Showing posts with label curcol librarian. Show all posts
Showing posts with label curcol librarian. Show all posts

Wednesday, February 14, 2018

Lakon Librarian: Blind Date With a Book


Bulan Februari sudah tiba. Tahu kan apa itu artinya? Semua hal yang berhubungan dengan kasih sayang, cinta, dan romantisme akan banyak ditemukan di bulan ini. Dan sebagai pustakawan, haruslah mengikuti tren yang ada. Caranya? Buat kegiatan di perpustakaan. Meski kegiatan kecil, yang penting tetap berpartisipasi, kan?

Ayo dipili-dipili
Untuk bulan romantis ini, event yang saya buat di library adalah 'Blind Date With a Book.' Sounds promising, right? Saya nemu ide ini ya di Google, makanya rajin-rajinlah berseluncur mencari ide **Psstt.. jangan browsing tokped aja ya, meski itu juga penting untuk batin** :p

Idenya adalah: murid meminjam buku tanpa mengetahui judul yang akan dipinjamnya. Jadi saya membungkus buku-buku tersebut, menempelkan clue mengenai level bacaan, genre, note untuk siapa target pembacanya (boys atau girls) dan terakhir sedikit summary biar mereka gak blank-blank amat.

Boys read, too!
Jam-jam pertama, pengunjung masih sepi. Saya sempat deg-degan karena hingga waktu istirahat pertama baru satu anak yang meminjam. Tapi saya tetap optimis, kalau akan ada peminjam lain, apalagi di pagi hari saya sudah minta ke guru wali kelas untuk mengumumkan ke siswanya bahwa di perpustakaan ada kegiatan.

Lalu datanglah jam istirahat kedua. Siswa kelas 4-6 menyerbu dan habis dalam sekejap!

Persyaratannya sih tidak banyak, mereka hanya harus mengembalikan buku overdue mereka (kalau ada), dan boleh meminjam jika masih dalam batas jumlah peminjaman mereka (di sini mereka hanya boleh pinjam maksimal 2 buku saja - itu pun baliknya susaaaahhh, sering pada telaaattt, malah kadang hilang, hiks!)
Gak sabar, langsung buka!
Dan hari kasih sayang kemarin pun sukses! Saya cukup puas dan berterima kasih kepada para guru yang sudah mengumumkan, dan tentu saja kepada siswa yang selalu aktif berpartisipasi. Hmm.. sediain coklat supermen apa ya buat mereka? **eh tapi ntar batuk deh, gak jadi!**

KEESOKAN HARINYA... (which is hari ini) saya tanya ke beberapa dari mereka yang meminjam buku, apakah mereka suka atau tidak. Dan jawabannya: "I like the book!" *so happy!*


Monday, September 12, 2016

Lakon Librarian: Library Games

img_4225
doc. pribadi

Assalamu'alaikum.

Sejak punya buletin baru *cieeehh* saya jadi suka bereksperimen. Nempel apa ya habis ini? Tema apa ya yang mau dipajang? Biasa deh, masih baluuuu :D

Daaannn.. tibalah saatnya program Language Day, bertepatan dengan diadakannya open house di sekolah (kenapa namanya nggak open school ya?). Saya pun mengadakan library game. Kalau tahun lalu library mengadakan bookmark competition (monggo baca postingannya di SINI) maka tahun ini library bikin games yang beda, yakni Guess Who's Reading?

Apaan tuh? Games macam apa pula itu?

Idenya saya dapat dari mantan atasan saya di kantor yang lama (thank you Ibu Kate!). Saat itu beliau menyuruh saya foto 10 guru, trus dicrop pas mata dan buku aja, trus diprint. Kemudian, anak-anak disuruh nebak siapa sih wajah guru yang ada di balik cover buku.

img_4227
doc. pribadi
Untuk games ini saya modif sedikit, saya pilih 8 guru saja untuk berpartisipasi (karena memang boardnya nggak cukup juga untuk 10 orang, he-he!) dan saya jepretlah mereka (pakai kamera, tentunya!) lalu untuk sedikit memberi tantangan (baca: mempersulit) foto-foto itu saya edit pakai aplikasi prisma yang sekarang lagi nge-hitz banget. Dan hasilnya... mayan keren menurut saya :D

Nih, dia contohnya:

img_4061
doc. pribadi

untitled
Answer form
click to enlarge

Cara ikutannya gampang banget:

  1. Anak-anak mengambil form jawaban di library

  2. Mengisi dengan tepat 8 nama sesuai urutan di foto

  3. Masukkan ke dalam kotak yang disediakan

  4. Boleh mengisi lebih dari 1 kali

  5. Tunggu pengumuman dengan sabar

Anak-anak saya beri waktu 2 minggu untuk menebak dengan tepat, sesuai nomor di foto. Di hari pertama antusias anak-anak begitu tinggi. Bahkan hingga saat ini sudah minggu kedua, mereka pun masih ingin menebak. Seru nyaaa!!

img_4224
doc. pribadi
Saya pikir games ini mudah sekali lho! Masa sih mereka tidak bisa mengenali wajah guru mereka, meski hanya kelihatan matanya? Tapi ternyata lumayan susah juga. Beberapa guru mencoba menebak dan salah! Hehehe saya malah jadi optimis.

Tiga pemenang akan saya pilih sebagai pemenang. Hadiahnya? Ya buku lah! Apalagi? Kebetulan dari book fair tahun lalu masih ada buku yang sengaja saya simpan untuk hadiah. Masih aman, gak perlu ngemis-ngemis hadiah tahun ini, hehehe :D Saya juga akan buatkan bookmark dari tulisan READ yang ada di display library tahun ini buat tambahan. Supaya banyak aja, gituuh! :p

Tahun depan bikin games apa lagi ya? **peres otak** *browsing ide*

Monday, February 22, 2016

Lakon Librarian: (Every) Day Care

Assalamu'alaikum.

