Tuesday, February 23, 2016

Paper Towns -- John Green

Paper TownsPaper Towns by John Green

My rating: 3 of 5 stars

Novel ini termasuk yang lama kelarnya. Bukan karena ceritanya kurang greget, tapi karena saya sudah nonton filmnya duluan. Bad move, I know!

Kisahnya bercerita dari sudut pandang Quentin. Seorang bocah SMA yang sudah hampir lulus. Q dan Margo bertetangga sejak kecil, namun karena Q tergolong anak yang tidak mau cari masalah, maka Margo pun menjauh dan berteman dengan anak lain, hingga malam itu. Di bulan terakhir masa-masa SMA nya, Margo yang selama ini dia kagumi dari jauh, datang ke kamarnya dan mengajaknya berpetualang. Q yang tidak ingin dijauhi lagi oleh Margo, setuju ikut dan merasakan bagaimana menjadi anak bandel. *he-he, seru kan Q?*

Q berharap setelah malam itu mereka akan terus berteman, namun ternyata Margo menghilang! Dia meninggalkan petunjuk untuk Q. Margo termasuk anak yang doyan kabur dari rumah. Sebenarnya dia selalu meninggalkan pesan atau petunjuk untuk keluarganya, namun karena petunjuknya 'kabur' jadinya mereka tidak berusaha mencari atau apa. Hingga kepergian Margo sekarang, kedua orang tuanya bukan sedih, malah marah padanya. Dan memutuskan untuk mengganti semua kunci rumah!

Well, kalau saya jadi orang tua dengan anak yang hobi kabur, mungkin saya akan melakukan hal yang sama. Saya sangat mengerti perasaan kedua orang tua Margo. Namun saya juga mengerti perasaan Margo. Semua orang mungkin menganggap Margo adalah anak manja, yang suka cari perhatian, dan egois. Tapi menurut saya, dia hanyalah remaja-menjelang-dewasa bingung yang sedang mencari identitas diri.

John Green menceritakan nikmatnya kabur, bagaimana seseorang harus meninggalkan sesuatu yang berarti dulu di tempatnya saat ini, lalu pergi begitu saja, melupakan semua yang penting di sana. Dan itu lah yang dirasakan Margo. Selain anaknya memang senang berpetualang, Margo juga sedang mencari jati dirinya. Dia bahkan pergi sebelum lulus SMA, demi mengikuti kata hatinya yang sudah tidak sreg lagi sama kota tempatnya tinggal.

Ide paper town sendiri adalah ide dari seorang pembuat peta, Otto G. Lindberg dan Ernest Alpers, untuk mengecoh dan menghindari plagiat. Jadi, mereka sengaja membuat sebuah kota fiktif, yang hanya ada di peta mereka, yang disebut paper town. Kadang tidak hanya kota, tapi juga nama jalan, dsb. Jika ada pembuat peta lain yang memasukkan paper town tersebut di produknya, sudah bisa dipastikan, pembuat itu menjiplak peta buatan Otto dan Ernest. Ide ini keren juga ya, buat menjaga hak cipta.

Nah, Margo merasa Orlando, tempat tinggalnya itu, seperti paper town yang isinya orang-orang dan benda-benda yang terbuat dari kertas. Dia pun menganggap dirinya paper girl. Dan untuk seorang paper girl, tempat yang cocok adalah paper town. Dan ke sana lah dia pergi. Q yang bolak balik mencari petunjuk dari buku yang ditinggalkan Margo, jungkir balik berusaha menemukan Margo, karena dari buku puisi yang diberi coretan stabilo oleh gadis itu, bait-bait tersebut terdengar seperti pesan bunuh diri.

John Green mengupas buku puisi karya Walt Whitman, seorang pujangga dari Amerika. Karena saya kurang menyukai buku puisi (lebih karena nggak ngerti sih sama bahasanya yang tinggi. Dulu aja pernah di PDKT sama cowok pake puisi, trus nggak tersentuh atau terharu gitu, yang ada cuma bingung, "errr.. ini maksudnya apa ya?" *toyor*) jadinya saya kurang mendalami juga. Tapi saya menikmati saat Q berusaha memahami Margo melalui puisi itu. Dan yang kerennya, saya ikut merasakan lho, saat Q membaca puisi tentang rumput gitu, trus penyairnya mendengarkan dalam hening. Gitu-gitulah, keren! *baca aja sendiri ya, jangan harap saya mendeskripsikannya di sini*

Adegan yang saya suka: saat mereka lagi dalam perjalanan, trus harus berhenti untuk membeli perbekalan. Mereka hanya punya 6 menit, semua kebagian tugas, dan saat mereka berlari-lari di menit terakhir ke arah mobil yang sudah siap pergi, saya seperti melihat mereka bergerak dalam slow motion. Dan itu sampai saya baca dua kali. Asli, saya jadi ngikik sendiri ngebayanginnya. :D SERU!

Trus ada satu lagi yang saya suka, yaitu kutipannya Margo tentang huruf kapital:

"The rules of capitalization are so unfair to words in the middle of a sentence."

Maka dari itu, Margo suka menulis dengan huruf besar di tengah kalimat, dan itu bukan nama orang atau tempat. Just like me! Ha-ha. Orang lain juga pasti banyak yang melakukan itu. Menulis dengan huruf besar ditengah 'sepeRti iNi' tapi kalau kasus saya sih, kalau lagi nulis pakai tangan aja yaa... Kalau pakai ketikan mah lebay bin alay namanya :p

Terakhir, novel ini tidak sama persis dengan filmnya. Jadi buat yang merasa udah cukup dengan menonton saja, saya sarankan baca deh. Seharusnya sih baca dulu baru nonton, tapi kalau nasi sudah menjadi bubur, mau diapain lagi, ya kan? Tambahin kecap sama sambel, juga ayam suir & kacang kedelai, plus bawang dan krupuk. Jadi dah buryam! Intinya, di enjoy aja :) Endingnya juga beda kok. And I don't regret reading it. Karena bagaimana pun, buku pasti lebih bagus dari film. Sebagus apa pun film itu!

View all my reviews
Post a Comment