Showing posts with label pidi baiq. Show all posts
Showing posts with label pidi baiq. Show all posts

Friday, April 05, 2019

Milea: Suara Dari Dilan -- Pidi Baiq

Milea: Suara Dari Dilan -- Pidi Baiq

Rating: 3 of 5 stars

Baca ini kurang begitu menikmati. Karena lebih banyak pengulangan gitu, yang diceritakan dari sisi Dilan. Ya, memang mereka masih berhasil membawa sisi nostalgia dalam diri saya, hanya saja setelah dua buku Dilan difilmkan, saya mengambil kesimpulan bahwa trilogi ini lebih bagus filmnya :D hehe.

Jadi untuk yang belum baca, mending langsung saja nonton deh. Lihat bagaimana manisnya Dilan dan Milea, membawa kembali romansa SMA tahun 90-an.

Monday, March 11, 2019

Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 -- Pidi Baiq

Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 -- Pidi Baiq

Rating: 3 of 5 stars

Masih suka, karena memang masih kena efek euphoria abis nonton filmnya 😁 ini kisah Milea dan Dilan setelah resmi pacaran. Bahasa penulisnya bahasa abege banget ya? Jadi seolah mendengar Milea cerita langsung ke saya.

Meski masih membayangkan wajah pemain film Dilan, mukanya Milea kenapa jadi mulai pudar dari ingatan ya? Padahal baru kemarin nonton filmnya. Payah kali ini, umur gak pernah bohong emang. Hahahaha!

Milea adalah gadis remaja yang pada umumnya. Punya pacar langsung merasa protektif meski dia tidak terkesan over protective juga sih. Milea mengkhawatirkan Dilan karena urusan geng motor itu membuatnya takut kehilangan Dilan. Tapi yang dia tidak sangka adalah ketika ancamannya utk putus menjadi kenyataan, dan mereka akhirnya benar2 putus.

Dulu memang ngancem2 putus itu sering dilakukan teman2 saya yang punya pacar, supaya cowoknya mau nurut. Tapi gimana pun cowok pasti tak ingin dikekang ya? Dan Dilan merasa Milea mengekangnya. Udahlah dia dibelain, sampai Dilan dipecat dari sekolah, Milea malah marah2.

Kalo dipikir ni Milea emang tipikal cewek yang inginnya diturutin ya? Ih kok jd kezel? Hahahhaa! Makanya terima lah tuh nasib kau ditinggal Dilan! Itu akibat ancaman2mu pada cowok yang katamu baik dan sempurna itu.

Aiihhh... ini kok bapernya beda ya abis baca no 2 ini? Malah jd kesel sendiri sama Milea. Hhhh...! Lanjut lah ke buku 3 nya. Mo tau kisah ini dr sisi Dilan.


Sunday, March 10, 2019

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 -- Pidi Baiq

Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 -- Pidi Baiq

Rating: 4 of 5 stars

Seperti yang sudah saya duga, buku ini habis dalam sekali duduk (eh, ya beberapa kali bangun dan pindah duduk sih, tapi intinya sehari kelar). Baca setelah nonton filmnya itu membuat saya teringat-ingat sama wajah pemain filmnya. Tapi tak apa lah. Filmnya juga tidak mengecewakan. Pemerannya juga mewakili karakter yang digambarkan penulis. Jadi klop lah!

Selama ini saya menghindari banget nonton film adaptasi dari buku sebelum membaca bukunya. Dan ujung2nya malah gak nonton juga, gak baca juga. Sekarang mau ubah strategi. Kalau memang ada filmnya, ya tonton saja. Kalau memang ceritanya menarik hati dan bikin penasaran baru deh baca bukunya. Karena tetap saja isi buku lebih detail dibandingkan filmnya.

Anyway, baca dan nonton Dilan ini bikin saya terbaper-baper. Dan merenungi nasib malang tak memiliki Dilan saat dulu sekolah. Gak perlu deh anak genk motor, gak perlu juga yang setampan Dilan di film, saya mah mintanya yang cukup aja: cukup anak pemilik showroom motor. Gak berlebihan, kan?

Kisah di buku 1 ini simple, ngena banget buat anak tahun 90-an macam saya, di mana dulu juga ngalamin telepon2an pake telepon umum, dan hepi banget klo abis telepon ternyata koinnya keluar lagi! *terpujilah telepon umum yang rusak seperti itu* trus ngalamin juga tiap malem diteleponin cowok *ihiiww* cuma kalo dulu sebelum tutup telepon bilangnya gini:

Kamu duluan yang tutup.
Nggak ah, kamu aja yang tutup duluan.
Kamu aja.
Kamu.
Kamu.
Kamuuuu.
Ya udah bareng ya... 1... 2... 3... halo?
Halo.
Lho, kok belom ditutup?
Kamu juga belom.
Udah kamu aja tutup duluan.


Dan dialog itu akan terulang lagi sampai akhirnya 3 menit abis sendiri, dan telepon mati sendiri dengan sadisnya karena koin sudah habis
😁

Dilan membuatku bernostalgila...
Lanjut ah buku ke duanya :))