Showing posts with label Librarian. Show all posts
Showing posts with label Librarian. Show all posts

Wednesday, February 14, 2018

Lakon Librarian: Blind Date With a Book


Bulan Februari sudah tiba. Tahu kan apa itu artinya? Semua hal yang berhubungan dengan kasih sayang, cinta, dan romantisme akan banyak ditemukan di bulan ini. Dan sebagai pustakawan, haruslah mengikuti tren yang ada. Caranya? Buat kegiatan di perpustakaan. Meski kegiatan kecil, yang penting tetap berpartisipasi, kan?

Ayo dipili-dipili
Untuk bulan romantis ini, event yang saya buat di library adalah 'Blind Date With a Book.' Sounds promising, right? Saya nemu ide ini ya di Google, makanya rajin-rajinlah berseluncur mencari ide **Psstt.. jangan browsing tokped aja ya, meski itu juga penting untuk batin** :p

Idenya adalah: murid meminjam buku tanpa mengetahui judul yang akan dipinjamnya. Jadi saya membungkus buku-buku tersebut, menempelkan clue mengenai level bacaan, genre, note untuk siapa target pembacanya (boys atau girls) dan terakhir sedikit summary biar mereka gak blank-blank amat.

Boys read, too!
Jam-jam pertama, pengunjung masih sepi. Saya sempat deg-degan karena hingga waktu istirahat pertama baru satu anak yang meminjam. Tapi saya tetap optimis, kalau akan ada peminjam lain, apalagi di pagi hari saya sudah minta ke guru wali kelas untuk mengumumkan ke siswanya bahwa di perpustakaan ada kegiatan.

Lalu datanglah jam istirahat kedua. Siswa kelas 4-6 menyerbu dan habis dalam sekejap!

Persyaratannya sih tidak banyak, mereka hanya harus mengembalikan buku overdue mereka (kalau ada), dan boleh meminjam jika masih dalam batas jumlah peminjaman mereka (di sini mereka hanya boleh pinjam maksimal 2 buku saja - itu pun baliknya susaaaahhh, sering pada telaaattt, malah kadang hilang, hiks!)
Gak sabar, langsung buka!
Dan hari kasih sayang kemarin pun sukses! Saya cukup puas dan berterima kasih kepada para guru yang sudah mengumumkan, dan tentu saja kepada siswa yang selalu aktif berpartisipasi. Hmm.. sediain coklat supermen apa ya buat mereka? **eh tapi ntar batuk deh, gak jadi!**

KEESOKAN HARINYA... (which is hari ini) saya tanya ke beberapa dari mereka yang meminjam buku, apakah mereka suka atau tidak. Dan jawabannya: "I like the book!" *so happy!*


Monday, August 14, 2017

Lakon Librarian: Library Display, part 9

Assalamu'alaikum,

Mari bicara tentang display lagi. Kali ini display yang akan saya buat lumayan besar, terdiri dari enam jendela, menggantikan display beberapa tahun yang lalu. Kalau penasaran seperti apa display sebelumnya, monggo lho dicek di LINK INI, tapi yang penasaran aja lho yaaa.. kalo nggak ya nggak usah :p

Oke, karena media menggambarnya cukup luaaas... jadi lah saya harus pandai-pandai memilih display. Jangan sampai terjadi lagi totol-totolan cat yang menumpuk di satu bagian, sehingga harus mengulang. Maka saya putuskan untuk meminimalisasi cat, dan memaksimalkan print-an. :D

So, ide awalnya (yang tentu saja saya dapatkan dari Pinterest) adalah ini:


Karena ide yang saya dapat adalah buletin board, rata-rata mereka pakai background dong ya? Namun media saya kan beda. Maka background saya biarkan kosong, karena kalau dicat semua, library akan gelap dan dari luar akan sangat tertutup. Padahal salah satu cara promosi adalah memperlihatkan betapa ramainya pengunjung di dalam, sehingga yang di luar ingin masuk juga, ya kan? Meski di sekolah saya mah, tidak perlu dipromo-promo, anak-anak akan selalu datang untuk pinjam buku, sebab pinjam buku adalah WAJIB di sini ;)

Anyway, kembali ke display, saya hanya akan mengecat batangnya saja. Eh, kalau saya bilang 'saya mengecat' itu artinya asisten saya ya yang ngerjain. Saya mah kasih ide dan supervisi saja, he-he. Dan begini tahap awal pengecatan batang pohon.


Lalu saya pun menyiapkan daun, bunga, burung gereja, burung hantu, dan tulisan dengan mengandalkan komputer dan print out (ini  benar saya yang bikin). Karena kalau menulis sendiri, sudah pasti jelek (secara tulisan saya terlalu doodling untuk dipahami :p) Dan setelah ditempel sana-sini dengan penuh semangat dan niat baik, maka jadilah display jendela luar library seperti ini:

Tampak Depan


Tampak Kiri

Tampak Kanan

Jika dilihat dari dekat --klik aja di gambarnya yes-- tulisan READ, bunga, dan burung dibentuk dari kertas bermotif. Niatnya sih pakai kertas kado, biar lucu yaaa, tapi karena harus segera tayang, saya akalin dengan print motif di kertas putih, lalu diprint lagi di atas kertas itu, font huruf R-E-A-D yang disetting outline saja. Yah, yang biasa pakai word tau laahh... Untuk tulisan 'Branch out...bla-bla-bla' saya pakai publisher - banner. Coba-coba saja sendiri, pasti bisa. Saya juga gitu ;)

Oke deh, semoga menginspirasi yaaa...!

