Showing posts with label colleen hoover. Show all posts
Showing posts with label colleen hoover. Show all posts

Tuesday, April 23, 2019

Point of Retreat (Slammed #2) -- Colleen Hoover

Point of Retreat (Slammed #2), by Colleen Hoover

Rating: 3 of 5 stars

Agak lama kelarnya. Kayaknya sedikit bosan.

Eh, bukan kayaknya ding, tapi memang bosan. Ceritanya masih tentang Lake dan Will, tapi beda sama buku pertama, yang ini dataran rendah banget. Gak ada gejolak gimana gitu.

Buku pertama diceritakan dari suara Lake. Buku kedua ini si Will yang cerita. Awal2nya agak jetlag, masih keder gitu karena yg cerita Will. Tapi lama2 biasa juga. *maap anaknya lola*

Waktu baca yang pertama, saya excited banget baca apa yang akan dilakukan mereka berdua. Bahkan berantemnya juga terkesan cute. Tapi yang kedua ini, hmmm... gimana ya?

Apa yang dilakukan Will saat mereka berantemnya masih normal sih untuk itungan anak mahasiswa, bahkan Will yang sudah sejak umur 19 tahun ngasuh adiknya sendirian, sudah termasuk dewasa. Cuma gimana ya ceritainnya? Di sini gak kerasa banget emosinya.

Isinya melulu tentang roman-romanan mereka, tentang cemburu yang sebenernya gak perlu segitunya juga, dan saat terjadi hal yang mengerikan itu pun gak berasa putus asanya Will. Kayaknya saya baca dengan emosi yang salah.

Memang beberapa kali taro-ambil sih ni buku, mungkin saya sudah melewatkan momen klimaksnya. Jadi tinggal bosannya aja. Anyway, untuk ukuran mbak Colleen yang biasanya bukunya cetar membahana, yang ini memang sedikit mengecewakan. Hiks... 

Monday, April 08, 2019

Slammed (Slammed #1) -- Colleen Hoover

Slammed (Slammed #1), by Colleen Hoover

Rating: 4 of 5 stars

Lagi-lagi bikin baper! Mbak Colleen emang paling pinter deh bikin saya baper sama karakter cowoknya :D Dan satu lagi, dia ini paling bisa bikin cerita yang awalnya indah, di tengah-tengah dikasih bom, hancur lebur, bikin sedih dan gak bisa menduga endingnya gimana, namun di akhir cerita, semua sesuai dengan keinginan saya :D

Saya juga coba mendengarkan lagu The Avett Brothers, secara buku ini sepertinya mengacu ke lagu-lagu dari band itu. Tapi sayangnya gak nemu 'klik'nya. Mungkin karena saya dengerinnya sayup-sayup ya? Harusnya music dan lirik puitis memang didengarnya Dengan volume kencang, supaya tahu liriknya tentang apa. Mungkin akan saya coba lagi kapan-kapan.

Ini sebenarnya karakternya usia young adult ya, remaja menuju dewasa, usia 18-an dan awal 20-an. Jadi cucok lah dibaca sama pembaca usia itu. Tapi ya tau lah, buku 'bule' sama buku local kan beda. Kalo local jarang lah adegan kissing buat buku remaja, tapi nggak gitu dengan orang bule, di mana umur 18 sudah dianggap dewasa, dan banyak dari mereka malah menanti2 umur 18 tahun biar bias keluar dari rumah ortu dan mandiri. Di sini? No komen :D

Ah, mau lanjut buku 2 nya. Siapa tahu lebih baper ;)

Sunday, April 07, 2019

All Your Perfects -- Colleen Hoover

All Your Perfects -- Colleen Hoover

Rating: 4 of 5 stars

Aaahhh gilaaa!! Buku ini romantis bangetttt!!! Bikin deg2an bacanya dan pingin ketemu ama Graham 🤭 pertemuan Quinn dan Graham bisa dibilang aneh bin ajaib, tapi kelanjutannya itu yang membuat penasaran.

Gaya bercerita mbak Colleen yang maju-mundur cantik (now-flashback-now-flashback) bikin gemes. Satu sisi pingin buru2 tau apa yang terjadi di masa selarang, tapi terhibur banget saat baca flashback. Seolah flashback itu mengerem emosi pembaca yang tumpah ruah saat membaca kejadian now.

