Showing posts with label mystery novel. Show all posts
Showing posts with label mystery novel. Show all posts

Monday, February 26, 2018

Into the Water -- Paula Hawkins

 Into the water by Paula Hawkins

My rating: 4 of 5 stars

Seperti halnya novel yang lalu (The Girl on The Train, bisa klik reviewnya di SINI) novel ini masih bergenre yang sama, yakni mystery thriller dan sejenisnya. Menceritakan misteri seputar kematian seorang penulis bernama Nel Abbott. Nel ini meninggalkan seorang anak perempuan, Lena, dan seorang adik bernama Jules yang sudah sekian lama hilang kontak. Bukan karena tidak bisa dikontak, melainkan karena memang Jules menghindari Nel.

Kematian Nel banyak menuai teori, karena sesungguhnya Nel kurang disukai oleh beberapa orang di kota kecil tersebut. Sebut saja Louise yang membencinya karena Nel ingin mengekspos kematian anaknya Katie dengan menuliskannya ke dalam buku yang sedang digarapnya. Buku itu adalah semacam dokumenter, tentang Drowning Pool, sebuah tempat di sungai yang mengalir di kota mereka, di mana banyak perempuan yang mati di sana. Entah itu karena diduga penyihir, atau bunuh diri. Dan Nel ingin menuliskan semua kisah perempuan-perempuan yang mati di Drowning Pool.

Jules tidak percaya kalau Nel lompat bunuh diri karena perasaan bersalah (menurut orang-orang di kota itu sih demikian) karena menurut Jules, Nel bukan jenis orang yang seperti itu. Dan Jules pun jadi perang dengan batinnya saat harus mengurus anak Nel, Lena yang berusia remaja. Somehow Lena membenci Jules karena tantenya itu tidak peduli pada ibunya, dan tentu dirinya. Jules memang tidak mengelak, namun ada rahasia di masa kecil Jules dan Nel yang tidak diketahui siapapun. Rahasia yang selama ini dipendam Jules, tentang Nel. Yang menjadi bibit kebenciannya terhadap kakaknya itu.


Penyelidikan dilakukan polisi, dan spekulasi demi spekulasi mengenai kematian Nel mulai berkembang, merambat ke kasus kematian yang lampau. Katie, sahabat Lena, yang ditemukan mati di Drowning Pool, kasusnya diangkat kembali karena misteri kematiannya yang mencurigakan dan Louise menemukan bukti baru.

Banyaknya tokoh yang disebutkan di buku ini, bagaimana masing-masing dari mereka memiliki motif dan rahasia yang disimpannya masing-masing. Agak lambat alurnya, dan saya terus terang sempat frustasi di chapter-chapter awal, karena uugghhhh... ini siapa lagi siiihhhh? **pala uyeng**

Tapi jelang ke chapter akhir, cerita sudah berkembang dan misteri mulai terkuak satu persatu, saya jadi semangat menyelesaikannya. Misterinya dapet banget, meski thrillernya agak kurang sih, buku ini kurang menegangkan buat saya. But overall, saya suka dan akan baca lagi kalo mbak Paula nulis jenis kayak begini lagi. Endingnya nggak ketebak, dan ngenes banget ni buku. :D

Monday, February 19, 2018

Origin -- Dan Brown

Origin by Dan Brown

My rating: 3 of 5 stars

Kalau bukan karena bacaan wajib book club, gak kepikiran deh bakal baca novel Dan Brown dalam waktu dekat gini. Karena di pikiran saya, Robert Langdon ini kerjaannya berat banget mikirnya: kode, pembunuhan, kejar-kejaran, kode lagi, pembunuhan lagi, ya pokoknya gitu deh.

Namun saya mendapat hal yang berbeda di novel Origin ini. Meski yang baru saya baca ya dua aja sih, Da Vinci Code sama Angels & Demons, tapi saya merasakan perbedaannya dengan Origin.

