Showing posts with label thriller novel. Show all posts
Showing posts with label thriller novel. Show all posts

Sunday, November 25, 2018

The Woman in the Window -- A.J. Finn

The Woman in the Window -- A.J. Finn

My rating: 3 of 5 stars

Ini cerita thriller psikologi selanjutnya yang saya baca. Kisahnya tentang Anna dan kehidupannya di dalam rumah. Di awal cerita tentu saja tidak dikasih tau kenapa Anna Fox suka mengintip kehidupan tetangganya. Mungkin karena dia bosan saja, atau itu hobi barunya setelah berpisah dengan suaminya. Sementara anaknya Olivia dibawa Ed, sang suami. Tentu saja setelah beberapa halaman baca saya baru paham kenapa Anna lebih suka bergaul dengan kamera Nikonnya untuk mengenal tetangga-tetangganya. (Dan bikin saya juga pingin ganti kamera ke Nikon).

Deskripsi awal tentang tetangga-tetangga Anna sempet membuat saya bosan banget. Menguap beberapa kali, bahkan saya akhirnya menyerah dan meninggalkan buku ini kurang lebih sebulan untuk membaca buku lain :D Anna menceritakan tetangganya yang hamper ketangkep selingkuh (tapi nggak), lalu menceritakan tetangganya yang lain, hobi mereka, rumah mereka, yang pada akhirnya juga nggak memiliki signifikansi apa-apa dalam cerita. Ngeselin kan ya?

Lalu setelah sebulan kemudian saya ambil ni buku, baru deh terjadi pembunuhannya. NAH! Ini dia, kan? Akhirnya muncul juga yang ditunggu-tunggu. Anna ini bermasalah dengan alcohol, bahkan dia minum obat dicampur alcohol. Ah, contoh yang sangat tidak baik dan memang tidak cocok dibaca oleh anak dibawah umur buku ini. Padahal Anna ini psikolog anak, tapi ternyata dia tidak dapat membantu dirinya sendiri. Ya, dimaklumi sih, dokter jantung juga gak bisa mengoperasi diri sendiri ketika kena serangan jantung, kan?

IG: @bookdragonmomma
Nah, kala dalam keadaan mabuk, dia mendengar suara jeritan. Anna langsung menelpon ke rumah depan yang beberapa hari ini menjadi pusat intipannya (apa pula 'pusat intipan') namun semua orang tidak mengaku mendengar suara apapun. Dan Anna tidak mungkin menanyakan ke tetangga sebelah kanan-kiri juga sih! Akhirnya ya sudah lah. Saya pikir dia akan berhenti minum-minuman ya, biar tetap sadar dan waras. Etapi nggak lho! Dia nggak bisa menolak minuman keras itu. Apalagi dia belinya kerat-keratan gitu, stok banyak, kan?

Hingga suatu malam, dia melihat seorang perempuan tertusuk di rumah depan (lagi) inisiatif pertamanya adalah menelpon 911. Tapi Anna nggak sabar, karena si petugas 911 mewawancarainya terus menerus, sementara perempuan di depan rumah kan butuh pertolongan ya!! Anna pun memutuskan untuk keluar rumah. Satu-dua-tiga-empat… Anna berusaha bangkit dari halaman rumah tempatnya kolaps. Dia harus membantu perempuan itu, dia harus membantu Jane Russell, perempuan ramah yang sempat menemaninya bercakap-cakap, mengusir rasa bosan karena terkurung penyakitnya.

Namun, ketika Anna bangun dari pingsannya, dia di rumah sakit, dan tak ada seorang pun yang pernah melihat perempuan yang tertusuk semalam. Bahkan Jane Russell yang dikenalkan tetangganya pun, bukan perempuan yang dia lihat, bukan perempuan yang pernah ke rumahnya dua kali. Semua menganggapnya gila, bahkan Anna pun mulai meragukan kewarasannya. Benarkan dia berhalusinasi? Apalagi obat dan alcohol yang dia minum memang bisa menyebabkan hal tersebut. Tak ada yang percaya Anna. Sendirian, dia harus membuktikan bahwa dia tidak gila.