Ceritanya intens banget, khas Mbak Colleen jiga, bikin nyesek dan gak mo berenti baca sampe kelar. Endingnya? Perfect!!! Pokoknya SYUKA!

Tuesday, November 06, 2018

Without Merit -- Colleen Hoover

Without Merit, by Colleen Hoover

My rating: 3 of 5 stars

Finish it in one day! Ini novel young adult sih menurut saya (asli, belum cek di internet, ini termasuk young adult atau bukan, terlalu malas untuk itu) Dan menceritakan sebuah keluarga yang nyentrik (kalua tidak dapat dikatakan aneh) Dengan ayah, ibu, ibu tiri, abang, dua anak kembar, satu adik tiri. Plus tambahan orang luar yang enak aja bias masuk dan pindah untuk tinggal di rumah itu. Mungkin tidak aneh ya buat keluarga yang biasa didatangi banyak orang dan didiami beragam manusia, tapi saya pribadi akan merasa aneh kalua ada yang "menginap" permanen di rumah. :D

Merit dan Honor adalah kembaran identik. Abang mereka namanya Utah, dan adik tiri mereka namanya Moby. Yang disorot adalah Merit, karena dia adalah aktris Utama di dalam buku ini. Digambarkan Merit dengan kondisi psikologisnya yang amburadul, menyalahkan semua orang termasuk system, dan memiliki hobi yang cukup unik. Dia bertemu dengan seorang co yang tetiba aja gitu berasa kenal sama Merit dan.… yah gitulah!

IG: @bookdragonmomma
Lalu, cerita juga focus pada keluarga mereka yang nyentrik, di mana sang ayah yang (katanya) atheis, membeli gereja untuk mereka tinggali sebagai rumah, hanya demi menjauhkan anjing pendeta yang setiap malam menggonggong seperti niat banget mengirimkan firman Tuhan kepada si ayah. Lalu si ibu tiri yang memiliki kebiasaan berbohong pada anak balitanya, hanya karena dia tidak ingin memberikan jawaban untuk pertanyaan anaknya. Ya namanya anak kecil kan banyak pertanyaan ya? Napa juga harus dikarang kisah mitos yang nantinya bakal membuat si anak bingun, kan?

Hubungan Merit dan Honor juga tidak harmonis. Merit sendiri tidak ingat kenapa dia begitu. Meski sebenarnya sih bias dimengerti setelah baca sampai habis :D Dan Honor juga yang menjauh darinya, maka hilanglah koneksi istimewa dari si kembar identik ini. Mereka jadi seperti dua orang asing yang tinggal di satu rumah. Gak asik banget deh pokoknya kalau punya saudari begitu ya? Gak nyaman gitu lho.

Nah konflik mulai muncul saat masuk orang luar ke dalam rumah. Bukan konflik sama orang luar itu sih, melainkan konflik antar anggota keluarga sendiri. Ah, pokoknya ribet deh kalo diceritain! Tapi intinya sih, endingnya udah bias ketebak, ye kan? Namanya juga novel remaja. Sweet-sweet gimanaaa gitu :) Ayolah dibaca kalau penasaran. Bukunya Colleen Hoover sih so far belum mengecewakan saya. Dia mengangkat isu-isu yang gak biasa di kalangan remaja. Seperti dalam buku ini, bawa issue Syiria. Meski saya juga se-ngeblank Merit, tapi issue itu menambah gurihnya rasa novel ini.

IG: @bookdragonmomma

Tuesday, January 24, 2017

Ugly Love -- Colleen Hoover

Ugly Love by Colleen Hoover

My rating: 3 of 5 stars

Sudah tiga novel Colleen Hoover yang saya baca termasuk yang ini. Pertama November 9, yang kedua It Ends With Us. Dan yang baru saja saya selesaikan Ugly Love ini. Dari ketiga novel yang saya baca tersebut, saya paling suka yang It Ends With Us. Sementara Ugly Love ini, saya kurang begitu menikmati. Mungkin karena sudah mulai eneg sama adegan keju berlapis MSG di dalamnya, hehe. Memang apa-apa yang kebanyakan juga nggak bagus ya?