Setiap hari, jadwal pulang siswa di sekolah tempat saya bekerja berbeda-beda tiap levelnya. Misalnya untuk kelas 1 & 2, mereka pulang jam 2 siang. Kelas 3 & 4 pulang jam 2.30 siang. Lalu kelas 5 & 6 pulang jam 3 sore. Perbedaan jam pulang ini tujuannya adalah untuk menghindari kemacetan yang ditimbulkan dari banyaknya mobil antar jemput siswa. Meski sekolah kami memiliki lahan parkir yang cukup luas, namun untuk menampung sebanyak itu mobil, tetap saja kurang. Bayangkan saja, 1 murid dijemput 1 mobil.

liza-fathia_com
pic. credit: liza-fathia.com
Siswa yang menunggu kakaknya di kelas atas, otomatis harus duduk di library selama kurang lebih 1/2 - 1 jam (tergantung kakaknya di kelas berapa) hingga bel pulang berbunyi. Di library yang dingin dan nyaman ini mereka boleh bermain berbagai macam permainan yang tersedia. Mulai dari congklak, puzzle, kartu uno, dan ular tangga yang sekarang sudah hilang dadunya. *curcol*

Lalu setelah kakak-kakak mereka pulang, para adik pun akan menunggu bersama mereka di lobby untuk dijemput. Tetapi, biasanya mereka memilih untuk menunggu di library. Kenapa? Karena tentu saja library yang dingin lebih nyaman dibandingkan lobby yang panas. Dan karena mereka belum dijemput.

Beberapa anak bahkan menjadi langganan menunggu di library karena setiap hari mereka dijemputnya telat. Saya kasihan melihat mereka yang setiap hari berangkat pagi (sekolah masuk jam 8) dan pulang ada yang sampai library tutup (jam 4) belum juga dijemput. Kira-kira kenapa ya?

pic credit: www.amazon.com
pic. credit: amazon.com
Ada siswa yang saya tanya, "apa kamu punya adik bayi di rumah?" karena kalau demikian saya bisa maklum lah ya, karena mungkin ibunya mengurus adik bayi dulu. Tetapi jawabnya 'nggak'. Hmm...

Saya tanya juga ke anak yang lain, apakah ibunya kerja? Karena dia bilang yang menjemput pulang adalah ibunya. Dijawab 'tidak' juga. Nah lho!

Mungkin para orang tua itu memiliki kesibukan yang sangat padat (mungkin ya, saya kan nggak tahu) sehingga anaknya dijemput terlambat. Namun, rasanya nggak adil saja anak harus menunggu di sekolah hingga sore, jika ibu mereka tidak punya bayi juga, dan tidak bekerja kantoran juga. Trus?

Apakah mereka nggak kasihan pada anak-anaknya yang sudah lelah seharian belajar di sekolah, ditambah telat jemput pula. Bahkan tidak jarang saya lihat ada anak yang tertidur di lantai koridor sekolah! Pernah juga ada anak yang lelap sekali tidur di library sehingga satpam pun kesulitan membangunkannya saat akhirnya ibunya menjemput.

Can you imagine? Dulu kita sekolah cuma sampai jam 12 lho! Dan itu pun dijemput tepat waktu (well, saya sih pulang jalan kaki, jadi nggak masalah) tapi anak-anak ini? Kenapa nggak disewain ojek aja, atau diikutin ke mobil jemputan sih kalau memang tidak bisa jemput on time? Saya bukan keberatan mereka di library, meski kadang mereka berisik, tetapi sebagai seorang ibu juga, saya lebih ke kasihan ke mereka. Mereka tentu akan lebih suka istirahat di rumah, kan?

Tapi yah, saya mah apalah atuh? Bekerja di sekolah ini juga yang nge-gaji kan para orang tua murid itu. Jadi, apa hak saya mengkritisi mereka? Kalau mereka bilang anaknya tunggu di library, ya tunggulah di library. Kalau mereka bilang anaknya disuruh nginep di library, ya silahkan aja sih, saya mah ogah nemenin :p

nanny

Pada intinya, librarian di sini tidak merangkap sebagai teacher-librarian, melainkan sebagai nanny-librarian :D

Thursday, January 14, 2016

Lakon Librarian: Movie Club

Assalamu'alaikum.

image1Sejak tahun ajaran lalu, saya berniat mengadakan kegiatan nonton film di library selama jam makan siang. Idenya sih setelin film pendek berdurasi maks. 15 menit untuk membuat siswa yang datang ke library setelah makan siang agak tenang. Karena biasanya sehabis makan energi mereka bertambah dan akibatnya di library nggak bisa diam meski sudah di sat-sut berjuta kali.

Awal tahun ajaran ini, saya masih belum nemu ide mau setel film apa. Karena film kan biasanya durasinya 2 jam-an, saya nggak mau harus memotong film untuk dilanjutkan keesokan harinya. Keknya basi aja gitu. Akhirnya di akhir semester 1 saya baru menemukan film apa yang akan saya tayangkan. Yaitu film dongeng animasi yang ceritanya diambil dari buku, berdurasi 13-15 menit. Cucok!

image2Berkat Youtube dan Keepvid saya berhasil menyimpan banyaaakk sekali dongeng animasi yang saya inginkan. Kalau mau tahu film apa, saya mengambil film dari Bedtime Story. Dan saya pun siap! Saya akan namakan Movie Club dan membatasi hanya untuk 20 penonton agar terkesan eksklusif. Tahu sendiri kan, anak-anak bangga kalau bisa menjadi bagian dari sesuatu yang eksklusif.

Saya buat poster untuk menarik perhatian anak-anak dan menempelnya di tembok luar library. Betul saja, baru juga dipasang sudah banyak peminatnya. Mereka ingin membeli tiket! He-he tenang, tiketnya gratis kok, tapi hanya bisa didapat pada hari pemutaran film sebelum snack time. Soalnya kalau dikasih jauh hari, dijamin hilang! Namanya juga bocah :D Dalam hitungan menit, tiket langsung ludes! Senang, tapi kasihan juga melihat kekecewaan yang ada di wajah anak-anak yang tidak kebagian tiket.

image5

Saya baru mengadakan seminggu satu kali di hari Rabu saja, di 15 menit terakhir jam makan siang anak kelas 1&2. Jadinya kalau ingin menonton film dari awal, segeralah menyelesaikan makan dan mengantri di pintu multimedia.

Tepat 11.15 siang, anak-anak yang sudah memegang tiket mengantri dan dengan tertib masuk ke dalam ruangan multimedia. Pssttt, ancemannya: kalau berisik mereka gak boleh nonton dan besok-besok nggak boleh ikut Movie Club. Jleb, kan? ;) Maka mereka pun duduk di bantal yang sudah saya susun rapi dan menonton film berdurasi hampir 13 menit itu tanpa suara. WOW! Ini rekor! Anak kelas 1 & 2 mana bisa diam, ya kan? He-he, ancaman yang ampuh!

