Showing posts with label pustakawan. Show all posts
Showing posts with label pustakawan. Show all posts

Monday, February 22, 2016

Lakon Librarian: (Every) Day Care

Assalamu'alaikum.

Setiap hari, jadwal pulang siswa di sekolah tempat saya bekerja berbeda-beda tiap levelnya. Misalnya untuk kelas 1 & 2, mereka pulang jam 2 siang. Kelas 3 & 4 pulang jam 2.30 siang. Lalu kelas 5 & 6 pulang jam 3 sore. Perbedaan jam pulang ini tujuannya adalah untuk menghindari kemacetan yang ditimbulkan dari banyaknya mobil antar jemput siswa. Meski sekolah kami memiliki lahan parkir yang cukup luas, namun untuk menampung sebanyak itu mobil, tetap saja kurang. Bayangkan saja, 1 murid dijemput 1 mobil.

liza-fathia_com
pic. credit: liza-fathia.com
Siswa yang menunggu kakaknya di kelas atas, otomatis harus duduk di library selama kurang lebih 1/2 - 1 jam (tergantung kakaknya di kelas berapa) hingga bel pulang berbunyi. Di library yang dingin dan nyaman ini mereka boleh bermain berbagai macam permainan yang tersedia. Mulai dari congklak, puzzle, kartu uno, dan ular tangga yang sekarang sudah hilang dadunya. *curcol*

Lalu setelah kakak-kakak mereka pulang, para adik pun akan menunggu bersama mereka di lobby untuk dijemput. Tetapi, biasanya mereka memilih untuk menunggu di library. Kenapa? Karena tentu saja library yang dingin lebih nyaman dibandingkan lobby yang panas. Dan karena mereka belum dijemput.

Beberapa anak bahkan menjadi langganan menunggu di library karena setiap hari mereka dijemputnya telat. Saya kasihan melihat mereka yang setiap hari berangkat pagi (sekolah masuk jam 8) dan pulang ada yang sampai library tutup (jam 4) belum juga dijemput. Kira-kira kenapa ya?

pic credit: www.amazon.com
pic. credit: amazon.com
Ada siswa yang saya tanya, "apa kamu punya adik bayi di rumah?" karena kalau demikian saya bisa maklum lah ya, karena mungkin ibunya mengurus adik bayi dulu. Tetapi jawabnya 'nggak'. Hmm...

Saya tanya juga ke anak yang lain, apakah ibunya kerja? Karena dia bilang yang menjemput pulang adalah ibunya. Dijawab 'tidak' juga. Nah lho!

Mungkin para orang tua itu memiliki kesibukan yang sangat padat (mungkin ya, saya kan nggak tahu) sehingga anaknya dijemput terlambat. Namun, rasanya nggak adil saja anak harus menunggu di sekolah hingga sore, jika ibu mereka tidak punya bayi juga, dan tidak bekerja kantoran juga. Trus?

Apakah mereka nggak kasihan pada anak-anaknya yang sudah lelah seharian belajar di sekolah, ditambah telat jemput pula. Bahkan tidak jarang saya lihat ada anak yang tertidur di lantai koridor sekolah! Pernah juga ada anak yang lelap sekali tidur di library sehingga satpam pun kesulitan membangunkannya saat akhirnya ibunya menjemput.

Can you imagine? Dulu kita sekolah cuma sampai jam 12 lho! Dan itu pun dijemput tepat waktu (well, saya sih pulang jalan kaki, jadi nggak masalah) tapi anak-anak ini? Kenapa nggak disewain ojek aja, atau diikutin ke mobil jemputan sih kalau memang tidak bisa jemput on time? Saya bukan keberatan mereka di library, meski kadang mereka berisik, tetapi sebagai seorang ibu juga, saya lebih ke kasihan ke mereka. Mereka tentu akan lebih suka istirahat di rumah, kan?

Tapi yah, saya mah apalah atuh? Bekerja di sekolah ini juga yang nge-gaji kan para orang tua murid itu. Jadi, apa hak saya mengkritisi mereka? Kalau mereka bilang anaknya tunggu di library, ya tunggulah di library. Kalau mereka bilang anaknya disuruh nginep di library, ya silahkan aja sih, saya mah ogah nemenin :p

nanny

Pada intinya, librarian di sini tidak merangkap sebagai teacher-librarian, melainkan sebagai nanny-librarian :D

Thursday, January 14, 2016

Lakon Librarian: Movie Club

Assalamu'alaikum.

image1Sejak tahun ajaran lalu, saya berniat mengadakan kegiatan nonton film di library selama jam makan siang. Idenya sih setelin film pendek berdurasi maks. 15 menit untuk membuat siswa yang datang ke library setelah makan siang agak tenang. Karena biasanya sehabis makan energi mereka bertambah dan akibatnya di library nggak bisa diam meski sudah di sat-sut berjuta kali.

Awal tahun ajaran ini, saya masih belum nemu ide mau setel film apa. Karena film kan biasanya durasinya 2 jam-an, saya nggak mau harus memotong film untuk dilanjutkan keesokan harinya. Keknya basi aja gitu. Akhirnya di akhir semester 1 saya baru menemukan film apa yang akan saya tayangkan. Yaitu film dongeng animasi yang ceritanya diambil dari buku, berdurasi 13-15 menit. Cucok!

image2Berkat Youtube dan Keepvid saya berhasil menyimpan banyaaakk sekali dongeng animasi yang saya inginkan. Kalau mau tahu film apa, saya mengambil film dari Bedtime Story. Dan saya pun siap! Saya akan namakan Movie Club dan membatasi hanya untuk 20 penonton agar terkesan eksklusif. Tahu sendiri kan, anak-anak bangga kalau bisa menjadi bagian dari sesuatu yang eksklusif.

Saya buat poster untuk menarik perhatian anak-anak dan menempelnya di tembok luar library. Betul saja, baru juga dipasang sudah banyak peminatnya. Mereka ingin membeli tiket! He-he tenang, tiketnya gratis kok, tapi hanya bisa didapat pada hari pemutaran film sebelum snack time. Soalnya kalau dikasih jauh hari, dijamin hilang! Namanya juga bocah :D Dalam hitungan menit, tiket langsung ludes! Senang, tapi kasihan juga melihat kekecewaan yang ada di wajah anak-anak yang tidak kebagian tiket.

image5

Saya baru mengadakan seminggu satu kali di hari Rabu saja, di 15 menit terakhir jam makan siang anak kelas 1&2. Jadinya kalau ingin menonton film dari awal, segeralah menyelesaikan makan dan mengantri di pintu multimedia.