Karakternya kurang lebih sama deh dengan Rachel di The Girl on the Train (sampai sekarang saya belum nonton filmnya, entah kenapa, jadi malas saja) Perempuan yang tinggal sendiri, masalah dengan alcohol, dan tidak punya teman. Ah, begitu banyak perempuan sepi di dunia ini hingga karakter novel pun banyak tentang mereka. Mengapa? *ih, baperan yak pembaca yang satu ini*

Anyway, buat yang suka thriller macam ini, baca lah. Cuma ya sabar-sabar aja membaca bab awal. Saya aja sempat menyerah, padahal saya suka-pake-banget sama thriller. Itulah makanya saya kasih aja 3 bintang :D

IG: @bookdragonmomma

Wednesday, November 14, 2018

Blood Sisters -- Jane Corry

Blood sisters, by Jane Corry

My rating: 4 of 5 stars

Aaah suka banget! Nemu lagi penulis thriller favorit ;)

Blood sisters adalah buku kedua yang saya baca setelah My Husband's Wife. Ditulis oleh Jane Corry yang ternyata punya pengalaman kerja di dalam penjara, maka dia pasti lebih mengenal seluk beluk penjara dibanding kita (kita?) dan rasanya tuh kena banget, saat dia menceritakan rasa putus asa, phobia yang tiba-tiba muncul saat berada di sana, dan lain sebagainya.

Baiklah mari dimulai saja tentang bukunya. Ini tentang Alison dan Kitty. Dua bersaudara dengan kondisi tubuh yang berbeda, namun keduanya menyimpan rahasia yang sangat dalam, yang hanya dibagi antara dua saudari perempuan.

Alison adalah seorang guru art, mengajar di tempat-tempat kursus untuk orang dewasa yang ingin belajar melukis, atau membuat seni dari pecah belah. Di salah satu tempat kursus, Alison bertemu Clive. Pria misterius yang mencuri hatinya. Clive tidak banyak menceritakan tentang dirinya, hanya saja dia seorang pebisnis yang harus pergi keluar kota sepanjang minggu. Dan kelas art Alison adalah satu-satunya cara dia menuangkan bakat seninya.

IG: @bookdragonmomma
Kitty, seorang perempuan disabilitas. Meski tidak bisa bicara, Kitty memahami apa yang orang lain bicarakan di sekitar dia. Saat Kitty ingin menyampaikan pikirannya, yang keluar hanyalah gumaman yang tidak dipahami orang lain (plus liur). Kitty mengaami gangguan syaraf otak karena kecelakaan yang menimpanya saat masih kecil.

Alison menyimpan rasa bersalah pada Kitty, dan melampiaskannya dengan melukai dirinya sendiri. Satu persatu, memori Kitty mulai terbuka, terutama saat dia hamil dan melahirkan anak (bagaimana bisa? Ya bisa lah!) Dan Alison yang menyimpan rahasianya rapat-rapat, malah satu persatu mulai terbuka tanpa dia inginkan.

Alison mengalami trauma masa remaja saat Crispin, cowok yang dia pikir dia suka, melakukan hal yang tak senonoh padanya. Namun dengan kata-kata abusive dari Crispin, Alison jadi beranggapan kalau itu semua adalah kesalahannya. Di sini terlihat betapa pentingnya Pendidikan self-awareness dan self-appreciation untuk anak-anak gadis kita. Ketika dia diancam akan diadukan ke ibunya, Alison pun panik. Tanpa disadarinya, dia mendorong Kitty ke jalan raya, dan terjadilah kecelakaan brutal itu. Sepanjang hidupnya, Alisan merasa bersalah.

Lalu  muncullah tawaran pekerjaan di penjara untuk mengajarkan para napi menggambar atau melukis. Alison yang tadinya takut, lambat laun merasa biasa bekerja dalam satu ruangan Bersama para napi. Hingga muncul note-note berisi ancaman yang ditujukan padanya. Belum lagi seorang napi yang mencurigakan, mengaku-ngaku mengenalnya. Alison harus melakukan sesuatu sebelum semua terlambat!

Ini thriller yang keren! Saya sudah bilang kan kalau Jane Corry sekarang salah satu penulis thriller favorit saya? :D Lapis demi lapis rahasia, rapi banget dibukanya. Pelan-pelan, bikin gregetan karena penasaraaaannn!!! Pingin segera menyelesaikan, tapi di waktu yang bersamaan, tidak pingin segera selesai. Buat pencinta thriller, baca deh. Rahasianya gak habis-habis. Ketika kita kira semua sudah terbuka, ternyata masih ada lagi, dan lagi. Ah, endingnya gak disangka-sangka deh :D

IG: @bookdragonmomma

Tuesday, August 07, 2018

Then She Was Gone -- Lisa Jewell

Then She Was Gone, by Lisa Jewell.

