Showing posts with label library. Show all posts
Showing posts with label library. Show all posts

Monday, August 14, 2017

Lakon Librarian: Library Display, part 9

Assalamu'alaikum,

Mari bicara tentang display lagi. Kali ini display yang akan saya buat lumayan besar, terdiri dari enam jendela, menggantikan display beberapa tahun yang lalu. Kalau penasaran seperti apa display sebelumnya, monggo lho dicek di LINK INI, tapi yang penasaran aja lho yaaa.. kalo nggak ya nggak usah :p

Oke, karena media menggambarnya cukup luaaas... jadi lah saya harus pandai-pandai memilih display. Jangan sampai terjadi lagi totol-totolan cat yang menumpuk di satu bagian, sehingga harus mengulang. Maka saya putuskan untuk meminimalisasi cat, dan memaksimalkan print-an. :D

So, ide awalnya (yang tentu saja saya dapatkan dari Pinterest) adalah ini:


Karena ide yang saya dapat adalah buletin board, rata-rata mereka pakai background dong ya? Namun media saya kan beda. Maka background saya biarkan kosong, karena kalau dicat semua, library akan gelap dan dari luar akan sangat tertutup. Padahal salah satu cara promosi adalah memperlihatkan betapa ramainya pengunjung di dalam, sehingga yang di luar ingin masuk juga, ya kan? Meski di sekolah saya mah, tidak perlu dipromo-promo, anak-anak akan selalu datang untuk pinjam buku, sebab pinjam buku adalah WAJIB di sini ;)

Anyway, kembali ke display, saya hanya akan mengecat batangnya saja. Eh, kalau saya bilang 'saya mengecat' itu artinya asisten saya ya yang ngerjain. Saya mah kasih ide dan supervisi saja, he-he. Dan begini tahap awal pengecatan batang pohon.


Lalu saya pun menyiapkan daun, bunga, burung gereja, burung hantu, dan tulisan dengan mengandalkan komputer dan print out (ini  benar saya yang bikin). Karena kalau menulis sendiri, sudah pasti jelek (secara tulisan saya terlalu doodling untuk dipahami :p) Dan setelah ditempel sana-sini dengan penuh semangat dan niat baik, maka jadilah display jendela luar library seperti ini:

Tampak Depan


Tampak Kiri

Tampak Kanan

Jika dilihat dari dekat --klik aja di gambarnya yes-- tulisan READ, bunga, dan burung dibentuk dari kertas bermotif. Niatnya sih pakai kertas kado, biar lucu yaaa, tapi karena harus segera tayang, saya akalin dengan print motif di kertas putih, lalu diprint lagi di atas kertas itu, font huruf R-E-A-D yang disetting outline saja. Yah, yang biasa pakai word tau laahh... Untuk tulisan 'Branch out...bla-bla-bla' saya pakai publisher - banner. Coba-coba saja sendiri, pasti bisa. Saya juga gitu ;)

Oke deh, semoga menginspirasi yaaa...!

Thursday, August 10, 2017

Lakon Librarian: Library Display, part 8

Assalamu'alaikum,

Tidak terasa ya sudah 3 bulan saja 'rumah' ini terbengkalai. Haduh, merasa sok paling sibuk sedunia nggak sih? :D Baiklah, mari kita tinggalkan jejak perjalanan kali ini dengan berbagi library display untuk tahun ajaran yang baru ini. Masih dengan ide dari pinterest, saya ambil beberapa contoh display untuk diaplikasikan di jendela perpustakaan saya. Bagi yang ingin melihat ide display di tahun lalu, yang mau aja lhooo, silahkan klik LINK INI. Karena tiap tahun harus ganti display, ya berarti harus rajin browsing ;)

Ide awalnya adalah gambar ini.



Lalu dicoba untuk diaplikasikan di jendela. dengan menggunakan cat acrylic dan hasilnya....



G-A-G-A-L

Kesel? Ya nggak juga sih, karena memang mengaplikasikan cat itu tidak mudah. Menggunakan spons yang ditotol-totol di kaca dapat menghasilkan warna yang diinginkan (atau tidak) tergantung bagaimana pengaplikasiannya. Untuk yang ini, karena minionsnya dicat juga, maka warna dasar biru di sekitar minionsnya jadi berkali-kali ditotol, sehingga hasilnya jadi belang-bentong. Kesimpulannya: HAPUS!

Ganti dengan ide lain, yakni gambar ini.



Tampaknya lebih mudah yaaa? Yap! Karena untuk cat hanya diaplikasikan sebagai background (biru) dan gambar buku (putih) Selebihnya, kupu-kupu buat sendiri (cetak-gunting-tempel) dengan kertas hvs warna-warni, tulisan quote print ajah di publisher, gunting-tempel. Gak pakai dilaminating karena saya rasa cukup kuat lah untuk satu tahun ajaran. Hasilnya...

Tampak Depan

Tampak Agak Jauhan

Not bad, huh? Saya puas dengan hasil yang ini dan dengan semangat saya terbangkan kupu-kupu hingga ke AC dan rencananya akan ditempel hingga ke langit-langit perpustakaan. Tapi nanti ajah... nunggu senggang ;)

So, gimana? So far, looks oke? Kalau mau coba, monggo lho. Modalnya hanya: cat acrylic, gunting, spons, selotape, kertas hvs, dan kemauan yang besar. Insya Allah jadi!

Happy displaying!

Sunday, August 21, 2016

Lakon Librarian: Library Display, part 7

Assalamu'alaikum.

Untuk pertama kalinya tahun ini library mendapat bulletin board sendiri. Yeay! (Yeay? Mo ditulisin apaaaa?) Jangan salah sangka ya,  bukannya saya nggak seneng dapet bulletin board, karena sebenarnya buaannyaakk bangeeettt yang bisa ditempel di sebuah bulletin board. Saya bisa taruh pengumuman nama-nama anak yang telat balikin buku (wah, dijamin penuh tuh!) saya bisa juga promosi buku baru (kalau ada pembelian bukuu siiihhh... *no komen*) bahkan saya bisa taruh profile librarian (which is ME!) di bulletin board.