Thursday, August 10, 2017

Lakon Librarian: Library Display, part 8

Assalamu'alaikum,

Tidak terasa ya sudah 3 bulan saja 'rumah' ini terbengkalai. Haduh, merasa sok paling sibuk sedunia nggak sih? :D Baiklah, mari kita tinggalkan jejak perjalanan kali ini dengan berbagi library display untuk tahun ajaran yang baru ini. Masih dengan ide dari pinterest, saya ambil beberapa contoh display untuk diaplikasikan di jendela perpustakaan saya. Bagi yang ingin melihat ide display di tahun lalu, yang mau aja lhooo, silahkan klik LINK INI. Karena tiap tahun harus ganti display, ya berarti harus rajin browsing ;)

Ide awalnya adalah gambar ini.



Lalu dicoba untuk diaplikasikan di jendela. dengan menggunakan cat acrylic dan hasilnya....



G-A-G-A-L

Kesel? Ya nggak juga sih, karena memang mengaplikasikan cat itu tidak mudah. Menggunakan spons yang ditotol-totol di kaca dapat menghasilkan warna yang diinginkan (atau tidak) tergantung bagaimana pengaplikasiannya. Untuk yang ini, karena minionsnya dicat juga, maka warna dasar biru di sekitar minionsnya jadi berkali-kali ditotol, sehingga hasilnya jadi belang-bentong. Kesimpulannya: HAPUS!

Ganti dengan ide lain, yakni gambar ini.



Tampaknya lebih mudah yaaa? Yap! Karena untuk cat hanya diaplikasikan sebagai background (biru) dan gambar buku (putih) Selebihnya, kupu-kupu buat sendiri (cetak-gunting-tempel) dengan kertas hvs warna-warni, tulisan quote print ajah di publisher, gunting-tempel. Gak pakai dilaminating karena saya rasa cukup kuat lah untuk satu tahun ajaran. Hasilnya...

Tampak Depan

Tampak Agak Jauhan

Not bad, huh? Saya puas dengan hasil yang ini dan dengan semangat saya terbangkan kupu-kupu hingga ke AC dan rencananya akan ditempel hingga ke langit-langit perpustakaan. Tapi nanti ajah... nunggu senggang ;)

So, gimana? So far, looks oke? Kalau mau coba, monggo lho. Modalnya hanya: cat acrylic, gunting, spons, selotape, kertas hvs, dan kemauan yang besar. Insya Allah jadi!

Happy displaying!

Monday, September 12, 2016

Lakon Librarian: Library Games

img_4225
doc. pribadi

Assalamu'alaikum.

Sejak punya buletin baru *cieeehh* saya jadi suka bereksperimen. Nempel apa ya habis ini? Tema apa ya yang mau dipajang? Biasa deh, masih baluuuu :D

Daaannn.. tibalah saatnya program Language Day, bertepatan dengan diadakannya open house di sekolah (kenapa namanya nggak open school ya?). Saya pun mengadakan library game. Kalau tahun lalu library mengadakan bookmark competition (monggo baca postingannya di SINI) maka tahun ini library bikin games yang beda, yakni Guess Who's Reading?

Apaan tuh? Games macam apa pula itu?

Idenya saya dapat dari mantan atasan saya di kantor yang lama (thank you Ibu Kate!). Saat itu beliau menyuruh saya foto 10 guru, trus dicrop pas mata dan buku aja, trus diprint. Kemudian, anak-anak disuruh nebak siapa sih wajah guru yang ada di balik cover buku.

img_4227
doc. pribadi
Untuk games ini saya modif sedikit, saya pilih 8 guru saja untuk berpartisipasi (karena memang boardnya nggak cukup juga untuk 10 orang, he-he!) dan saya jepretlah mereka (pakai kamera, tentunya!) lalu untuk sedikit memberi tantangan (baca: mempersulit) foto-foto itu saya edit pakai aplikasi prisma yang sekarang lagi nge-hitz banget. Dan hasilnya... mayan keren menurut saya :D

Nih, dia contohnya:

img_4061
doc. pribadi

untitled
Answer form
click to enlarge

Cara ikutannya gampang banget:

  1. Anak-anak mengambil form jawaban di library

  2. Mengisi dengan tepat 8 nama sesuai urutan di foto

  3. Masukkan ke dalam kotak yang disediakan

  4. Boleh mengisi lebih dari 1 kali

  5. Tunggu pengumuman dengan sabar

Anak-anak saya beri waktu 2 minggu untuk menebak dengan tepat, sesuai nomor di foto. Di hari pertama antusias anak-anak begitu tinggi. Bahkan hingga saat ini sudah minggu kedua, mereka pun masih ingin menebak. Seru nyaaa!!

img_4224
doc. pribadi
Saya pikir games ini mudah sekali lho! Masa sih mereka tidak bisa mengenali wajah guru mereka, meski hanya kelihatan matanya? Tapi ternyata lumayan susah juga. Beberapa guru mencoba menebak dan salah! Hehehe saya malah jadi optimis.