My rating: 3 of 5

Ellie hilang.

Semua orang berpikir Ellie kabur dari rumah. Namun Lauren, tidak berpikir demikian. Dia tahu, Ellie, anaknya yang sempurna itu, tidak akan mungkin kabur. Dengan test GSCE (test untuk masuk ke universitas) yang sudah di depan mata, Ellie justru makin rajin belajar. Dia bahkan memanggil tutor, Noelle, untuk mengajarinya matematika.
When I read a book it feels like real life and when I put the book down it's like I go back into the dream.
Dua belas tahun kemudian, Lauren yang berusaha move on dari hilangnya Ellie, mendapat kabar bahwa tulang belulang Ellie ditemukan, dan dia pun akhirnya bisa menguburkan Ellie dengan layak. Tapi ternyata, rahasia yang mengelilingi kepergian Ellie masih harus terungkap. Melalui Poppy, gadis cilik yang sangat-sangat mirip Ellie, Floyd yang misterius, Hannah yang menyembunyikan hubungannya dengan pacar barunya, semua membuat Lauren penasaran.

Buku ini dibagi dalam empat bagian. Masing-masing dikisahkan dari sisi orang yang berbeda. Namun di beberapa bagian saya menemukan penulis seperti asal aja menceritakan dari POV manapun. Untungnya sih saya ngerti. Dan yang penting kan misteri hilangnya Ellie terungkap ya. Mau dia cerita dari sisi mana pun yang penting saya tahu Ellie kemana, kenapa, dan bagaimana kejadiannya. Titik :D
The blame game could be exhausting sometimes. The blame game could make you lose your mind . . . all the infinitesimal outcomes, each path breaking up into a million other paths every time you heedlessly chose one, taking you on a journey that you’d never find your way back from.
Untuk buku bergenre thriller, ini kurang ng-gigit, tapi okelah lumayan... ;)


Monday, February 26, 2018

Into the Water -- Paula Hawkins

 Into the water by Paula Hawkins

My rating: 4 of 5 stars

Seperti halnya novel yang lalu (The Girl on The Train, bisa klik reviewnya di SINI) novel ini masih bergenre yang sama, yakni mystery thriller dan sejenisnya. Menceritakan misteri seputar kematian seorang penulis bernama Nel Abbott. Nel ini meninggalkan seorang anak perempuan, Lena, dan seorang adik bernama Jules yang sudah sekian lama hilang kontak. Bukan karena tidak bisa dikontak, melainkan karena memang Jules menghindari Nel.

Kematian Nel banyak menuai teori, karena sesungguhnya Nel kurang disukai oleh beberapa orang di kota kecil tersebut. Sebut saja Louise yang membencinya karena Nel ingin mengekspos kematian anaknya Katie dengan menuliskannya ke dalam buku yang sedang digarapnya. Buku itu adalah semacam dokumenter, tentang Drowning Pool, sebuah tempat di sungai yang mengalir di kota mereka, di mana banyak perempuan yang mati di sana. Entah itu karena diduga penyihir, atau bunuh diri. Dan Nel ingin menuliskan semua kisah perempuan-perempuan yang mati di Drowning Pool.

Jules tidak percaya kalau Nel lompat bunuh diri karena perasaan bersalah (menurut orang-orang di kota itu sih demikian) karena menurut Jules, Nel bukan jenis orang yang seperti itu. Dan Jules pun jadi perang dengan batinnya saat harus mengurus anak Nel, Lena yang berusia remaja. Somehow Lena membenci Jules karena tantenya itu tidak peduli pada ibunya, dan tentu dirinya. Jules memang tidak mengelak, namun ada rahasia di masa kecil Jules dan Nel yang tidak diketahui siapapun. Rahasia yang selama ini dipendam Jules, tentang Nel. Yang menjadi bibit kebenciannya terhadap kakaknya itu.


Penyelidikan dilakukan polisi, dan spekulasi demi spekulasi mengenai kematian Nel mulai berkembang, merambat ke kasus kematian yang lampau. Katie, sahabat Lena, yang ditemukan mati di Drowning Pool, kasusnya diangkat kembali karena misteri kematiannya yang mencurigakan dan Louise menemukan bukti baru.

