Wednesday, November 18, 2015

Pertemuan Dua Hati -- Nh. Dini

Pertemuan Dua HatiPertemuan Dua Hati by Nh. Dini

My rating: 3 of 5 stars

Dari judulnya saya pikir ini buku romance. Tapi kok ada di rak buku perpustakaan SD? Saya langsung kepo dan menariknya dari rak. I have to read this! Kesan pertama saat membuka halaman buku ini adalah: bukunya tipis, tapi tulisannya kecil-kecil dan rapat-rapat. Harapan bakal kelar baca dalam waktu dua jam langsung kandas. Tapi oke lah, masa sih gak kelar?

Bu Suci adalah guru yang tadinya mengajar di kota kecil Purwodadi. Dia ikut suaminya pindah ke Semarang yang naik jabatan di kantornya. Bu Suci mulai mengajar di sekolah tempat anaknya sekolah berkat penawaran kepsek di sekolah itu yang tahu bu Suci guru dan sedang menunggu surat keputusan mengajar. Akhirnya bu Suci diminta untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir selama 3 bulan karena cuti melahirkan.

Di kelas, bu Suci memperhatikan ada satu murid yang belum pernah dilihatnya, bernama Waskito. Saat ditanyakan ke teman-teman sekelasnya, jawaban mereka mengejutkannya. Mereka lebih suka Waskito tidak masuk sekolah, bahkan lebih baik lagi kalau keluar saja dari sekolah. Ada apa ya? Bu Suci jadi heran dan kepo berat.

Bu Suci memulai investigasi tentang Waskito, dan dari penuturan beberapa orang yang pernah mengenalnya, bu Suci mengambil kesimpulan bahwa Waskito adalah murid sukar yang memiliki masalah dalam rumahnya. Bu Suci pun melakukan wawancara dengan neneknya, tempat dulu Waskito sempat tinggal selama 6 bulan sebelum diambil lagi oleh kedua orang tuanya.

Saat akhirnya Waskito masuk sekolah, bu Suci sudah memiliki pengetahuan latar belakang anak ini dan bersiap mengantisipasi. Untuk menghindari si anak menjauh sebelum sempat dekat, bu Suci memperlakukannya sama dengan anak-anak yang lain. Perlahan namun pasti bu Suci mendekati Waskito. Si anak sendiri tidak mudah untuk didekati, tapi Bu Suci terus berusaha.

Sikap Waskito perlahan mulai terbuka, namun terkadang dia suka mengamuk karena alasan paling sepele. Dan suatu hari, sekolah memutuskan untuk mengeluarkan saja si murid sukar ini. Namun bu Suci bersedia mempertaruhkan pekerjaannya demi membela dan membantu Waskito. Dengan ketegasan seorang guru dan kelembutan seorang ibu, bu Suci memulai lagi dari awal, dengan hanya satu bulan waktu yang diberikan kepala sekolah untuk bisa mengubah murid sukar menjadi anak yang, minimal, bisa naik kelas.

pic.credit:
https://www.instagram.com/sylnamira/
Beberapa kalimat yang berkesan untuk saya:

1. Masing-masing guru sudah terlalu sibuk mengurusi diri dan keluarganya. Di samping mengajar di SD, kebanyakan mempunyai kerja sampingan lain yang memungkinkan mereka mendapat tambahan penghasilan. Buat apa repot-repot mengurus anak sukar yang bukan saudara dan bukan kawan! (hal.31) --> Ternyata udah dari dulu kesejahteraan guru gak mendapat perhatian.

2. Kami semua sepakat bahwa anak-anak tumbuh tidak hanya memerlukan makanan. Mereka juga membutuhkan kemesraan, menginginkan perhatian. Rasa cinta kepada mereka yang diperlihatkan, menanam benih kekuatan tersendiri. Itu bisa tumbuh merupakan kepercayaan diri yang sangat berguna. (hal.32) --> Setuju banget bu...!

3. Bukankah orang-orang tua selalu berkata, bahwa umur seberapa pun seorang anak tetap anak dalam sebuah keluarga? Dia tetap dianggap berkedudukan di bawah derajat orang tua sehingga dalam waktu-waktu atau suasana tertentu tetap dikalahkan. (hal.44) --> Yah, nasib anak kecil. Makanya harus berusaha agar suaranya didengarkan dengan bersikap tanggung jawab dan dewasa.

4. Tidak terbalasnya kebanyakan surat pemberitahuan maksud kunjungan sekolah ke jawatan-jawatan (kantor pemerintah, maksudnya) membuktikan bahwa para petugas di sana tidak mempedulikan pendidikan kaum muda. (hal.63) --> Ini dari dulu sampe sekarang gak berubah ya?

5. Kemudian akan lebih memalukan dan menyedihkan, jika di masa-masa selanjutnya anak-anak bangsa yang ingin memperdalam pengetahuan kebudayaan asal itu harus pergi mempelajarinya dari orang-orang asing di luar negeri! (hal.64) --> Ini sudah terjadi...!

Kadang saya kesulitan mencerna kata-kata penulis, tapi banyak yang masih sesuai dengan keadaan sekarang. Padahal buku ini dibuat tahun 1986 loh! Dan kurikulum yang digunakan di sekolah bu Suci adalah kurikulum 1975.

Novel ini memang disarankan untuk dibaca oleh para pengajar, agar mereka ingat kembali tujuan mereka menjadi seorang guru. Namun sepertinya yang lebih perlu membaca buku ini adalah pihak pemerintah yang bertanggung jawab pada kesejahteraan para guru. Agar mereka tahu beratnya beban yang mereka pikul untuk menjadikan murid-murid mereka orang yang sukses.

Kalau guru sejahtera, pastilah fokus hanya mengajar aja. Gak perlu memutar otak untuk nyari-nyari tambahan di luar. Setuju?

View all my reviews
Post a Comment