Kisahnya tentang Tate, yang baru saja pindah ke apartemen abangnya, Corbin, untuk melanjutkan sekolah keperawatannya, sambil bekerja. Corbin adalah abang yang sangat protektif, dan mempunyai teman sesama pilot bernama Miles. Pertemuan pertama Tate dan Miles terjadi di depan pintu apartemen Corbin, dan pria itu sedang mabuk berat. Tate membantunya masuk ke apartemen Corbin, dan keesokan harinya dimulailah hari penuh tatapan. Yap, kenapa saya bilang demikian? Karena memang itulah yang terjadi. Dari sejak pagi hari Tate bangun hingga ke hari-hari ke depannya, Miles seperti memiliki hobi baru, menatap Tate. Tak banyak bicara, hanya mata yang menatap, menatap, dan menatap.

Tate tidak memungkiri kalau lama kelamaan dia suka pada Miles. Well, siapa juga yang nggak klepek-klepek ditatap melulu sama cowok, yang nggak banyak omong, tapi matanya itu lho! Euh, seperti menembus jantung. **eaaa** Sebenarnya mereka sama-sama tertarik, tapi Miles lebih menarik diri. Kenapa? Ternyata ada sesuatu di masa lalu Miles yang membuatnya menolak untuk mencintai lagi.

Pic. doc pribadi
Namun emang dasar naluri cowok ye, akhirnya Miles nggak bisa menahan diri untuk mendekati Tate dan kesepakatan pun dibuat. Mereka akan menjalani hubungan tanpa status. Jadi hanya bersenang-senang di ranjang, tanpa ada komitmen. Miles memberikan dua syarat kepada Tate: jangan bertanya tentang masa lalunya, dan jangan berharap masa depan. Dan Tate pun memberikan satu syarat pada Miles, yakni untuk tidak bersikap seolah memberinya harapan.
“Don't ask about my past. And never expect a future.”
Hubungan tanpa komitmen itu pun berlangsung di belakang Corbin, karena mereka tahu betapa Corbin akan mengamuk jika tahu adiknya hanya 'dipake' saja sama temannya. Dia menginginkan pria yang terbaik untuk adiknya itu, dan tidak ragu untuk menjauhkan teman-temannya dari Tate. Tate sadar, dirinya jatuh cinta pada Miles, pria dengan masa lalu yang misterius, dan seperti menolak mengakui kalau dirinya juga tertarik pada Tate. Bahkan sering penolakan Miles menyakiti hati Tate tanpa disadarinya. Tapi namanya perempuan, jika sudah jatuh cinta, sesakit apa pun pasti dimaafkan. **bodoh? Maybe!**

Dialog-dialog yang kocak terselip di antara percakapan antara Tate dan Miles, juga percakapan Teta dengan dirinya sendiri. Seperti saat Miles berbicara, dan Tate begitu menyukai suaranya yang bagus. Nih, kayak gini nih:

The word yes is so much beautiful coming from his mouth, laced with that voice. He could probably make any word beautiful. I try to think of a word I hate. I kind of hate the word ox. It's an ugly word. Too short and clipped. I wonder if his voice could make me love that word.
"Say the word ox."
His eyebrow rises, like he's wondering if he heard me right. He thinks I'm weird. I don't care.
"Just say it," I tell him.
"Ox," he says, with slight hesitation.
I smile. I love the word ox. It's my new favorite word.

Di sini saya ngakak :D

Pic. doc pribadi
Ms. Colleen sangat gamblang menggambarkan bagaimana Tate begitu memuja Miles, dan sempat gemas di chapter-chapter awal karena Tate tuh kayak bodoh banget! Udah tahu Miles nggak ngasih harapan apa-apa, tetap aja dia berharap, trus berharap, lalu kecewa. Capek banget baca chapter awal. Novel ini menceritakan per-bab dari sudut pandang dua karakter utama. Bab Tate menceritakan tentang hubungan mereka sekarang, bab Miles flash back ke masa lalunya. Dan justru bab Miles yang menyedot perhatian saya. Karena sudah gemes sama Tate dan berharap dia mau meninggalkan si Miles yang euuhhhh...! Ngeselein tapi adorable. **hatiku tercabik**