Banyaknya tokoh yang disebutkan di buku ini, bagaimana masing-masing dari mereka memiliki motif dan rahasia yang disimpannya masing-masing. Agak lambat alurnya, dan saya terus terang sempat frustasi di chapter-chapter awal, karena uugghhhh... ini siapa lagi siiihhhh? **pala uyeng**

Tapi jelang ke chapter akhir, cerita sudah berkembang dan misteri mulai terkuak satu persatu, saya jadi semangat menyelesaikannya. Misterinya dapet banget, meski thrillernya agak kurang sih, buku ini kurang menegangkan buat saya. But overall, saya suka dan akan baca lagi kalo mbak Paula nulis jenis kayak begini lagi. Endingnya nggak ketebak, dan ngenes banget ni buku. :D

Sunday, February 19, 2017

The Ice Twins -- S.K. Tremayne

The Ice Twins, by S.K. Tremayne

My rating: 4 of 5 stars

Empat belas bulan setelah kematian salah satu anak kembar mereka, Lidya, dalam sebuah kecelakaan di rumah orang tuanya, Sarah dan Angus memutuskan untuk pindah rumah, dari London ke sebuah pulau yang diwariskan Angus dari neneknya. Rumah dengan menara mercusuarnya itu membawa harapan baru bagi Sarah dan keluarganya untuk memulai hidup baru, lembaran baru, dengan kenangan yang baru.

Apalagi setelah dilihatnya Kirstie, yang sekarang menjadi anak semata wayang mereka, bersikap aneh dan bahkan mengatakan bahwa bukan Lidya yang meninggal, melainkan Kirstie. Dan dia adalah Lidya. Sarah berkonsultasi ke psikolog anak dan memutuskan untuk membiarkan kebingungan identitas itu sementara, karena fase itu akan lewat nantinya.
"Perhaps when you had a child together there was always a residual connection of love, even if it was later drowned. The love was still down there; like a sunken ship. And when you shared the death of a child you were bonded for eternity."
Rumah baru di pulau tersebut kondisinya sangat tidak ideal untuk ditempati, namun mereka berharap dengan seiring waktu, dan kerja keras memperbaikinya, kondisi akan makin membaik. Kirstie (yang ngotot ingin dipanggil  Lidya) masuk ke sekolah baru. Namun teman-temannya tidak ada yang mau berteman dengannya. Anak semata wayangnya dijauhi oleh teman-temannya di sekolah barunya. Dan suatu hari, Sarah menyaksikan sendiri Lidya bercakap-cakap dan tertawa sendiri, menggunakan bahasa kembaran dengan saudaranya kala mereka masih bersama.

Lidya memang beberapa kali menyebutkan kalau Kirstie datang dan bermain dengannya, namun Sarah tak menggubrisnya, karena hari gini? Hantu? Oh, please... Mereka tidak memercayai hantu. Namun bahkan orang-orang lokal sempat menyebutkan bahwa di tempat ini memang ada hantu yang bergentayangan.

Pic doc pribadi
Situasi rumah yang jauh dari tetangga, ditambah lagi musim dingin yang mendekati, plus badai yang mengancam datang saat Angus sedang tugas keluar pulau, membuat Sarah bingung dengan kejadian-kejadian aneh yang mulai bermunculan. Sarah pun tak mengerti mengapa Angus selalu terlihat marah, meski Angus tak pernah memukulnya atau berkata kasar padanya. Sarah mulai bertanya sebenarnya apa yang terjadi di hari Lidya (atau Kirstie?) meninggal.

Novel thriller ini benar-benar mencekam! Dan endingnya? Beuh... bikin gak berani tidur sendiri deh. Horor dan menguras emosi. Saya dengar novel ini akan difilmkan, sepertinya saya akan membuat pengecualian dan menontonnya. Karena saya nggak suka film horor. Tapi baca suka :D **iya, emang sedikit aneh**
"It's not so much my own death that is intolerable, it's the death of those around me. Because I love them. And part of me dies with them. Therefore all love, if you like, is a form of suicide."
Banyak hal tentang anak kembar yang saya tahu dari  novel ini, karena memang saat mencari tahu apa yang terjadi pada anaknya, Sarah melakukan riset, dan penjelasan psikolog anak juga sangat jelas dan tidak terasa membosankan. Justru malah bikin penasaran, apakah benar itu yang dialami si anak kembar? Dan seterusnya, dan seterusnya.