Tepat 11.15 siang, anak-anak yang sudah memegang tiket mengantri dan dengan tertib masuk ke dalam ruangan multimedia. Pssttt, ancemannya: kalau berisik mereka gak boleh nonton dan besok-besok nggak boleh ikut Movie Club. Jleb, kan? ;) Maka mereka pun duduk di bantal yang sudah saya susun rapi dan menonton film berdurasi hampir 13 menit itu tanpa suara. WOW! Ini rekor! Anak kelas 1 & 2 mana bisa diam, ya kan? He-he, ancaman yang ampuh!

Selesai mereka menonton film, mereka bertanya minggu depan masih bisa antri tiket lagi atau tidak? Lalu saya berpikir, kalau minggu depan saya setel film lain (which is itu yang sudah saya jadwalkan) dan anak-anak yang sekarang join Movie Club antre lagi dan nonton lagi, kasihan banget yang menghiba-hiba minta ikut nonton dan tidak kebagian tiket.

image3

Akhirnya saya diskusi dengan beberapa guru, dan memutuskan untuk memutar 1 film selama dua minggu, dan harinya ditambah jadi Selasa dan Rabu. Jadi seminggu ada 2x penayangan film yang sama. Dalam 4x penayangan selama 2 minggu semoga bisa mengakomodir anak-anak yang ingin menonton. Kalau diadakan 3x seminggu takutnya anak-anak kehilangan minat. Kan gak seru kalau Movie Club sepi.

Melihat antusiasme anak-anak (beberapa terlihat dadah-dadah ke temannya yang nggak bisa masuk dengan wajah sumringah) saya optimis program ini bisa dijalankan selama semester dua ini. Semangat!

Monday, February 09, 2015

Lakon Librarian: Library Origami Club

Library Origami Club
Add caption

Di library, saya mengadakan kelas origami untuk siswa yang menunggu kakaknya yang belum pulang. Oleh karenanya, kelas origami gratis ini diadakan sore hari. Dan pesertanya pun terbatas, karena hanya siswa yang menunggu kakaknya saja yang diperbolehkan masuk ke library. Sementara yang lain harus menunggu dijemput di lobby sekolah.

Belakangan, melihat animo siswa yang cukup tinggi untuk diajari membuat origami, maka saya pun berinisiatif untuk membuat The Exclusive Library Origami Club *tsaaahh!* khusus untuk siswa kelas 1 & 2 saja. Gratis! Diadakan setiap hari Selasa. Jam nya pun dipindah, disesuaikan dengan jam makan siang mereka, yaitu 15 menit sebelum bel masuk kelas.

1st meeting
Add caption

Saya mulai mengumpulkan gambar-gambar origami paling mudah yang bisa saya ajarkan untuk siswa. Tahu sendiri, kan? Kelas 1 & 2 belum bisa melipat dengan baik. Makanya saya pilih yang super-duper-paling-mudah  untuk mereka.

Di pertemuan pertama Library Origami Club, siswa yang hadir lebih dari 20 orang. Lumayan banyak ya? Kami membuat rok. Sengaja saya pilih yang lipatannya paling sederhana. Mereka dengan antusias bertanya minggu depan mau buat apa?

2nd meeting
Add caption

Sejak hari senin satu persatu anggota club yang ke library bertanya besok mau bikin apa. Bolak-balik mereka penasaran, hehehe. Dan pertemuan kedua pun tiba. Yang datang tidak sebanyak pertemuan pertama, tapi tetap seru.

Kali ini kami membuat rumah. Yang ini terbukti tidak mudah ternyata. Sebab untuk membuat atap harus melipat segitiga gitu. Dan mereka kesulitan. Ujung-ujungnya ya saya bantu sih. Tapi itu artinya pertemuan ketiga nanti nggak bisa bikin windmill, sebab lipatannya sama dengan atap rumah.

Hunting origami paling mudah sedunia lagiiii...

Wednesday, January 28, 2015

Lakon Librarian: The 5 Finger Rule

Apa itu The 5 Finger Rule? Adalah aturan dalam menemukan buku yang tepat untuk dibaca.

Itu adalah keterampilan yang dianjurkan untuk diajarkan ke anak-anak agar mereka mampu memilih buku yang tepat untuk mereka. Aturan 5 jari ini tidak hanya berguna di sekolah, namun juga di rumah. Keterampilan dasar ini dapat membantu anak tidak hanya saat mereka ingin meminjam buku di perpustakaan, tetapi juga bagus saat mereka ingin membeli buku di toko buku.

Jika anak sudah terampil memilih buku sendiri, insya Allah ke depannya mereka akan lebih percaya diri memilih buku yang mereka suka. Tapi tetap ya, sebagai orang tua, kita harus rajin mengontrol bacaan anak-anak kita.

5 Finger Rule
5 Finger Rule

The 5 finger rule ini sangat mudah diajarkan. Saya terjemahkan secara bebas di sini:

  1. Choose a book and read the first page or two. (Pilih satu buku dan baca satu atau dua halaman pertama)

  2. Put one finger up for every word you don't know. (Angkat satu jari untuk setiap kata yang sulit)

  3. If five of your fingers go up while reading, choose another book. (Jika lima jarimu terangkat saat membaca, pilih buku yang lain)

  4. If only two or three fingers go up, you've found a just right book. (Jika hanya dua atau tiga jari yang terangkat, kamu telah menemukan buku yang tepat)

Tentu saja rule ini hanya dapat diterapkan untuk anak-anak saja. Sementara untuk orang dewasa, kalau setiap baca buku berbahasa Inggris atau bahasa lain, lalu terbentur kata sulit dan menyerah, kapan bacanyaaaa? :D

~Happy reading!~

Monday, January 26, 2015

Lakon Librarian: Reading level vs Reading interest

booksSemua pasti setuju bahwa buku adalah jendela dunia. Bekerja di dunia buku, membuat saya sedikit banyak mengerti apa jenis bacaan yang disuka anak-anak, terutama pengunjung perpustakaan di mana saya bekerja. Mulai dari siswa kelas 1 yang sudah mencari-cari buku chapter padahal kemampuan baca mereka masih cocok membaca buku bergambar, lalu siswa kelas 6 yang justru ingin meminjam buku bergambar yang diperuntukkan bagi siswa kelas 1.