Lalu pada akhirnya, saat baca bab Miles tentang masa lalunya yang sangat membuatnya trauma itu, hu-hu-huuu... hati saya rembes, Mak...! Sedih banget ternyataaaa! **gak lah, gak bakal saya spoiler, he-he. Baca aja gih!**

Dari tiga novel Ms. Colleen yang sudah saya baca ini, dua diantaranya tentang cowok  yang tidak ingin berkomitmen. Namun setelah bertemu si karakter perempuan, cowok ini mau mengubah pandangan dan gaya hidupnya. Demi cinta. De-mi cin-ta. Huhuuyy...! Dan satu lagi, di awal chapter novel-novelnya Ms. Colleen ini, semua maniisssss... kadang malah terlalu manis, sampe eneg, hehehe. Trus di tengah mulai ada konflik, dibanting, diplintir, dibikin babak belur dulu, baru di akhirnya dikasih yang manis lagi. Yah, begitulah kalau baca novel dengan pengarang yang sama secara berturut-turut. Jadi tahu gaya ceritanya, tapi tetap penasaran juga sih sama background story si karakter di dalamnya. Makanya sekali buka novelnya, meski eneg sama keju berMSG, tetap saja dibaca terus sampai habis. :D

Tapi tetap ya, buat anak dibawah umur, belum boleh! Oiya, buku ini rencananya mau difilmin loh! Katanya sih bakal rilis di US tanggal 7 November 2018. **masih  lamaaa** Saya lihat thrillernya, kok kayak bakalan jadi seperti Fifty Shades of Grey ya? Soalnya memang isi ceritanya juga banyak adegan yang bikin kipas-kipas. So, yeah... anak di bawah umur, absolutely can not!

Nih, posternya.



Sunday, January 15, 2017

It Ends With Us -- Colleen Hoover

It Ends With Us by Colleen Hoover

My rating: 5 of 5 stars

Ketika menyelesaikan novel ini, yang terucap adalah, "Oh my GOD!" Novel ini bagus pake banget, even sampai sekarang saat menuliskan review ini, saya masih merinding.

(Tambahan: buku ini pemenang Goodreads Choice Awards 2016, kategori Romance)

Lily Bloom, perempuan berusia 24 tahun yang suka nongkrong cantik di atap gedung guna menjernihkan pikirannya. Saat sedang asik dengan pikirannya, seorang pria naik ke atap dan tanpa ba-bi-bu menendang kursi yang ada di sana. Lily diam saja, karena pria itu memang tidak melihatnya. Ketika akhirnya pria itu menangkap bayangan Lily yang sedang duduk dengan sebelah kaki keluar pagar pembatas atap, dia menyangka Lily akan bunuh diri dan membujuknya untuk turun. Itulah awal perkenalannya dengan Ryle Kincaid, seorang dokter ahli bedah syaraf yang ganteng dan sukses di bidangnya.

"There is no such thing as bad people. We're all just people who sometimes do bad things."

Pertemuan pertama mereka cukup unik. Karena mereka berdua sama-sama tidak berpikir akan bertemu kembali di masa mendatang, mereka saling menantang untuk mengungkapkan rahasia tergelap masing-masing, dan mengucapkan apa yang ada dalam pikiran mereka yang tidak ingin mereka sampaikan pada orang lain dengan menggunakan istilah 'Naked Truth'. Semacam Truth or Dare, hanya saja ini lebih ke kejujuran. Lucu ya, bagaimana kita bisa open sama orang yang baru kita kenal, karena tidak akan dihakimi atau dinilai buruk. Toh, besok juga nggak ketemu lagi, mungkin demikian.

Ternyata, pertemuan mereka berlanjut saat Lily membuka toko bunga impiannya dan karyawannya ternyata adalah adik dari Ryle. Bayangkan betapa senangnya Ryle bisa bertemu lagi dengan Lily, karena salah satu Naked Truth Ryle adalah dia ingin one-night-stand sama Lily, yang tentu saja ditolak karena Lily menginginkan hal yang diinginkan semua perempuan: pacar yang mencintainya, menikah, punya anak, pokoknya kebalikan dari Ryle yang hanya ingin cinta satu malam dengan perempuan-perempuan yang ditemuinya. Itu semua karena Ryle sangat mencintai pekerjaannya dan ingin menjadi yang terbaik di bidangnya tanpa diganggu hal remeh seperti cinta.