A very high recommended novel for those who love thriller. *thumbs up*

Thursday, February 16, 2017

Replica -- Jack Heath

Replica by Jack Heath

My rating: 4 of 5 stars

Melihat covernya sungguh seraaaamm!! Bertanya-tanya dalam hati apakah ini novel horor pembunuhan, atau thriller hantu, rasa penasaran ini sudah tertunda selama setahun. Yap! Setahun sudah saya menunggu untuk bisa baca novel ini, dan akhirnya kesampaian juga. Hehe sabar menanti banget yes?

Kisah diawali dengan Chloe yang terbangun di basemen rumahnya, beberapa bagian ingatannya hilang. Seorang gadis duduk di dekatnya, memandang komputer dan dirinya, lalu Chloe melihat di seberang tempatnya ada tubuh tanpa kepala yang terbujur kaku. Siapa gadis yang ada di dekatnya ini? Mengapa dia memerintah-merintah Chloe seolah dia adalah masternya? Dan saat akhirnya gadis itu menoleh, wajahnya sama persis dengan dirinya! Siapa dia?
“You told me grief came from things left unsaid. But I thanked you for everything you did. I apologized for everything I did. There was nothing left to say, and still it feels like you pulled my heart right out. It’s been two hundred days. I still miss you.”
Keesokan harinya Chloe terbangun masih di tempat yang sama, dengan beberapa bagian ingatannya yang kembali. Gadis yang berwajah sama dengannya itu memberinya sederet perintah. Dan saat Chloe protes, dan menyerang gadis itu dengan kata-kata bahwa dia tidak bisa seenaknya mengambil alih kehidupannya, gadis itu malah mengatakan bahwa Chloe adalah ciptaannya. Nah lho! Kita masuk ke dunia cloning, kah ini?

Ternyata bukan cloning, sodara-sodara, melainkan articial intelligence. Chloe adalah Robot yang memiliki otak hasil unduhan, namun bisa merasakan emosi seperti manusia. Jika Chloe disakiti, meski sudah dikatakan bahwa rasa sakit itu tidak nyata, tetap saja Chloe merasa sakit. Dan mengapa pula dia diciptakan?
"You will take care of mum when I'm gone."
Chloe merasa ada yang mengikutinya, dan untuk itulah dia menciptakan robot penggantinya agar dia bisa berbalik mengintai mereka. Chloe tidak tahu siapa mereka, kenapa mengikutinya, namun saat Chloe sang robot mulai beraksi mengambil alih kehidupan Chloe, dia mulai mempelajari rahasia yang menyelimuti kepergian Chloe. Akan tetapi sebelum Chloe robot mendapatkan jawabannya, Chloe tertembak!
Pic doc pribadi

Ayahnya mulai bersikap mencurigakan, membuat Chloe makin kepo dan ingin mengungkap siapa dalang dibalik pengintaian (yang berlanjut dengan pembunuhan) Chloe, disambung dengan hilangnya ayah. Chloe juga ingin mencari tahu hubungan Chloe asli dengan Becky, gadis yang menatapnya di kelas dengan tajam seolah ingin membunuh dengan matanya. Semua serba membingungkan, dan Chloe harus bertahan.

Genre thriller science fiction sepertinya memang pas disematkan ke novel ini. Sejak awal hingga akhir, novel ini mampu membuat saya terkaget-kaget karena banyaknya kejutan yang disiapkan oleh penulis. Tidak hanya Chloe yang ternyata bukan Chloe, tapi juga siapa itu Becky, dan apa sebenarnya misteri yang melingkupi kehidupan Chloe.

Bagi yang suka science fiction, oke kok ini. Apalagi saat adegan Chloe kabur dari penjahat, itu tuh ngebayanginnya kocak banget! **gak spoiler kok** :D Kalau dibuat film mungkin novel ini bisa seru ditonton pakai efek 3D :)


Sunday, February 05, 2017

Burnt Paper Sky -- Gilly Macmillan


Burnt Paper Sky by Gilly Macmillan

My rating: 4 of 5 stars

Apa yang terjadi jika anakmu hilang, dan semua orang berbalik menuduhmu yang berbuat sesuatu pada anakmu? Media, bahkan polisi meragukan ceritamu dan beberapa anggota masyarakat bahkan sampai tega menerormu hingga melukai ayah dari anakmu?