Selesai mereka menonton film, mereka bertanya minggu depan masih bisa antri tiket lagi atau tidak? Lalu saya berpikir, kalau minggu depan saya setel film lain (which is itu yang sudah saya jadwalkan) dan anak-anak yang sekarang join Movie Club antre lagi dan nonton lagi, kasihan banget yang menghiba-hiba minta ikut nonton dan tidak kebagian tiket.

image3

Akhirnya saya diskusi dengan beberapa guru, dan memutuskan untuk memutar 1 film selama dua minggu, dan harinya ditambah jadi Selasa dan Rabu. Jadi seminggu ada 2x penayangan film yang sama. Dalam 4x penayangan selama 2 minggu semoga bisa mengakomodir anak-anak yang ingin menonton. Kalau diadakan 3x seminggu takutnya anak-anak kehilangan minat. Kan gak seru kalau Movie Club sepi.

Melihat antusiasme anak-anak (beberapa terlihat dadah-dadah ke temannya yang nggak bisa masuk dengan wajah sumringah) saya optimis program ini bisa dijalankan selama semester dua ini. Semangat!

Monday, February 23, 2015

Lakon Librarian: Fungsi Librarian yang Terkebiri

librarySaya bekerja selama belasan tahun di sekolah pertama sebagai kataloger. Untuk yang belum tahu apa itu kataloger, yaitu orang yang kerjaannya mengatalog buku, alias input data dan mengklasifikasikan buku per-subyek, dan memberi nomor panggil di buku. PLUS, print barcode untuk setiap buku yang ada di library.

Bagitulah kira-kira inti dari pekerjaan saya sebagai kataloger. Meski pun selain hal-hal tersebut, saya juga mengerjakan hal lain seperti promosi buku, dan membantu siswa yang sedang riset dengan menunjukkan literatur yang tepat untuk mereka.

Nah, setelah belasan tahun melakukan hal yang sama, saya merasa sudah waktunya untuk pindah ke sekolah lain, yang mungkin membutuhkan jasa saya sebagai pustakawan. Karena kataloger itu hanyalah satu dari sekian banyak tugas seorang librarian. Saya ingin melakukan tugas lainnya, saya ingin mengembangkan ide saya sebagai seorang pustakawan.

happy-cartoon-librarianMaka pindahlah saya ke sekolah yang baru ini, dan menjabat sebagai librarian, alias... *ehem-ehem* kepala perpustakaan. Yep, saya akan mulai melakukan tugas lain selain mengklasifikasi buku. Dengan penuh semangat saya pelajari psikologis anak di sekolah ini, karena sejak lulus kuliah saya langsung bekerja di sekolah asing, artinya saya banyak menghadapi anak-anak bule. Sekarang, saya akan menghadapi anak-anak Indonesia (yang sangat pandai berbahasa Inggris, tapi tidak bahasa Indonesia *sedih*) yang budaya dan karakternya pasti beda dengan anak bule.

Saya juga mempelajari fungsi librarian di sekolah ini dengan saling bertukar pengalaman dengan librarian di bawah yayasan yang sama. Dan hingga sekarang sudah masuk tahun keempat, kami mengalami perubahan di jajaran pimpinan yayasan, yang mengakibatkan munculnya kebijakan baru. Sayangnya, kebijakan ini mengebiri fungsi librarian.

Jika sebelumnya untuk pembelian buku saya masih bisa meminta ke pihak sekolah, hanya berdasarkan pertimbangan saya untuk memperkaya koleksi perpustakaan, sekarang librarian tidak lagi berhak memilih buku. Yang boleh memilihkan buku untuk perpustakaan adalah koordinator pelajaran English, dan Bahasa Indonesia.

cat1
Add caption
Lalu, kalau sebelumnya untuk mengadakan kegiatan di perpustakaan saya tinggal minta dana untuk membeli hadiah dan langsung dapat karena bukan acara besar, sekarang prosesnya rumit, dan mengakibatkan saya harus merogoh kocek sendiri untuk membeli hadiah kecil-kecilan bagi peserta.

Belum lagi jika tiba-tiba ada rapat orang tua murid, atau rapat apapun yang membutuhkan space luas, mereka akan langsung saja memakai perpustakaan sebagai tempat berkumpul SAMBIL makan-minum PADAHAL di pintu sudah saya tempel sign NO FOOD/DRINK.

Di sinilah kadang saya merasa sedih.

Sudah 2 tahun belakangan ini koleksi tidak diperbaharui. Saya mengakalinya dengan bekerja sama dengan beberapa vendor buku saat book fair, dengan meminta profit sharing pada mereka. Jadi dari hasil penjualan buku mereka di book fair, library mendapat sekian persen yang akan saya ambil dalam bentuk buku. Dan library jadi punya buku baru deeehhh...

library1
Tapi kemenangan kecil itu jadi nggak berarti saat melihat banyaknya buku-buku baru di toko dan membandingkan dengan koleksi perpus yang menyedihkan. Tapi saya mah apa atuh? Cuma seekor librarian yang bekerja untuk orang-orang hebat yang tidak memedulikan library jadi pusat pembelajaran atau tidak. Sedih, kalau librarian dikebiri seperti ini. Bagaimana pendidikan di negara ini bisa maju ya?

Monday, February 09, 2015

Lakon Librarian: Library Origami Club

Library Origami Club
Add caption

Di library, saya mengadakan kelas origami untuk siswa yang menunggu kakaknya yang belum pulang. Oleh karenanya, kelas origami gratis ini diadakan sore hari. Dan pesertanya pun terbatas, karena hanya siswa yang menunggu kakaknya saja yang diperbolehkan masuk ke library. Sementara yang lain harus menunggu dijemput di lobby sekolah.

Belakangan, melihat animo siswa yang cukup tinggi untuk diajari membuat origami, maka saya pun berinisiatif untuk membuat The Exclusive Library Origami Club *tsaaahh!* khusus untuk siswa kelas 1 & 2 saja. Gratis! Diadakan setiap hari Selasa. Jam nya pun dipindah, disesuaikan dengan jam makan siang mereka, yaitu 15 menit sebelum bel masuk kelas.

1st meeting
Add caption

Saya mulai mengumpulkan gambar-gambar origami paling mudah yang bisa saya ajarkan untuk siswa. Tahu sendiri, kan? Kelas 1 & 2 belum bisa melipat dengan baik. Makanya saya pilih yang super-duper-paling-mudah  untuk mereka.

