi penting mengenai hilangnya Megan, karena sebelumnya dia pernah melihat Megan mencium lelaki lain yang bukan suaminya. Rachel merasa harus terlibat dan itu memberinya tujuan, membuatnya mampu menahan diri dari minum. Bahkan Rachel memecahkan recordnya sendiri, mampu sadar dalam beberapa hari!
“It’s impossible to resist the kindness of strangers. Someone who looks at you, who doesn’t know you, who tells you it’s OK, whatever you did, whatever you’ve done: you suffered, you hurt, you deserve forgiveness.”Namun ada satu hal yang mengganggu dirinya. Di hari Megan hilang, Rachel ada di lingkungan tersebut dan dia merasa ada andil di dalamnya. Ditambah lagi malam itu Rachel pualng dengan berdarah-darah, yang dia sendiri tidak tahu penyebabnya. Apakah Rachel yang membunuh Megan? Nah lho!
Misteri banget mengenai pembunuhan Megan ini dan baru terungkap di bab-bab terakhir. Kerapuhan Rachel dalam menjalani kehidupannya tanpa Tom sangat terasa di sini. Yang membuat saya gemes adalah ketidakmampuan Rachel menahan diri dari minum-minum. Kalau dia sudah mabuk dan menimbulkan masalah, euuhhhh... rasanya pengen jambak rambutnya. Kezel banget gitu loh! But again, seorang yang kecanduan memang harus memiliki tujuan dalam hidupnya biar dia terlepas dari kecanduannya itu. Dan bagi Rachel, mengikuti kasus hilangnya Megan membantunya mendapatkan tujuan hidup, meski ujung-ujungnya bawa masalah buat dirinya sendiri sih.
“Who was it said that following your heart is a good thing? It is pure egotism, a selfishness to conquer all.”Anyway, saya merasa gagal saat awal baca buku ini. Lamaa dan bosan sama tingkah Rachel yang menyebalkan. Tapi menjelang tengah ke akhir, saya mulai bisa menikmati bahkan penasaran banget dengan kelanjutannya. Jadi buat yang merasa lelah baca di bab awal, terusiiinnn.. kamu pasti bisa! Dan endingnya wow deh.
Sudah ada filmnya kan ya? Sekalian nonton kalau sudah selesai. Saya sih masih mikir-mikir dulu, soalnya udah tahu endingnya sih :D
Subscribe to:
Comments (Atom)




