Thursday, September 08, 2016

Finding Audrey -- Sophie Kinsella

 Finding Audrey by Sophie Kinsella

My rating: 4 of 5 stars

Tidak perlu ditanya dan diragukan, Sophie Kinsella adalah penulis favorit saya. Genrenya pas dengan selera, dan humornya dapet. Sejak baca seri shopaholic, saya jatuh cinta sama Kinsella dan sudah membaca (hampir) semua novel yang ditulisnya (kecuali saat dia menulis sebagai Madelaine Wickham, yang itu belum semua tandas).

Anyway, dari genre chiclit, kali ini Kinsella menulis di genre teen-lit. Finding Audrey adalah kisah seorang remaja yang mengalami gangguan kejiwaan. Bukan gila, tapi dia tidak bisa bertemu dengan orang lain. Bahkan menatap mata anggota keluarganya saja, Audrey tidak mampu. Maka setiap hari dia mengenakan kaca mata hitam: di dalam rumah, di jalan saat hujan, pokoknya kaca matanya tidak pernah lepas dari wajahnya.

Kisah Audrey mengingatkan saya pada drama Korea yang belum lama ini saya tonton, berjudul Heart to Heart. (Silahkan baca review saya di SINI). Di mana pemeran utamanya mengalami penyakit yang sama dengan Audrey, namun bukan memakai kaca mata hitam, melainkan memakai helm ke mana pun dia pergi.

Doc. Pribadi
Anyway, Audrey menjalani kehidupan dalam keluarga yang lumayan normal menurut saya. Ibu yang super rempong, ayah yang cuek, abang yang keranjingan computer games, dan adik balita yang lucu dan imut. Ibu dan abangnya selalu berseteru tentang computer games. Menurut ibunya, Frank sudah ketagihan. Tapi menurut Frank, itu adalah hobi. Tentu saja mereka berdua tidak menemukan jalan keluar, hingga suatu hari ibunya melakukan tindakan ekstrim untuk membuat Frank berhenti main games. Tapi justru itu membuat teman Frank, Linus, juga stop main ke rumahnya. Padahal dari beberapa pertemuannya dengan Linus, Audrey mulai merasa nyaman.

Tentu, pertemuan pertamanya dengan Linus tidak mulus. Namun karena Linus sangat pengertian dan nggak baperan anaknya, jadi lah pada akhirnya mereka dekat. Sesi pertemuan Audrey dengan psikolognya menunjukkan kemajuan dalam kasus Audrey. Dilanjutkan dengan pertemuan dengan Linus di Starbucks, kedekatan mereka membuka jalan bagi Audrey untuk bisa sembuh dari penyakitnya.

Namun saat Audrey sudah merasa sembuh, seseorang dari masa lalunya datang, dan mulai menggoyahkan kekuatannya. Audrey ingin menyelesaikan masalah di masa lalunya dengan menemui orang itu. Tetapi kedua orang tuanya tidak menyetujui, bahkan Linus melarangnya datang. Audrey tetap nekad dan datang bersama Frank.

Apa yang diharapkan Audrey dari pertemuan itu? Apakah dia akan bisa menyelesaikan masalah di masa lalunya melalui pertemuan tersebut? Yang Audrey temukan ternyata malah membuka matanya lebih lebar dan menyesal membuang waktu berharganya untuk orang tersebut.

Doc. Pribadi
Sophie Kinsella tidak kehilangan selera humornya dalam novel ini. Saya beberapa kali ngikik-ngikik sendiri ngebayangin adegan yang dia gambarkan di sini. Sangat natural dan mengalir. Saya suka! Mungkin Kinsella akan menulis genre young adult lagi? Ditunggu banget ;)
Post a Comment