Showing posts with label sylvia l namira. Show all posts
Showing posts with label sylvia l namira. Show all posts

Monday, March 25, 2013

The Teashop Girls -- Laura Schaefer

by











Memang, sih, kedai teh milik nenekku bukan Starbucks, tapi Steeping Leaf menawarkan suasana kekeluargaan dan sofa vintage. Kamu bisa memilih spot terbaik dan duduk berlama-lama di sana. Kamu bisa menikmati berbagai jenis teh dengan berbagai manfaat. Kamu juga bisa tahu cara membuat teh sempurna dari nenekku, Louisa.



Seperti aku dan dua sahabatku. Annie + Genna + Zoe = Gadis Kedai Teh. Kami sering buat acara high tea ala Inggris, merayakan ulang tahun bersama, dan membuat scrapbook tentang teh. Genna menggambar dan Zoe menulis. Seru banget, tapi rasanya itu udah lama banget … :'(



Sekarang, semua jadi aneh. Teman-temanku sibuk sama urusan mereka dan Louisa bilang kalau kedai semakin sepi dan mau tutup. Aku cinta banget sama kedai ini! Di sini hidupku, kerja part-time pertamaku, dan (mungkin) kisah cinta pertamaku . :')

Jadi, nggak boleh ada yang bisa merebut tempat favoritku!


Monday, November 16, 2009

Perpustakaan: jantung pendidikan, jantung kehidupan

Sylvia L'Namira
Second place in "Share Your Career Story" from
Konsultan Karir

Menjelang lulus SMA saya benar-benar tidak tahu harus memilih jurusan apa nanti saat kuliah. Saya cari-cari informasi dan survey ke beberapa universitas namun tetap juga belum mendapatkan ide mau mengambil jurusan apa. Ketika saya mendatangi kampus UI fakultas sastra, saya langsung jatuh cinta dan berharap agar bisa mendapatkan sebuah kursi untuk menimba ilmu di kampus idaman saya ini. Namun saya masih belum tahu harus mengambil jurusan apa. Bingung dan bingung.

Ayah saya adalah seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Beliau bisa memperkirakan tren karir di masa datang nanti kira-kira seperti apa dan beliau mengusulkan saya untuk mengambil jurusan ilmu perpustakaan. Saya sempat mencemooh dan berkata, “Idih, jurusan apa tuh? Nggak pernah denger dan kedengarannya nggak keren banget. Jurusan lain dong, Sastra Inggris atau Sastra Prancis kek.” Tapi ayah berhasil meyakinkan saya kalau jurussan ilmu perpustakaan bisa mencetak sarjana-sarjana yang ahli di bidang perpustakaan dan di tahun mendatang akan banyak permintaan sarjana jurusan tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti saran ayah dan mengambil jurusan ilmu perpustakaan di UI dan alhamdulillah saya diterima di kampus idaman tersebut. Selama masa sekolah menengah dulu, saya tidak pernah sekalipun berminat masuk ke dalam perpustakaan sekolah. Selain koleksinya kurang menarik dan tempatnya gelap, yang ada hanya buku teks saja. Namun di kampus mau tidak mau saya harus selalu masuk ke dalam perpustakaan. Dan sejak itulah muncul kecintaan terhadap bangunan yang menampung begitu banyak informasi di dalamnya. Saya makin sering pulang sore untuk sekedar nongkrong di perpustakaan kampus untuk membaca majalah, mencari literature, berdiskkusi dengan teman, atau hanya sekedar menyendiri sambil membaca novel.

Suatu hari saya pulang dari kampus dan melewati sebuah sekolah internasional. Dalam hati saya berharap agar bisa bekerja di sana. Dan ternyata Tuhan mengabulkan keinginan saya lagi. Dengan mudahnya begitu saya lulus jadi sarjana, saya mendapatkan informasi kalau sekolah tersebut mencari sarjana perpustakaan, dan saya langsung melamar ke sana. Waktu itu yang dicari hanyalah pekerja temporer, alias kontrak selama 6 bulan saja. Saya tidak peduli, bagi saya bisa bekerja di sekolah tersebut saja sudah merupakan anugerah dan saya bisa melatih kemampuan yang pernah diajarkan di kampus.