Tapi masalahnya adalah, bulletin board yang dikasih ke saya itu GEDE BANGET! I mean GUEDEE BUANGEET! Saya kan bingung mo nulisin apa ya? Buku baru gak punya *hiks*, kegiatan library juga paling membutuhkan space yang sedikit doang, untuk pasang profile librarian kok saya belum sampai hati *hehe I'm not THAT narsis**

Akhirnya saya mencari ide di Pinterest (di mana lagi, kan?) untuk menghias bulletin board. Pada dasarnya saya butuh display yang menghabiskan separuh papan pengumuman yang selebar pintu itu! *gigit mouse*

Waktu untuk mendisplay juga dibatasi, karena sekolah akan mengadakan open house. Jadi, kudu cari yang simple dan besar. Dan inilah dia...!

WhatsApp Image 2016-08-08 at 3.51.42 PM
Halp part udah jadi


Steps:

1.Bulletin board saya lapisi kertas kisyu berwarna orange.

2. Untuk bordernya, saya print tulisan READ dan gambar buku yang tentu saja ngambil dari internet.

IMG_3994

IMG_3993

Kalau diperhatikan, tulisan READ dan gambar bukunya ada coraknya ya? Itu terjadi karena ketidaksengajaan. Jadi awalnya mau ngetest huruf, di kertas bekas. Eeeh malah jadi lucu! Jadinya ya saya print aja semua di kertas bekas. Selain irit kertas, motifnya juga unik.

3. Setelah itu tempel border dengan stapler.

4. Print tulisan UNLOCK YOUR MIND - READ, tempel juga dengan stapler.

5. Print juga gambar gembok kuning.

6. Buat rantai dengan menggunakan kertas hitam yang digulung dan dikaitkan satu sama lainnya.

7. Buat buku besar dengan menempelkan kertas coklat.

8. Begitulah! :)

Nah, setelah jadi separuh, saya harus memenuhi separuh bawahnya juga kan? Gak mungkin kosong melompong aja. Jadinya saya tempel aja pengumuman pemenang Reading Pin, dan profile Teachers Who Reads yang menampilkan profile kepala sekolah. Penuh deh! :D

FullSizeRender (2)
Voila!

Banyak yang numpang foto loh di display ini. Senangnya!

Thursday, January 14, 2016

Lakon Librarian: Movie Club

Assalamu'alaikum.

image1Sejak tahun ajaran lalu, saya berniat mengadakan kegiatan nonton film di library selama jam makan siang. Idenya sih setelin film pendek berdurasi maks. 15 menit untuk membuat siswa yang datang ke library setelah makan siang agak tenang. Karena biasanya sehabis makan energi mereka bertambah dan akibatnya di library nggak bisa diam meski sudah di sat-sut berjuta kali.

Awal tahun ajaran ini, saya masih belum nemu ide mau setel film apa. Karena film kan biasanya durasinya 2 jam-an, saya nggak mau harus memotong film untuk dilanjutkan keesokan harinya. Keknya basi aja gitu. Akhirnya di akhir semester 1 saya baru menemukan film apa yang akan saya tayangkan. Yaitu film dongeng animasi yang ceritanya diambil dari buku, berdurasi 13-15 menit. Cucok!

image2Berkat Youtube dan Keepvid saya berhasil menyimpan banyaaakk sekali dongeng animasi yang saya inginkan. Kalau mau tahu film apa, saya mengambil film dari Bedtime Story. Dan saya pun siap! Saya akan namakan Movie Club dan membatasi hanya untuk 20 penonton agar terkesan eksklusif. Tahu sendiri kan, anak-anak bangga kalau bisa menjadi bagian dari sesuatu yang eksklusif.

Saya buat poster untuk menarik perhatian anak-anak dan menempelnya di tembok luar library. Betul saja, baru juga dipasang sudah banyak peminatnya. Mereka ingin membeli tiket! He-he tenang, tiketnya gratis kok, tapi hanya bisa didapat pada hari pemutaran film sebelum snack time. Soalnya kalau dikasih jauh hari, dijamin hilang! Namanya juga bocah :D Dalam hitungan menit, tiket langsung ludes! Senang, tapi kasihan juga melihat kekecewaan yang ada di wajah anak-anak yang tidak kebagian tiket.

image5

Saya baru mengadakan seminggu satu kali di hari Rabu saja, di 15 menit terakhir jam makan siang anak kelas 1&2. Jadinya kalau ingin menonton film dari awal, segeralah menyelesaikan makan dan mengantri di pintu multimedia.

Tepat 11.15 siang, anak-anak yang sudah memegang tiket mengantri dan dengan tertib masuk ke dalam ruangan multimedia. Pssttt, ancemannya: kalau berisik mereka gak boleh nonton dan besok-besok nggak boleh ikut Movie Club. Jleb, kan? ;) Maka mereka pun duduk di bantal yang sudah saya susun rapi dan menonton film berdurasi hampir 13 menit itu tanpa suara. WOW! Ini rekor! Anak kelas 1 & 2 mana bisa diam, ya kan? He-he, ancaman yang ampuh!

Selesai mereka menonton film, mereka bertanya minggu depan masih bisa antri tiket lagi atau tidak? Lalu saya berpikir, kalau minggu depan saya setel film lain (which is itu yang sudah saya jadwalkan) dan anak-anak yang sekarang join Movie Club antre lagi dan nonton lagi, kasihan banget yang menghiba-hiba minta ikut nonton dan tidak kebagian tiket.

image3

Akhirnya saya diskusi dengan beberapa guru, dan memutuskan untuk memutar 1 film selama dua minggu, dan harinya ditambah jadi Selasa dan Rabu. Jadi seminggu ada 2x penayangan film yang sama. Dalam 4x penayangan selama 2 minggu semoga bisa mengakomodir anak-anak yang ingin menonton. Kalau diadakan 3x seminggu takutnya anak-anak kehilangan minat. Kan gak seru kalau Movie Club sepi.

Melihat antusiasme anak-anak (beberapa terlihat dadah-dadah ke temannya yang nggak bisa masuk dengan wajah sumringah) saya optimis program ini bisa dijalankan selama semester dua ini. Semangat!

Monday, December 07, 2015

Lakon Librarian: Bookmark Competition

Assalamu'alaikum.

Bulan Oktober lalu, tepatnya tanggal 21 Oktober 2014, berbarengan dengan kegiatan Language Week yang diadakan di sekolah, library juga mengadakan kompetisi. Biasanya, library berpartisipasi dengan mengadakan game selama 1 minggu dan menggelar bookfair. Tapi tahun ini, saya mencoba kompetisi yang lebih menantang, dengan hadiah yang lebih menggiurkan. Selain tetap menggelar bookfair, saya ingin mengadakan Bookmark Competition.