"All humans make mistakes. What determines a person's character aren't the mistakes we make. It's how we take those mistakes and turn them into lessons rather than excuses."

Guess what? Ryle jatuh cinta sama Lily. Dan perlahan namun pasti, pendiriannya tentang kesuksesan karir dan semua itu, berubah seiring waktu yang dihabiskannya dengan Lily. Ryle ingin menjadi pacar Lily, ingin settle dan memiliki keluarga, bahkan suatu malam mereka memutuskan untuk menikah di Las Vegas. Bisa bayangkan jadi seorang Lily? Punya toko bunga sendiri, suami yang ganteng dan sukses, apartemen sendiri dengan balkon yang bisa untuk tanam bunga favoritnya, dan keluarga yang sangat mendukungnya. Sempurna, yes?

Pic. doc pribadi
Namun hidup tidaklah semanis permen yupi **bukan iklan** Lily yang tumbuh di dalam keluarga abusive sangat membenci perlakuan ayahnya terhadap ibunya dulu. Dan hingga tumbuh dewasa pun, Lily masih menyimpan kebencian pada ayahnya. Sebaik dan seperhatian apapun ayahnya pada dirinya, dia tidak akan bisa menghapus kenangan saat Lily memergoki ayahnya sedang menyiksa ibunya. Tamparan, pukulan, tendangan, cekikan, semua pernah dirasakan ibunya. Meski saat ada Lily ayahnya tidak akan melakukan itu, dan dia pun tak pernah memukul Lily.

Rasa sakit yang dirasakan Lily untuk ibunya, hanya dibaginya pada Atlas. Teman yang ditemuinya saat Lily berusia 16 tahun, dan Atlas 18 tahun. Atlas juga berasal dari keluarga yang abusive, yang memaksa dirinya tinggal di rumah kosong di belakang rumah Lily. Tidak tega melihat keadaan Atlas yang ternyata adalah kakak kelasnya di sekolah, Lily membantunya sebisa yang dia mampu, dan seiring waktu mereka makin dekat dan saling jatuh cinta. Tapi yang namanya cinta pertama, apalagi cinta monyet dua anak remaja, tidak bisa berlangsung lama, kan? Atlas pun masuk militer dengan berjanji akan mencari Lily setelah dia cukup pantas untuknya.

Pertemuan mereka terjadi lagi di sebuah restoran. Saat itu Lily bersama Ryle makan malam dengan ibunya Lily, Atlas bertindak sebagai pelayan dan mengambil pesanan mereka. Mulai dari saat itu, Ryle yang cintanya mentok ke Lily merasa cemburu pada Atlas. Setiap hal kecil yang menyangkut Atlas dia akan marah dan gelap mata. Tanpa disadarinya dia akan memukul Lily untuk kemudian meminta maaf dengan sepenuh hati. Awalnya Lily memaafkannya, namun ternyata Ryle memiliki temperamen yang mudah emosi, apalagi jika dibakar api cemburu. Lily merasa dia sedang menjalani kehidupan ibunya. Semua rasa sakit yang dialami ibunya dirasakannya, dan semua yang ada dalam benaknya dulu, "kenapa ibu tidak meninggalkan ayah?" kini dimengertinya dengan cara yang sangat menyakitkan. Apakah Lily akan membiarkan hidupnya berlangsung seperti ibunya?

"Sometimes even grown women need their mother's comfort so we can just take a break from having to be strong all the time."

Rumah tangga yang penuh kekerasan sangat banyak ditemui dalam masyarakat. Namun tidak semua berani keluar dari situasi tersebut, karena kebanyakan perempuannya tidak memiliki sumber penghasilan yang bisa membuatnya berani pergi dari rumah dengan membawa anak-anaknya. Selain itu, masyarakat pun tidak berdaya membantu, karena, "ini adalah urusan rumah tangga gue! Urus rumah tangga loe sendiri!" seperti itulah, sehingga banyak yang memilih menutup telinga. Padahal tidak ada satu pun perempuan yang sepantasnya melalui itu semua. Tidak ada seorang anak pun yang pantas mendapat contoh sebuah rumah tangga yang buruk, sehingga mereka tumbuh dengan pemahaman bahwa demikianlah sebenarnya kehidupan rumah tangga itu, dengan pukulan, cekikan, tamparan, dan sebagainya. **so sad**