Saya bekerja dengan sembilan orang sarjana perpustakaan lain yang berasal dari kampus yang sama, dan rata-rata mereka adalah senior saya. Namun hal itu bukan masalah, dan kami tidak memiliki niat untuk bersaing atau saling menjatuhkan. Justru kami saling berdiskusi jika ada pekerjaan yang sulit, dan itu yang membuat kami bersepuluh terlihat kompak. Tugas kami adalah mengatalog buku-buku koleksi sekolah tersebut yang sudah menumpuk akibat kekurangan staff untuk mengerjakannya. Kami pun mengerjakannya dengan penuh semangat, terutama saya. Maklumlah, saya kan masih baru lulus kuliah, rasanya ilmu yang masih menempel di otak saya sangat bermanfaat di pekerjaan tersebut. Biasanya senior-senior saya yang sudah lama lulus suka lupa dan saya dengan senang hati berbagi ilmu dengan mereka.

Tanpa terasa enam bulan berlalu, dan kami pun harus di evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut, ternyata tujuh orang harus dieliminasi, meninggalkan tiga orang untuk dikirim ke masing-masing cabang sekolah tersebut. Saya termasuk diantara tiga orang tersebut. Ternyata pemilihannya berdasarkan hasil kerja kami yang di review selama enam bulan tersebut. Saya sangat bersyukur karena walaupun masih dalam status kontrak yang diperpanjang di enam bulan ke depan, itu artinya saya memang memiliki kemampuan dalam pekerjaan saya. Itu membuat saya makin termotivasi dan bersemangat untuk mempelajari hal-hal lain, seperti menguasai sistem database perpustakaan, serta melancarkan kemampuan komputer dan bahasa Inggris saya.

Enam bulan berlalu, dan kami bertiga diperpanjang kembali untuk enam bulan kedepan karena ternyata mereka masih membutuhkan tenaga kami. Saya tidak memikirkan apa-apa selain bekerja dengan baik dan menambah ilmu saya. Setelah kurang lebih dua tahun kami bekerja sebagai pegawai kontrakan yang notabene tidak mendapatkan benefit apapun selain gaji, akhirnya posisi kami dievaluasi kembali dan hasilnya adalah sekolah membutuhkan staff khusus untuk mengerjakan yang sedang kami kerjakan ini, dan hasilnya kami bertiga pun diangkat menjadi staff tetap sekolah internasional tersebut.

Saya sangat bersyukur dan makin bersemangat belajar. Karena tidak ada kata ‘terlalu tua’ untuk belajar, bukan? Saya ditempatkan di perpustakaan cabang SMP. Di sana saya memiliki bos yang berasal dari Australia. Bos saya orang yang mempunyai pengharapan tinggi terhadap anak buahnya, dan saya pun bekerja mengikuti standard dia yang tinggi. Di perpustakaan ini saya tidak hanya mengerjakan pekerjaan kataloging, tapi juga membantunya dalam menyiapkan bahan-bahan literatur penelitian anak-anak, juga menyiapkan teknologinya jika bos memerlukan untuk presentasi seperti LCD projector, komputer, yang sebenarnya menjadi tugas bagian tekhnologi. Namun bagi saya itu adalah kesempatan untuk belajar, dan saya pun mengerti cara mengoperasikan LCD projector, smartboard, dan perangkat pendukung lainnya.

Selain itu bos juga mendelegasikan saya untuk mempromosikan buku-buku yang baru datang di perpustakaan untuk menarik minat baca anak-anak. Isi promosi tersebut saya kemas dalam bentuk slide show yang bisa dilihat melalui screen TV dari jendela perpustakaan. Tak sedikit anak-anak yang datang dan meminta ‘buku yang dipajang di screen’ untuk dipinjam. Kemudian bos juga melimpahkan tugas membuat website untuk perpustakaan kepada saya. Meskipun ilmu saya belum sampai dan saya tidak mengerti apa-apa mengenai cara membuat dan mendesign website, saya menyanggupi dengan catatan meminta bos mendaftarkan saya kursus website. Bos pun setuju dan saya didaftarkan untuk mengikuti kursus dalam rangka mendukung pekerjaan tambahan saya tersebut.