[caption id="attachment_2244" align="aligncenter" width="300"]Bookmark Competition 2015 Bookmark Competition 2015[/caption]

Setelah diajukan ke kepala sekolah, ternyata beliau menyetujui dan mendukung 100% *seneng* maka saya pun dengan memberanikan diri membuat persyaratan, pengumuman, dan meminta guru-guru untuk mempromosikan di kelas-kelas mereka.

[caption id="attachment_2246" align="alignleft" width="150"]Karya peserta Bookmark Competition Karya peserta Bookmark Competition[/caption]

Bookmark Competition ini akan berlangsung selama 1 bulan. Seluruh karya harus sudah masuk pada tanggal 21 November 2015. Kenapa saya buat lama sekali? Saya ingin memberi mereka kesempatan untuk mengeksplorasi library dan melihat apa yang mereka bisa tuangkan ke dalam template bookmark yang sudah saya sediakan.

Untuk tahun ini mereka hanya bisa menggambar dalam warna hitam putih saja. Tahun depan bisa dua atau tiga warna saja dalam satu gambar. Cukup menantang, kan?

Berikut pengumuman tema dan persyaratan untuk Bookmark Competition 2015.

LIBRARY BOOKMARK Contest

Theme: What You’ll Find in the Library

RULES:



  • Bookmark should measure 6 x 18 cm long (you can have 1 template from the library)

  • Only one entry per student

  • Must be your original artwork

  • Artwork must be done in BLACK & WHITE only (ink or marker)

  • Bookmark must be submitted on November 21st, 2015

  • One winner will be selected in each of the following level groups:

  • Grades 1-2

  • Grades 3-4

  • Grades 5-6

  • Make a copy of your bookmark before submission; bookmarks will not be returned

JUDGING CRITERIA:



  • Entries will be judged on originality, creativity, neatness, and printability

  • Bookmarks must be the exclusive work of the contestant with no outside assistance

  • All entries become the property of MSB Elementary library; winning entries may be reprinted and distributed for school’s purposes

AWARDS:



  • Winners will be announced on December 11th, 2015

  • Prizes:

3 Winners from each level group.

Each will get: certificate, books and stationery worth of IDR 200,000

3 Honorable mention winners.

Each will get: certificate, books and stationery worth of IDR 100,000



IMG_6970
Add caption

Sounds interesting? Saya pikir hadiah yang ditawarkan cukup menggiurkan, secara selama ini belum pernah ada pemberian hadiah seheboh ini untuk acara di sekolah. Vendor buku yang berpartisipasi dalam kegiatan book fair memberikan buku untuk hadiah. Jadi sudah ada sponsornya :D Sayang, supplier stationery belum bisa diajak kerja sama, jadinya harus beli sendiri. Untungnya dari kegiatan book fair, library bisa mengumpulkan sedikit uang buat beli hadiah. Benar-benar swadaya deh, nggak pakai minta ke sekolah *bangga*

Satu bulan kemudian...

IMG_6969
Add caption

Total entry yang masuk ada 65 bookmarks, dan saya pun meminta orang yang berkompeten di bidangnya untuk memilih pemenang, yaitu guru art. Dan akhirnya terpilihlah 3 winners & 3 honorable mentions.

Ini hadiah-hadiahnya...! Siap dibagikan. Dan yang tengah itu bingkisan untuk pak juri yang telah meluangkan waktu memilih pemenang bookmark competition ini.

IMG_6967
Add caption

Untuk bookmarks yang menang lomba tahun ini, rencananya akan diperbanyak dan dibagikan ke siswa saat pertama kali masuk sekolah di semester kedua nanti. Para pemenang pasti bangga karyanya digunakan oleh teman-temannya saat membaca buku :)

Semoga tahun depan bisa kasih hadiah yang lebih heboh, dan pesertanya makin banyak. Amin!

Thursday, December 03, 2015

Lakon Librarian: Library Display, part 5

Seharusnya postingan ini ditayangkan saat awal tahun ajaran kemarin, namun apa daya awal tahun ajaran itu adalah saat paling sibuk yang pernah dialami siapa saja yang bekerja di sekolah. Jadilah saya baru bisa posting sekarang, jelang akhir semester pertama :D

Library display yang mau saya bagi sekarang adalah display dari jendela library yang menghadap ke lapangan. Jika ditutup begitu saja pakai poster, library akan terkesan gelap, meski memang ada lampu sih, jadi nggak pakai petromax juga :p Tapi saya ingin menutupinya dengan sesuatu yang lebih keren dari biasanya. Maka saya pun browsing dan mendapat ide gambar dari mbah Gugel (dari mana lagi, ya kan?) Dan inilah gambarnya.

Dive-in-to-Reading www-myclassroomideas-com
pic. credit: myclassroomideas.com

Dan ini.



pic.credit: pinterest.com
pic. credit: pinterest.com

Di gambar aslinya, dua display ini di aplikasikan di buletin board. Karena saya punyanya jendela kaca, maka saya pun mencoba ide baru. Bahan yang dibutuhkan:

1.Spidol whiteboard

2.Cat asturo

3.Spons yang untuk cuci piring, potong menjadi 4 bagian

Udah, itu doang kok bahannya. Nah cara bikinnya gampang banget:

Gambar pola di jendela menggunakan spidol. Tuang cat ke dalam palet atau piring boleh juga, lalu aplikasikan cat dengan ditotol-totol menggunakan spons ke jendela. Kenapa pakai spons dan ditotol-totol? Kenapa nggak dioles saja, dan pakai kuas?

Believe me, hasilnya lebih bagus ditotol-totol pakai spons dibanding dengan kuas. Nah untuk efek kertas di buku, saya pakai kuas dan dioles, jadi terlihat garisnya.