Setiap hari siswa yang datang akan menanyakan buku yang baru, buku yang bagus, atau buku tentang subyek tertentu. Sayangnya, perpustakaan ini bukan perpustakaan yang sering update koleksi, sehingga sering siswa kecewa saat mencari buku yang ingin mereka baca, namun tidak tersedia. Sedih? Pasti!

Sebagai seorang pustakawan, pastinya saya ingin selalu memberikan bacaan yang terbaik bagi pengunjung. Tidak hanya bacaan untuk pelajaran, melainkan juga bacaan untuk waktu senggang mereka, atau buku cerita. Nah, di sinilah saya berbenturan dengan peraturan yang dibuat sekolah.

kids reading
Add caption
Sekolah menginginkan siswa membaca buku yang sesuai dengan reading level mereka, atau kemampuan membaca. Tetapi masalahnya adalah, buku yang sesuai dengan reading level mereka tidak diperbaharui, mereka pun bosan dan ingin meminjam buku yang berada di atas reading level mereka.

Sementara saya, sebagai pustakawan, membebaskan siswa meminjam buku yang mereka inginkan. Terlepas dari buku itu ada di atas reading level mereka atau tidak, saya lebih memperhatikan reading interest mereka, alias minat baca. Karena menurut saya, minat baca anak-anak Indonesia ini sangat rendah, cenderung mengenaskan. Apalagi tidak ditunjang dengan ketersediaan buku-buku yang menarik bagi mereka. Maka tak heran jika saya sering membiarkan mereka meminjam buku yang lebih menantang kemampuan membaca mereka. As long as mereka memperhatikan 'The 5 Finger Rules.'

five-finger-ruleMemperhatikan kecenderungan anak-anak yang meminjam buku di luar reading level mereka (reading level ditentukan dari test yang diadakan sekolah) saya paham sekali, karena membaca buku kan untuk rekreasi juga, kan? Ya kan? Kita saja orang dewasa suka memilih buku remaja untuk bacaan santai, kaaann? Kenapa anak-anak ini harus dibatasi?

Keinginan membaca yang dibatasi, dikhawatirkan akan membuat minat mereka menurun. Jadi kenapa harus dibatasi? Biarkan saja mereka membaca apa yang mereka suka. Yang penting, selalu dikontrol buku yang mereka baca, jangan ada yang mengandung adegan yang tidak pas untuk usia mereka. Di sinilah pentingnya peranan orang tua.

So, membaca buku itu jangan hanya dibatasi pada level kemampuan baca saja, berikan anak tantangan dengan membiarkannya mencoba membaca buku yang menjadi minat mereka.

Tuesday, December 02, 2014

Lakon Librarian: Most Important People in School

Suatu hari, saya didatangi siswa kelas 1 yang akan mewawancarai saya mengenai pekerjaan dalam rangka tugas pelajaran social study. Judul tugasnya adalah Most Important People in School. Masing-masing anak mendapat tugas mewawancarai beberapa orang karyawan sekolah. Nah, ada yang kebagian ke library. Maka datanglah mereka untuk mewawancarai librarian sekolah.

[caption id="attachment_1205" align="alignleft" width="300"]Extra! Extra! Read More about Ms. Sylvia Extra! Extra! Read More about Ms. Sylvia[/caption]

Mereka dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari 2 orang. Langsung saya arahkan ke kantor saya, yakni karpet merah yang terbentang di reading corner. Sambil duduk lesehan, mereka mulai menanyai saya mulai dari "Where do you work?" yang saya jawab, "Where do you think?" dan sambil senyum mereka bilang, "Library." Okesip.

Pertanyaan dilanjutkan dengan apakah saya suka dengan pekerjaan saya, sebutkan alasannya. Trus bagaimana bisa menjadi librarian yang baik? Apa bagian terbaik dari pekerjaan saya? Buku favorit, dan lainnya. Terakhir, mereka harus mengisi kotak kosong yang ada dalam lembar tugas mereka untuk menggambar orang yang mereka wawancara. Dan dengan imajinasi seluas samudra, mereka menggambar saya. Hmm.. Dari mana mereka dapet ide rambut panjang dikuncir dua itu ya? Apa emang keliatan? *megang2 kuncir*

Ada satu kelompok yang menyusun hasil wawancara dengan sangat bagus, menyusunnya menjadi sebuah tulisan yang cukup rapi untuk anak kelas 1 sd. Ah, saya jadi tersanjung bacanya, meski pun yang diwawancara tidak hanya saya, dan pasti hasilnya juga sama, secara pertanyaannya juga sama. But still..

[caption id="attachment_1201" align="aligncenter" width="270"]All about Ms. Sylvia All about Ms. Sylvia[/caption]

Thursday, November 27, 2014

Lakon Librarian: Library display, part 4

Star
Untuk menyiasati display yang membosankan, saya mengganti display Favorite Book dengan display lain. Kali ini saya membuat display Library Star. Apa tuh Library Star? Ditempel-tempelin gambar bintang sepanjang tembok, gitu?

Nope. Library Star adalah penampilan profile pengunjung library yang menjadi 'bintang' di bulan ini karena peminjamannya yang banyak dan kerajinannya membaca buku.

Kuisioner
Pertama-tama, saya menyiapkan kuisioner untuk diisi oleh siswa yang terpilih. Awalnya sih malu-malu gitu anaknya. Tapi namanya juga bakal dipajang, pada akhirnya mereka mau bekerja sama.

Lalu setelah kuisioner diisi, saya ambil fotonya. *cekrek!*

Nah, langkah selanjutnya adalah membuat sebuah tulisan yang menarik berdasarkan kuisioner. Beberapa tulisan saya ganti font-nya, dan beri ukuran besar. Untuk beberapa benda juga saya carikan gambarnya di internet.

Setelah itu, print di atas kertas warna. Sebenarnya yang bagus itu kalau di-print pakai tinta warna, supaya foto dan gambar-gambarnya bisa terlihat menonjol. Tapi untuk display irit, tinta hitam saja tidak masalah.

Lalu untuk sentuhan terakhir, buat bintang-bintang sebagai tambahan hiasan.

Library Star Display

Nah, beginilah jadinya kalau sudah jadi. Semoga bermanfaat :)

Tuesday, November 18, 2014

Lakon Librarian: Storytelling (The Giving Tree)

The Giving Tree
Hari ini saya kembali mengadakan storytelling sebelum anak-anak meminjam buku. Kali ini buku yang dibacakan adalah The Giving Tree, yang ditulis oleh Shel Silverstein, karena mereka datang bersama kelas English.