Di pertemuan pertama Library Origami Club, siswa yang hadir lebih dari 20 orang. Lumayan banyak ya? Kami membuat rok. Sengaja saya pilih yang lipatannya paling sederhana. Mereka dengan antusias bertanya minggu depan mau buat apa?

2nd meeting
Add caption

Sejak hari senin satu persatu anggota club yang ke library bertanya besok mau bikin apa. Bolak-balik mereka penasaran, hehehe. Dan pertemuan kedua pun tiba. Yang datang tidak sebanyak pertemuan pertama, tapi tetap seru.

Kali ini kami membuat rumah. Yang ini terbukti tidak mudah ternyata. Sebab untuk membuat atap harus melipat segitiga gitu. Dan mereka kesulitan. Ujung-ujungnya ya saya bantu sih. Tapi itu artinya pertemuan ketiga nanti nggak bisa bikin windmill, sebab lipatannya sama dengan atap rumah.

Hunting origami paling mudah sedunia lagiiii...

Wednesday, January 28, 2015

Lakon Librarian: The 5 Finger Rule

Apa itu The 5 Finger Rule? Adalah aturan dalam menemukan buku yang tepat untuk dibaca.

Itu adalah keterampilan yang dianjurkan untuk diajarkan ke anak-anak agar mereka mampu memilih buku yang tepat untuk mereka. Aturan 5 jari ini tidak hanya berguna di sekolah, namun juga di rumah. Keterampilan dasar ini dapat membantu anak tidak hanya saat mereka ingin meminjam buku di perpustakaan, tetapi juga bagus saat mereka ingin membeli buku di toko buku.

Jika anak sudah terampil memilih buku sendiri, insya Allah ke depannya mereka akan lebih percaya diri memilih buku yang mereka suka. Tapi tetap ya, sebagai orang tua, kita harus rajin mengontrol bacaan anak-anak kita.

5 Finger Rule
5 Finger Rule

The 5 finger rule ini sangat mudah diajarkan. Saya terjemahkan secara bebas di sini:

  1. Choose a book and read the first page or two. (Pilih satu buku dan baca satu atau dua halaman pertama)

  2. Put one finger up for every word you don't know. (Angkat satu jari untuk setiap kata yang sulit)

  3. If five of your fingers go up while reading, choose another book. (Jika lima jarimu terangkat saat membaca, pilih buku yang lain)

  4. If only two or three fingers go up, you've found a just right book. (Jika hanya dua atau tiga jari yang terangkat, kamu telah menemukan buku yang tepat)

Tentu saja rule ini hanya dapat diterapkan untuk anak-anak saja. Sementara untuk orang dewasa, kalau setiap baca buku berbahasa Inggris atau bahasa lain, lalu terbentur kata sulit dan menyerah, kapan bacanyaaaa? :D

~Happy reading!~

Monday, January 26, 2015

Lakon Librarian: Reading level vs Reading interest

booksSemua pasti setuju bahwa buku adalah jendela dunia. Bekerja di dunia buku, membuat saya sedikit banyak mengerti apa jenis bacaan yang disuka anak-anak, terutama pengunjung perpustakaan di mana saya bekerja. Mulai dari siswa kelas 1 yang sudah mencari-cari buku chapter padahal kemampuan baca mereka masih cocok membaca buku bergambar, lalu siswa kelas 6 yang justru ingin meminjam buku bergambar yang diperuntukkan bagi siswa kelas 1.

Setiap hari siswa yang datang akan menanyakan buku yang baru, buku yang bagus, atau buku tentang subyek tertentu. Sayangnya, perpustakaan ini bukan perpustakaan yang sering update koleksi, sehingga sering siswa kecewa saat mencari buku yang ingin mereka baca, namun tidak tersedia. Sedih? Pasti!

Sebagai seorang pustakawan, pastinya saya ingin selalu memberikan bacaan yang terbaik bagi pengunjung. Tidak hanya bacaan untuk pelajaran, melainkan juga bacaan untuk waktu senggang mereka, atau buku cerita. Nah, di sinilah saya berbenturan dengan peraturan yang dibuat sekolah.

kids reading
Add caption
Sekolah menginginkan siswa membaca buku yang sesuai dengan reading level mereka, atau kemampuan membaca. Tetapi masalahnya adalah, buku yang sesuai dengan reading level mereka tidak diperbaharui, mereka pun bosan dan ingin meminjam buku yang berada di atas reading level mereka.

Sementara saya, sebagai pustakawan, membebaskan siswa meminjam buku yang mereka inginkan. Terlepas dari buku itu ada di atas reading level mereka atau tidak, saya lebih memperhatikan reading interest mereka, alias minat baca. Karena menurut saya, minat baca anak-anak Indonesia ini sangat rendah, cenderung mengenaskan. Apalagi tidak ditunjang dengan ketersediaan buku-buku yang menarik bagi mereka. Maka tak heran jika saya sering membiarkan mereka meminjam buku yang lebih menantang kemampuan membaca mereka. As long as mereka memperhatikan 'The 5 Finger Rules.'

five-finger-ruleMemperhatikan kecenderungan anak-anak yang meminjam buku di luar reading level mereka (reading level ditentukan dari test yang diadakan sekolah) saya paham sekali, karena membaca buku kan untuk rekreasi juga, kan? Ya kan? Kita saja orang dewasa suka memilih buku remaja untuk bacaan santai, kaaann? Kenapa anak-anak ini harus dibatasi?

Keinginan membaca yang dibatasi, dikhawatirkan akan membuat minat mereka menurun. Jadi kenapa harus dibatasi? Biarkan saja mereka membaca apa yang mereka suka. Yang penting, selalu dikontrol buku yang mereka baca, jangan ada yang mengandung adegan yang tidak pas untuk usia mereka. Di sinilah pentingnya peranan orang tua.

So, membaca buku itu jangan hanya dibatasi pada level kemampuan baca saja, berikan anak tantangan dengan membiarkannya mencoba membaca buku yang menjadi minat mereka.

Monday, December 08, 2014

Lakon Librarian: Origami

[caption id="attachment_1233" align="alignleft" width="150"]Kucing Origami Kucing[/caption]

Semua pasti sudah tahu dong, kalau origami adalah seni melipat kertas yang berasal dari Jepang. Kegiatan melipat ini sangat bermanfaat bagi perkembangan motorik, oleh karenanya sangat dianjurkan untuk mengajarkan seni melipat pada anak-anak sejak usia dini. Di taman kanak-kanak, siswa diajarkan melipat dan menggunting.