Anyway, ini dia hasilnya... Voila!

diveintoreading

Dan ini...

readwindow
Add caption

Ruangan library tetap terang karena cahaya tetap dapet, tetapi tidak terlalu terang sampai silau. Ayo coba bikin, dijamin puas! :D

Sunday, September 27, 2015

Escape from Mr. Lemoncello's Library - Chris Grabenstein

Escape from Mr. Lemoncello's LibraryEscape from Mr. Lemoncello's Library by Chris Grabenstein

My rating: 4 of 5 stars

Buat librarians, pecinta library, dan sobat perpustakaan, kudu nih baca buku ini. Seru banget dan petualangannya mengingatkan saya pada keasyikan saat membaca buku tentang perpustakaan juga yang judulnya Bibbi Bokken's magic library karya Jostein Gaarder. Tentu saja saya membaca edisi Bahasa Indonesia :D

Anyway, Escape From Mr. Lemoncello's Library bercerita tentang pembukaan perpustakaan kota Alexandriaville yang sudah 12 tahun direnovasi. Jadi selama 12 tahun, anak-anak di kota itu tidak mengenal perpustakaan, dan itu artinya mereka hidup tanpa mengetahui asiknya ber'petualang' di perpustakaan. Oleh karenanya, Mr. Lemoncello, pembuat game terkenal di kota itu mendanai pembangunan perpustakaan kota Alexandraville, dan beberapa hari lagi pembukaannya.

Dalam rangka pembukaan perpustakaan tersebut, akan ada acara lock-in selama semalam di perpustakaan dia mana mereka bisa main game, baca buku, makan di cafenya, sepuasnya. Untuk bisa menjadi peserta lock-in ini, akan di pilih dua belas anak berusia 12 tahun berdasarkan essay yang mereka buat tentang "Kenapa saya excited tentang perpustakaan umum yang baru."

Kyle yang lebih suka main game daripada ke perpustakaan, tentu saja lupa kalau dia harus membuat essay yang due nya hari ini. Dengan asal, dia buat essay di atas bis sekolah. Ini yang ditulisnya: "Ballons. There might be balloons." Dan dia menyesal menulis esay asal itu saat tau bahwa Mr. Lemoncello sendiri lah yang akan memilih pemenangnya. Bayangkan, Mr. Lemoncello adalah pendana perpustakaan baru ini! Pasti acara lock-in nanti akan sangat menyenangkan! Kyle adalah pengemar berat semua permainan yang diciptakan Mr. Lemoncello. Tapi bukan Kyle namanya kalau tidak memiliki daya juang.

Dan seperti yang sudah diduga, Kyle masuk menjadi salah satu dari 12 anak itu. Malamnya mereka berkumpul di perpustakaan, membawa sleping bag, pakaian ganti, dan keperluan menginapnya. Semalaman mereka menikmati perpustakaan yang baru. Mereka adalah 12 anak yang pertama kali masuk ke perpustakaan tiga lantai tersebut. Atapnya dome besar yang menayangkan langit malam, lengkap dengan galaxy dan komet, yang kemudian berganti menjadi gambar yang menunjukkan kelas DDC: Cleopatra, orang memanjat gunung, dan kapal Viking mewakili kelas 900-999: Sejarah dan geografi. Ada sepuluh ruangan yang masing-masing berisi koleksi per-kelas DDC. Lalu ada ruang baca anak-anak, ruang bermain games yang berisi semua permainan ciptaan Mr. Lemoncello. Surga banget bagi Kyle!

Hingga pukul 2 malam, mereka mengeksplore dan memainkan semua permainan yang ada (kecuali Sierra yang langsung memilih spot enak untuk baca buku) hingga pagi hari mereka bangun dan sarapan pagi, namun pintu perpustakaan belum juga dibuka. Mereka juga tidak bisa membuka dari dalam. Ada apa ini?

pic.credit:
https://www.instagram.com/sylnamira/
 
Tiba-tiba mucullah wajah Mr. Lemoncello di layar dome yang besar, mengatakan bahwa bagi yang ingin bermain game, akan ada hadiah bagi pemenangnya. Gamenya adalah "Mencari jalan keluar dari perpustakaan." Beberapa anak mengundurkan diri, sehingga tinggallah beberapa saja. Dan petualangan pun dimulai! Dengan dalam 12 jam, mereka harus menemukan cara keluar dari perpustakaan, menggunakan semua resources yang ada di perpustakaan.

Mengikuti petualangan mereka mencari jalan keluar, sekilas mengingatkan pada cerita Charlie and the Chocolate Factory, dan memang anak-anak dalam buku ini menyatakan demikian. Mr. Lemoncello mirip seperti Mr. Willy Wonka, dengan ide gila dan nyentriknya.

Judul-judul buku yang disebutkan dalam permainan dilist di bagian belakang buku ini, jika ada yang ingin mengoleksi atau mengumpulkan dalam satu rak di perpusnya, dengan diberi judul: "Buku-buku dari Perpustakaan Mr. Lemocello." *hmmm I just made up the idea, and I think I like it... if you have a huge collection* :P

Mr. Lemoncello juga suka mengutip kata-kata dari buku dalam hampir setiap ucapannya. Contoh saat dia menawarkan dua kontestan untuk mengadu peruntungan, tentunya dengan konsekuensi, saat ditanya konsekuensinya apa, Mr. Lemoncello menjawab: "Something bad. In fact, something wicked this way will probably come.." Dan dia juga senang menciptakan kata baru: Wondermous, stinkerrific, dll.

Selain bagi pecinta perpustakaan, buku ini juga cucok buat yang suka main game, atau at least familiar dengan instruksi yang ada di board game. Karena kata-kata dalam novel ini banyak mengadaptasi dari dua hal tersebut: perpustakaan dan games. Seru!

View all my reviews

Monday, February 09, 2015

Lakon Librarian: Library Origami Club

Library Origami Club
Add caption

Di library, saya mengadakan kelas origami untuk siswa yang menunggu kakaknya yang belum pulang. Oleh karenanya, kelas origami gratis ini diadakan sore hari. Dan pesertanya pun terbatas, karena hanya siswa yang menunggu kakaknya saja yang diperbolehkan masuk ke library. Sementara yang lain harus menunggu dijemput di lobby sekolah.

Belakangan, melihat animo siswa yang cukup tinggi untuk diajari membuat origami, maka saya pun berinisiatif untuk membuat The Exclusive Library Origami Club *tsaaahh!* khusus untuk siswa kelas 1 & 2 saja. Gratis! Diadakan setiap hari Selasa. Jam nya pun dipindah, disesuaikan dengan jam makan siang mereka, yaitu 15 menit sebelum bel masuk kelas.