Semua yang saya lakukan sekarang sudah melenceng jauh dari job deskripsi awal saya, namun saya tidak merasa rugi mengerjakan itu semua, karena banyak ilmu yang saya timba dari pekerjaan-pekerjaan tambahan tersebut. Setelah sepuluh tahun saya bekerja di sekolah ini, saya kini sudah mendapatkan banyak benefit yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya bekerja di tempat lain, dan itu yang membuat saya bersyukur masih memiliki pekerjaan yang bisa menopang kehidupan saya dan dua anak saya.

Kalau di awal niat saya bekerja adalah untuk mengaplikasikan ilmu, setelah menikah saya tetap bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, serta alasan klise wanita bekerja, yaitu aktualisasi diri. Ya, mungkin karena sejak lulus kuliah saya tidak pernah merasakan menganggur, juga dorongan ibu saya agar saya terus bekerja, maka dalam diri saya terbentuk karakter wanita pekerja.

Namun kini alasan saya bekerja sudah berbeda. Saya sekarang adalah seorang single parent dengan dua anak. Mau tidak mau saya harus bekerja dan mencari nafkah bagi kehidupan kami. Jika datang masanya tidak bersemangat kerja, entah itu karena ada masalah dengan bos, atau masalah dengan pekerjaan yang tidak selesai-selesai, saya akan menatap foto buah hati dan melecut diri saya untuk kembali bangkit dan bersemangat lagi, demi mereka.

Perpustakaan selain sebagai tempat penyimpanan buku, juga gudangnya informasi. Banyak ilmu yang saya dapat selama bekerja di sini. Jika saya ingin mempelajari hal tentang alam semesta, saya bisa membaca di buku sains. Jika ingin mengetahui tentang mendidik anak saya bisa membaca dari buku koleksi parenting. Bahkan jika saya ingin membaca komik atau novel sebagai hiburan saya bisa meminjam dari perpustakaan tempat saya bekerja. Alhamdulillah selama sepuluh tahun bekerja di sini saya tidak merasakan bosan.

Bekerja di perpustakaan tidak seperti yang disangka orang-orang: membosankan, kerjanya ngelap debu buku saja, tidak ada perkembangan apa-apa, dan sebagainya.Tapi itu semua salah. Justru di kantor ini, saya menemukan bakat menulis saya. Saya yang dulu paling membenci pelajaran mengarang, kini malah bisa menulis berkat buku-buku yang menginspirasi saya di perpustakaan ini. Hasilnya, satu novel dan lima buah buku kumpulan cerpen yang saya tulis bersama teman-teman saya berhasil tembus penerbitan dan dijual di toko buku. Bangga rasanya melihat buku dengan nama saya terpajang di toko buku. Ditambah lagi bos saya yang mengetahui bahwa saya telah menerbitkan novel, membanggakan saya di depan kolega-koleganya membuat saya makin percaya diri dan bersemangat untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Saya berharap hal tersebut bisa memberikan motivasi pada anak-anak saya kelak, bahwa dengan bekerja maksimal dan memanfaatkan setiap sumber informasi dengan baik, maka kita semua akan bisa mendapatkan hasil yang baik pula.

Wednesday, September 02, 2009

Mi Familia -- Sylvia L'Namira

Sefryana's review

Rating: 3 of 5 stars



Saya membaca novel Syl ini sebelum bertemu dengannya di WBD beberapa bulan lalu. Jujur, saya sangat tertarik saat pertama kali melihat bukunya mejeng di Toko Buku Gunung Agung Arion. :)

Ceritanya sederhana, tapi sangat menghibur. Seorang perempuan pasti tidak mau dimadu (atau sulit menerima), begitu juga saya. Bagaimana jika harus dihadapkan pada kenyataan suami kita menyuruh untuk berlapang dada menerima orang lain di dalam rumah tangga beserta anak-anaknya. Inilah yang terberat dihadapi Bia ketika menikah dengan Irham. Saat bulan madu, mereka pergi bersama tiga anak kecil dan ibunya.