Tiga pemenang akan saya pilih sebagai pemenang. Hadiahnya? Ya buku lah! Apalagi? Kebetulan dari book fair tahun lalu masih ada buku yang sengaja saya simpan untuk hadiah. Masih aman, gak perlu ngemis-ngemis hadiah tahun ini, hehehe :D Saya juga akan buatkan bookmark dari tulisan READ yang ada di display library tahun ini buat tambahan. Supaya banyak aja, gituuh! :p

Tahun depan bikin games apa lagi ya? **peres otak** *browsing ide*

Sunday, August 21, 2016

Lakon Librarian: Library Display, part 7

Assalamu'alaikum.

Untuk pertama kalinya tahun ini library mendapat bulletin board sendiri. Yeay! (Yeay? Mo ditulisin apaaaa?) Jangan salah sangka ya,  bukannya saya nggak seneng dapet bulletin board, karena sebenarnya buaannyaakk bangeeettt yang bisa ditempel di sebuah bulletin board. Saya bisa taruh pengumuman nama-nama anak yang telat balikin buku (wah, dijamin penuh tuh!) saya bisa juga promosi buku baru (kalau ada pembelian bukuu siiihhh... *no komen*) bahkan saya bisa taruh profile librarian (which is ME!) di bulletin board.

Tapi masalahnya adalah, bulletin board yang dikasih ke saya itu GEDE BANGET! I mean GUEDEE BUANGEET! Saya kan bingung mo nulisin apa ya? Buku baru gak punya *hiks*, kegiatan library juga paling membutuhkan space yang sedikit doang, untuk pasang profile librarian kok saya belum sampai hati *hehe I'm not THAT narsis**

Akhirnya saya mencari ide di Pinterest (di mana lagi, kan?) untuk menghias bulletin board. Pada dasarnya saya butuh display yang menghabiskan separuh papan pengumuman yang selebar pintu itu! *gigit mouse*

Waktu untuk mendisplay juga dibatasi, karena sekolah akan mengadakan open house. Jadi, kudu cari yang simple dan besar. Dan inilah dia...!

WhatsApp Image 2016-08-08 at 3.51.42 PM
Halp part udah jadi


Steps:

1.Bulletin board saya lapisi kertas kisyu berwarna orange.

2. Untuk bordernya, saya print tulisan READ dan gambar buku yang tentu saja ngambil dari internet.

IMG_3994

IMG_3993

Kalau diperhatikan, tulisan READ dan gambar bukunya ada coraknya ya? Itu terjadi karena ketidaksengajaan. Jadi awalnya mau ngetest huruf, di kertas bekas. Eeeh malah jadi lucu! Jadinya ya saya print aja semua di kertas bekas. Selain irit kertas, motifnya juga unik.

3. Setelah itu tempel border dengan stapler.

4. Print tulisan UNLOCK YOUR MIND - READ, tempel juga dengan stapler.

5. Print juga gambar gembok kuning.

6. Buat rantai dengan menggunakan kertas hitam yang digulung dan dikaitkan satu sama lainnya.

7. Buat buku besar dengan menempelkan kertas coklat.

8. Begitulah! :)

Nah, setelah jadi separuh, saya harus memenuhi separuh bawahnya juga kan? Gak mungkin kosong melompong aja. Jadinya saya tempel aja pengumuman pemenang Reading Pin, dan profile Teachers Who Reads yang menampilkan profile kepala sekolah. Penuh deh! :D

FullSizeRender (2)
Voila!

Banyak yang numpang foto loh di display ini. Senangnya!

Thursday, July 28, 2016

Lakon Librarian: Library Display, part 6

Assalamu'alaikum,

Yes! It's that time of the year again!

Awal tahun ajaran baru sudah tiba. Mau display apa nih  buat jendela library? Kalau tahun lalu sukses dengan melukis dua jendela dengan ide dari Pinterest, tahun ini satu jendela dulu dieksekusi.

(Baca: Lakon Librarian #23: Library Display, part 5)

Dengan masih mengambil ide dari Pinterest, kali ini saya mau membuat display dari gambar yang sudah saya incar-incar sejak lama. Ini dia gambarnya:

bee a good reader
pic. credit: Pinterest.com 


Masih menggunakan:

1.Spidol whiteboard

2.Pensil

3.Cat asturo

4.Spons yang untuk cuci piring, potong menjadi 4 bagian

5.Kuas

Eksekusi pun dimulai dengan mengaplikasikan warna kuning campur sedikit coklat, menggunakan spons untuk mendapatkan warna dasar gold, dengan ditotol-totol. Setelah kering, dilanjutkan dengan menggambar garis-garis untuk sarangnya dengan pensil, lalu ditimpa cat coklat menggunakan kuas.

