Monday, July 28, 2014

Before Happiness -- Abbas Aditya

Before Happiness by Abbas Aditya

My rating: 3 of 5 stars

Setiap orang tua pasti memilihkan nama yang terbaik bagi anak-anaknya dengan harapan nama tersebut bisa menjadi doa setiap ada yang menyebut nama mereka. Termasuk karakter Happy dalam novel ini. Orang tuanya berharap Happy akan selalu menjadi orang yang berbahagia dalam hidupnya. Namun kenyataannya, terlepas dari nama yang melekat pada seseorang, hidup tidak selamanya bahagia. Ada kalanya senang, susah, sedih, galau, dan lain sebagainya.

Happy tumbuh besar bersama sahabat cowoknya, Sadha. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya kedewasaan, Happy jatuh cinta pada sahabatnya tersebut. Namun ungkapan perasaan dari Sadha yang diharapkannya tak kunjung muncul. Alih-alih menyatakan cinta padanya, Sadha malah minta dicomblangin dengan teman kampus Happy, Yuna. Dengan berat hati, meskipun tak ditunjukkannya, Happy pun mengenalkan mereka berdua, hingga akhirnya mereka pun jadian.

Sejak awal hingga akhir cerita, pembaca akan larut dalam kesedihan dan kegalauan Happy karena kedekatan Sadha dan Yuna yang belum juga bisa dia relakan itu. Di sisi lain, ada seorang cowok, Gerald, yang mati-matian jatuh cinta padanya, tak digubris sama sekali. Happy masih berharap agar Sadha segera sadar bahwa dirinya lah yang lebih tepat untuk mendampinginya. Sayangnya Sadha nggak sadar-sadar juga, gimana dong? 

Patut diacungi jempol usaha Happy untuk berusaha melupakan Sadha, termasuk pergi ke Malang dan napak tilas. Meskipun tidak banyak membantu juga sih. Usahanya justru berhasil ketika Gerald yang gigih akhirnya mampu membuat Happy menerimanya menjadi pacar. Meskipun tahu Happy menyukai Sadha, Gerald tetap berada di sisinya dan menyadarkannya perlahan-lahan. I love him! OMG, I love this Gerald!

Minusnya dari novel ini adalah, dari halaman-halaman awal, sudah terlalu banyak typo. Mungkin editor kudu lebih semangat mencari ‘kutu-kutu’ typo agar pembaca tidak merasa terganggu dalam menikmati novel ini.

Plusnya, jalan cerita dan plottingnya enaknya diikuti, sehingga saya hanya membutuhkan beberapa jam saja untuk menyelesaikannya. Yang bikin lama posting tuh, koneksi internetnya yang alakazam. *curhat*

Ending dari cerita ini saya suka! Menginspirasi sekali bahwa moving on is a must! And we can not get whatever we want. We have to try in order to be happy.

Sangat cucok untuk remaja beranjak dewasa yang sudah mulai merasakan kegalauan cinta *tsaahh* dan kesulitan untuk move on. Kadang kita tak menyadari, bahwa kebahagiaan kita berada tepat di depan mata, sementara kita masih mencari ke kiri dan kanan. Open your eyes, open your heart, there it is! Happiness is right in front of you. All you have to do, is grab the opportunity and be happy :)
Post a Comment