Pic. doc pribadi

Dan yang lebih menampar dari pergulatan batin Lily, adalah saat dia berpikir, "Kenapa semua orang berpikir si perempuannya yang salah karena tidak meninggalkan si pria? Kenapa nggak ada satu pun orang yang menyalahkan prianya, kenapa dia menyiksa si perempuan?" kira-kira seperti itu lah! Dan memang di dunia yang didominasi laki-laki ini, bahkan dalam kasus pemerkosaan pun orang-orang menyalahkan si korban karena mungkin berpakaian minim dan sebagainya. Dan keadaan ini membuat saya ingin marah! *tapi pada siapaaa..?*

Novel ini sangat menguras emosi dan sesekali saya menemukan mata saya rembes. Di bagian belakang novel ada catatan penulis yang sebaiknya dibaca setelah selesai membaca novelnya, karena mengandung spoiler. Sebaiknya saya juga tidak menceritakannya di sini. Akhir kata, meski isi novel ini berat, tetap dalam tulisan Colleen Hoover, ada cipratan sedikit MSG sebagai penyedap. Dan setelah membaca dua novel Ms. Hoover, saya berkesimpulan bahwa novelnya ini tidak cucok untuk anak di bawah umur. Hehehe. Belum saatnya ya dik, baca KKPK aja dulu sana!



Thursday, January 12, 2017

November 9 -- Colleen Hoover

November 9,  by Colleen Hoover

My rating: 3 of 5 stars

Baca buku ini dalam rangka Tantangan Baca GRI bulan Januari, yakni buku yang mencantumkan angka pada judulnya, Read & Review Challenge BBI kategori contemporary romance, dan tentunya memenuhi Reading Challenge di Goodreads :D (yang ini mah gak usah disebut) sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, yes? Kebetulan di saat yang bersamaan dapet rekomendasi buat baca buku ini, so yeah... semua cucok pada waktunya.

Kisahnya dimulai dengan pertemuan antara anak dan ayah di sebuah restoran. Anak yang sangat benci pada ayahnya, dan ayah yang narsis abis karena dulu adalah aktor terkenal. Kenapa dulu? Karena memang terkenalnya dulu, sekarang sih cuma sisa-sisa ketenaran masa lalu aja yang melekat pada dirinya. Semacam Roy Martin gitu lah... Tenar di jamannya :)

Sementara anaknya, Fallon O'Neil, dulunya adalah artis cilik yang terkenal di sebuah film serial anak. Kenapa saya bilang dulu? Karena sekarang tidak lagi. Why? Karena sesuatu terjadi padanya, sebuah kecelakaan yang hampir merenggut nyawanya. Selain karirnya yang hilang, kepercayaan dirinya pun menguap terbawa angin. Kini Fallon hanyalah gadis berusia 18 tahun yang sangat tidak pede dengan keadaan dirinya, merasa semua orang menatapnya dengan aneh, dan dia menumbuhkan rambutnya hingga panjang agar bisa menutupi kekurangan yang ada padanya. Dan Fallon menyalahkan ayahnya untuk apa yang terjadi padanya sekarang.

Percakapan mereka sangat tidak menyenangkan untuk didengar (tapi seru untuk diikuti, hehe) hingga mengakibatkan seorang cowok yang duduk di booth belakang mereka untuk nimbrung dan merasa perlu membela Fallon, saat ayahnya menyindir bahwa Fallon baru sekali doang kencan sama cowok dan itu pun di usia 16 tahun. Ayahnya pun mencoba menghentikan niat Fallon yang ingin pindah ke New York untuk menemukan pekerjaan impiannya kembali, yakni sebagai artis. Menurutnya, keadaan Fallon saat ini tidak akan mungkin bisa menjadikannya artis. Karena artis harus cantik, sempurna, dan tidak memiliki cacat seperti Fallon.

Cowok kepo ini, bernama Ben. Dia berpura-pura menjadi pacar Fallon dan membelanya habis-habisan, bahkan menjawab dengan sinis apapun yang diucapkan Donovan. Setelah Donovan pergi, tinggallah mereka berdua di restoran itu. Somehow, Fallon merasa kalau dia tidak ingin dulu berpisah dengan pacar pura-puranya ini. Dia pun mengajak Ben ke kios eskrim untuk membeli makanan penutup, dan bilang, "aku akan memutuskanmu setelah dessert."