Setelah jadi, barulah tulisan, gambar lebah dan buku ditempel di atasnya.
Dan, voila! Jadi deh :)



FullSizeRender
Tampak Dekat




IMG_3508
Tampak jauh


Selamat mencoba!

Monday, February 22, 2016

Lakon Librarian: (Every) Day Care

Assalamu'alaikum.

Setiap hari, jadwal pulang siswa di sekolah tempat saya bekerja berbeda-beda tiap levelnya. Misalnya untuk kelas 1 & 2, mereka pulang jam 2 siang. Kelas 3 & 4 pulang jam 2.30 siang. Lalu kelas 5 & 6 pulang jam 3 sore. Perbedaan jam pulang ini tujuannya adalah untuk menghindari kemacetan yang ditimbulkan dari banyaknya mobil antar jemput siswa. Meski sekolah kami memiliki lahan parkir yang cukup luas, namun untuk menampung sebanyak itu mobil, tetap saja kurang. Bayangkan saja, 1 murid dijemput 1 mobil.

liza-fathia_com
pic. credit: liza-fathia.com
Siswa yang menunggu kakaknya di kelas atas, otomatis harus duduk di library selama kurang lebih 1/2 - 1 jam (tergantung kakaknya di kelas berapa) hingga bel pulang berbunyi. Di library yang dingin dan nyaman ini mereka boleh bermain berbagai macam permainan yang tersedia. Mulai dari congklak, puzzle, kartu uno, dan ular tangga yang sekarang sudah hilang dadunya. *curcol*

Lalu setelah kakak-kakak mereka pulang, para adik pun akan menunggu bersama mereka di lobby untuk dijemput. Tetapi, biasanya mereka memilih untuk menunggu di library. Kenapa? Karena tentu saja library yang dingin lebih nyaman dibandingkan lobby yang panas. Dan karena mereka belum dijemput.

Beberapa anak bahkan menjadi langganan menunggu di library karena setiap hari mereka dijemputnya telat. Saya kasihan melihat mereka yang setiap hari berangkat pagi (sekolah masuk jam 8) dan pulang ada yang sampai library tutup (jam 4) belum juga dijemput. Kira-kira kenapa ya?

pic credit: www.amazon.com
pic. credit: amazon.com
Ada siswa yang saya tanya, "apa kamu punya adik bayi di rumah?" karena kalau demikian saya bisa maklum lah ya, karena mungkin ibunya mengurus adik bayi dulu. Tetapi jawabnya 'nggak'. Hmm...

Saya tanya juga ke anak yang lain, apakah ibunya kerja? Karena dia bilang yang menjemput pulang adalah ibunya. Dijawab 'tidak' juga. Nah lho!

Mungkin para orang tua itu memiliki kesibukan yang sangat padat (mungkin ya, saya kan nggak tahu) sehingga anaknya dijemput terlambat. Namun, rasanya nggak adil saja anak harus menunggu di sekolah hingga sore, jika ibu mereka tidak punya bayi juga, dan tidak bekerja kantoran juga. Trus?

Apakah mereka nggak kasihan pada anak-anaknya yang sudah lelah seharian belajar di sekolah, ditambah telat jemput pula. Bahkan tidak jarang saya lihat ada anak yang tertidur di lantai koridor sekolah! Pernah juga ada anak yang lelap sekali tidur di library sehingga satpam pun kesulitan membangunkannya saat akhirnya ibunya menjemput.

Can you imagine? Dulu kita sekolah cuma sampai jam 12 lho! Dan itu pun dijemput tepat waktu (well, saya sih pulang jalan kaki, jadi nggak masalah) tapi anak-anak ini? Kenapa nggak disewain ojek aja, atau diikutin ke mobil jemputan sih kalau memang tidak bisa jemput on time? Saya bukan keberatan mereka di library, meski kadang mereka berisik, tetapi sebagai seorang ibu juga, saya lebih ke kasihan ke mereka. Mereka tentu akan lebih suka istirahat di rumah, kan?

Tapi yah, saya mah apalah atuh? Bekerja di sekolah ini juga yang nge-gaji kan para orang tua murid itu. Jadi, apa hak saya mengkritisi mereka? Kalau mereka bilang anaknya tunggu di library, ya tunggulah di library. Kalau mereka bilang anaknya disuruh nginep di library, ya silahkan aja sih, saya mah ogah nemenin :p

nanny

Pada intinya, librarian di sini tidak merangkap sebagai teacher-librarian, melainkan sebagai nanny-librarian :D

Thursday, January 14, 2016

Lakon Librarian: Movie Club

Assalamu'alaikum.

image1Sejak tahun ajaran lalu, saya berniat mengadakan kegiatan nonton film di library selama jam makan siang. Idenya sih setelin film pendek berdurasi maks. 15 menit untuk membuat siswa yang datang ke library setelah makan siang agak tenang. Karena biasanya sehabis makan energi mereka bertambah dan akibatnya di library nggak bisa diam meski sudah di sat-sut berjuta kali.