1st meeting
Add caption

Saya mulai mengumpulkan gambar-gambar origami paling mudah yang bisa saya ajarkan untuk siswa. Tahu sendiri, kan? Kelas 1 & 2 belum bisa melipat dengan baik. Makanya saya pilih yang super-duper-paling-mudah  untuk mereka.

Di pertemuan pertama Library Origami Club, siswa yang hadir lebih dari 20 orang. Lumayan banyak ya? Kami membuat rok. Sengaja saya pilih yang lipatannya paling sederhana. Mereka dengan antusias bertanya minggu depan mau buat apa?

2nd meeting
Add caption

Sejak hari senin satu persatu anggota club yang ke library bertanya besok mau bikin apa. Bolak-balik mereka penasaran, hehehe. Dan pertemuan kedua pun tiba. Yang datang tidak sebanyak pertemuan pertama, tapi tetap seru.

Kali ini kami membuat rumah. Yang ini terbukti tidak mudah ternyata. Sebab untuk membuat atap harus melipat segitiga gitu. Dan mereka kesulitan. Ujung-ujungnya ya saya bantu sih. Tapi itu artinya pertemuan ketiga nanti nggak bisa bikin windmill, sebab lipatannya sama dengan atap rumah.

Hunting origami paling mudah sedunia lagiiii...

Monday, January 26, 2015

Lakon Librarian: Reading level vs Reading interest

booksSemua pasti setuju bahwa buku adalah jendela dunia. Bekerja di dunia buku, membuat saya sedikit banyak mengerti apa jenis bacaan yang disuka anak-anak, terutama pengunjung perpustakaan di mana saya bekerja. Mulai dari siswa kelas 1 yang sudah mencari-cari buku chapter padahal kemampuan baca mereka masih cocok membaca buku bergambar, lalu siswa kelas 6 yang justru ingin meminjam buku bergambar yang diperuntukkan bagi siswa kelas 1.

Setiap hari siswa yang datang akan menanyakan buku yang baru, buku yang bagus, atau buku tentang subyek tertentu. Sayangnya, perpustakaan ini bukan perpustakaan yang sering update koleksi, sehingga sering siswa kecewa saat mencari buku yang ingin mereka baca, namun tidak tersedia. Sedih? Pasti!

Sebagai seorang pustakawan, pastinya saya ingin selalu memberikan bacaan yang terbaik bagi pengunjung. Tidak hanya bacaan untuk pelajaran, melainkan juga bacaan untuk waktu senggang mereka, atau buku cerita. Nah, di sinilah saya berbenturan dengan peraturan yang dibuat sekolah.

kids reading
Add caption
Sekolah menginginkan siswa membaca buku yang sesuai dengan reading level mereka, atau kemampuan membaca. Tetapi masalahnya adalah, buku yang sesuai dengan reading level mereka tidak diperbaharui, mereka pun bosan dan ingin meminjam buku yang berada di atas reading level mereka.

Sementara saya, sebagai pustakawan, membebaskan siswa meminjam buku yang mereka inginkan. Terlepas dari buku itu ada di atas reading level mereka atau tidak, saya lebih memperhatikan reading interest mereka, alias minat baca. Karena menurut saya, minat baca anak-anak Indonesia ini sangat rendah, cenderung mengenaskan. Apalagi tidak ditunjang dengan ketersediaan buku-buku yang menarik bagi mereka. Maka tak heran jika saya sering membiarkan mereka meminjam buku yang lebih menantang kemampuan membaca mereka. As long as mereka memperhatikan 'The 5 Finger Rules.'

five-finger-ruleMemperhatikan kecenderungan anak-anak yang meminjam buku di luar reading level mereka (reading level ditentukan dari test yang diadakan sekolah) saya paham sekali, karena membaca buku kan untuk rekreasi juga, kan? Ya kan? Kita saja orang dewasa suka memilih buku remaja untuk bacaan santai, kaaann? Kenapa anak-anak ini harus dibatasi?

Keinginan membaca yang dibatasi, dikhawatirkan akan membuat minat mereka menurun. Jadi kenapa harus dibatasi? Biarkan saja mereka membaca apa yang mereka suka. Yang penting, selalu dikontrol buku yang mereka baca, jangan ada yang mengandung adegan yang tidak pas untuk usia mereka. Di sinilah pentingnya peranan orang tua.

So, membaca buku itu jangan hanya dibatasi pada level kemampuan baca saja, berikan anak tantangan dengan membiarkannya mencoba membaca buku yang menjadi minat mereka.

Monday, December 08, 2014

Lakon Librarian: Origami

[caption id="attachment_1233" align="alignleft" width="150"]Kucing Origami Kucing[/caption]

Semua pasti sudah tahu dong, kalau origami adalah seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Kegiatan melipat ini sangat bermanfaat bagi perkembangan motorik, oleh karenanya sangat dianjurkan untuk mengajarkan seni melipat pada anak-anak sejak usia dini. Di taman kanak-kanak, siswa diajarkan melipat dan menggunting.

Fyi ya mak, kalau anak pegang gunting di rumah jangan dimarahin. Sediakan saja gunting plastik yang tumpul. Sebab, kemampuan menggunting juga penting. Saya punya teman yang mengguntingnya mencong-mencong karena sejak kecil tidak terbiasa memegang gunting. Ada pula kawan yang lain, kalau menarik garis pasti belok. Padahal sudah pakai penggaris! Itulah pentingnya melatih kemampuan motorik anak sejak kecil.

Beberapa hari belakangan ini, demam origami sedang melanda library. Awalnya sih kelas origami ini diperuntukkan bagi siswa kelas 1 & 2 yang sepulang sekolah harus menunggu kakak-kakaknya di kelas atas, sehingga harus ngetem di library. Karena mereka nggak ada kegiatan positif selain lari-lari di library, saya buat lah kelas origami untuk mereka.

Berhubung saya bukan pembuat origami profesional, saya pun membutuhkan mbah google untuk mencari ide. Dengan kata kunci "origami paling mudah se dunia" saya pun mendapat beberapa ide :)

Tapi ternyata, se....gampang-gampangnya melipat kertas, ada aja yang nggak bisa. Mereka pun lantas menyodorkan kertas mereka untuk saya lipat. Biar awalnya sudah diwanti-wanti kalau mereka harus lipat sendiri, tetap aja mereka minta dilipatin.