Tapi nyatanya, mereka malah menghabiskan waktu lebih lama dari setelah dessert, bahkan hingga akhirnya Fallon harus terbang ke New York. Entah apa yang terjadi, mungkin cinta pada pandangan pertama, atau insta-love, mereka sama-sama merasa berat kalau tidak bisa bertemu kembali, dan memutuskan untuk bertemu kembali di tanggal 9 November. Mereka saling block di media sosial, tidak bertukaran nomor telepon dan alamat email, hanya janji untuk bertemu setahun lagi di tempat yang sama, waktu yang sama. Terdengar aneh? Sedikit keju ya, tapi yeah that's what this book is all about. Pertemuan-pertemuan mereka di tanggal 9 November.

Mereka berdua akan mengira, setahun tanpa berkabar sama sekali akan membuat mereka merasa asing, namun ternyata saat bertemu, perasaan mereka justru makin kuat. Akan tetapi, mereka sadar, kalau mereka sebenarnya tidak saling mengenal. Siapa Fallon? Siapa Ben? Bagaimana sebenarnya kehidupan mereka? Sedikit demi sedikit terungkap lewat percakapan, dan alasan Ben untuk menambah plot, mereka saling bertanya apa kesukaan masing-masing, musik apa yang mereka dengar, buku apa yang menjadi kesukaan Fallon, dan lain sebagainya.

"You'll never be able to find yourself, if you're lost in someone else."

Jangan dikira pertemuan setahun sekali itu mudah, karena situasi, kondisi dan faktor X sangat menentukan keberhasilan mereka untuk bertemu. Seperti di tahun ketiga, abangnya Ben meninggal, hingga dia yang tadinya berjanji akan ke New York menemui Fallon terpaksa batal pergi, dan itu baru bisa dia kabari setelah Fallon menunggu di restoran yang mereka sudah sepakati di New York, melalui telepon restoran. Setelah setahun tidak bertemu, Ben pun gagal datang ke New York, apa yang harus Fallon lakukan? Tidak mungkin dia tidak bertemu lagi selama setahun! Maka Fallon nekat terbang ke LA.

Semacam itulah rasa keju dari novel ini, ditambah dialog yang diucapkan Ben sangat terasa membuai, karena siapa coba cowok yang ngomong seperti itu ke ceweknya? Siapa??? Bahkan suami pun bisa dihitung kapan ngomong romantis dan memuji istrinya habis-habisan seperti yang dilakukan Ben ke Fallon **curcol bu?**

Pic doc pribadi
Saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa Ben kayaknya cinta banget sama Fallon, hingga membuat cewek ini akhirnya bangkit kembali rasa percaya dirinya. Benarkah Ben hanya seorang pria yang kebetulan curi dengar pembicaraan anak dan ayah tersebut, hingga akhirnya memutuskan untuk ikut campur? Ataukah ada rahasia lain dibalik motifnya? Apakah Ben si penulis memang hanya membutuhkan Fallon sebagai karakter dalam novelnya? Dan kenapa Ben melarang Fallon membaca draft novel itu? Bukankah yang ditulis adalah kisah mereka?

Gak cuma keju sih, didalam novel ini ada juga rasa bawang dan sedikit pedas-manis. Rahasia yang tersimpan rapat, twist dalam cerita, membumbui kisah Ben dan Fallon. Kenapa tanggal 9 November? Ada apa di tanggal itu, selain hari peringatan kecelakaannya Fallon? Saya (meski banyak minum teh pait buat ngilangin eneg karena rasa keju yang berlebihan itu) menemukan diri saya terus membaca hingga larut malam karena penasaran sama apa yang selanjutnya terjadi pada mereka.

Buat yang suka novel romance, ini novel buat kalian. Buat yang gak terlalu suka rasa keju berlebihan, jangan deh. Tapi kalau mau bersabar, sebenarnya mendekati pertiga akhir sudah mulai berkurang kok kejunya. Malah ada tambahan bumbu MSG yang sedap ditengah-tengahnya, hehe. After all, mereka kan udah 20 tahunan, boleh lah melakukan adegan MSG.