Awal tahun ajaran ini, saya masih belum nemu ide mau setel film apa. Karena film kan biasanya durasinya 2 jam-an, saya nggak mau harus memotong film untuk dilanjutkan keesokan harinya. Keknya basi aja gitu. Akhirnya di akhir semester 1 saya baru menemukan film apa yang akan saya tayangkan. Yaitu film dongeng animasi yang ceritanya diambil dari buku, berdurasi 13-15 menit. Cucok!

image2Berkat Youtube dan Keepvid saya berhasil menyimpan banyaaakk sekali dongeng animasi yang saya inginkan. Kalau mau tahu film apa, saya mengambil film dari Bedtime Story. Dan saya pun siap! Saya akan namakan Movie Club dan membatasi hanya untuk 20 penonton agar terkesan eksklusif. Tahu sendiri kan, anak-anak bangga kalau bisa menjadi bagian dari sesuatu yang eksklusif.

Saya buat poster untuk menarik perhatian anak-anak dan menempelnya di tembok luar library. Betul saja, baru juga dipasang sudah banyak peminatnya. Mereka ingin membeli tiket! He-he tenang, tiketnya gratis kok, tapi hanya bisa didapat pada hari pemutaran film sebelum snack time. Soalnya kalau dikasih jauh hari, dijamin hilang! Namanya juga bocah :D Dalam hitungan menit, tiket langsung ludes! Senang, tapi kasihan juga melihat kekecewaan yang ada di wajah anak-anak yang tidak kebagian tiket.

image5

Saya baru mengadakan seminggu satu kali di hari Rabu saja, di 15 menit terakhir jam makan siang anak kelas 1&2. Jadinya kalau ingin menonton film dari awal, segeralah menyelesaikan makan dan mengantri di pintu multimedia.

Tepat 11.15 siang, anak-anak yang sudah memegang tiket mengantri dan dengan tertib masuk ke dalam ruangan multimedia. Pssttt, ancemannya: kalau berisik mereka gak boleh nonton dan besok-besok nggak boleh ikut Movie Club. Jleb, kan? ;) Maka mereka pun duduk di bantal yang sudah saya susun rapi dan menonton film berdurasi hampir 13 menit itu tanpa suara. WOW! Ini rekor! Anak kelas 1 & 2 mana bisa diam, ya kan? He-he, ancaman yang ampuh!

Selesai mereka menonton film, mereka bertanya minggu depan masih bisa antri tiket lagi atau tidak? Lalu saya berpikir, kalau minggu depan saya setel film lain (which is itu yang sudah saya jadwalkan) dan anak-anak yang sekarang join Movie Club antre lagi dan nonton lagi, kasihan banget yang menghiba-hiba minta ikut nonton dan tidak kebagian tiket.

image3

Akhirnya saya diskusi dengan beberapa guru, dan memutuskan untuk memutar 1 film selama dua minggu, dan harinya ditambah jadi Selasa dan Rabu. Jadi seminggu ada 2x penayangan film yang sama. Dalam 4x penayangan selama 2 minggu semoga bisa mengakomodir anak-anak yang ingin menonton. Kalau diadakan 3x seminggu takutnya anak-anak kehilangan minat. Kan gak seru kalau Movie Club sepi.

Melihat antusiasme anak-anak (beberapa terlihat dadah-dadah ke temannya yang nggak bisa masuk dengan wajah sumringah) saya optimis program ini bisa dijalankan selama semester dua ini. Semangat!

Thursday, December 24, 2015

Lakon Librarian: Genre-fying Collection

Assalamu'alaikum.

Beberapa bulan ini saya berpikir untuk mengelompokkan koleksi fiksi di perpustakaan berdasarkan genre, karena pengunjung yang datang selalu bertanya: "Miss, buku horor di mana?" atau "Miss, buku humor di mana?" Lalu saya pun mencari-cari di internet tentang me-genre-fy koleksi. Dan ternyataaaaa... ini sudah dilakukan sejak lamaaaa oleh perpustakaan lain di luar negeri (mungkin di Indonesia juga ada, tapi saya belum nemu) saya pikir saya pelopor pertama yang memikirkan hal tersebut loh! *Ha? situ oke?*

IMG_7210
Add caption
Genre-fying collection adalah istilah yang digunakan untuk mengumpulkan koleksi berdasarkan genre. Misal, buku misteri dikumpulkan di dalam satu rak khusus, juga genre-genre lainnya. Pembagian genre dalam setiap perpustakaan juga berbeda-beda. Secara garis besar, genre terbagi dua: Fiksi dan Non fiksi. Yang akan saya bahas saat ini adalah genre fiksi. Genre yang umum digunakan dalam pembagian koleksi fiksi adalah:

  • Mystery

  • Horror

  • Humour

  • Sport

  • Fantasy

  • Realistic

  • Science fiction

  • Historical

  • Romance

Beberapa perpustakaan ada yang menerapkan hampir semua genre, namun ada juga yang hanya menerapkan sebagian genre saja, mungkin karena koleksi yang tidak terlalu banyak, sama seperti nasib saya *hiks*

IMG_7212
Add caption
Anyway, untuk memindahkan koleksi sesuai genre, tentu saja membutuhkan waktu yang banyak dan itu yang belum saya punya. Maka untuk mengisi waktu liburan Desember yang singkat ini saya memutuskan untuk menempelkan label-label genre di punggung buku terlebih dahulu, untuk kemudian dimasukkan kembali ke rak semula. Memindahkannya ke rak terpisah berdasarkan genre Insya Allah akan saya lakukan di liburan yang agak panjangan di bulan Juni nanti.