Saya tidak akan menyalahkan Bia, tidak juga menyalahkan Irham. Posisinya sama-sama sulit. Namun, Syl dengan lihai membuat cerita dengan ending yang adil. Buat saya yang belum menikah, apa yang terjadi pada Bia sempat menjadi pikiran. It's a nice book. Really! :D

Friday, June 05, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Fragaria's review

rating: 3 of 5 stars
status: read count: 1



Honeymoon keroyokan. Inilah situasi yang dialami oleh tokoh Bia dalam novel Mi Familia. Bulan madu, yang mestinya dihabiskan berdua saja dengan Irham sang suami, harus diganggu dengan adanya Mila dan ketiga anaknya. Bukan cuma itu, setelah honeymoon pun, Irham sendiri yang mengajak Mila dan ketiga anaknya itu ikut tinggal di rumahnya!

Jelas aja Bia cemburu. Siapa sih Mila? Kenapa Irham perhatian banget sama Mila? Kenapa hak-haknya untuk mengurus kebutuhan Irham harus direbut oleh Mila? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang membebani pikiran Bia.

Padahal masalah yang dihadapi bukan saja tentang 'persaingan'nya dengan Mila. Bia juga sempat harus menunggu lama untuk memperoleh anak pertamanya. Namun walaupun dipenuhi rasa sebal, Bia tetap sabar menjalani semuanya dengan sabar demi keutuhan rumah tangganya.

Sungguh sabar tokoh Bia ini. Sedangkan suaminya, Irham, cukup ngeselin, kok tega sih melakukan hal-hal itu tanpa pemberitahuan sebelumnya? Mila juga bi...more Honeymoon keroyokan. Inilah situasi yang dialami oleh tokoh Bia dalam novel Mi Familia. Bulan madu, yang mestinya dihabiskan berdua saja dengan Irham sang suami, harus diganggu dengan adanya Mila dan ketiga anaknya. Bukan cuma itu, setelah honeymoon pun, Irham sendiri yang mengajak Mila dan ketiga anaknya itu ikut tinggal di rumahnya!

Jelas aja Bia cemburu. Siapa sih Mila? Kenapa Irham perhatian banget sama Mila? Kenapa hak-haknya untuk mengurus kebutuhan Irham harus direbut oleh Mila? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang membebani pikiran Bia.

Padahal masalah yang dihadapi bukan saja tentang 'persaingan'nya dengan Mila. Bia juga sempat harus menunggu lama untuk memperoleh anak pertamanya. Namun walaupun dipenuhi rasa sebal, Bia tetap sabar menjalani semuanya dengan sabar demi keutuhan rumah tangganya.

Sungguh sabar tokoh Bia ini. Sedangkan suaminya, Irham, cukup ngeselin, kok tega sih melakukan hal-hal itu tanpa pemberitahuan sebelumnya? Mila juga bikin penasaran, kenapa Mila ga mau menikah lagi dan malah tinggal sama keluarga Irham-Bia?

Nah, kalo mau tau jawabannya, baca aja novelnya langsung. Sebenernya ceritanya lumayan sedih, tapi akhirnya happy ending kok. Dan gaya tulisannya cukup lucu dan menghibur, jadi insya Allah ga bakal bikin nangis. Novel ini juga cocok dibaca buat yang belum menikah... biar bisa siap-siap, kalo mendadak honeymoonnya harus dihabiskan bersama orang-orang lain, hhe

Sunday, May 24, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Anggia's review

rating: 3 of 5 stars
bookshelves: young-adult-and-romance

status: Read in June, 2009



Awalnya sempet mikir niy buku bakal nyeritain tentang anak2 bla,bla,bla
Ternyata bagus juga, bahasanya enak dibaca, ringan jadi ga ngebosenin

Irham nampak cowo perfect banget ya, heuheu...