Fyi ya mak, kalau anak pegang gunting di rumah jangan dimarahin. Sediakan saja gunting plastik yang tumpul. Sebab, kemampuan menggunting juga penting. Saya punya teman yang mengguntingnya mencong-mencong karena sejak kecil tidak terbiasa memegang gunting. Ada pula kawan yang lain, kalau menarik garis pasti belok. Padahal sudah pakai penggaris! Itulah pentingnya melatih kemampuan motorik anak sejak kecil.

Beberapa hari belakangan ini, demam origami sedang melanda library. Awalnya sih kelas origami ini diperuntukkan bagi siswa kelas 1 & 2 yang sepulang sekolah harus menunggu kakak-kakaknya di kelas atas, sehingga harus ngetem di library. Karena mereka nggak ada kegiatan positif selain lari-lari di library, saya buat lah kelas origami untuk mereka.

Berhubung saya bukan pembuat origami profesional, saya pun membutuhkan mbah google untuk mencari ide. Dengan kata kunci "origami paling mudah se dunia" saya pun mendapat beberapa ide :)

Tapi ternyata, se....gampang-gampangnya melipat kertas, ada aja yang nggak bisa. Mereka pun lantas menyodorkan kertas mereka untuk saya lipat. Biar awalnya sudah diwanti-wanti kalau mereka harus lipat sendiri, tetap aja mereka minta dilipatin.

Origami

Nah, iseng-iseng saya pun membuat beberapa origami dan saya tempel di monitor komputer. Saya pilih bentuk yang lucu dan ternyata, origami-origami unyu itu langsung nge-hits!! Mereka menarik perhatian siswa yang nggak pernah ikutan kelas origami, termasuk siswa kelas 3 ke atas yang main ke library saat jam istirahat.

Walhasil mereka pun merubung di meja saya setiap jam istirahat. Saya pilih yang untuk kelas kecil, benda yang paling mudah se dunia tadi. Kalau untuk siswa kelas 1 & 2, yang paling simpel: love & karakter Line. Kalau untuk yang sudah kelas 3 ke atas, boleh lah diajarkan membuat ribbon & canoe.

Di rumah saya juga mengajak anak saya untuk belajar origami. Waduuh, saking kelamaannya nggak lipat-lipat kertas, tangan mereka pada kaku! Ayo lemesiinnn... Lipat! Lipat! Lipat!

Tuesday, December 02, 2014

Lakon Librarian: Most Important People in School

Suatu hari, saya didatangi siswa kelas 1 yang akan mewawancarai saya mengenai pekerjaan dalam rangka tugas pelajaran social study. Judul tugasnya adalah Most Important People in School. Masing-masing anak mendapat tugas mewawancarai beberapa orang karyawan sekolah. Nah, ada yang kebagian ke library. Maka datanglah mereka untuk mewawancarai librarian sekolah.

[caption id="attachment_1205" align="alignleft" width="300"]Extra! Extra! Read More about Ms. Sylvia Extra! Extra! Read More about Ms. Sylvia[/caption]

Mereka dibagi menjadi kelompok yang terdiri dari 2 orang. Langsung saya arahkan ke kantor saya, yakni karpet merah yang terbentang di reading corner. Sambil duduk lesehan, mereka mulai menanyai saya mulai dari "Where do you work?" yang saya jawab, "Where do you think?" dan sambil senyum mereka bilang, "Library." Okesip.

Pertanyaan dilanjutkan dengan apakah saya suka dengan pekerjaan saya, sebutkan alasannya. Trus bagaimana bisa menjadi librarian yang baik? Apa bagian terbaik dari pekerjaan saya? Buku favorit, dan lainnya. Terakhir, mereka harus mengisi kotak kosong yang ada dalam lembar tugas mereka untuk menggambar orang yang mereka wawancara. Dan dengan imajinasi seluas samudra, mereka menggambar saya. Hmm.. Dari mana mereka dapet ide rambut panjang dikuncir dua itu ya? Apa emang keliatan? *megang2 kuncir*

Ada satu kelompok yang menyusun hasil wawancara dengan sangat bagus, menyusunnya menjadi sebuah tulisan yang cukup rapi untuk anak kelas 1 sd. Ah, saya jadi tersanjung bacanya, meski pun yang diwawancara tidak hanya saya, dan pasti hasilnya juga sama, secara pertanyaannya juga sama. But still..

[caption id="attachment_1201" align="aligncenter" width="270"]All about Ms. Sylvia All about Ms. Sylvia[/caption]

Thursday, November 27, 2014

Lakon Librarian: Library display, part 4

Star
Untuk menyiasati display yang membosankan, saya mengganti display Favorite Book dengan display lain. Kali ini saya membuat display Library Star. Apa tuh Library Star? Ditempel-tempelin gambar bintang sepanjang tembok, gitu?

Nope. Library Star adalah penampilan profile pengunjung library yang menjadi 'bintang' di bulan ini karena peminjamannya yang banyak dan kerajinannya membaca buku.

Kuisioner
Pertama-tama, saya menyiapkan kuisioner untuk diisi oleh siswa yang terpilih. Awalnya sih malu-malu gitu anaknya. Tapi namanya juga bakal dipajang, pada akhirnya mereka mau bekerja sama.

Lalu setelah kuisioner diisi, saya ambil fotonya. *cekrek!*

Nah, langkah selanjutnya adalah membuat sebuah tulisan yang menarik berdasarkan kuisioner. Beberapa tulisan saya ganti font-nya, dan beri ukuran besar. Untuk beberapa benda juga saya carikan gambarnya di internet.

Setelah itu, print di atas kertas warna. Sebenarnya yang bagus itu kalau di-print pakai tinta warna, supaya foto dan gambar-gambarnya bisa terlihat menonjol. Tapi untuk display irit, tinta hitam saja tidak masalah.

Lalu untuk sentuhan terakhir, buat bintang-bintang sebagai tambahan hiasan.

Library Star Display

Nah, beginilah jadinya kalau sudah jadi. Semoga bermanfaat :)

Sunday, November 23, 2014

Lakon Librarian: Si Pendiam Di Library

Girl reading
Selain sebagai tempat menyimpan banyak informasi, perpustakaan yang memiliki banyak fungsi yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, juga memiliki fungsi lain, yakni sarana rekreasi, di mana pengunjung dapat bersantai dan menikmati membaca buku atau koleksi lain seperti majalah dan koran.