Pertama yang saya lakukan adalah mencari label genre di internet. Kenapa nggak bikin sendiri? Ya kalau ada di internet kenapa mesti bikin, ya nggak? :p Untuk di perpustakaan kecil saya, hanya akan menggunakan genre-genre sebagai berikut:

  • Science fiction

  • Sport

  • Historical fiction

  • Mystery

  • Horror

  • Classic

  • Fantasy

  • Humor

Kenapa saya masukkan klasik di genre sendiri? Tak lain dan tak bukan adalah karena kami memiliki koleksi klasik yang cukup banyak dan direkomendasikan oleh guru English. Penempatannya di rak juga sudah khusus buku klasik semua, jadi sudah separo jalan. Untuk label sisanya akan ditempelkan perlahan-lahan selama semester dua nanti.

IMG_7209
Add caption

 Nah, ini dia tampilan label Classic setelah ditempelkan di punggung buku klasik. Cakep, kaaann? Enggak sabar deh nunggu bulan Juni untuk memindahkan koleksi berdasarkan genre.
Genre-fying the collection is fun!

Monday, December 07, 2015

Lakon Librarian: Pusingnya Beli Hadiah Hiburan

Assalamu'alaikum.

Senang itu kalau bisa mengadakan kompetisi di sekolah dan memberikan hadiah yang bagus ke siswa yang berpartisipasi. Sebuah tantangan tersendiri ketika hanya diberi budget terbatas untuk masing-masing pemenang. Kenapa budget bisa terbatas? Biasanya karena pemenangnya banyak:

  • Kelas 1 ada 3 juara

  • Kelas 2 ada 3 juara

  • Kelas 3 ada 3 juara

  • Begitu juga kelas 4, 5, dan seterusnya hingga kelas 6.

Jadi kalau ditotal, bisa 18 juara. *pusing*

Menyiasati supaya nggak perlu memberi terlalu banyak hadiah adalah dengan mengelompokkan level:

  • Group level 1 terdiri dari kelas 1-2.

  • Group level 2 terdiri dari kelas 3-4.

  • Group level 3 terdiri dari kelas 5-6

Jadi kalau masing-masing group 3 pemenang, hadiah yang harus disediakan hanya 9. Lumayan berkurang, kan?

bkmark
Add caption

Tantangan selanjutnya adalah membeli hadiah hiburan dengan budget terbatas. Biasanya untuk acara dengan peserta banyak seperti spelling bee, dan math quiz bee, ada hadiah hiburan juga untuk penonton yang bisa menjawab pertanyaan. Jadi bisa melebihi jumlah pemenang.

Baru-baru ini, saya mendapat tanggung jawab membeli hadiah hiburan untuk 40 orang, dengan budget masing-masing Rp 10,000. Saya pun berkeliling ke Gramedia untuk mencari ide. Asli saya pusing. Karena kalau beli pensil atau penghapus, bukankah siswa sudah punya itu semua? Bagus-bagus pula dengan merk Smiggle. Trus apa atuh hadiah yang saya beli kalau nggak setara Smiggle merknya?

marker
Add caption

Satu jam keliling-keliling di Gramedia, saya hampir menyerah, hingga akhirnya di saat saya sedang mengantri untuk membayar hadiah yang akan saya berikan untuk pemenang Bookmark Contest, saya melihat di depan kasir ada bookmark unyu banget!

Satu kotak bookmark isi 4, harganya Rp 23,500. Kalau dibagi 4 berarti masing-masing anak baru dapat Rp 5,875. Lalu saya lihat juga ada washable marker merk G-Kids, hardanya Rp 34,000 isi 8. Kalau dibagi 8 berarti harganya 1 anak Rp 4,250.

So, kalau ditotal masing-masing hadiah budgetnya Rp 10,125.

A-HA! Kenapa nggak saya mix-match aja dua hadiah itu? Nombok dikit nggak masalah!

Di hari-H, hadiah hiburan itu bisa menghibur anak-anak. Itu yang paling penting, kan? Enggak masalah jika harganya murah, yang penting tahu bagaimana mencari hadiah yang menarik.

Semoga menginspirasi ;)

Lakon Librarian: Bookmark Competition

Assalamu'alaikum.

Bulan Oktober lalu, tepatnya tanggal 21 Oktober 2014, berbarengan dengan kegiatan Language Week yang diadakan di sekolah, library juga mengadakan kompetisi. Biasanya, library berpartisipasi dengan mengadakan game selama 1 minggu dan menggelar bookfair. Tapi tahun ini, saya mencoba kompetisi yang lebih menantang, dengan hadiah yang lebih menggiurkan. Selain tetap menggelar bookfair, saya ingin mengadakan Bookmark Competition.

