Saturday, December 02, 2017

Crazy Rich Asians -- Kevin Kwan

Crazy Rich Asians, by Kevin Kwan

My rating: 3 of 5 stars

Semua berawal saat Rachel mendapat undangan untuk berlibur ke Singapura oleh kekasihnya Nick Young. Rachel yang berdarah China namun besar di Amerika, tentu saja tak mengetahui siapa Nick sebenarnya, dan bagaimana berkuasanya keluarga Nick di Singapura. Pembaca pun hanya diberi preamble bahwa yang berkuasa adalah keluarga Leong (sepupu Young) karena saat mereka berlibur di London dan mendapat perlakuan diskriminasi, hotel tempat mereka menginap pun DIBELI, sodara-sodara! Yep, sekaya itulah keluarga Leong.
Just because some people actually work for their money doesn’t mean they are beneath you.
Rachel yang tetap cool dan sederhana tentu saja kaget saat mendarat di Changi Airport dan mendapat perlakuan ala princess. Padahal dia hanya bermaksud berlibur dan menghadiri pernikahan sahabat Nick, namun segala macam teori konspirasi muncul dengan kehadirannya di Singapura. Sampai-sampai berbagai macam bully pun dialami Rachel. (Sabar, ya Rach...)

Selain Rachel, saya suka banget sama Astrid. Karakternya yang cool, elegan, gak norak, dan diva-like itu bikin semua kenorakan orang-orang China Singapura ini teredam. Kalau keluarga dan orang-orang sekelilingnya gila merk, Astrid mah cuek aja beli di Zara (yang buat saya aja sih itungannya mahal ya) tapi orang-orang bersikap seolah Astrid beli di obralan! Can you imagine!
God is in the details.
Tidak terlalu banyak action di buku pertama ini, mungkin karena masih ada dua lagi yang menyusul. Sedikit-sedikit dikenalkan Su Yi, nenek suri yang berkuasa sangat akan kekayaan Young, lalu Colin dan Aramintha, pasangan yang dinikahkan karena status keluarga, namun untungnya mereka saling jatuh cinta, jadi nggak kayak di film-film mainstream Korea yang dijodohkan karena keluarga dan melanjutkan bisnis keluarga, namun tak saling cinta, yah gitu-gitu deh.

Ada pula Eleanor, ibunya Nick yang heboh dengan kedatangan Rachel dan ngambek nggak mau ketemu. Karena baginya, menantu pilihan adalah yang ebrdarah murni (tau deh darah murni kayak apa). Di buku ini Kevin Kwan benar-benar membuka secara gamblang, perilaku orang China Singapura yang glamour dan pastinya ada lah yaa? Gak cuma di film-film doang. Ya kan?
Remember, every treasure comes with a price.
Di buku pertama ini sangat terlihat bagaimana penulis berusaha masukin banyak banget nama. Ya, maksudnya mungkin biar pembaca nggak bingung dan tahu ini dari cabang pohon keluarga yang mana. Tapi terus terang di buku pertama saya struggling banget mengingat nama-nama. Sampai akhirnya saya menyerah lihat-lihat pohon keluarga. Biar aja deh, ntar yang utama juga akan menonjol dengan sendirinya, begitu pikir saya. Dan benar saja. Yang penting-penting untuk diingat muncul dengan peran yang lebih banyak dibanding karakter yang lain.

Di buku pertama ini pula, penjabaran tentang kekayaan orang-orang China Singapura ini sempat bikin saya eneg dan berhenti baca. Entah kenapa semua itu kok ya bikin males baca. Namun untunglah saya punya teman-teman di klub buku yang baca bareng buku ini. Setelah berdiskusi panjang lebar, dan masing-masing mengungkapkan isi hatinya tentang buku pertamanya Kevin Kwan ini, saya pun disemangati untuk lanjut terus. Secara, "ini tuh semacam Shopaholic, Syl!" Well, saya nggak melihat kesamaannya ya, tapi ya udah deh lanjut aja. Toh saya tidak sendirian bacanya :D


Dan setelah menskip banyak paragraf yang berisi deskripsi kekayaan, dan kemewahan serta deskripsi lainnya yang bagi saya membosankan, saya putuskan untuk melanjutkan ke buku kedua, dengan harapan cerita akan berkembang dengan lebih oke.
Post a Comment