Di dua tempat di mana saya bekerja, library juga berfungsi sebagai tempat pelarian para siswa introvert. Mereka bisa jadi terlalu malu untuk berteman (biasanya anak kelas 1 atau anak baru), atau bisa jadi karena malas bergaul (lebih suka membaca buku).

Ada seorang anak gadis yang saya kenal saat pertama kali bekerja di Mentari School. Anak ini baru kelas 1, dan sangat pendiam. Saat teman-teman lainnya berlarian dan bermain bersama teman-teman baru mereka, gadis ini hanya berdiri diam dan memandang temannya dari jauh.

pic from: angryallyforever.blogspot.com
Saya perhatikan tak ada yang mengajaknya bermain. Mungkin karena masih baru lulus dari TK, mereka belum memedulikan hal tersebut.  Jadilah anak itu makin pendiam.

Suatu pagi, saat saya baru sampai sekolah, dia sudah ada di koridor depan kelasnya yang masih terkunci. Saya sapa dia hanya dengan, "good morning." Karena saat itu saya belum tahu namanya.

Saat library time, siswa datang untuk meminjam buku dengan guru mereka dan saya baru tahu nama gadis itu. Saya sapa dia dengan menyebut namanya saat hendak meminjam buku.

Tahun-tahun pertama di sekolah, dia lebih sering terlihat sendiri. Dan saya tak pernah absen menyapanya, meski pun kadang dia terlalu malu untuk menyahut.

Sejak saya sering menyapanya, dia mulai masuk ke library saat jam istirahat. Meski pun dia diam saja sambil membaca buku, saya hampiri dia dan menanyakan sedang baca buku apa. Dengan suara pelan dia akan jawab. Lumayan, ada kemajuan :)

Sekarang dia sudah di kelas 4. Pembawaannya tentu sudah jauuhh berbeda. Sekarang dia anak yang riang dan banyak temannya. Dan yang paling bikin saya senang adalah, dia yang terlebih dahulu menyapa saya, sebelum saya menyapanya.

Begitu buka pintu library, dia akan langsung berteriak, "hai Miss!"

Happy? Of course! :)

Tuesday, November 18, 2014

Lakon Librarian: Storytelling (The Giving Tree)

The Giving Tree
Hari ini saya kembali mengadakan storytelling sebelum anak-anak meminjam buku. Kali ini buku yang dibacakan adalah The Giving Tree, yang ditulis oleh Shel Silverstein, karena mereka datang bersama kelas English.

Seperti kita semua tahu, karya-karya Pak Silverstein ini selalu sanggup memukau anak-anak, tak terkecuali siswa kelas 1 & 2 yang saya bacakan buku ini.

Kisahnya sendiri bisa dibaca di review saya di Goodreads atau di Sini.

Anyway, kelas pertama datang. Mereka kelas 1. Sebelum mulai membacakan, saya meminta siswa untuk duduk yang tenang. Beberapa dari mereka ada yang sudah membacanya, tetapi tidak masalah karena banyak yang belum membaca buku ini.

Suara yang saya gunakan agak pelan, biar dapet 'feel'nya, secara kisahnya cukup sedih. Awalnya mereka menganggap enteng karena tulisannya singkat-singkat dan banyak gambarnya. Beberapa berkata 'it's easy!' karena mungkin mereka pikir bisa baca sendiri.

Lalu di halaman belakang, tulisannya mulai banyak dan ceritanya juga sudah mulai mendalam. Di sini nih mereka mulai terlihat serius mendengarkan. Saya masih pakai suara pelan agar lebih 'nendang'. Bacanya juga dikasih jeda buat efek. :)

the givitree

Selesai membacakan buku tersebut, mereka menghela napas. Dan ketika saya tanyakan pendapat mereka, mereka bilang "aw.. it's so sad." Saya tawarkan lah mereka untuk menonton versi filmnya. Karena filmnya tanpa kata dan berlangsung agak lama, yaitu sekitar 18 menit, saya minta mereka berjanji untuk duduk diam hingga film selesai.

Link film bisa di klik di sini. Spoiler: jangan bingung lihat jenis pohonnya yaa.

Setelah film selesai diputar, mereka berkomentar yang sama, dan ada dua siswa terlihat menunduk. Ternyata mereka menangis! Waduh... sempat panik karena pas didekati tangisnya malah makin menjadi. Dipeluk malah nambah heboh. Gelagapan, saya kembalikanlah ke guru mereka masing-masing. Duh, duuhhh..

Saya sempat bimbang untuk memperlihatkannya pada kelas kedua. Tapi karena penasaran sama reaksi mereka, saya lakukan yang sama di kelas kedua ini. Mereka kelas 2, saya pikir karena sudah agak besar, pasti jaim dong? Tapi ternyata hasilnya? SAMA! Ada yang nangis juga. Wataaawww... Apa salah pilih cerita ya?

Nah, yang di kelas ketiga reaksinya malah beda. Mereka ini kelas 1. Nggak nangis sih, cuma bilang "it's so sad, miss." Lalu pas saya ledekin, "So Why didn't you cry?"

Jawabnya: "I'm crying in my heart."

Yeah, right :D

Dan ketika kelas terakhir ini siap untuk pelajaran selanjutnya, menurut pengakuan sang guru ke saya, di kelas mereka malah bertanya, "is it library time?"

"No, you already have library time before."

"It's because we like library time!"

Yeayyy!!! Senangnya hatiku mendengarnya, bocah... Y'all make my day :)

Sunday, November 16, 2014

Lakon Librarian: Library Display, part 3

Review Leaf
Di kotak penyimpanan bahan display, saya punya banyak daun-daun Maple berwarna-warni. Dulu, daun Maple ini mau saya buat pohon di reading corner, tapi nggak jadi karena susah juga ya bikin pohon. He-he. Akhirnya saya buat display Lorax dan daun maple yang sudah terlanjur saya buat, saya gunakan untuk bikin bulet-bulet di atas lorax itu. (postingnya bisa dilihat di sini)

Nah, ternyata masih sisa banyak daunnya. Puter-puter ide, akhirnya daun-daun itu saya  manfaatin buat ngisi kekosongan jendela library. Tau sendiri lah, perpustakaan sekolah Mentari ini banyak jendela kosongnya. (Ide Library Wordle untuk jendela kosong nan lebar bisa dilihat di sini) Untuk menyiasati agar tidak terlalu melompong, saya minta anak-anak untuk menuliskan review singkat buku favorit mereka.

Satu persatu daun saya bagikan ke siswa yang datang ke library. Dan akhirnya terkumpul banyak deh, mayan buat menghias dua jendela kosong.