Origami

Nah, iseng-iseng saya pun membuat beberapa origami dan saya tempel di monitor komputer. Saya pilih bentuk yang lucu dan ternyata, origami-origami unyu itu langsung nge-hits!! Mereka menarik perhatian siswa yang nggak pernah ikutan kelas origami, termasuk siswa kelas 3 ke atas yang main ke library saat jam istirahat.

Walhasil mereka pun merubung di meja saya setiap jam istirahat. Saya pilih yang untuk kelas kecil, benda yang paling mudah se dunia tadi. Kalau untuk siswa kelas 1 & 2, yang paling simpel: love & karakter Line. Kalau untuk yang sudah kelas 3 ke atas, boleh lah diajarkan membuat ribbon & canoe.

Di rumah saya juga mengajak anak saya untuk belajar origami. Waduuh, saking kelamaannya nggak lipat-lipat kertas, tangan mereka pada kaku! Ayo lemesiinnn... Lipat! Lipat! Lipat!

Tuesday, December 02, 2014

Lakon Librarian: Most Important People in School

Suatu hari, saya didatangi siswa kelas 1 yang akan mewawancarai saya mengenai pekerjaan dalam rangka tugas pelajaran social study. Judul tugasnya adalah Most Important People in School. Masing-masing anak mendapat tugas mewawancarai beberapa orang karyawan sekolah. Nah, ada yang kebagian ke library. Maka datanglah mereka untuk mewawancarai librarian sekolah.

[caption id="attachment_1205" align="alignleft" width="300"]Extra! Extra! Read More about Ms. Sylvia Extra! Extra! Read More about Ms. Sylvia[/caption]

Mereka dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari 2 orang. Langsung saya arahkan ke kantor saya, yakni karpet merah yang terbentang di reading corner. Sambil duduk lesehan, mereka mulai menanyai saya mulai dari "Where do you work?" yang saya jawab, "Where do you think?" dan sambil senyum mereka bilang, "Library." Okesip.

Pertanyaan dilanjutkan dengan apakah saya suka dengan pekerjaan saya, sebutkan alasannya. Trus bagaimana bisa menjadi librarian yang baik? Apa bagian terbaik dari pekerjaan saya? Buku favorit, dan lainnya. Terakhir, mereka harus mengisi kotak kosong yang ada dalam lembar tugas mereka untuk menggambar orang yang mereka wawancara. Dan dengan imajinasi seluas samudra, mereka menggambar saya. Hmm.. Dari mana mereka dapet ide rambut panjang dikuncir dua itu ya? Apa emang keliatan? *megang2 kuncir*

Ada satu kelompok yang menyusun hasil wawancara dengan sangat bagus, menyusunnya menjadi sebuah tulisan yang cukup rapi untuk anak kelas 1 sd. Ah, saya jadi tersanjung bacanya, meski pun yang diwawancara tidak hanya saya, dan pasti hasilnya juga sama, secara pertanyaannya juga sama. But still..

[caption id="attachment_1201" align="aligncenter" width="270"]All about Ms. Sylvia All about Ms. Sylvia[/caption]

Thursday, November 27, 2014

Lakon Librarian: Library display, part 4

Star
Untuk menyiasati display yang membosankan, saya mengganti display Favorite Book dengan display lain. Kali ini saya membuat display Library Star. Apa tuh Library Star? Ditempel-tempelin gambar bintang sepanjang tembok, gitu?

Nope. Library Star adalah penampilan profile pengunjung library yang menjadi 'bintang' di bulan ini karena peminjamannya yang banyak dan kerajinannya membaca buku.

Kuisioner
Pertama-tama, saya menyiapkan kuisioner untuk diisi oleh siswa yang terpilih. Awalnya sih malu-malu gitu anaknya. Tapi namanya juga bakal dipajang, pada akhirnya mereka mau bekerja sama.

Lalu setelah kuisioner diisi, saya ambil fotonya. *cekrek!*

Nah, langkah selanjutnya adalah membuat sebuah tulisan yang menarik berdasarkan kuisioner. Beberapa tulisan saya ganti font-nya, dan beri ukuran besar. Untuk beberapa benda juga saya carikan gambarnya di internet.

Setelah itu, print di atas kertas warna. Sebenarnya yang bagus itu kalau di-print pakai tinta warna, supaya foto dan gambar-gambarnya bisa terlihat menonjol. Tapi untuk display irit, tinta hitam saja tidak masalah.

Lalu untuk sentuhan terakhir, buat bintang-bintang sebagai tambahan hiasan.

Library Star Display

Nah, beginilah jadinya kalau sudah jadi. Semoga bermanfaat :)

Sunday, November 23, 2014

Lakon Librarian: Si Pendiam Di Library

Girl reading
Selain sebagai tempat menyimpan banyak informasi, perpustakaan yang memiliki banyak fungsi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, juga memiliki fungsi lain, yakni sarana rekreasi, di mana pengunjung dapat bersantai dan menikmati membaca buku atau koleksi lain seperti majalah dan koran.

Di dua tempat di mana saya bekerja, library juga berfungsi sebagai tempat pelarian para siswa introvert. Mereka bisa jadi terlalu malu untuk berteman (biasanya anak kelas 1 atau anak baru), atau bisa jadi karena malas bergaul (lebih suka membaca buku).

Ada seorang anak gadis yang saya kenal saat pertama kali bekerja di Mentari School. Anak ini baru kelas 1, dan sangat pendiam. Saat teman-teman lainnya berlarian dan bermain bersama teman-teman baru mereka, gadis ini hanya berdiri diam dan memandang temannya dari jauh.

pic from: angryallyforever.blogspot.com
Saya perhatikan tak ada yang mengajaknya bermain. Mungkin karena masih baru lulus dari TK, mereka belum memedulikan hal tersebut.  Jadilah anak itu makin pendiam.

Suatu pagi, saat saya baru sampai sekolah, dia sudah ada di koridor depan kelasnya yang masih terkunci. Saya sapa dia hanya dengan, "good morning." Karena saat itu saya belum tahu namanya.

Saat library time, siswa datang untuk meminjam buku dengan guru mereka dan saya baru tahu nama gadis itu. Saya sapa dia dengan menyebut namanya saat hendak meminjam buku.

Tahun-tahun pertama di sekolah, dia lebih sering terlihat sendiri. Dan saya tak pernah absen menyapanya, meski pun kadang dia terlalu malu untuk menyahut.