Seperti kita semua tahu, karya-karya Pak Silverstein ini selalu sanggup memukau anak-anak, tak terkecuali siswa kelas 1 & 2 yang saya bacakan buku ini.

Kisahnya sendiri bisa dibaca di review saya di Goodreads atau di Sini.

Anyway, kelas pertama datang. Mereka kelas 1. Sebelum mulai membacakan, saya meminta siswa untuk duduk yang tenang. Beberapa dari mereka ada yang sudah membacanya, tetapi tidak masalah karena banyak yang belum membaca buku ini.

Suara yang saya gunakan agak pelan, biar dapet 'feel'nya, secara kisahnya cukup sedih. Awalnya mereka menganggap enteng karena tulisannya singkat-singkat dan banyak gambarnya. Beberapa berkata 'it's easy!' karena mungkin mereka pikir bisa baca sendiri.

Lalu di halaman belakang, tulisannya mulai banyak dan ceritanya juga sudah mulai mendalam. Di sini nih mereka mulai terlihat serius mendengarkan. Saya masih pakai suara pelan agar lebih 'nendang'. Bacanya juga dikasih jeda buat efek. :)

the givitree

Selesai membacakan buku tersebut, mereka menghela napas. Dan ketika saya tanyakan pendapat mereka, mereka bilang "aw.. it's so sad." Saya tawarkan lah mereka untuk menonton versi filmnya. Karena filmnya tanpa kata dan berlangsung agak lama, yaitu sekitar 18 menit, saya minta mereka berjanji untuk duduk diam hingga film selesai.

Link film bisa di klik di sini. Spoiler: jangan bingung lihat jenis pohonnya yaa.

Setelah film selesai diputar, mereka berkomentar yang sama, dan ada dua siswa terlihat menunduk. Ternyata mereka menangis! Waduh... sempat panik karena pas didekati tangisnya malah makin menjadi. Dipeluk malah nambah heboh. Gelagapan, saya kembalikanlah ke guru mereka masing-masing. Duh, duuhhh..

Saya sempat bimbang untuk memperlihatkannya pada kelas kedua. Tapi karena penasaran sama reaksi mereka, saya lakukan yang sama di kelas kedua ini. Mereka kelas 2, saya pikir karena sudah agak besar, pasti jaim dong? Tapi ternyata hasilnya? SAMA! Ada yang nangis juga. Wataaawww... Apa salah pilih cerita ya?

Nah, yang di kelas ketiga reaksinya malah beda. Mereka ini kelas 1. Nggak nangis sih, cuma bilang "it's so sad, miss." Lalu pas saya ledekin, "So Why didn't you cry?"

Jawabnya: "I'm crying in my heart."

Yeah, right :D

Dan ketika kelas terakhir ini siap untuk pelajaran selanjutnya, menurut pengakuan sang guru ke saya, di kelas mereka malah bertanya, "is it library time?"

"No, you already have library time before."

"It's because we like library time!"

Yeayyy!!! Senangnya hatiku mendengarnya, bocah... Y'all make my day :)

Sunday, November 16, 2014

Lakon Librarian: Library Display, part 3

Review Leaf
Di kotak penyimpanan bahan display, saya punya banyak daun-daun Maple berwarna-warni. Dulu, daun Maple ini mau saya buat pohon di reading corner, tapi nggak jadi karena susah juga ya bikin pohon. He-he. Akhirnya saya buat display Lorax dan daun maple yang sudah terlanjur saya buat, saya gunakan untuk bikin bulet-bulet di atas lorax itu. (postingnya bisa dilihat di sini)

Nah, ternyata masih sisa banyak daunnya. Puter-puter ide, akhirnya daun-daun itu saya  manfaatin buat ngisi kekosongan jendela library. Tau sendiri lah, perpustakaan sekolah Mentari ini banyak jendela kosongnya. (Ide Library Wordle untuk jendela kosong nan lebar bisa dilihat di sini) Untuk menyiasati agar tidak terlalu melompong, saya minta anak-anak untuk menuliskan review singkat buku favorit mereka.

Satu persatu daun saya bagikan ke siswa yang datang ke library. Dan akhirnya terkumpul banyak deh, mayan buat menghias dua jendela kosong.

Ta-da!! Display buku favorit pun jadi, dan siswa makin semangat baca supaya bisa dipajang reviewnya di jendela library.

20141114_093400


Tips:

  1. Untuk kesegaran isi review, bisa diganti tiap seminggu sekali

  2. Bentuk daun bisa diganti dengan model lain agar tidak disangka itu review lama. Atau bentuk buah (apel/tomat) juga lucu :)

  3. Jika tidak punya kertas warna-warni, bisa di kertas putih dan siapkan pensil warna atau krayon untuk mereka warnai sendiri

Selamat mencoba!

Thursday, November 13, 2014

Lakon Librarian: Library Display, part 2

Perpustakaan sekolah layaknya menjadi tempat yang menyenangkan untuk siswa berkumpul. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membuat perpustakaan banyak dikunjungi siswa adalah dengan membuat hiasan atau display yang menarik.

Jendela kosong
Jendela Kosong

Bagi perpustakaan yang dikelilingi jendela kaca seperti perpustakaan di tempat saya bekerja, menghias agak sedikit sulit. Kalau dibiarkan kosong, kesannya akuarium banget. *emang ekeh ikan, je??*

Oleh karena itu, butuh browsing sesering mungkin untuk menjaring ide sebanyak-banyaknya. *ah, alesan! Bilang aja suka browsing* hehehe.. Tapi browsing untuk sesuatu yang bermanfaat rapopo, toh?

Walhasil, saya mendapat ide untuk membuat library wordle. Cara membuatnya sangat mudah. Hanya membutuhkan kesabaran dalam mencari kata-kata yang sesuai dengan library. Setelah dapat kata-kata yang menggambarkan perpustakaan, lalu ikuti langkah-langkah di bawah ini:

Library Words
Library Words

1. Buka Microsoft Publisher, pilih Banner ukuran short (60 x 8.5"). Ukuran ini kalau diprint bisa dpt 6 HVS. Jadi kalau mau buat yang kecil, dipasin aja ukurannya jadi 1 atau 2 HVS.