Anyway, mari kita mulai dulu dari awal deh ya. Kisahnya tentang seorang ilmuwan atheis yang katanya cerdas banget, hingga penemuannya selalu spektakuler, yang mengunjungi 3 pemuka agama (islam, yahudi, dan kristen) untuk meminta pendapat mereka tentang temuan ilmiahnya yang terbaru. Awalnya tentu tidak dijelaskan apa itu penemuan Edmond Kirsch, ilmuwan jenius tersebut. Tapi yang pasti para pemuka agama ini merasa galau dan meminta Edmond untuk mengurungkan niatnya untuk mengumumkan penemuannya tersebut ke dunia, karena akan mengguncang keimanan semua orang yang beragama. Nah lho! Heboh bener ya kayaknya?
Sometimes, all you have to do is shift your perspective to see someone else’s truth.
Tapi Edmond tetep dong mengumumkan ke khalayak ramai, dan yep dia mendapatkan perhatian dari jutaan penonton streaming seperti yang dia inginkan. Sebelum Edmond mengumumkan apa itu penemuannya, ada yang nembak dia. DOR! Mati. Saya yang... what? Dan seperti yang sudah ditebak, Prof. Langdon bersama cewek cantik (semacam Bond dan gadis2nya ya? selalu ada ce cantik yang menemani sang profesor) bernama Ambra Vidal, seorang wanita elegan yang berprofesi sebagai direktur museum tempat Edmond mengumumkan penemuannya, mereka berdua berusaha mencari tempat di mana Edmond menyimpan data dan berniat mengumumkannya ke dunia. Karena kalau ada yang menginginkan Edmond mati, berarti ada konspirasi di balik ini semua.
Historically, the most dangerous men on earth were men of God…especially when their gods became threatened.
Mereka dipandu oleh super komputer milik Edmond yang bernama Winston. Semua jadi begitu mudah dan lancar dengan bantuan Winston, hingga memecahkan kode pun profesor kalah cepat sama si komputer. Hmm.. apakah ini menunjukkan bahwa komputer akan mengambil alih semua pekerjaan dan pemikiran manusia? Karena Winston ini cerdas banget! Super-duper cerdas! Bikin saya berharap punya komputer seperti ini. Yah, minimal henpon lah.. biar smartnya beneran :p

Jalan cerita masih sama, kejar-kejaran dengan teman yang jadi musuh, curiga mencurigai (padahal kita kan gak boleh suudzon ya?), konspirasi, dan tentu memecahkan kode-kode. Tapi sayangnya, di novel ini kecerdasan profesor tertutup si Winston. Mungkin untuk menunjukkan bahwa memang akan tiba era nya di mana manusia bergantung pada komputer. Buktinya sekarang orang nggak bisa kalau nggak pegang HP. HP ketinggalan langsung kebakaran jenggot, seolah hidupnya hancur kalau HP sampai ketinggalan. Apalagi kalau hilang. Karena semua data disimpan di sana. Belum lagi untuk foto sekarang saya mengandalkan Google Photos dan Google Drive untuk menyimpan data. Hmm...!


Dan ada issue yang agak mengejutkan juga sih di sini, yang gak ada hubungannya dengan kode dan pembunuhan, dan kalau ditiadakan juga sebenarnya gak pengaruh ke jalan cerita. Sekadar bumbu, saya rasa. Dan profesor juga kok tetiba bisa langsung kesengsem gitu sama si mbak Ambra. Apa mungkin memang kalau orang habis melewati masa menegangkan berdua, trus tetiba jadi ada ikatan batin gitu ya? Atau apakah ini juga cara Oom Brown mengemas cerita yang melulu tentang komputer dan bagaimana kecerdasan HP mengalihkan perhatian semua orang, bahwa sebenarnya rasa cinta itu masih adaaa.. pada makhluk yang bernyawaaa... *eh, maap*

Intinya, sekeren-kerennya Winston the smart computer, masih lebih baik berteman dengan manusia, gitu kali ya? Secara ada perasaan yang berkembang, ada rindu yang menyesakkan dada, ada juga rasa bersalah dan sedih yang membuat manusia tumbuh dan berkembang menjadi lebih baik. *ceilee.. apa ini..?*
Well, science and religion are not competitors, they’re two different languages trying to tell the same story. There’s room in this world for both.
Akhir kata, saya suka dengan novel ini, tapi nggak se-emhh yang dulu-dulu waktu baru baca karyanya Oom Brown. Soalnya kalo dipikir-pikir ya sama aja sih kejadiannya, dan plotnya kayak udah kebaca gitu. Cuma memang issue yang diangkat beda-beda tiap novelnya. Seru, dan sepertinya saya akan lanjut ke Inferno.

Someday... I don't know when... but I will.

Sunday, October 22, 2017

The Cuckoo's Calling -- Robert Galbraith

The Cuckoo's Calling, by Robert Galbraith

My rating: 3 of 5 stars

Strike adalah seorang detektif swasta yang bekerja untuk dirinya sendiri, alias dia adalah bos dari agensi detektifnya sendiri. Saat itu, agen detektifnya lagi sepi klien, ditambah dengan hutang yang menumpuk, putus dengan pacarnya, dan tak memiliki sekretaris, hidup Strike bisa dibilang amburadul. Sebagai seorang mantan tentara yang berhenti karena kakinya diamputasi, Strike mencari penghidupan dengan mengandalkan keahliannya menginvestigasi kasus-kasus dari klien yang datang padanya.