[caption id="attachment_2244" align="aligncenter" width="300"]Bookmark Competition 2015 Bookmark Competition 2015[/caption]

Setelah diajukan ke kepala sekolah, ternyata beliau menyetujui dan mendukung 100% *seneng* maka saya pun dengan memberanikan diri membuat persyaratan, pengumuman, dan meminta guru-guru untuk mempromosikan di kelas-kelas mereka.

[caption id="attachment_2246" align="alignleft" width="150"]Karya peserta Bookmark Competition Karya peserta Bookmark Competition[/caption]

Bookmark Competition ini akan berlangsung selama 1 bulan. Seluruh karya harus sudah masuk pada tanggal 21 November 2015. Kenapa saya buat lama sekali? Saya ingin memberi mereka kesempatan untuk mengeksplorasi library dan melihat apa yang mereka bisa tuangkan ke dalam template bookmark yang sudah saya sediakan.

Untuk tahun ini mereka hanya bisa menggambar dalam warna hitam putih saja. Tahun depan bisa dua atau tiga warna saja dalam satu gambar. Cukup menantang, kan?

Berikut pengumuman tema dan persyaratan untuk Bookmark Competition 2015.

LIBRARY BOOKMARK Contest

Theme: What You’ll Find in the Library

RULES:



  • Bookmark should measure 6 x 18 cm long (you can have 1 template from the library)

  • Only one entry per student

  • Must be your original artwork

  • Artwork must be done in BLACK & WHITE only (ink or marker)

  • Bookmark must be submitted on November 21st, 2015

  • One winner will be selected in each of the following level groups:

  • Grades 1-2

  • Grades 3-4

  • Grades 5-6

  • Make a copy of your bookmark before submission; bookmarks will not be returned

JUDGING CRITERIA:



  • Entries will be judged on originality, creativity, neatness, and printability

  • Bookmarks must be the exclusive work of the contestant with no outside assistance

  • All entries become the property of MSB Elementary library; winning entries may be reprinted and distributed for school’s purposes

AWARDS:



  • Winners will be announced on December 11th, 2015

  • Prizes:

3 Winners from each level group.

Each will get: certificate, books and stationery worth of IDR 200,000

3 Honorable mention winners.

Each will get: certificate, books and stationery worth of IDR 100,000



IMG_6970
Add caption

Sounds interesting? Saya pikir hadiah yang ditawarkan cukup menggiurkan, secara selama ini belum pernah ada pemberian hadiah seheboh ini untuk acara di sekolah. Vendor buku yang berpartisipasi dalam kegiatan book fair memberikan buku untuk hadiah. Jadi sudah ada sponsornya :D Sayang, supplier stationery belum bisa diajak kerja sama, jadinya harus beli sendiri. Untungnya dari kegiatan book fair, library bisa mengumpulkan sedikit uang buat beli hadiah. Benar-benar swadaya deh, nggak pakai minta ke sekolah *bangga*

Satu bulan kemudian...

IMG_6969
Add caption

Total entry yang masuk ada 65 bookmarks, dan saya pun meminta orang yang berkompeten di bidangnya untuk memilih pemenang, yaitu guru art. Dan akhirnya terpilihlah 3 winners & 3 honorable mentions.

Ini hadiah-hadiahnya...! Siap dibagikan. Dan yang tengah itu bingkisan untuk pak juri yang telah meluangkan waktu memilih pemenang bookmark competition ini.

IMG_6967
Add caption

Untuk bookmarks yang menang lomba tahun ini, rencananya akan diperbanyak dan dibagikan ke siswa saat pertama kali masuk sekolah di semester kedua nanti. Para pemenang pasti bangga karyanya digunakan oleh teman-temannya saat membaca buku :)

Semoga tahun depan bisa kasih hadiah yang lebih heboh, dan pesertanya makin banyak. Amin!

Thursday, December 03, 2015

Lakon Librarian: Library Display, part 5

Seharusnya postingan ini ditayangkan saat awal tahun ajaran kemarin, namun apa daya awal tahun ajaran itu adalah saat paling sibuk yang pernah dialami siapa saja yang bekerja di sekolah. Jadilah saya baru bisa posting sekarang, jelang akhir semester pertama :D

Library display yang mau saya bagi sekarang adalah display dari jendela library yang menghadap ke lapangan. Jika ditutup begitu saja pakai poster, library akan terkesan gelap, meski memang ada lampu sih, jadi nggak pakai petromax juga :p Tapi saya ingin menutupinya dengan sesuatu yang lebih keren dari biasanya. Maka saya pun browsing dan mendapat ide gambar dari mbah Gugel (dari mana lagi, ya kan?) Dan inilah gambarnya.