Sejak saya sering menyapanya, dia mulai masuk ke library saat jam istirahat. Meski pun dia diam saja sambil membaca buku, saya hampiri dia dan menanyakan sedang baca buku apa. Dengan suara pelan dia akan jawab. Lumayan, ada kemajuan :)

Sekarang dia sudah di kelas 4. Pembawaannya tentu sudah jauuhh berbeda. Sekarang dia anak yang riang dan banyak temannya. Dan yang paling bikin saya senang adalah, dia yang terlebih dahulu menyapa saya, sebelum saya menyapanya.

Begitu buka pintu library, dia akan langsung berteriak, "hai Miss!"

Happy? Of course! :)

Tuesday, October 07, 2014

Lakon Librarian: Main ke Library

Untuk pertama kalinya sejak cuti melahirkan, saya menginjakkan kaki di library tempat saya bekerja. Selain tujuannya mau lihat hasil kerja asisten yang saya tinggalin to-do list selama saya cuti dan ingin kenalan sama substitute saya, saya juga ingin membawa Baby Arham ke tempat yang penuh buku. Saya ingin dia mengenal buku sejak kecil dan menyukainya.

image
Singkat cerita, sampailah kami ke sekolah. Karena minggu ini sedang libur, (saya memang sengaja memilih hari libur) maka sekolah pun sepi. Hanya beberapa orang yang bekerja di kantor, satpan, OB, dan tentu saja staf library. Kenapa library harus buka selama libur padahal pengguna perpus gak ada? Saya masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan hati. Pokoknya begitu!

Nah, begitu turun dari gendongan dan duduk di singgasananya, Arham langsung menatap ke arah display Dr.Seuss. Mungkin karena warna-warni yang menarik perhatiannya. Cukup lama Arham menatap ke display untuk kemudian perhatiannya kembali beralih ke ayahnya yang mengajaknya ngobrol.

image
Lalu saya mengambilkan buku untuknya. Dan matanya langsung mengarah ke buku. Yeaayy.. Meski pun dia masih belum mengerti, namun terlihat serius melihat ke gambarnya. Apakah Arham akan menjadi book lover? Masih terlalu dini untuk dikatakan, tapi saya akan terus mengenalkannya pada dunia buku. Dunia yang penuh imajinasi :-)

One of my dreams: pengin nerbitin buku cerita anak yang bagus dan penuh gambar. Biar Arham dan anak-anak lain bisa membaca buku anak karya emaknya. Amin.

Monday, November 16, 2009

Perpustakaan: jantung pendidikan, jantung kehidupan

Sylvia L'Namira
Second place in "Share Your Career Story" from
Konsultan Karir

Menjelang lulus SMA saya benar-benar tidak tahu harus memilih jurusan apa nanti saat kuliah. Saya cari-cari informasi dan survey ke beberapa universitas namun tetap juga belum mendapatkan ide mau mengambil jurusan apa. Ketika saya mendatangi kampus UI fakultas sastra, saya langsung jatuh cinta dan berharap agar bisa mendapatkan sebuah kursi untuk menimba ilmu di kampus idaman saya ini. Namun saya masih belum tahu harus mengambil jurusan apa. Bingung dan bingung.

Ayah saya adalah seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Beliau bisa memperkirakan tren karir di masa datang nanti kira-kira seperti apa dan beliau mengusulkan saya untuk mengambil jurusan ilmu perpustakaan. Saya sempat mencemooh dan berkata, “Idih, jurusan apa tuh? Nggak pernah denger dan kedengarannya nggak keren banget. Jurusan lain dong, Sastra Inggris atau Sastra Prancis kek.” Tapi ayah berhasil meyakinkan saya kalau jurussan ilmu perpustakaan bisa mencetak sarjana-sarjana yang ahli di bidang perpustakaan dan di tahun mendatang akan banyak permintaan sarjana jurusan tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti saran ayah dan mengambil jurusan ilmu perpustakaan di UI dan alhamdulillah saya diterima di kampus idaman tersebut. Selama masa sekolah menengah dulu, saya tidak pernah sekalipun berminat masuk ke dalam perpustakaan sekolah. Selain koleksinya kurang menarik dan tempatnya gelap, yang ada hanya buku teks saja. Namun di kampus mau tidak mau saya harus selalu masuk ke dalam perpustakaan. Dan sejak itulah muncul kecintaan terhadap bangunan yang menampung begitu banyak informasi di dalamnya. Saya makin sering pulang sore untuk sekedar nongkrong di perpustakaan kampus untuk membaca majalah, mencari literature, berdiskkusi dengan teman, atau hanya sekedar menyendiri sambil membaca novel.

Suatu hari saya pulang dari kampus dan melewati sebuah sekolah internasional. Dalam hati saya berharap agar bisa bekerja di sana. Dan ternyata Tuhan mengabulkan keinginan saya lagi. Dengan mudahnya begitu saya lulus jadi sarjana, saya mendapatkan informasi kalau sekolah tersebut mencari sarjana perpustakaan, dan saya langsung melamar ke sana. Waktu itu yang dicari hanyalah pekerja temporer, alias kontrak selama 6 bulan saja. Saya tidak peduli, bagi saya bisa bekerja di sekolah tersebut saja sudah merupakan anugerah dan saya bisa melatih kemampuan yang pernah diajarkan di kampus.

Saya bekerja dengan sembilan orang sarjana perpustakaan lain yang berasal dari kampus yang sama, dan rata-rata mereka adalah senior saya. Namun hal itu bukan masalah, dan kami tidak memiliki niat untuk bersaing atau saling menjatuhkan. Justru kami saling berdiskusi jika ada pekerjaan yang sulit, dan itu yang membuat kami bersepuluh terlihat kompak. Tugas kami adalah mengatalog buku-buku koleksi sekolah tersebut yang sudah menumpuk akibat kekurangan staff untuk mengerjakannya. Kami pun mengerjakannya dengan penuh semangat, terutama saya. Maklumlah, saya kan masih baru lulus kuliah, rasanya ilmu yang masih menempel di otak saya sangat bermanfaat di pekerjaan tersebut. Biasanya senior-senior saya yang sudah lama lulus suka lupa dan saya dengan senang hati berbagi ilmu dengan mereka.