2. Ketik menggunakan WordArt. Pilih yang model paling simple, yaitu hanya yang bergaris luar saja. Sebab kita akan menggunakan kertas yang sudah berwarna. Pilih satu font untuk semua kata-kata supaya seragam. Saya pakai font Cooper Black. Dan pilih line/border style untuk ketebalan garis huruf. Saya pilih 3pt.

3. Sesuaikan ukuran kata-kata tersebut di Publisher. Buat ada yang besar, ada yang kecil. Rajin-rajin buka print preview untuk lihat hasil print outnya.

4. Siapkan kertas HVS warna-warni agar lebih irit. Karena menggunakan tinta warna terlalu mahal, ya kan?

5. Print di atas kertas tersebut.

6. Gunting tiap kata dengan dilebihkan sedikit di luar garis agar ada aksennya.

7. Laminating.

8. Tempel deh! Usahakan hanya dua arah saja ya: horizontal dan vertikal. Jangan diagonal, ntar yang baca pusing :)

Gampang, kan? Ini dia hasilnya! Setelah ditempel kata-kata, libraryku tak tampak seperti akuarium lagi, kan? ;)

20141114_093420
Library Wordle Display

Tuesday, November 11, 2014

Lakon Librarian: Storytelling (Bonbon si Hidung Tomat)

[IMG-20141110-WA0010
Di sekolah ini, saya mengajarkan kelas perpustakaan untuk siswa kelas 1 - 6. Di kelas tersebut saya mengajarkan berbagai hal tentang perpustakaan. Mengenai kelas ini akan saya tuliskan di postingan lain. Saat ini saya ingin berbagi tentang story telling.

Storytelling saya bacakan hanya untuk siswa kelas 1 & 2, saat mereka datang untuk kelas perpustakaan, atau saat akan meminjam buku. Cerita yang saya bacakan untuk mereka berganti-ganti tiap minggunya sesuai dengan bersama kelas mana mereka datang. Misal, minggu pertama mereka datang saat pelajaran English, saya akan membacakan cerita in English.

Nah, minggu ini kebetulan jadwal datang saat pelajaran bahasa Indonesia. Maka saya pun membacakan buku cerita berbahasa Indonesia. Buku yang saya pilih adalah Bonbon si Hidung Tomat, yang ditulis oleh kawan saya Lia Herliana.

Buku ini langsung menarik perhatian siswa kelas 1 karena gambarnya yang lucu. Apalagi saat saya bacakan saat ketua Badut memberi Bonbon hidung merah, dan betapa Bonbon sedih lalu memencet hidungnya. Ketika saya mengucap "Nit Not! Nit Not!" Mereka tertawa.

Sesi tanya jawab
Lalu pertanyaan lucu mulai bermunculan.

"Miss, itu hidungnya kan nggak bisa lepas. Dia bisa napas, nggak?"

"Miss, itu hidungnya kok bisa bunyi?"

Hehehe... namanya juga anak-anak ya, dijawab aja deh sebisanya. Yang repot kalau mereka masing-masing udah mulai cerita pengalaman ketemu badut. Bisa habis satu jam pelajaran buat dengerin kisah mereka semua :) Selesai dibacakan dua cerita (sengaja biar mereka penasaran) betul saja dugaan saya, mereka meminjam untuk membaca sendiri cerita yang lainnya.

Baca Bonbon barengKegiatan storytelling ini memang dirutinkan, dengan tujuan siswa mendapat pengalaman dibacakan buku dari berbagai jenis cerita. Jika ada siswa yang tidak pernah dibacakan cerita di rumah, paling tidak pengalaman itu dirasakannya saat bersekolah di sini.

Bukankah setiap anak memiliki hak untuk menjalani masa kecilnya dengan penuh imajinasi?

Tuesday, October 28, 2014

Lakon Librarian: Pustakawan di Era Digital

MISB Library Multimedia Room
Pustakawan di jaman dulu tentu saja berbeda dengan pustakawan di era digital sekarang ini. Banyak perubahan yang terjadi seiring perkembangan teknologi di Indonesia. Contoh sederhana: pembuatan kartu katalog. Kalau dulu untuk membuat katalog memerlukan mesin ketik dengan kartu katalog yang di akses secara manual, kini untuk input data katalog buku pustakawan dapat melakukannya dengan data base yang menampung semua data perpustakaan. Mulai dari data buku, data anggota perpustakaan, data statistik peminjaman buku, dan lain-lain.

Pustakawan jaman dahulu memiliki tugas yang terbatas pada mengumpulkan dan meminjamkan pada pengguna perpustakaan. Pekerjaannya seputar buku dan koleksi perpustakaan. Kini, tugas seorang pustakawan sudah berkembang, mulai dari pembelian, pendataan, promosi, dan sebagainya.

Menonton Film saat Library Class
Tidak hanya terpaku pada pendistribusian koleksi perpustakaan, pustakawan sekolah kini dituntut untuk dapat mengajarkan segala hal tentang perpustakaan. Bukan untuk mencetak siswa yang akan menjadi pustakawan, melainkan untuk mengenalkan perpustakaan agar nantinya siswa mahir dalam menemukan informasi di perpustakaan, yang pastinya akan sangat membantu dalam proses belajar mereka mulai dari jenjang sekolah dasar hingga ke universitas.

Di sekolah Mentari, untuk pengajaran library class, saya lebih banyak menggunakan materi pengajaran yang mengandalkan audio visual. Karena setelah saya amati, mengajarkan siswa dengan hanya berbicara dan membagikan lembar kerja hanya dapat menarik minat dan menjaga daya konsentrasi mereka dalam waktu paling lama sepuluh menit. Selebihnya mereka akan merasa bosan. Apalagi jika lembar kerja yang dibagikan sudah selesai mereka kerjakan. Oleh karena itu saya selalu menggunakan sarana proyektor (infokus) dan laptop. Untuk materi pengajarannya, saya dapatkan melalui sumber-sumber informasi yang saya manfaatkan secara gratis.

youtube-logoYouTube.

Saya mengumpulkan video yang berhubungan dengan pengajaran perpustakaan dari YouTube. Tak hanya video pengajaran, saya pun mencari film pendek, lagu-lagu, atau apa pun tentang perpustakaan yang sesuai dengan tema yang akan saya ajarkan.

TubeMate/YouTube Downloader.

Untuk mengunduh video yang saya temukan, aplikasi TubeMate/YouTube Downloader sangat membantu saya. Dengan sekali klik saja, video tersimpan dengan rapi dalam laptop dan siap untuk dimainkan atau dimasukkan ke dalam presentasi.

google_200x200Google.