Ta-da!! Display buku favorit pun jadi, dan siswa makin semangat baca supaya bisa dipajang reviewnya di jendela library.

20141114_093400


Tips:

  1. Untuk kesegaran isi review, bisa diganti tiap seminggu sekali

  2. Bentuk daun bisa diganti dengan model lain agar tidak disangka itu review lama. Atau bentuk buah (apel/tomat) juga lucu :)

  3. Jika tidak punya kertas warna-warni, bisa di kertas putih dan siapkan pensil warna atau krayon untuk mereka warnai sendiri

Selamat mencoba!

Thursday, November 13, 2014

Lakon Librarian: Library Display, part 2

Perpustakaan sekolah layaknya menjadi tempat yang menyenangkan untuk siswa berkumpul. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membuat perpustakaan banyak dikunjungi siswa adalah dengan membuat hiasan atau display yang menarik.

Jendela kosong
Jendela Kosong

Bagi perpustakaan yang dikelilingi jendela kaca seperti perpustakaan di tempat saya bekerja, menghias agak sedikit sulit. Kalau dibiarkan kosong, kesannya akuarium banget. *emang ekeh ikan, je??*

Oleh karena itu, butuh browsing sesering mungkin untuk menjaring ide sebanyak-banyaknya. *ah, alesan! Bilang aja suka browsing* hehehe.. Tapi browsing untuk sesuatu yang bermanfaat rapopo, toh?

Walhasil, saya mendapat ide untuk membuat library wordle. Cara membuatnya sangat mudah. Hanya membutuhkan kesabaran dalam mencari kata-kata yang sesuai dengan library. Setelah dapat kata-kata yang menggambarkan perpustakaan, lalu ikuti langkah-langkah di bawah ini:

Library Words
Library Words

1. Buka Microsoft Publisher, pilih Banner ukuran short (60 x 8.5"). Ukuran ini kalau diprint bisa dpt 6 HVS. Jadi kalau mau buat yang kecil, dipasin aja ukurannya jadi 1 atau 2 HVS.

2. Ketik menggunakan WordArt. Pilih yang model paling simple, yaitu hanya yang bergaris luar saja. Sebab kita akan menggunakan kertas yang sudah berwarna. Pilih satu font untuk semua kata-kata supaya seragam. Saya pakai font Cooper Black. Dan pilih line/border style untuk ketebalan garis huruf. Saya pilih 3pt.

3. Sesuaikan ukuran kata-kata tersebut di Publisher. Buat ada yang besar, ada yang kecil. Rajin-rajin buka print preview untuk lihat hasil print outnya.

4. Siapkan kertas HVS warna-warni agar lebih irit. Karena menggunakan tinta warna terlalu mahal, ya kan?

5. Print di atas kertas tersebut.

6. Gunting tiap kata dengan dilebihkan sedikit di luar garis agar ada aksennya.

7. Laminating.

8. Tempel deh! Usahakan hanya dua arah saja ya: horizontal dan vertikal. Jangan diagonal, ntar yang baca pusing :)

Gampang, kan? Ini dia hasilnya! Setelah ditempel kata-kata, libraryku tak tampak seperti akuarium lagi, kan? ;)

20141114_093420
Library Wordle Display

Tuesday, November 11, 2014

Lakon Librarian: Storytelling (Bonbon si Hidung Tomat)

[IMG-20141110-WA0010
Di sekolah ini, saya mengajarkan kelas perpustakaan untuk siswa kelas 1 - 6. Di kelas tersebut saya mengajarkan berbagai hal tentang perpustakaan. Mengenai kelas ini akan saya tuliskan di postingan lain. Saat ini saya ingin berbagi tentang story telling.

Storytelling saya bacakan hanya untuk siswa kelas 1 & 2, saat mereka datang untuk kelas perpustakaan, atau saat akan meminjam buku. Cerita yang saya bacakan untuk mereka berganti-ganti tiap minggunya sesuai dengan bersama kelas mana mereka datang. Misal, minggu pertama mereka datang saat pelajaran English, saya akan membacakan cerita in English.

Nah, minggu ini kebetulan jadwal datang saat pelajaran bahasa Indonesia. Maka saya pun membacakan buku cerita berbahasa Indonesia. Buku yang saya pilih adalah Bonbon si Hidung Tomat, yang ditulis oleh kawan saya Lia Herliana.

Buku ini langsung menarik perhatian siswa kelas 1 karena gambarnya yang lucu. Apalagi saat saya bacakan saat ketua Badut memberi Bonbon hidung merah, dan betapa Bonbon sedih lalu memencet hidungnya. Ketika saya mengucap "Nit Not! Nit Not!" Mereka tertawa.

Sesi tanya jawab
Lalu pertanyaan lucu mulai bermunculan.

"Miss, itu hidungnya kan nggak bisa lepas. Dia bisa napas, nggak?"

"Miss, itu hidungnya kok bisa bunyi?"

Hehehe... namanya juga anak-anak ya, dijawab aja deh sebisanya. Yang repot kalau mereka masing-masing udah mulai cerita pengalaman ketemu badut. Bisa habis satu jam pelajaran buat dengerin kisah mereka semua :) Selesai dibacakan dua cerita (sengaja biar mereka penasaran) betul saja dugaan saya, mereka meminjam untuk membaca sendiri cerita yang lainnya.

Baca Bonbon barengKegiatan storytelling ini memang dirutinkan, dengan tujuan siswa mendapat pengalaman dibacakan buku dari berbagai jenis cerita. Jika ada siswa yang tidak pernah dibacakan cerita di rumah, paling tidak pengalaman itu dirasakannya saat bersekolah di sini.

Bukankah setiap anak memiliki hak untuk menjalani masa kecilnya dengan penuh imajinasi?

Tuesday, October 28, 2014

Lakon Librarian: Pustakawan di Era Digital

MISB Library Multimedia Room
Pustakawan di jaman dulu tentu saja berbeda dengan pustakawan di era digital sekarang ini. Banyak perubahan yang terjadi seiring perkembangan teknologi di Indonesia. Contoh sederhana: pembuatan kartu katalog. Kalau dulu untuk membuat katalog memerlukan mesin ketik dengan kartu katalog yang di akses secara manual, kini untuk input data katalog buku pustakawan dapat melakukannya dengan data base yang menampung semua data perpustakaan. Mulai dari data buku, data anggota perpustakaan, data statistik peminjaman buku, dan lain-lain.