Itulah yang terjadi pada Rachel Jenner yang mengajak anaknya, Ben (8 thn) berjalan-jalan di taman Bristol yang teduh dan rindang, semacam Ragunan kali ya? atau Kebun Raya Bogor? Mereka memang biasa berjalan di taman itu bersama anjing mereka Skittle di hari Minggu. Tapi di hari Minggu ini, Ben ingin ke tempat ayunan duluan, sementara Rachel yang sedang banyak pikiran, berdebat antara memberi ijin dan melarang. Namun niat ingin menjadikan Ben anak yang mandiri dan pemberani membuatnya mengijinkan anaknya berlari terlebih dahulu bersama Skittle.

After the divorce I should simply have been grateful for what I had. I should have celebrated my life as it was, imperfections, sadness and all, not forensically examined its faults.

Pic doc pribadi
Saat Rachel tiba di tempat ayunan, dia tidak melihat Ben. Mengira anaknya sedang bermain petak umpet dengannya, Rachel mencoba mencari sambil mengajaknya bercanda. Namun saat Ben tak juga muncul dengan tawa khasnya, Rachel panik dan mencari kesana-kemari dibantu seorang wanita paruh baya yang sedang mengajak anjingnya jalan-jalan di sana. Lama tak juga menemukan petunjuk, Rachel menelpon polisi dan saat itulah keadaan yang tadinya terasa tidak nyata, mulai menendang kesadarannya.

Ben hilang!

Panik, histeris, dan berharap ini semua mimpi dirasakan Rachel. Tak ingin percaya kalau anaknya hilang, namun setelah polisi mengerahkan bantuan mencari di hutan didalam kondisi cuaca yang sangat tidak bersahabat (hujan lebat semalaman) Ben tak jua diketemukan. Polisi menetapkan kasusnya menjadi kasus penculikan.

Rachel diminta untuk berbicara di depan pers, untuk memohon penculik agar mengembalikan anaknya. Polisi membuatkan pers release untuk dibacakan Rachel. Namun di akhir pers release, Rachel mengubah kalimat yang sudah disiapkan untuknya dengan kata-kata ancaman ke penculik. Dan itu membuat Jim, detektif yang menangani kasus Ben, murka. Karena kata-kata Rachel justru ditakutkan bisa memprovokasi penculik dan bisa jadi malah melukai Ben. Sementara prioritas mereka adalah menyelamatkan Ben.

I thought that life should stop until Ben was found. Clocks should no longer tick, oxygen should no longer be exchanged for carbon dioxide in our lungs, and our hearts should not pump. Only when he was back should normal service resume.

Pic doc pribadi
Mulailah media membully Rachel. Bahkan sebuah blog dibuat khusus untuk kasus Ben ini. Blog tersebut menghembuskan keraguan di hati masyarakat, bahwa bisa jadi Rachel lah penyebab hilangnya Ben. Rachel disebut-sebut tidak stabil sejak perceraiannya dengan John, hingga cemburu dengan kemesraan John dengan istri barunya. Mereka menganggap Rachel lah yang melukai Ben dan menghilangkan jejaknya, hingga seseorang tega menuliskan kata-kata "Bad Mother" di pagar rumahnya, melempar botol susu hingga pecah, dan yang paling parah melempar bata ke jendela rumah, dan saat John mengejar pelaku, malah menjadi korban pemukulan.

Segitunya kekuatan media hingga dapat mengubah opini seseorang. Bahayanya media di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dapat melukai dan membuat hidup orang lain dalam bahaya.

If you talk too openly about terrible things people shrink from you.

Novel ini dicetak ulang dengan judul berbeda, "What She Knew." Diceritakan secara bergantian dari sisi Rachel dan Jim yang ternyata mendapati dirinya sangat terpengaruhi dengan kasus ini, satu per satu rahasia keluarga terungkap, persahabatan hancur, dan bagaimana kasus ini berefek ke semua orang, novel ini membuat saya tidak berhenti membaca bahkan hingga larut. Rasa cinta Rachel pada Ben, kehilangannya, putus asanya, rasa frustrasinya saat tak ada yang memercayai temuannya tentang Ben, sangat menguras emosi.

Jika anda penyuka novel bergenre misteri thriller, ini buku yang tepat. Dari awal hingga akhir, anda akan dibuat tak berdaya kecuali melanjutkan hingga kelar.