Search engine yang satu ini sangat membantu dalam mencari berbagai informasi, termasuk materi pengajaran. Selain dari buku materi pengajaran perpustakaan, saya juga menambah sumber dari materi yang dibagikan pustakawan lain. Dengan modifikasi dan penambahan yang menyesuaikan situasi sekolah, siswa akan belajar hal baru setiap harinya.

Selain untuk mencari materi kelas, saya pun menggunakan Google untuk mencari ide display perpustakaan. Berbeda dengan perpustakaan jaman saya masih sekolah dulu yang hanya tembok dipenuhi poster pahlawan, kini tampilan perpustakaan harus lebih meriah dengan tujuan menarik siswa untuk datang dan berlama-lama di perpustakaan.

Prezi_LogoPrezi.

Untuk mengajar, dulu saya menggunakan PowerPoint. Namun sejak menemukan Prezi, saya dapat membuat presentasi yang interaktif dan menarik. Tidak hanya di kelas, saya pun menggunakan Prezi saat orientasi perpustakaan untuk guru-guru di awal tahun ajaran. Dengan background yang menarik yang dapat dipilih, saya semakin percaya diri mempromosikan perpustakaan dengan Prezi.

Library Orientation using Prezi


si8wcV053QI5Th_HMffHxTOH9qTB-tEot7FfQSgDOwOXT_Vk2gc2fyCyonfigWzRN88=w300Edmodo.

Ini adalah website yang diperuntukkan bagi para pengajar. Tampilannya mirip Facebook. Guru dapat mengirimkan pesan untuk seluruh siswa di kelasnya, mengirim tugas, atau memposting kuis melalui Edmodo. Sebagai pustakawan, saya menggunakan Edmodo untuk mempromosikan perpustakaan dengan memuat resensi buku koleksi perpustakaan dan mengajak siswa untuk menuliskan pula resensi dari buku yang mereka baca.

Mail_Chimp-672x200MailChimp.

Ini adalah aplikasi yang saya gunakan untuk mempromosikan perpustakaan melalui newsletter yang dapat dikirimkan melalui surat elektronik. MailChimp sangat mudah digunakan, berisi berbagai macam template yang dapat dipilih, dan untuk pengirimannya pun dapat disesuaikan. Misalnya hanya untuk guru, untuk siswa, untuk orang tua siswa, dan lainnya. Dengan membuat newsletter secara rutin, komunitas sekolah dapat mengetahui koleksi terbaru, kegiatan yang diadakan, serta perkembangan lainnya yang terjadi pada perpustakaan sekolah mereka.

ht_twitter_logo_jef_120321_wblogTwitter.

Media sosial yang satu ini memang banyak diminati. Jangan menganggap Twitter negatif sebelum merasakan manfaatnya yang positif. Saya membuat akun twitter atas nama perpustakaan sekolah tempat saya bekerja, dengan tujuan berbagi informasi tentang dunia perpustakaan dan dunia buku secara umum. Jadwal library class juga saya umumkan di twitter sebagai pengingat para follower yang terdiri dari guru dan siswa.

Gadget.

Perkembangan teknologi juga mengubah tren bercerita. Kalau dulu kegiatan story telling menggunakan buku-buku, kini dapat dikombinasikan dengan penggunaan tablet. Gambar-gambar tambahan yang tidak ada dalam buku dapat ditunjukkan dengan tablet.

Tablet juga saya gunakan untuk mengunduh aplikasi origami yang kegiatannya saya adakan seminggu sekali. Karena saya bukan pembuat origami yang ahli, saya membutuhkan bantuan ide dan langkah-langkah dalam pembuatannya.

Story-tell menggunakan tablet

Dengan begitu banyak sumber dan cara untuk mengajar, pustakawan janganlah membatasi diri dengan pekerjaan yang hanya berhubungan dengan pendataan buku dan pelayanan peminjaman. Cakupan tugas pustakawan otomatis berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi di Indonesia. Masih banyak sumber-sumber yang dapat digunakan dalam pengajaran materi perpustakaan. Pustakawan dapat menggali lebih banyak lagi demi kemajuan diri dan perpustakaan yang dipimpinnya.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba 'Guru Blogger Inspiratif 2014' yang diadakan oleh IndiTIK.

Tuesday, October 07, 2014

Lakon Librarian: Main ke Library

Untuk pertama kalinya sejak cuti melahirkan, saya menginjakkan kaki di library tempat saya bekerja. Selain tujuannya mau lihat hasil kerja asisten yang saya tinggalin to-do list selama saya cuti dan ingin kenalan sama substitute saya, saya juga ingin membawa Baby Arham ke tempat yang penuh buku. Saya ingin dia mengenal buku sejak kecil dan menyukainya.

image
Singkat cerita, sampailah kami ke sekolah. Karena minggu ini sedang libur, (saya memang sengaja memilih hari libur) maka sekolah pun sepi. Hanya beberapa orang yang bekerja di kantor, satpan, OB, dan tentu saja staf library. Kenapa library harus buka selama libur padahal pengguna perpus gak ada? Saya masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan hati. Pokoknya begitu!

Nah, begitu turun dari gendongan dan duduk di singgasananya, Arham langsung menatap ke arah display Dr.Seuss. Mungkin karena warna-warni yang menarik perhatiannya. Cukup lama Arham menatap ke display untuk kemudian perhatiannya kembali beralih ke ayahnya yang mengajaknya ngobrol.

image
Lalu saya mengambilkan buku untuknya. Dan matanya langsung mengarah ke buku. Yeaayy.. Meski pun dia masih belum mengerti, namun terlihat serius melihat ke gambarnya. Apakah Arham akan menjadi book lover? Masih terlalu dini untuk dikatakan, tapi saya akan terus mengenalkannya pada dunia buku. Dunia yang penuh imajinasi :-)

One of my dreams: pengin nerbitin buku cerita anak yang bagus dan penuh gambar. Biar Arham dan anak-anak lain bisa membaca buku anak karya emaknya. Amin.

Thursday, July 31, 2014

Lakon Librarian: Library Display, part 1

Menjelang tahun ajaran baru kali ini, saya cukup heboh menyiapkan display untuk library. Tahun-tahun lalu, saya hanya menyiapkan seadanya. Tapi tahun ini, terutama setelah library direnovasi, saya ingin memenuhi ruang-ruang dan tembok sepi itu dengan display yang lucu agar siswa tertarik untuk masuk ke library dan betah berada di sana.

