Showing posts with label ruwi meita. Show all posts
Showing posts with label ruwi meita. Show all posts

Monday, January 25, 2016

Alias -- Ruwi Meita

AliasAlias by Ruwi Meita

My rating: 4 of 5 stars

Ini novel horror. Baca novel ini bikin adrenalin saya naik turun! Baca beberapa review tentang buku ini, katanya jangan baca saat malam hari. Tapi karena nanggung tinggal sedikit, justru malam adalah waktu yang pas untuk menghabiskan novel ini, maka saya mencari keberanian dengan menggenggam tangan anak saya yang tertidur pulas, sambil menghabiskan halaman demi halaman.

Karakter utama novel ini adalah Jeruk Marsala. Nama yang cukup unik, tapi terus terang sedikit mengganggu karena mungkin saya tidak terbiasa aja baca nama orang yang diambil dari nama buah-buahan. He-he, sebut saja saya kuno. Anyway, Jeruk adalah penulis best seller cerita romance yang banyak banget penggemarnya. Apa pun yang ditulisnya pasti langsung cetak ulang dan menjadi buah bibir, hingga beberapa karyanya diangkat menjadi film layar lebar. Yes, sesukses itulah Jeruk.

Adalah Rinai, penulis best seller genre horror. Yang baru mengeluarkan dua novel, namun sudah menandingi ketenaran Jeruk yang sudah menelurkan enam novel. Banner dan buku-buku karya mereka bersanding di rak best seller di toko buku, bahkan sebuah PH yang ingin mengadaptasi novel Jeruk berubah pikiran karena ingin mengadaptasi novel Rinai. Tanpa harus memunculkan diri, Rinai telah berhasil menjadi saingan terberat Jeruk.

pic.credit: https://www.instagram.com/sylnamira/
Misteri mulai bermunculan sejak awal cerita, mulai dari mimpi aneh Jeruk, hingga pembunuhan-pembunuhan di novel Rinai yang berubah menjadi kejadian nyata. Banyak penggemar Rinai yang menyangka Rinai adalah penulis yang mampu melihat masa depan. Spekulasi dan berita yang tersebar makin mendongkrak penjualan novel Rinai. Beberapa bahkan menyangka Jeruk dan Rinai bersaing. Ditambah lagi status di sosmed Rinai yang makin memojokkan Jeruk, membuat Jeruk jadi bingung. Siapa Rinai sesungguhnya? Dia yang merasa mengenal Rinai, kini malah ketakutan dengan sosok tersebut. *beuh, kalau tahu siapa sesungguhnya Rinai, bakal kaget deh!*

Beberapa karakter dalam novel ini diceritakan dengan sama kuatnya: Jeruk, Rinai, Darla, Uti Greti, Eru, Alan. Cuma kehadiran Inspektur Kemal kurang digali ya, tau-tau dia nongol di rumah Darla bawa liontin? Agak bingung, tapi ya sudahlah, mungkin saya yang terlewat detailnya.

Saya suka Eru! He-he who doesn't? Dia tuh likable banget! Beda sama Alan yang terlalu terpengaruh sama kehidupan metropolitannya, sehingga gayanya juga jadi terlalu metro seksual, dan memang harus dicurigai sih 'kecenderungannya.' *eh, napa jadi baper gini? Ha-ha!* Persahabatan Jeruk dan Darla, top banget! Mereka tuh cerminan sahabat sejati banget, saling bantu dalam suka-duka, and they always watch each other's back!

Adegan yang agak diulang adalah saat Jeruk harus pergi dari suatu tempat, trus menyetop taksi. Ini kebetulan? Padahal Jeruk nggak suka kebetulan. Tapi di novel ini Jeruk tampak dengan mudah melarikan diri dengan taksi. Padahal taksi kan susah didapat dalam kenyataan, but well, this IS a fiction! Lagipula naik ojek atau angkot kurang drama juga sih. He-he. Tapi selebihnya cerita dalam novel ini seru! Alurnya cepat, namun tidak tergesa, dan endingnya... dan epilognya... WOW! Saya nggak terima ending seperti itu! Pas banget sih, dan cerdas banget. Tapi tetep saya nggak terima. Jeruk tuh harusnya lives happily ever after sama si... *sensor* **spoiler allert!!* :D

Trus kata-kata yang diucapkan Uti Greti berulang-ulang kali? Bagus banget! Kok bisaaaaa penulis mendapatkan kata-kata indah seperti ini:

"Pernahkah pelangi menangis karena hujan dan langit tak mau mewarnainya? Jika sempat, tolong katakan pada hujan untuk menitik satu kali pada tiga puluh tahun kesunyian di ujung pelangi yang tak berbatas. Mungkin saja asa yang tersesat menemukan jalan pulang dan darah tak harus tercurah pada telapak tangan yang beku."