Dive-in-to-Reading www-myclassroomideas-com
pic. credit: myclassroomideas.com

Dan ini.



pic.credit: pinterest.com
pic. credit: pinterest.com

Di gambar aslinya, dua display ini di aplikasikan di buletin board. Karena saya punyanya jendela kaca, maka saya pun mencoba ide baru. Bahan yang dibutuhkan:

1.Spidol whiteboard

2.Cat asturo

3.Spons yang untuk cuci piring, potong menjadi 4 bagian

Udah, itu doang kok bahannya. Nah cara bikinnya gampang banget:

Gambar pola di jendela menggunakan spidol. Tuang cat ke dalam palet atau piring boleh juga, lalu aplikasikan cat dengan ditotol-totol menggunakan spons ke jendela. Kenapa pakai spons dan ditotol-totol? Kenapa nggak dioles saja, dan pakai kuas?

Believe me, hasilnya lebih bagus ditotol-totol pakai spons dibanding dengan kuas. Nah untuk efek kertas di buku, saya pakai kuas dan dioles, jadi terlihat garisnya.

Anyway, ini dia hasilnya... Voila!

diveintoreading

Dan ini...

readwindow
Add caption

Ruangan library tetap terang karena cahaya tetap dapet, tetapi tidak terlalu terang sampai silau. Ayo coba bikin, dijamin puas! :D

Monday, February 23, 2015

Lakon Librarian: Fungsi Librarian yang Terkebiri

librarySaya bekerja selama belasan tahun di sekolah pertama sebagai kataloger. Untuk yang belum tahu apa itu kataloger, yaitu orang yang kerjaannya mengatalog buku, alias input data dan mengklasifikasikan buku per-subyek, dan memberi nomor panggil di buku. PLUS, print barcode untuk setiap buku yang ada di library.

Bagitulah kira-kira inti dari pekerjaan saya sebagai kataloger. Meski pun selain hal-hal tersebut, saya juga mengerjakan hal lain seperti promosi buku, dan membantu siswa yang sedang riset dengan menunjukkan literatur yang tepat untuk mereka.

Nah, setelah belasan tahun melakukan hal yang sama, saya merasa sudah waktunya untuk pindah ke sekolah lain, yang mungkin membutuhkan jasa saya sebagai pustakawan. Karena kataloger itu hanyalah satu dari sekian banyak tugas seorang librarian. Saya ingin melakukan tugas lainnya, saya ingin mengembangkan ide saya sebagai seorang pustakawan.

happy-cartoon-librarianMaka pindahlah saya ke sekolah yang baru ini, dan menjabat sebagai librarian, alias... *ehem-ehem* kepala perpustakaan. Yep, saya akan mulai melakukan tugas lain selain mengklasifikasi buku. Dengan penuh semangat saya pelajari psikologis anak di sekolah ini, karena sejak lulus kuliah saya langsung bekerja di sekolah asing, artinya saya banyak menghadapi anak-anak bule. Sekarang, saya akan menghadapi anak-anak Indonesia (yang sangat pandai berbahasa Inggris, tapi tidak bahasa Indonesia *sedih*) yang budaya dan karakternya pasti beda dengan anak bule.

Saya juga mempelajari fungsi librarian di sekolah ini dengan saling bertukar pengalaman dengan librarian di bawah yayasan yang sama. Dan hingga sekarang sudah masuk tahun keempat, kami mengalami perubahan di jajaran pimpinan yayasan, yang mengakibatkan munculnya kebijakan baru. Sayangnya, kebijakan ini mengebiri fungsi librarian.

Jika sebelumnya untuk pembelian buku saya masih bisa meminta ke pihak sekolah, hanya berdasarkan pertimbangan saya untuk memperkaya koleksi perpustakaan, sekarang librarian tidak lagi berhak memilih buku. Yang boleh memilihkan buku untuk perpustakaan adalah koordinator pelajaran English, dan Bahasa Indonesia.

cat1
Add caption
Lalu, kalau sebelumnya untuk mengadakan kegiatan di perpustakaan saya tinggal minta dana untuk membeli hadiah dan langsung dapat karena bukan acara besar, sekarang prosesnya rumit, dan mengakibatkan saya harus merogoh kocek sendiri untuk membeli hadiah kecil-kecilan bagi peserta.

Belum lagi jika tiba-tiba ada rapat orang tua murid, atau rapat apapun yang membutuhkan space luas, mereka akan langsung saja memakai perpustakaan sebagai tempat berkumpul SAMBIL makan-minum PADAHAL di pintu sudah saya tempel sign NO FOOD/DRINK.

Di sinilah kadang saya merasa sedih.

Sudah 2 tahun belakangan ini koleksi tidak diperbaharui. Saya mengakalinya dengan bekerja sama dengan beberapa vendor buku saat book fair, dengan meminta profit sharing pada mereka. Jadi dari hasil penjualan buku mereka di book fair, library mendapat sekian persen yang akan saya ambil dalam bentuk buku. Dan library jadi punya buku baru deeehhh...

library1
Tapi kemenangan kecil itu jadi nggak berarti saat melihat banyaknya buku-buku baru di toko dan membandingkan dengan koleksi perpus yang menyedihkan. Tapi saya mah apa atuh? Cuma seekor librarian yang bekerja untuk orang-orang hebat yang tidak memedulikan library jadi pusat pembelajaran atau tidak. Sedih, kalau librarian dikebiri seperti ini. Bagaimana pendidikan di negara ini bisa maju ya?