Pertama untuk pintu library. Agak tricky juga karena pintu semua terdiri dari kaca dengan frame. Browsing ide di internet saya pun mendapat ide untuk membuat tulisan besar-besar untuk sekadar menutupi kaca supaya tidak seperti akuarium. Display yang saya lihat di internet, mereka mencetak tulisan tersebut dan menutupi seluruh kaca pintu dengan bahan (mungkin seperti) vinyl. Jadi dari luar library tidak terlihat sama sekali. Tetapi saya tidak mau menutup rapat semua pintu. Saya ingin masih ada ruang untuk orang bisa melihat ke dalam. Untuk itu, saya memanfaatkan printer dan mesin laminating yang tersedia di sekolah.

Semua tulisan ini saya print dan laminating, kemudian tempel satu persatu dengan menggunakan selotip. Memang sedikit jadi PR sih, namun hasilnya cukup memuaskan. Terus terang, masih terlalu akuarium sih buat saya. Tapi sudah cukup lumayan kan?

IMG_20140721_194300


Kemudian untuk tembok yang ada di atas jendela-jendela dalam ruangan. Terasa sepi sekali di bawah AC yang menghembuskan hawa dingin itu. Saya putuskan untuk print huruf-huruf besar bertuliskan ‘QUIET ZONE’ menggunakan microsoft publisher, pilih banner ukuran A3. Berhubung saya membuat tulisan ‘QUIET’ dan ‘ZONE’ di hari yang berbeda, saya lupa huruf apa yang digunakan di tulisan ‘QUIET’, dan itu sudah terkirim ke ruang laminating. Walhasil, tulisan ‘ZONE’ fontnya beda. Dan itu saya sadari setelah keduanya beres dilaminating. Hahaha! Nggak terlalu kentara, kan ya?

Quiet Zone

Terakhir, reading corner. Dinding di sana tadinya dihias peta dunia berframe. Tetapi setelah direnovasi, saya meletakkan rak buku koleksi berbahasa Indonesia di sana, dan saya harus mencari ide lain guna menghias tempat tersebut. Dari googling, saya mendapat ide untuk membuat hiasan yang terinspirasi dari buku Dr. Seuss: The Lorax. Dan inilah hasilnya!

Awalnya di area reading corner ini akan saya dirikan pohon. Supaya siswa yang membaca buku seolah berada di bawah rindangnya pohon. Frame untuk dudukan pohon yang terbuat dari bambu pun sudah jadi. Bahkan daun maple sudah siap untuk ditempel di dahannya. Akan tetapi, ide saya buntu saat harus menutup frame itu menjadi batang. Pakai apa? Koran? Kertas samson? Maklumlah, saya bukan guru art yang kreatif. Akhirnya saya banting stir dan membuat hiasan The Lorax.

Kalau diperhatikan secara seksama, bulatan yang ada di atas batang belang-belang itu, adalah daun maple yang sudah saya gunting-gunting itu. He-he, akhirnya bermanfaat juga kan? Insya Allah, tidak ada yang terbuang kok ;)

The Lorax by Dr. Seuss


Masih banyak ruang dan dinding (atau jendela) yang harus dihias. Tetapi sepertinya harus menunggu semester depan, karena saya harus mengambil cuti maternity dalam waktu dekat ini. So yeah... Cukup dulu untuk sekarang.

Semoga bisa menginspirasi :)

Monday, December 09, 2013

Lakon Librarian: SLiMS COMMEET 2013

Slims cendana
Hari Sabtu dan Minggu tanggal 7-8 Desember 2013 kemarin, saya berkesempatan untuk mengikuti SLiMS Commeet 2013.

Kedengerannya keren ya?

Yup!

Kegiatan ini adalah yang kedua kalinya setelah sebelumnya diadakan di Yogyakarta. Waktu itu pingin ikutan, tapi karena diadakan pada hari kerja dan saya nggak bisa cuti, jadi skip deh. Nah, yang kemarin ini diadakan di Bogor.

Pesertanya tidak tanggung-tanggung, dari Aceh, Ambon, Lampung, Padang, hadir di sana. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan bapak dosen dari Univ. Syiah Kuala, bapak Taufiq. Siapa tau ada lowongan di sana. Hehehe..! Usaha namanya juga. Etapi ternyata beliau bilang kemarin baru ada yang test. Waduh! Telat kita kenalannya ya Pak. Saya lebih bagus lho dibanding orang itu *Pede-lalu-dikeplak*

Hari pertama diisi oleh keynote speakers yang sharing tentang SLiMS dikombinasi dengan keahlian mereka. Pak Rusmanto membahas tentang Open Source, kemudian bapak Onno bicara soal Linux yang jujur saya nggak ngerti sama sekali (hehe maklum, saya bukan orang IT), Dan ada pula dari Thailand yang namanya ribet dan sulit sehingga saya tidak tahu nama mereka. Wow! Jauh-jauh dari Thailand, mereka berbagi tentang SLiMS yang mereka modif dan digunakan secara luas di cabang-cabang perpusnasnya mereka. Keren!

Lalu di hari kedua, sesi pertama adalah tutorial. Tutorial dibagi tiga: pemula, lanjutan, dan mahir. Saya tentu saja ikut yang lanjutan. Karena kalau ikut yang mahir dijamin saya bengong :D

Di tutorial ini diajarkan cara backup data, upgrade versi SLiMS 7 Cendana, dan masukin data ke versi yang baru. Eh-ndi-lalah… data saya rusak! Nggak bisa diajak kompromi. Akhirnya terpaksa menyandera satu orang instruktur untuk membetulkan database saya, karena kalau nggak bener, saya ngancem nggak mau pulang. Dia pun mengutak-atik database saya. Memang karena dia baik hati, bukan karena dia takut saya beneran nggak mau pulang. Kalo itu sih pasti dia EGP :p

Di sesi kedua di hari kedua, komunitas SLiMS dari berbagai daerah yang saya sebutkan di atas tadi, berbagi kegiatan dan program kerja mereka. WOW! Kereeennn! Mereka tuh canggih-canggih banget siihhhh. Jadi minder karena buat ganti logo aja masih browsing dulu di inet.