Tanpa terasa enam bulan berlalu, dan kami pun harus di evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut, ternyata tujuh orang harus dieliminasi, meninggalkan tiga orang untuk dikirim ke masing-masing cabang sekolah tersebut. Saya termasuk diantara tiga orang tersebut. Ternyata pemilihannya berdasarkan hasil kerja kami yang di review selama enam bulan tersebut. Saya sangat bersyukur karena walaupun masih dalam status kontrak yang diperpanjang di enam bulan ke depan, itu artinya saya memang memiliki kemampuan dalam pekerjaan saya. Itu membuat saya makin termotivasi dan bersemangat untuk mempelajari hal-hal lain, seperti menguasai sistem database perpustakaan, serta melancarkan kemampuan komputer dan bahasa Inggris saya.

Enam bulan berlalu, dan kami bertiga diperpanjang kembali untuk enam bulan kedepan karena ternyata mereka masih membutuhkan tenaga kami. Saya tidak memikirkan apa-apa selain bekerja dengan baik dan menambah ilmu saya. Setelah kurang lebih dua tahun kami bekerja sebagai pegawai kontrakan yang notabene tidak mendapatkan benefit apapun selain gaji, akhirnya posisi kami dievaluasi kembali dan hasilnya adalah sekolah membutuhkan staff khusus untuk mengerjakan yang sedang kami kerjakan ini, dan hasilnya kami bertiga pun diangkat menjadi staff tetap sekolah internasional tersebut.

Saya sangat bersyukur dan makin bersemangat belajar. Karena tidak ada kata ‘terlalu tua’ untuk belajar, bukan? Saya ditempatkan di perpustakaan cabang SMP. Di sana saya memiliki bos yang berasal dari Australia. Bos saya orang yang mempunyai pengharapan tinggi terhadap anak buahnya, dan saya pun bekerja mengikuti standard dia yang tinggi. Di perpustakaan ini saya tidak hanya mengerjakan pekerjaan kataloging, tapi juga membantunya dalam menyiapkan bahan-bahan literatur penelitian anak-anak, juga menyiapkan teknologinya jika bos memerlukan untuk presentasi seperti LCD projector, komputer, yang sebenarnya menjadi tugas bagian tekhnologi. Namun bagi saya itu adalah kesempatan untuk belajar, dan saya pun mengerti cara mengoperasikan LCD projector, smartboard, dan perangkat pendukung lainnya.

Selain itu bos juga mendelegasikan saya untuk mempromosikan buku-buku yang baru datang di perpustakaan untuk menarik minat baca anak-anak. Isi promosi tersebut saya kemas dalam bentuk slide show yang bisa dilihat melalui screen TV dari jendela perpustakaan. Tak sedikit anak-anak yang datang dan meminta ‘buku yang dipajang di screen’ untuk dipinjam. Kemudian bos juga melimpahkan tugas membuat website untuk perpustakaan kepada saya. Meskipun ilmu saya belum sampai dan saya tidak mengerti apa-apa mengenai cara membuat dan mendesign website, saya menyanggupi dengan catatan meminta bos mendaftarkan saya kursus website. Bos pun setuju dan saya didaftarkan untuk mengikuti kursus dalam rangka mendukung pekerjaan tambahan saya tersebut.

Semua yang saya lakukan sekarang sudah melenceng jauh dari job deskripsi awal saya, namun saya tidak merasa rugi mengerjakan itu semua, karena banyak ilmu yang saya timba dari pekerjaan-pekerjaan tambahan tersebut. Setelah sepuluh tahun saya bekerja di sekolah ini, saya kini sudah mendapatkan banyak benefit yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya bekerja di tempat lain, dan itu yang membuat saya bersyukur masih memiliki pekerjaan yang bisa menopang kehidupan saya dan dua anak saya.

Kalau di awal niat saya bekerja adalah untuk mengaplikasikan ilmu, setelah menikah saya tetap bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, serta alasan klise wanita bekerja, yaitu aktualisasi diri. Ya, mungkin karena sejak lulus kuliah saya tidak pernah merasakan menganggur, juga dorongan ibu saya agar saya terus bekerja, maka dalam diri saya terbentuk karakter wanita pekerja.

Namun kini alasan saya bekerja sudah berbeda. Saya sekarang adalah seorang single parent dengan dua anak. Mau tidak mau saya harus bekerja dan mencari nafkah bagi kehidupan kami. Jika datang masanya tidak bersemangat kerja, entah itu karena ada masalah dengan bos, atau masalah dengan pekerjaan yang tidak selesai-selesai, saya akan menatap foto buah hati dan melecut diri saya untuk kembali bangkit dan bersemangat lagi, demi mereka.

Perpustakaan selain sebagai tempat penyimpanan buku, juga gudangnya informasi. Banyak ilmu yang saya dapat selama bekerja di sini. Jika saya ingin mempelajari hal tentang alam semesta, saya bisa membaca di buku sains. Jika ingin mengetahui tentang mendidik anak saya bisa membaca dari buku koleksi parenting. Bahkan jika saya ingin membaca komik atau novel sebagai hiburan saya bisa meminjam dari perpustakaan tempat saya bekerja. Alhamdulillah selama sepuluh tahun bekerja di sini saya tidak merasakan bosan.

Bekerja di perpustakaan tidak seperti yang disangka orang-orang: membosankan, kerjanya ngelap debu buku saja, tidak ada perkembangan apa-apa, dan sebagainya.Tapi itu semua salah. Justru di kantor ini, saya menemukan bakat menulis saya. Saya yang dulu paling membenci pelajaran mengarang, kini malah bisa menulis berkat buku-buku yang menginspirasi saya di perpustakaan ini. Hasilnya, satu novel dan lima buah buku kumpulan cerpen yang saya tulis bersama teman-teman saya berhasil tembus penerbitan dan dijual di toko buku. Bangga rasanya melihat buku dengan nama saya terpajang di toko buku. Ditambah lagi bos saya yang mengetahui bahwa saya telah menerbitkan novel, membanggakan saya di depan kolega-koleganya membuat saya makin percaya diri dan bersemangat untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Saya berharap hal tersebut bisa memberikan motivasi pada anak-anak saya kelak, bahwa dengan bekerja maksimal dan memanfaatkan setiap sumber informasi dengan baik, maka kita semua akan bisa mendapatkan hasil yang baik pula.