Robin, seorang gadis yang baru pindah ke London mengikuti tunangannya, dikirim ke agen detektif Strike oleh Temporary Solution, agen penyalur tenaga kerja. Dalam hatinya dia gembira mendapat kesempatan kerja bersama seorang detektif, karena cita-citanya di masa lalu adalah memiliki agen detektif sendiri, dan menjadi sekretaris dari seorang detektif cukup menghiburnya.

Suatu hari datanglah seorang pengacara yang memintanya menyelidiki kasus kematian seorang supermodel terkenal, Lula Landry, yang juga adik angkatnya. John Bristow mengatakan bahwa polisi menganggap kasusnya bunuh diri, namun dia tak mempercayai itu. Karena Lula adalah orang yang penuh optimistik dan disayangi orang-orang di sekitarnya.
The dead could only speak through the mouths of those left behind, and through the signs they left scattered behind them.
Mulailah Strike menyelidiki, mengumpulkan informasi dan menggali kehidupan Lula Landry. Dan menemukan petunjuk ke arah pembunuh Lula. Siapakah yang telah membunuh supermodel cantik itu? Apakah benar pelakunya adalah si pacarnya yang punya sejarah putus-nyambung itu?

Terus terang, saya berjuang keras menyelesaikan buku ini. Bukan ceritanya tidak menarik, melainkan kata-kata yang digunakan J.K. Rowling (yep, Robert Galbraith adalah pseudonym) nggak lazim saya baca di buku, sehingga harus mencari definisinya dulu, dan itu melelahkan.
He had found humor in darker places.
Belum lagi deskripsi yang berbunga-bunga dan (menurut saya kurang penting) membuat saya berkali-kali skip halaman dan berpikir, "ya udah sih, mana actionnya? I don't need to know about a wall decoration!"

Anyway, bagi penggemar cerita detektif, saya yakin pembaca akan langsung menebak-nebak siapa gerangan pembunuh Lula. Tapi saya? Saya mah ikutin aja bacaaaa sampe akhir, hingga pas detektifnya nunjuk si pembunuh, saya yang... "oh, dia?" *tepok jidat* Nggak ada sama sekali niatan buat ikutan nebak. Bacaaa ajah, terus bacaaa sampe akhirnya si penulis yang ngasih tau saya pelaku utamanya.
Unhappy is he whose fame makes his misfortunes famous.
Saya suka novel ini karena pemeran utamanya yang jauh dari kata sempurna. Gak ada tuh detektif ganteng, sekretaris cantik. Ya sih, Robin memang digambarkan cantik, dan Strike sebagai lelaki normal tentu saja sempat terpukau kala Robin menunjukkan kecantikan sekaligus kepintarannya. Namun untuk Strike sendiri, gambaran yang saya dapat adalah, lelaki bertubuh besar (mungkin yang cucok sebesar Hagrid di serial HarPot kali ya?) berjalan pincang karena kakinya yang diamputasi digantikan dengan kaki palsu yang terkadang menyebabkan nyeri dan komplikasi lainnya jika dibawa jalan jauh.


Kehidupan Strike sendiri jauh dari normal, seperti yang saya sebutkan di atas PLUS dia tinggal di dalam kantornya sendiri. Rupanya bagi orang luar, tinggal di kantor itu sama menyedihkannya dengan homeless. Padahal di Indonesia mah banyak rukan alias rumah kantor, yang kerja di situ iya, tinggal di situ juga iya. Ngapain malu? Yang penting nggak tidur di jalanan, ya nggak?


Terakhir, saya dengar novel ini akan dijadikan film. Tentu saja saya akan menontonnya, meski udah tau endingnya. Dan tentang sequel dari buku ini, mungkin saya tunda bacanya sampai tahun depan saja.
He liked Robin; he was grateful to her; he was even (after this morning) impressed by her; but, having normal sight and an unimpaired libido, he was also reminded every day she bent over the computer monitor that she was a very sexy girl.
Bagi pencinta cerita detektif, misteri pembunuhan, dan sedikit cipratan roman, boleh lah coba baca novel ini. Nggak nyesel deh! Beda banget tulisan mbak Rowling dengan yang di cerita fantasinya yang fenomenal itu. Ini beneran kisah detektif, dan yah.. jangan banding-bandingin lah! Genrenya benar-benar beda.