Secara keseluruhan cukup menarik, membuat kita bertanya-tanya kenapa sih MIla ga mau nikah lagi?
Apa bener Irham tu ada rasa sama Mila?
dan masih banyak lagi,,

Untuk selengkapnya coba deh baca bukunya

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Suryati's review

rating: 4 of 5 stars
bookshelves: novel

status: Read in June, 2009



Hari Selasa dapat kiriman paket, Mi Familia, wow seneeeeeeng, soalnya emang sudah ditunggu-tunggu, thanks ya Syl. Malemnya dibaca sampai halaman 35 diterusin besoknya disela-sela ngurus suami yang tiba-tiba kejang perut... So, akhirnya malam ini Rabu, pk. 9.45 selesai juga, dan anak-anak & suami sudah tidur...

Kisah bercerita tentang Bia, dan suaminya Irham yang senang memberikan kejutan. Bahkan kejutan yang tidak menyenangkan diawal pernikahan...Subhanallah masak sih tega honeymoon ngajak sepupu dan tiga anaknya. Alasan Irham sempat bikin aku sebel persis sama dengan perasaan Bia. Ya iyalah, tega-teganya menghancurkan impian dan angan-angan penganten baru yang pengen bulan madu berdua sama suami tercinta. Belum lagi ditambah tinggal serumah dengan mereka dengan batas waktu tak tentu..kebayang deh kalo semua itu menimpaku.

Kekesalan Bia hampir pasti bisa dirasakan semua istri, karena semua istri pasti ingin jadi satu-satunya ratu dalam rumah tangga tanpa saingan d...more Hari Selasa dapat kiriman paket, Mi Familia, wow seneeeeeeng, soalnya emang sudah ditunggu-tunggu, thanks ya Syl. Malemnya dibaca sampai halaman 35 diterusin besoknya disela-sela ngurus suami yang tiba-tiba kejang perut... So, akhirnya malam ini Rabu, pk. 9.45 selesai juga, dan anak-anak & suami sudah tidur...

Kisah bercerita tentang Bia, dan suaminya Irham yang senang memberikan kejutan. Bahkan kejutan yang tidak menyenangkan diawal pernikahan...Subhanallah masak sih tega honeymoon ngajak sepupu dan tiga anaknya. Alasan Irham sempat bikin aku sebel persis sama dengan perasaan Bia. Ya iyalah, tega-teganya menghancurkan impian dan angan-angan penganten baru yang pengen bulan madu berdua sama suami tercinta. Belum lagi ditambah tinggal serumah dengan mereka dengan batas waktu tak tentu..kebayang deh kalo semua itu menimpaku.

Kekesalan Bia hampir pasti bisa dirasakan semua istri, karena semua istri pasti ingin jadi satu-satunya ratu dalam rumah tangga tanpa saingan dan semua istri pasti menginginkan suaminya membicarakan segala sesuatunya lebih dulu dengan istri sebelum mengambil suatu keputusan tentang apapun. Tapi untunglah Bia bukan aku karena Bia jauh lebih baik, soalnya dia bisa menerima alasan suaminya dan tetap menerima Mila dan ketiga anaknya, salut deh karena itu menunjukkan kebesaran jiwa Bia dan ketulusan cinta kepada suaminya, mengalahkan egonya sendiri untuk menjadi satu-satunya orang yang dicintai suami. Dia mau berbagi kasih suami dengan anak-anak yatim dan seorang janda yang masih saudara, mau menerima walaupun daerah teritori dia sebagai istri dan nyonya rumah juga terganggu. Dia juga punya seorang sahabat yang benar-benar sahabat sejati yang bisa diajak berbagi dan siap memberinya semangat. Bia juga punya orang tua dan keluarga yang mencintainya.

Pada saat Bia keguguran dan harus kehilangan janin yang dikandungnya, duuh...jadi ikut ngerasa sedih. Aku jadi teringat pengalaman yang sama nih, sama, anak pertama juga. Jadi aku ngerti banget perasaan yang di alami Bia. Yang jelas, Sylvia mampu menuliskan sebuah kisah yang bisa membuat pembacanya khususnya aku seolah larut dalam kisah tersebut. Salut...