Eit, tapi ntar dulu! Kalo ngomong soal gatek, saya nggak termasuk gatek lho! Karena yang hadir banyak orang-orang IT, bukan pustakawan. Coba bayangin, yang diomongin adalah bahasa PHP, HTML, apa lagi itu tuh, LINUX. Wuidiihhh, serem! Saya sok merhatiin aja, tapi sebenernya kalo ada yang lihat mata saya: ngeblank! Hihihi. Tapi tenaannggg, sedikit-sedikit kan saya juga ngerti ngulik HTML. Gini-gini kan saya emak-emak yang suka ngeblog. Kalo mo ubah template, ganti tampilan, nambah banner, dll. Dikit-dikit mah bisa gituuu.. Gak norak-norak amat :p

slimsNah, di akhir acara, laptop saya kembali dengan database library saya yang udah berubah menggunakan SLiMS 7 Cendana. Waaahhh.. KEREN! Dan nama my life saver hari itu adalah Mas Wardi Yono. Dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih pada Mas Wardi Yono. Semoga beliau baca blog saya ini, dan tahu bahwa saya sangat-sangat berterima kasih. Thank you Mas! GBU.
Trus di akhir acara nih, pembagian door prize. Yeah well, saya tahu sih untuk urusan gini saya emang nggak hoki. Tapi masih juga kecewa karena ngincer rak bukunya dan nggak dapet. Secara pas banget beberapa hari sebelumnya abis lihat rak buku itu di internet, nyari yang jual di mana. Eeehh di sini dibagiin jadi door prize! Mupeng dong? Ternyata nggak dapet juga, dan ternyata lagi, yang dapet orang Surabaya yang malah ngasih ke pemenang lain. Ugghhh, napa gak ngasih saya!! *nangis Bombay*

Anyway, selain nggak dapet rak buku, kaos juga nggak dapet *kaosnya keren* hari itu ditutup dengan antri di stasiun Bogor yang panjaaannngggg dan lamaaaaa.. karena orang-orang abis plesiran ke Bogor di hari Minggu.

Dan di Hari Senin, saya langsung menggunakan SLiMS 7 Cendana dong. Utak-atik wallpapernya, diganti jadi foto-foto library, ganti logo (horeee bisa!) juga masukin foto librarian biar pemakai tahu siapa penguasa library ini *narsis abiez*
slim1

Pokoknya di antara Senin-Senin yang lain, hanya Senin ini yang saya tunggu-tunggu, karena mo pakai SLiMS 7 Cendana di library!

Saturday, November 30, 2013

Lakon Librarian: Beli Buku Terus, Kok Raknya Kosong?

Sudah dua kali pertanyaan ini diajukan ke saya.

“Rasanya kita selalu beli buku ya? Kok library kelihatannya kosong saja?”

Bagi saya kok pertanyaan tersebut terdengar janggal ya? Seolah saya melakukan sesuatu pada buku-buku yang sudah dibeli tersebut, sehingga mereka tidak muncul di rak. Saya jelaskan begini:

ImageDi sekolah ini, buku-buku perpustakaan tidak hanya disimpan di perpustakaan saja, melainkan juga di kelas-kelas. Jadi, masing-masing kelas memiliki perpustakaan kecil sendiri yang mereka sebut Reading Corner.  Untuk apa ada Reading Corner di setiap kelas? Tujuannya adalah jika siswa sudah selesai mengerjakan tugas yang diberikan guru, daripada mengganggu temannya yang masih belajar, lebih baik mereka membaca buku.

Buku yang dikoleksi di Reading Corner masing-masing kelas itu tidak hanya yang fiksi, tetapi juga yang non fiksi. Biasanya koleksi non fiksi disesuaikan dengan unit pelajaran yang akan mereka ajarkan, misalnya tentang Ancient China, atau Rainforest. Maka di awal tahun guru-guru akan mengambil semua buku dengan subjek tersebut guna dipajang di Reading Corner mereka. Sehingga jika ada penelitian atau mencari informasi, mereka tidak perlu membuang waktu ke perpustakaan, karena di kelas telah disediakan bahannya.

Lalu dari mana mereka mengambil buku-buku untuk Reading Corner mereka? Dari mana lagi kalau bukan dari koleksi perpustakaan. Dan ada berapa kelas di sekolah ini? Jawabnya adalah 19 kelas, dan tahun depan akan bertambah 2 kelas lagi. Tiap kelas akan mengambil buku sesuai jumlah murid mereka. Jadi fiksi maksimal 26 novel (atau buku cerita bergambar untuk kelas 1 & 2) per kelas, dan non fiksi dengan jumlah yang sama. Silahkan menghitung sendiri berapa buku yang keluar dari perpustakaan selama setahun pelajaran. Jadi, bagaimana perpustakaan bisa terlihat memiliki banyak koleksi, jika buku-bukunya sudah ‘dijarah’ sejak awal tahun? Dan itu semua akan kembali dalam waktu bersamaan di akhir tahun ajaran.

ImageProgram Reading Corner ini sudah ada sejak jaman dahulu sebelum saya terlahir di sekolah ini. Untuk buku fiksi, sebenarnya saya tidak terlalu masalah, karena masih banyak yang tersisa di perpustakaan. Hanya saja yang kadang membuat kesal, buku-buku yang baru dibeli pun diambil juga. Bisa bayangkan apa yang mau saya display jika yang tersisa hanya buku lama? Padahal buku baru lah yang menarik perhatian pengunjung. Triknya, saya sembunyikan saja buku-buku yang baru. He-he. Sebab, buku baru jika disimpan di kelas selama setahun, bagaimana siswa yang lain bisa pinjam, ya kan?

Sementara, untuk Reading Corner yang berisi non fiksi, saya sudah sering mengkampanyekan penggunaan perpustakaan untuk penelitian atau pencarian literature. Setiap awal tahun saya sampaikan jika mereka bisa membooking ruang perpustakaan untuk kelas mereka guna pencarian data, dan bahan-bahannya akan disediakan untuk siswa sehingga mereka tak perlu mencari-cari lagi di rak buku. Namun, ternyata mereka lebih menyukai cara lama,  yaitu menyediakan di kelas. Tapi tenang, saya akan terus berkampanye meskipun tanpa kehadiran kelas-kelas untuk pencarian data di perpustakaan, tempat ini sudah ramai juga sih.

So, kemana buku-buku di perpustakaan? Sudah sering beli, kok masih kelihatan kosong saja raknya?

Jawaban errornya:

“Kalau kesal, saya suka mengunyah kertas, bu. Saya ini kan reinkarnasi dari penunggang kuda lumping!”

Image