Monday, January 25, 2016

Alias -- Ruwi Meita

AliasAlias by Ruwi Meita

My rating: 4 of 5 stars

Ini novel horror. Baca novel ini bikin adrenalin saya naik turun! Baca beberapa review tentang buku ini, katanya jangan baca saat malam hari. Tapi karena nanggung tinggal sedikit, justru malam adalah waktu yang pas untuk menghabiskan novel ini, maka saya mencari keberanian dengan menggenggam tangan anak saya yang tertidur pulas, sambil menghabiskan halaman demi halaman.

Karakter utama novel ini adalah Jeruk Marsala. Nama yang cukup unik, tapi terus terang sedikit mengganggu karena mungkin saya tidak terbiasa aja baca nama orang yang diambil dari nama buah-buahan. He-he, sebut saja saya kuno. Anyway, Jeruk adalah penulis best seller cerita romance yang banyak banget penggemarnya. Apa pun yang ditulisnya pasti langsung cetak ulang dan menjadi buah bibir, hingga beberapa karyanya diangkat menjadi film layar lebar. Yes, sesukses itulah Jeruk.

Adalah Rinai, penulis best seller genre horror. Yang baru mengeluarkan dua novel, namun sudah menandingi ketenaran Jeruk yang sudah menelurkan enam novel. Banner dan buku-buku karya mereka bersanding di rak best seller di toko buku, bahkan sebuah PH yang ingin mengadaptasi novel Jeruk berubah pikiran karena ingin mengadaptasi novel Rinai. Tanpa harus memunculkan diri, Rinai telah berhasil menjadi saingan terberat Jeruk.

pic.credit: https://www.instagram.com/sylnamira/
Misteri mulai bermunculan sejak awal cerita, mulai dari mimpi aneh Jeruk, hingga pembunuhan-pembunuhan di novel Rinai yang berubah menjadi kejadian nyata. Banyak penggemar Rinai yang menyangka Rinai adalah penulis yang mampu melihat masa depan. Spekulasi dan berita yang tersebar makin mendongkrak penjualan novel Rinai. Beberapa bahkan menyangka Jeruk dan Rinai bersaing. Ditambah lagi status di sosmed Rinai yang makin memojokkan Jeruk, membuat Jeruk jadi bingung. Siapa Rinai sesungguhnya? Dia yang merasa mengenal Rinai, kini malah ketakutan dengan sosok tersebut. *beuh, kalau tahu siapa sesungguhnya Rinai, bakal kaget deh!*

Beberapa karakter dalam novel ini diceritakan dengan sama kuatnya: Jeruk, Rinai, Darla, Uti Greti, Eru, Alan. Cuma kehadiran Inspektur Kemal kurang digali ya, tau-tau dia nongol di rumah Darla bawa liontin? Agak bingung, tapi ya sudahlah, mungkin saya yang terlewat detailnya.

Saya suka Eru! He-he who doesn't? Dia tuh likable banget! Beda sama Alan yang terlalu terpengaruh sama kehidupan metropolitannya, sehingga gayanya juga jadi terlalu metro seksual, dan memang harus dicurigai sih 'kecenderungannya.' *eh, napa jadi baper gini? Ha-ha!* Persahabatan Jeruk dan Darla, top banget! Mereka tuh cerminan sahabat sejati banget, saling bantu dalam suka-duka, and they always watch each other's back!

Adegan yang agak diulang adalah saat Jeruk harus pergi dari suatu tempat, trus menyetop taksi. Ini kebetulan? Padahal Jeruk nggak suka kebetulan. Tapi di novel ini Jeruk tampak dengan mudah melarikan diri dengan taksi. Padahal taksi kan susah didapat dalam kenyataan, but well, this IS a fiction! Lagipula naik ojek atau angkot kurang drama juga sih. He-he. Tapi selebihnya cerita dalam novel ini seru! Alurnya cepat, namun tidak tergesa, dan endingnya... dan epilognya... WOW! Saya nggak terima ending seperti itu! Pas banget sih, dan cerdas banget. Tapi tetep saya nggak terima. Jeruk tuh harusnya lives happily ever after sama si... *sensor* **spoiler allert!!* :D

Trus kata-kata yang diucapkan Uti Greti berulang-ulang kali? Bagus banget! Kok bisaaaaa penulis mendapatkan kata-kata indah seperti ini:

"Pernahkah pelangi menangis karena hujan dan langit tak mau mewarnainya? Jika sempat, tolong katakan pada hujan untuk menitik satu kali pada tiga puluh tahun kesunyian di ujung pelangi yang tak berbatas. Mungkin saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus tercurah pada telapak tangan yang beku."