Wednesday, May 20, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Jimmy's review

rating: 2 of 5 stars
status: Read in May, 2009



Menikah itu keputusan berdua
Punya anak juga keputusan berdua

Mengurus rumah urusan berdua
Mengurus anak juga urusan berdua

Salah satu lebih dominan…
Pertikaian di depan mata…

(Hallahhh…gua ngomong apa sih…)

Irham, kok loe ngga tegas amat sih jadi suami!!!! :D

Friday, April 17, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Leli's review

rating: 4 of 5 stars
bookshelves: fiction_historical-fict, indonesian

status: Read in June, 2009



roller coaster emosi yg sempurna,
ga terlalu nungkik.. ga terlalu landai.. maniiiitts....bikin menangis n meringis

martian oh martian..

gud jobh, syl...

Friday, March 27, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Vera's review

rating: 3 of 5 stars
bookshelves: fiction, indonesia, it-s-mine

status: Read in March, 2009




Bia pertama kali bertemu Irham waktu bertabrakan di lift kantor. Mereka berkenalan saat makan siang.

Bia bukan detektif swasta, dan Irham pun tidak bertampang psikopat. Karena itu, tidak perlu ada adegan selidik menyelidiki latar belakang yang rumit, dan beberapa bulan kemudian mereka setuju untuk menikah. Irham bahagia, Bia bahagia. Pembaca juga bahagia. Sampai... aduuuh... kok bisa begini?

Bagaimana ini? Bulan madu pasangan Bia-Irham ke Bali ternyata termasuk paket wisata untuk Mila, sepupu Irham yang janda bersama tiga anaknya. Siapa mempelai wanita yang rela "di-enam-kan" oleh suami demikian mendadak saat hari pertama bulan madu begitu? Romantisme buyar, hati Bia nan dongkol makin berat saat sepulang bulan madu ternyata Mila dan anak-anaknya terlanjur diajak Irham tinggal bersama mereka. Tanpa tanya-tanya ratu rumah tangga yang kini bertahta terlebih dulu.

Bia pasti salah satu spesies malaikat ya. Malaikat yang makan hati. Dan Irham adalah...more Bia pertama kali bertemu Irham waktu bertabrakan di lift kantor. Mereka berkenalan saat makan siang.

Bia bukan detektif swasta, dan Irham pun tidak bertampang psikopat. Karena itu, tidak perlu ada adegan selidik menyelidiki latar belakang yang rumit, dan beberapa bulan kemudian mereka setuju untuk menikah. Irham bahagia, Bia bahagia. Pembaca juga bahagia. Sampai... aduuuh... kok bisa begini?

Bagaimana ini? Bulan madu pasangan Bia-Irham ke Bali ternyata termasuk paket wisata untuk Mila, sepupu Irham yang janda bersama tiga anaknya. Siapa mempelai wanita yang rela "di-enam-kan" oleh suami demikian mendadak saat hari pertama bulan madu begitu? Romantisme buyar, hati Bia nan dongkol makin berat saat sepulang bulan madu ternyata Mila dan anak-anaknya terlanjur diajak Irham tinggal bersama mereka. Tanpa tanya-tanya ratu rumah tangga yang kini bertahta terlebih dulu.

Bia pasti salah satu spesies malaikat ya. Malaikat yang makan hati. Dan Irham adalah contoh seorang Forrest Gump (di kisah Forrest Gump kayaknya tidak ada malaikat, tapi biar saja. Ini kan buku Mi Familia). Irham terlanjur berjanji pada sahabatnya, almarhum suami Mila untuk menjaga keluarga yang ditinggalkan. Walau artinya ia menepikan istrinya sendiri. Dan Bia awalnya bisa sebegitu berlapang dada menerima Mila dan anak-anaknya walau sadar itu berarti perasaannya bukanlah prioritas dalam pandangan suaminya.

Di situlah ajaibnya buku ini. Terutama karena tokoh jagoan buku ini, yaitu Bia, berpikir dan bertindak justru dengan bercermin pada hal-hal yang tidak dilakukan suaminya. Dengan kata lain, perilaku Irham-lah yang ajaib. Perilaku tanpa perasaan. Huh, dasar cowoook...!