Pustakawan jaman dahulu memiliki tugas yang terbatas pada mengumpulkan dan meminjamkan pada pengguna perpustakaan. Pekerjaannya seputar buku dan koleksi perpustakaan. Kini, tugas seorang pustakawan sudah berkembang, mulai dari pembelian, pendataan, promosi, dan sebagainya.

Menonton Film saat Library Class
Tidak hanya terpaku pada pendistribusian koleksi perpustakaan, pustakawan sekolah kini dituntut untuk dapat mengajarkan segala hal tentang perpustakaan. Bukan untuk mencetak siswa yang akan menjadi pustakawan, melainkan untuk mengenalkan perpustakaan agar nantinya siswa mahir dalam menemukan informasi di perpustakaan, yang pastinya akan sangat membantu dalam proses belajar mereka mulai dari jenjang sekolah dasar hingga ke universitas.

Di sekolah Mentari, untuk pengajaran library class, saya lebih banyak menggunakan materi pengajaran yang mengandalkan audio visual. Karena setelah saya amati, mengajarkan siswa dengan hanya berbicara dan membagikan lembar kerja hanya dapat menarik minat dan menjaga daya konsentrasi mereka dalam waktu paling lama sepuluh menit. Selebihnya mereka akan merasa bosan. Apalagi jika lembar kerja yang dibagikan sudah selesai mereka kerjakan. Oleh karena itu saya selalu menggunakan sarana proyektor (infokus) dan laptop. Untuk materi pengajarannya, saya dapatkan melalui sumber-sumber informasi yang saya manfaatkan secara gratis.

youtube-logoYouTube.

Saya mengumpulkan video yang berhubungan dengan pengajaran perpustakaan dari YouTube. Tak hanya video pengajaran, saya pun mencari film pendek, lagu-lagu, atau apa pun tentang perpustakaan yang sesuai dengan tema yang akan saya ajarkan.

TubeMate/YouTube Downloader.

Untuk mengunduh video yang saya temukan, aplikasi TubeMate/YouTube Downloader sangat membantu saya. Dengan sekali klik saja, video tersimpan dengan rapi dalam laptop dan siap untuk dimainkan atau dimasukkan ke dalam presentasi.

google_200x200Google.

Search engine yang satu ini sangat membantu dalam mencari berbagai informasi, termasuk materi pengajaran. Selain dari buku materi pengajaran perpustakaan, saya juga menambah sumber dari materi yang dibagikan pustakawan lain. Dengan modifikasi dan penambahan yang menyesuaikan situasi sekolah, siswa akan belajar hal baru setiap harinya.

Selain untuk mencari materi kelas, saya pun menggunakan Google untuk mencari ide display perpustakaan. Berbeda dengan perpustakaan jaman saya masih sekolah dulu yang hanya tembok dipenuhi poster pahlawan, kini tampilan perpustakaan harus lebih meriah dengan tujuan menarik siswa untuk datang dan berlama-lama di perpustakaan.

Prezi_LogoPrezi.

Untuk mengajar, dulu saya menggunakan PowerPoint. Namun sejak menemukan Prezi, saya dapat membuat presentasi yang interaktif dan menarik. Tidak hanya di kelas, saya pun menggunakan Prezi saat orientasi perpustakaan untuk guru-guru di awal tahun ajaran. Dengan background yang menarik yang dapat dipilih, saya semakin percaya diri mempromosikan perpustakaan dengan Prezi.

Library Orientation using Prezi


si8wcV053QI5Th_HMffHxTOH9qTB-tEot7FfQSgDOwOXT_Vk2gc2fyCyonfigWzRN88=w300Edmodo.

Ini adalah website yang diperuntukkan bagi para pengajar. Tampilannya mirip Facebook. Guru dapat mengirimkan pesan untuk seluruh siswa di kelasnya, mengirim tugas, atau memposting kuis melalui Edmodo. Sebagai pustakawan, saya menggunakan Edmodo untuk mempromosikan perpustakaan dengan memuat resensi buku koleksi perpustakaan dan mengajak siswa untuk menuliskan pula resensi dari buku yang mereka baca.

Mail_Chimp-672x200MailChimp.

Ini adalah aplikasi yang saya gunakan untuk mempromosikan perpustakaan melalui newsletter yang dapat dikirimkan melalui surat elektronik. MailChimp sangat mudah digunakan, berisi berbagai macam template yang dapat dipilih, dan untuk pengirimannya pun dapat disesuaikan. Misalnya hanya untuk guru, untuk siswa, untuk orang tua siswa, dan lainnya. Dengan membuat newsletter secara rutin, komunitas sekolah dapat mengetahui koleksi terbaru, kegiatan yang diadakan, serta perkembangan lainnya yang terjadi pada perpustakaan sekolah mereka.

ht_twitter_logo_jef_120321_wblogTwitter.

Media sosial yang satu ini memang banyak diminati. Jangan menganggap Twitter negatif sebelum merasakan manfaatnya yang positif. Saya membuat akun twitter atas nama perpustakaan sekolah tempat saya bekerja, dengan tujuan berbagi informasi tentang dunia perpustakaan dan dunia buku secara umum. Jadwal library class juga saya umumkan di twitter sebagai pengingat para follower yang terdiri dari guru dan siswa.

Gadget.

Perkembangan teknologi juga mengubah tren bercerita. Kalau dulu kegiatan story telling menggunakan buku-buku, kini dapat dikombinasikan dengan penggunaan tablet. Gambar-gambar tambahan yang tidak ada dalam buku dapat ditunjukkan dengan tablet.

Tablet juga saya gunakan untuk mengunduh aplikasi origami yang kegiatannya saya adakan seminggu sekali. Karena saya bukan pembuat origami yang ahli, saya membutuhkan bantuan ide dan langkah-langkah dalam pembuatannya.

Story-tell menggunakan tablet

Dengan begitu banyak sumber dan cara untuk mengajar, pustakawan janganlah membatasi diri dengan pekerjaan yang hanya berhubungan dengan pendataan buku dan pelayanan peminjaman. Cakupan tugas pustakawan otomatis berkembang seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi di Indonesia. Masih banyak sumber-sumber yang dapat digunakan dalam pengajaran materi perpustakaan. Pustakawan dapat menggali lebih banyak lagi demi kemajuan diri dan perpustakaan yang dipimpinnya.

***

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba 'Guru Blogger Inspiratif 2014' yang diadakan oleh IndiTIK.