Waw! Saya suka kata-kata itu. Indah, sekaligus menyeramkan. Keren!

Buat penyuka novel horor, jangan ragu deh, langsung ambil dan baca novel Alias ini. You gak bakal nyesel :D Buat yang nggak suka novel horor, karena (mungkin) takut, worry not, my friends... novel ini masih dalam ambang toleransi orang-orang penakut seperti kita kok. :) So, have fun dan selamat berkenalan dengan Rinai ;)

View all my reviews

Tuesday, January 20, 2015

Bird Box -- Josh Malerman

Bird Box (ebook)
by

My rating: 4 of 5 stars.

Satu kata pertama yang ada di kepala setelah menyelesaikan novel ini adalah: WOW!

Novel thriller ini berhasil membuat saya takut ke dapur di tengah malam untuk bikin susu si bayi. Hahaha. I know it's just a fiction, but still.

Novel ini diceritakan bergantian antara si tokoh utama, Malorie, di saat ini, dengan Malorie dulu. Di bab awal menceritakan tentang usaha Malorie untuk kabur dari rumah dengan menutup mata, sambil membawa dua anak berusia 4 tahun yang keduanya juga matanya ditutup, melalui sungai dengan menggunakan perahu. Ada apa? Kenapa? Perlahan kejadian sebenarnya diceritakan di bab-bab selanjutnya.

Adalah sebuah kejadian 'gila' yaitu orang-orang mulai bunuh diri setelah melihat sesuatu. Apa itu, tidak dapat dijelaskan karena setiap kali ada yang melihat, mereka akan bunuh diri. Setelah, atau sebelum membunuh orang yang ada di dekat mereka. Hal ini membuat orang-orang mulai menutup jendela mereka dengan kain, atau kasur, mengunci pintu rumah mereka, dan menutup mata jika akan keluar rumah. Seolah dengan menutup mata dan tidak melihat apa pun di luar, mereka akan selamat dari apa pun yang menyebabkan 'kegilaan' ini.

Malorie mencari rumah aman yang bisa menampungnya setelah saudaranya, Shannon, mati bunuh diri. Dengan menutup mata, Malorie mengendarai mobil, menabrak entah apa, melindas sesuatu yang dia tidak ketahui (mungkin orang) serta sebentar-sebentar membuka mata untuk kemudian menutupnya lagi, mencari alamat rumah yang menawarkan keamanan. Dalam keadaan hamil. Tinggal di rumah dengan berbagai macam karakter orang, membuat mereka semua makin sensitif tatkala seorang perempuan hamil lainnya, Olympia, ikut bergabung bersama mereka.

Kehidupan mereka berjalan normal (jika keluar rumah dan mengambil air di sumur dengna menutup mata bisa disebut normal) hingga seorang pria bernama Gary datang dan membuat mereka harus berbeda pendapat. Hingga akhirnya Malorie yang tidak memercayai Gary membuat pria tersebut keluar dari rumah.

Saat Olympia dan Malorie menjelang detik-detik melahirkan, sumpah, tense banget! Saya sampai ketakutan sendiri. Apalagi saat Olympia membuka mata dan melihat makhluk itu. Trus saat Malorie yang juga menjelang lahiran tapi harus menyelamatkan bayinya Olympia. Ih, gila! Susah diceritakan kembali. Ini sih harus dibaca sendiri.

Malorie merawat kedua bayi itu, melatih mereka hingga mereka memiliki pendengaran sangat tajam. Sebab dari bayi mata mereka ditutup, agar mereka mampu mengidentifikasi suara-suara dengan sangat akurat. Pendengaran lah yang diperlukan untuk bisa bertahan hidup di dunia baru ini.

Hingga akhir, novel ini masih menawarkan ketegangan tingkat tinggi. Bahkan saat Malorie dan kedua anaknya akhirnya sampai di tempat aman yang mereka tuju, masih ada aja ketegangan demi ketegangan di tiap lembarnya yang membuat saya menahan napas karena takut terjadi sesuatu dengan mereka setelah perjuangan yang begitu hebatnya termasuk diserang serigala.

Asli, baca novel ini tuh seru, takut, serem, ngeri, campur aduk. Saya sebenarnya bukan penggemar novel thriller, tapi baca ini nggak bisa berhenti. Dijamin tegang hingga tinta terakhir dituliskan! *tsah*

**

Review ini juga tersedia di Goodreads.