Perasaan Bia yang kemudian termuntahkan memang begitu manusiawi. Ia takjub atas keputusan-keputusan kemanusiaan dan janji kesatria Irham. Ia heran sang kesatria yang sudah jadi suaminya ternyata tidak menganggap istrinya sebagai mitra sejajar untuk memutuskan hal terkait ketenteraman rumah tangga bersama-sama. Ia tak habis pikir, kenapa harus Irham seorang yang mengurus keluarga Mila. Ia marah waktu Mila bagai tak hendak memberi dirinya sendiri prospek masa depan dengan menolak dijodohkan. Di atas segalanya, ia cemburu seorang sepupu yang kebetulan janda sahabat suaminya bisa punya kekuasaan besar atas urusan rumah tangga mereka.

Buku ini hasil karya seorang perempuan (ibu-ibu pulak!), jadi fokusnya adalah apa yang akan dilakukan seorang perempuan yang berada di posisi Bia. Bia yang orang kota besar, sibuk dengan karir, dan sosoknya bisa kita lihat di mana-mana. Rasionya sesuai dengan bahan timbangan ibu-ibu. Gaya bahasa yang dipakai pun sudah bisa ditiru anak umur 3 tahun. Tipikal. Standar. Tokoh Mila yang mungkin bikin geregetan. Rupanya ia punya alasan untuk tidak hidup ngoyo.

Sayang buku ini kurang memberi rasionalitas pada posisi Irham. Padahal ia tokoh pemeran utama pria. Apa iya, ada cowok "baik-baik" yang sengaja tidak cerita pada istri yang baru dinikahinya tentang tambahan personil bulan madu mereka? Apa iya si cowok "baik-baik" ini tidak menenggang perasaan istrinya setelah kejutan demi kejutan disodorkannya? Kenapa juga sang sepupu tidak tinggal saja bersama keluarga besar Irham yang masih lengkap? Kekosongan-kekosongan alasan ini jika dilengkapi seperlunya pasti akan jadi lebih menarik lagi.

Sangat menarik melihat gambaran sepasang suami-istri yang berusaha menyelesaikan masalah rumah tangga mereka, walau dengan kecepatan yang berbeda. Kesabaran dan mau mendengarkan adalah kuncinya.

Thursday, March 26, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Erie's review

rating: 3 of 5 stars

bookshelves: 2009, fiksi



ripyu-nya gini aja... *mikir-mikir*
awalnya sedikit "kecele" juga liat tulisan disampul depannya yang yang sepertinya akan menceritakan tentang tiga orang kurcaci. Ternyata setelah dibaca gak terlalu banyak cerita tentang tiga kurcaci ini, hehehe. Trus ada satu yang bikin penasaran.. yaitu alasan seorang Mila yang sepertinya "enggan" menerima laki2 lain disisinya. ternyata itu to alesannya. trus.. trus.. ternyata ada persamaan antara karakter Irham dengan gue (bukan ge-er) yaitu.. sama-sama demen kastengel, hehehe

benar merah cerita ini ialah *sotoy mode on*
wanita berpikir dengan hatinya
laki-laki berpikir dengan kepalanya
kudanil berpikir dengan.. dengkulnya

erie
happy hippo yang terkena virus premanplasma

-------------------------
yah mulai bacanya, dah dapet di palasari, gak perlu ngubek2, gara2 nyaris ketendang bukunya saking sempitnya lorong di BBC, pas nungging kepleset, eh.. itu buku dah ad...more
ripyu-nya gini aja... *mikir-mikir*
awalnya sedikit "kecele" juga liat tulisan disampul depannya yang yang sepertinya akan menceritakan tentang tiga orang kurcaci. Ternyata setelah dibaca gak terlalu banyak cerita tentang tiga kurcaci ini, hehehe. Trus ada satu yang bikin penasaran.. yaitu alasan seorang Mila yang sepertinya "enggan" menerima laki2 lain disisinya. ternyata itu to alesannya. trus.. trus.. ternyata ada persamaan antara karakter Irham dengan gue (bukan ge-er) yaitu.. sama-sama demen kastengel, hehehe

benar merah cerita ini ialah *sotoy mode on*
wanita berpikir dengan hatinya
laki-laki berpikir dengan kepalanya
kudanil berpikir dengan.. dengkulnya

erie
happy hippo yang terkena virus premanplasma

-------------------------
yah mulai bacanya, dah dapet di palasari, gak perlu ngubek2, gara2 nyaris ketendang bukunya saking sempitnya lorong di BBC, pas nungging kepleset, eh.. itu buku dah ada didepan mata pdhl blom nyari ama blom nanya *curiga si uyut ngasi jampi2 ama bukunya, hehe*

lalalala... buku nini-nini
lalalalala.. nini-nini nulis buku

kalo yang laen gak nge ripyu *nunjuk2 ketua jaduler*
gw juga gak bikin ripyu ntar..

