Saturday, June 14, 2014

Pulang -- Leila S. Chudori

Pulang by Leila S. Chudori

My rating: 4 of 5 stars

My first thought after I finished reading this book was: AWESOME!

Saya suka bagaimana penulis mengolah cerita yang berdasarkan sejarah ini dengan kemasan yang sama sekali tidak membosankan. Biasanya nih, kalau baca historical fiction bawaan saya nguap-ngatuk-tidur. Tapi yang ini nggak. Mungkin karena ada bumbu-bumbu pelucutan hal lain selain senjata? *if you know what I mean* ;)

Kisah dibuka dengan kisah Dimas dan tiga temannya yang terdampar di Paris, lalu pelan-pelan pembaca dibawa ke masa lalu mereka, penyebab mereka tiba di Paris, dan bagaimana akhirnya mereka harus terus bertahan hidup. Kisahnya maju-mundur gitu, tapi kalau perhatiin tanggal di tiap bab baru yang jadi patokan, nggak akan bingung kok. Tapi saya pribadi nggak terlalu peduli sama tanggal-tanggal itu. Baca aja terus. Kalau ceritanya berasa jaman dulu, plus tulisannya miring, ya berarti flash back, hehehe.. yang simpel aja lah!

Tidak berhenti hanya di kisah empat pilar Tanah Air yang akhirnya berhasil membuat restoran Indonesia yang cukup maju dan terkenal di kalangan pelancong dan lokal, (meskipun fiksi, tapi saya suka kisah-kisah sukses :) *ya, saya memang suka lupa injek bumi*) kisah ini berlanjut dengan kisah anak-anak para eks tapol ini. Memang sih mereka tidak pernah ditahan, namun tetap mereka dicap eks tapol, begitu pun keluarga mereka dan keturunannya.

Membaca sulitnya hidup menjadi keluarga tapol, atau yang berhubungan dengan yang di cap PKI, jadi inget dulu memang pernah dengar soal ini. Cuma karena masih kecil, jadi belum begitu mengerti. Yang saya tahu, memang film G30S PKI adalah film wajib tonton yang mendoktrin hingga sekarang saya tahu (walaupun belum membuktikan sendiri) bahwa luka diperesin air jeruk nipis itu sakit banget pastinya. *anak SD didoktrin film sadistik spt itu, dulu badan sensor film belum ada ya?*

Lalu kerusuhan Mei 1998, di buku ini nggak terlalu digambarkan kehebohannya. Saya mengalami sendiri saat harus pulang kantor sore-sore, supir taksi nggak mau nganter sampai Ciputat, dan memilih berbalik di stadion Lebak Bulus. Terpaksa saya dan dua orang teman kerja yang waktu itu se-taksi, jalan dari lebak bulus ke Ciputat. Dan pemandangan sepanjang jalan itu begitu horor, saya nggak berani nengok kiri-kanan, jalan terus sambil terus istighfar.

Swalayan Hero dijarah, Makro (sekarang Lotte) dijarah dan dibakar. Becak isinya kasur, kulkas, tivi hasil jarahan, termasuk tumpukan beha dan celana dalam, masuk semua! Ada satu kejadian yang melekat dalam ingatan saya: dua orang naik motor, berhenti di depan toko elektronik, si penumpang tetap di motor, pengemudinya turun dan tak lama kembali sambil membawa tivi. Lalu mereka pun pergi. Nggak mungkin ada transaksi jual-beli di waktu sesingkat itu, kan?

Saat membaca buku bagus ini, satu-dua hal menggelitik saya: typo dan penempatan kata 'aku' dan 'saya' yang sering membingungkan. Dalam satu percakapan yang dilakukan oleh Dimas, ada kata 'aku', kata 'saya', dan kata 'ayah' didalamnya. Jadi bingung. Kenapa membahasakan dirinya ke anak, Dimas tidak menggunakan kata 'ayah' saja? Kenapa sekali-kali 'aku', sekali-kali 'saya'. Soalnya kalo seorang ayah ngomong 'aku' atau 'saya' ke anaknya, kedengeran agak janggal aja di kuping saya. Biasanya langsung aja 'ayah begini' atau 'ayah begitu'.

Selain perlu editing yang lebih teliti (maklum deh sama editornya mungkin juga udah liyeur atau pusing, hehehe) secara keseluruhan novel ini dapet dua jempol dari saya. Pastinyapengalaman jurnalis penulis dan pengetahuannya yang luas membuat novel ini sulit ditaro sebelum selesai. Sampai-sampai anak saya protes: Bunda baca mulu sih! Dan begitu di hari berikutnya dia protes lagi, saya bilang selesai, dengan mata melotot dia blg: cepet amat? Hahaha.. bagi dia menyelesaikan novel setebal itu butuh 2 tahun, buat saya 2 hari cukup.

Bravo Leila S. Chudori. You rock!

Post a Comment