Waw! Saya suka kata-kata itu. Indah, sekaligus menyeramkan. Keren!

Buat penyuka novel horor, jangan ragu deh, langsung ambil dan baca novel Alias ini. You gak bakal nyesel :D Buat yang nggak suka novel horor, karena (mungkin) takut, worry not, my friends... novel ini masih dalam ambang toleransi orang-orang penakut seperti kita kok. :) So, have fun dan selamat berkenalan dengan Rinai ;)

View all my reviews

Friday, December 19, 2014

Kaliluna: Luka di Salamanca -- Ruwi Meita

Kaliluna: Luka di Salamanca


My rating: 4 of 5 stars.

Good books always inspire me. And this one is one of them.

Kisah dimulai dengan kedatangan seorang gadis bernama Kaliluna (nama yang unik) di kota Salamanca, Spanyol. Kali memutuskan untuk tinggal bersama ibu yang meninggalkannya sejak dirinya masih bayi, Kenapa dia memilih ibunya yang notabene orang asing baginya? Itulah asalannya, karena ibunya orang asing. Kali sedang tak ingin berada di dekat orang-orang yang mengenalnya. Dia memilih ke negeri asing, di mana tak ada seorang pun yang mengenalnya dan dikenalnya. Kali melarikan diri dari luka.

Di Salamanca, Kali memilih untuk tidak membuka komunikasi dengan ibunya. Sementara ibunya yang sudah mengetahui kejadian traumatik yang menimpa Kali, merasa berkewajiban untuk membantunya. Namun tak ada orang yang berhasil ditolong jika dia sendiri tak ada keinginan untuk ditolong. Kali tetap menutup diri dan memilih duduk di tepi dermaga di depan apartemen ibunya.

Kali menikmati kesendiriannya, hingga muncul seorang pria yang sedikit menyebalkan dengan gayanya yang kepo habis. Ibai, lelaki Spanyol yang mendekati Kali bersikeras untuk selalu menemui gadis itu dan lambat laun justru pria asing ini yang berhasil membuat Kali membuka diri dan mau ditolong.

Perlahan namun pasti mereka bersama-sama mencari cara yang tepat untuk menghilangkan trauma Kali pada busur dan anak panah. Kali yang atlet panahan kehilangan minat bahkan ketakutan pada dua benda tersebut karena kejadian di Indonesia yang menimpanya. Berbulan-bulan kemudian Kali pun berhasil menghilangkan traumanya pada busur dan anak panah. Namun timbul ketergantungannya pada Ibai, pria yang berniat melakukan perjalanan ziarah untuk menentukan jalan hidupnya ke depan.

Suatu hari, Kali mendatangi rumah Ibai dan menemukan sebuah rahasia mengejutkan di kamar pria tersebut. Kali memilih menjauhi Ibai, sementara pria itu akhirnya melanjutkan niatnya untuk ziarah yang akan menghabiskan waktu berminggu-minggu.

Pada akhirnya Kali yang harus menentukan, apakah dia akan memaafkan Ibai atas rahasia yang dipendamnya selama ini, atau ikut bersama Arya, pria yang mencintainya, yang menyusulnya hingga Salamanca untuk menjemputnya pulang.

Novel ini kental sekali dengan nuansa Spanyol. Baris-baris kalimat percakapan dalam bahasa Spanyol menambah kaya nuansa Spanyol dalam novel ini. Lumayan untuk menambah-nambah kosa-kata bahasa Spanyol :)

Jalan ceritanya seru, nggak terlalu bertele-tele, dan tidak terlalu cepat juga. Pas! Typo juga sepertinya tidak ada, atau mungkin ada tapi saya tidak menemukannya, karena novelnya menyita semua perhatian saya pada jalan ceritanya. Bahkan saya yang bukan penikmat puisi sejati, bisa suka sama puisinya Neruda.

Very recommended buat yang menyukai novel Indonesia rasa Spanyol. Hanya satu pertanyaan buat mbak penulis: apa sih yang dilakukan musim semi pada pohon ceri? :) saya penasaraaannn...!

**

Link review buku ini di Goodreads: https://www.goodreads.com/review/show/1131964322