lalalala...
-----------------------------

*treak-treak pake toa*

PENGUMUMAN! PENGUMUMAN!

ini buku yang nulisnya nini-nini, chicklit neh keknya

hiyaaah, ketauan nulis chiklit :-p

katanya sih bukunya available next weekend, hehehe

Sylvia L'Namira .. itu to nama lengkapnya, kikikiki

Wednesday, March 18, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Dini's review

rating: 3 of 5 stars
bookshelves: fiction, indonesian

status: Read in May, 2009


Hal paling menonjol waktu saya mulai baca buku ini adalah: sumpah, tokoh suaminya bikin geregetaaaaan. Masa nggak pernah bilang-bilang sama istri barunya kalo dia menanggung hidup sepupu perempuannya dan tiga anaknya yg masih kecil-kecil. Yang lebih menyebalkan lagi, tanpa minta persetujuan sang istri dia langsung mengajak perempuan itu dan tiga anaknya ikutan honeymoon dan setelah itu malah tinggal satu rumah!

Pantas saja kalau Bia, sang tokoh utama, naik darah karena Irham suaminya mengambil keputusan sendiri. Novel ini kemudian berputar dalam kisah keseharian Bia dan Irham sebagai pengantin baru yang hidupnya diganggu tiga 'kurcaci kecil' dan seorang 'peri'. Apalagi si peri ini, Mila, ternyata jago masak dan mengerjakan urusan rumah tangga sampai Bia merasa tugas melayani suami direbut olehnya. Belum lagi anak2 yang sering bikin ribut dan mengganggu acara berdua Bia dan Irham (pengantin baru pasti maunya dua-duaan dulu dong...). Bia makin stres ketika usahanya untuk puny...more Hal paling menonjol waktu saya mulai baca buku ini adalah: sumpah, tokoh suaminya bikin geregetaaaaan. Masa nggak pernah bilang-bilang sama istri barunya kalo dia menanggung hidup sepupu perempuannya dan tiga anaknya yg masih kecil-kecil. Yang lebih menyebalkan lagi, tanpa minta persetujuan sang istri dia langsung mengajak perempuan itu dan tiga anaknya ikutan honeymoon dan setelah itu malah tinggal satu rumah!

Pantas saja kalau Bia, sang tokoh utama, naik darah karena Irham suaminya mengambil keputusan sendiri. Novel ini kemudian berputar dalam kisah keseharian Bia dan Irham sebagai pengantin baru yang hidupnya diganggu tiga 'kurcaci kecil' dan seorang 'peri'. Apalagi si peri ini, Mila, ternyata jago masak dan mengerjakan urusan rumah tangga sampai Bia merasa tugas melayani suami direbut olehnya. Belum lagi anak2 yang sering bikin ribut dan mengganggu acara berdua Bia dan Irham (pengantin baru pasti maunya dua-duaan dulu dong...). Bia makin stres ketika usahanya untuk punya momongan terus gagal dan Irham dirasakan makin sibuk dengan pekerjaan dan kurang memperhatikan dirinya. Salut buat sang pengarang, yang gaya berceritanya membuat kita mudah bersimpati pada tokoh Bia (dan pada kasus saya, bete dengan Irham – walaupun cuma di awal sih) dan menyelami hati serta perasaannya. Kisah ini dapat sekaligus menjadi bahan pelajaran untuk para lelaki: berhati-hatilah dengan perasaan wanita karena mereka sangatlah peka...

PS. Duh!! Lupa lagi mau minta tanda tangan si penulis, padahal kemaren baru ketemu ;P(less)