Friday, May 08, 2009

Sky Burial (Pemakaman Langit) -- Xinran

Sky Burial (Pemakaman Langit) Sky Burial by Xinran


My review

rating: 4 of 5 stars


A beautiful story, beautifully written, and beautifully translated. Rasanya membaca buku ini membawa kita ke alam pegunungan Tibet, serta ikut merasakan kedinginan, kepanasan, dan berbagai musim di sana.

Ketika lembaran terakhir buku ini ditutup, cuma bisa menarik nafas dan mikir: "Kok bisa sih dia nulis cerita sebagus ini?" jadi pengen baca versi english nya, mungkinkah ceritanya akan lebih bagus? Tapi penerjemahannya sangat indah kok, sama sekali tidak mengecewakan.

Anyway, kisah ini dimulai dengan keinginan yang kuat dari Shu Wen untuk mencari suaminya yang baru beberapa minggu menikah dengannya. Kejun, sang suami yang berprofesi sebagai dokter, dikirim ke Tibet untuk membantu tentara pembebasan rakyat yang sedang bertempur. Sebagai warga yang baik tentu saja Kejun menerima penugasan itu.

Tapi kemudian Wen menerima kabar bahwa suaminya meninggal, dan tak ada informasi lain mengenai kematiannya, penyebabnya, dan dimana jasadnya. Wen pun bertekad mencari suaminya ke Tibet. Dengan profesinya sebagai dokter, mudah baginya untuk bisa pergi ke sana dengan pertimbangan keahliannya bisa membantu tentara yang terkena penyakit ketinggian.

Tapi ketika sampai di Tibet, Wen justru terpisah dari kesatuannya, dan berkelana dengan teman barunya. Di sini sempet mikir, kok bisa kesatuannya nggak nyariin dia? Secara dia kan perempuan, masa dibiarkan aja berkeliaran tanpa pengawalan? Apa separah itu keadaan di sana, sehingga menghilang sedikit dianggap mati dan tak perlu dicari?

Anyway, 'petualangan' Wen dalam mencari kekasih sejatinya tidak terhenti setahun-dua tahun, namun berlanjut hingga puluhan tahun. Karena tak mengerti bahasa lokal dan tak mengerti juga daerah yang dilaluinya, Wen jadi harus hidup selama bertahun-tahun dengan sebuah keluarga Nomadik. Di sini diceritakan bagaimana keluarga tersebut hidup tanpa bantuan dari tetangga (secara nomaden gt loh, mana sempet punya tetangga), gimana mereka menjalani praktek poliandri (Ha! ada juga ternyata kan perempuan yang punya suami banyak?), dan kehidupan religius mereka.

Survey yang dilakukan penulis sepertinya sangat mendalam mengenai orang Tibet, sehingga tanpa terasa sudah separo halaman lebih dan Kejun belum ketemu namun bacaan masih terasa asik. Akhirnya misteri kematian Kejun pun terjawab di bab-bab terakhir, dan sumpe deeh terharu banget bacanyaaa. Wen harus cukup puas melampiaskan kerinduan pada sang suami lewat diary Kejun. Dan mengetahui kisah akhirnya dari seorang pertapa tua. Disini baru dijelasin dengan detil tuh apa sih maksudnya pemakaman langit? Yang ternyata memang pemakaman tanpa dikubur yang melibatkan adegan sadis dari burung-burung pemakan bangkai.

Yang sempat bikin penasaran sebenernya justru kisah Zhuoma dan Tiananmen. Sepanjang akhir cerita setelah mereka bertemu Tiananmen, sebenernya ngarep kalo mereka akan nekad melanggar aturan dan kawin lari or something. Tapi ternyata mereka benar-benar religius dan tidak ada dalam benak mereka untuk melakukan hal yang dilarang agama. Luar biasa!

Thanks to Ncing yang udah minjemin buku ini. Kalo gak harus dibalikin pasti udah gw keep ;)

View all my reviews.
Post a Comment