Tuesday, March 09, 2010

As If Being 12 3/4 Isn't Bad Enough, My Mother Is Running for President! -- Donna Gephart

by



Wednesday, March 03, 2010

The Last Book in the Universe -- Rodman Philbrick

by




Sunday, February 28, 2010

Along for the Ride -- Sarah Dessen

by



Monday, February 22, 2010

SKULLS -- Noah Scalin

by



Thursday, February 04, 2010

Just One Wish -- Janette Rallison

by




Sunday, January 31, 2010

Dead Girls Don't Write Letters -- Gail Giles

by



Thursday, January 28, 2010

Notes from the Dog -- Gary Paulsen

by



Tuesday, January 12, 2010

The Day I Swapped My Dad for Two Goldfish -- Neil Gaiman

by

My rating: 4 of 5 stars

Bwahaha!! The very idea! Swap your father for two goldfish and a bowl :D

Suatu hari seorang anak dan adiknya sedang main di kebun ketika temannya datang membawa dua ikan mas dalam akuarium berbentuk mangkuk. Nathan, temannya tersebut, bersedia menukar ikan-ikannya dengan sesuatu. Tapi karena anak itu nggak punya tukeran yang Nathan mau, akhirnya ditukarlah dengan ayahnya yang sedang asik membaca koran.

Ketika ibunya pulang, sang adik memberitahu ibunya bahwa ayahnya udah dituker dua ikan mas. Ibu marah dan menyuruh anak itu (dan adiknya ikut serta) menukar kembali ikannya dan membawa pulang ayahnya kembali. Tapi ternyata, penukaran kembali itu tidak semulus yang dibayangkan. Mereka harus melacak lokasi ayah mereka yang ternyata sudah beberapa kali ditukar oleh beberapa anak.

Idenya orisinil banget! And I love it :)

Sunday, December 13, 2009

Twenties Girl -- Sophie Kinsella


Twenties Girl by



Tuesday, November 17, 2009

Diary of a Wimpy Kid - Jeff Kinney

by



Monday, November 16, 2009

Perpustakaan: jantung pendidikan, jantung kehidupan

Sylvia L'Namira
Second place in "Share Your Career Story" from
Konsultan Karir

Menjelang lulus SMA saya benar-benar tidak tahu harus memilih jurusan apa nanti saat kuliah. Saya cari-cari informasi dan survey ke beberapa universitas namun tetap juga belum mendapatkan ide mau mengambil jurusan apa. Ketika saya mendatangi kampus UI fakultas sastra, saya langsung jatuh cinta dan berharap agar bisa mendapatkan sebuah kursi untuk menimba ilmu di kampus idaman saya ini. Namun saya masih belum tahu harus mengambil jurusan apa. Bingung dan bingung.

Ayah saya adalah seorang yang berkecimpung di dunia pendidikan. Beliau bisa memperkirakan tren karir di masa datang nanti kira-kira seperti apa dan beliau mengusulkan saya untuk mengambil jurusan ilmu perpustakaan. Saya sempat mencemooh dan berkata, “Idih, jurusan apa tuh? Nggak pernah denger dan kedengarannya nggak keren banget. Jurusan lain dong, Sastra Inggris atau Sastra Prancis kek.” Tapi ayah berhasil meyakinkan saya kalau jurussan ilmu perpustakaan bisa mencetak sarjana-sarjana yang ahli di bidang perpustakaan dan di tahun mendatang akan banyak permintaan sarjana jurusan tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengikuti saran ayah dan mengambil jurusan ilmu perpustakaan di UI dan alhamdulillah saya diterima di kampus idaman tersebut. Selama masa sekolah menengah dulu, saya tidak pernah sekalipun berminat masuk ke dalam perpustakaan sekolah. Selain koleksinya kurang menarik dan tempatnya gelap, yang ada hanya buku teks saja. Namun di kampus mau tidak mau saya harus selalu masuk ke dalam perpustakaan. Dan sejak itulah muncul kecintaan terhadap bangunan yang menampung begitu banyak informasi di dalamnya. Saya makin sering pulang sore untuk sekedar nongkrong di perpustakaan kampus untuk membaca majalah, mencari literature, berdiskkusi dengan teman, atau hanya sekedar menyendiri sambil membaca novel.

Suatu hari saya pulang dari kampus dan melewati sebuah sekolah internasional. Dalam hati saya berharap agar bisa bekerja di sana. Dan ternyata Tuhan mengabulkan keinginan saya lagi. Dengan mudahnya begitu saya lulus jadi sarjana, saya mendapatkan informasi kalau sekolah tersebut mencari sarjana perpustakaan, dan saya langsung melamar ke sana. Waktu itu yang dicari hanyalah pekerja temporer, alias kontrak selama 6 bulan saja. Saya tidak peduli, bagi saya bisa bekerja di sekolah tersebut saja sudah merupakan anugerah dan saya bisa melatih kemampuan yang pernah diajarkan di kampus.

Saya bekerja dengan sembilan orang sarjana perpustakaan lain yang berasal dari kampus yang sama, dan rata-rata mereka adalah senior saya. Namun hal itu bukan masalah, dan kami tidak memiliki niat untuk bersaing atau saling menjatuhkan. Justru kami saling berdiskusi jika ada pekerjaan yang sulit, dan itu yang membuat kami bersepuluh terlihat kompak. Tugas kami adalah mengatalog buku-buku koleksi sekolah tersebut yang sudah menumpuk akibat kekurangan staff untuk mengerjakannya. Kami pun mengerjakannya dengan penuh semangat, terutama saya. Maklumlah, saya kan masih baru lulus kuliah, rasanya ilmu yang masih menempel di otak saya sangat bermanfaat di pekerjaan tersebut. Biasanya senior-senior saya yang sudah lama lulus suka lupa dan saya dengan senang hati berbagi ilmu dengan mereka.

Tanpa terasa enam bulan berlalu, dan kami pun harus di evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut, ternyata tujuh orang harus dieliminasi, meninggalkan tiga orang untuk dikirim ke masing-masing cabang sekolah tersebut. Saya termasuk diantara tiga orang tersebut. Ternyata pemilihannya berdasarkan hasil kerja kami yang di review selama enam bulan tersebut. Saya sangat bersyukur karena walaupun masih dalam status kontrak yang diperpanjang di enam bulan ke depan, itu artinya saya memang memiliki kemampuan dalam pekerjaan saya. Itu membuat saya makin termotivasi dan bersemangat untuk mempelajari hal-hal lain, seperti menguasai sistem database perpustakaan, serta melancarkan kemampuan komputer dan bahasa Inggris saya.

Enam bulan berlalu, dan kami bertiga diperpanjang kembali untuk enam bulan kedepan karena ternyata mereka masih membutuhkan tenaga kami. Saya tidak memikirkan apa-apa selain bekerja dengan baik dan menambah ilmu saya. Setelah kurang lebih dua tahun kami bekerja sebagai pegawai kontrakan yang notabene tidak mendapatkan benefit apapun selain gaji, akhirnya posisi kami dievaluasi kembali dan hasilnya adalah sekolah membutuhkan staff khusus untuk mengerjakan yang sedang kami kerjakan ini, dan hasilnya kami bertiga pun diangkat menjadi staff tetap sekolah internasional tersebut.

Saya sangat bersyukur dan makin bersemangat belajar. Karena tidak ada kata ‘terlalu tua’ untuk belajar, bukan? Saya ditempatkan di perpustakaan cabang SMP. Di sana saya memiliki bos yang berasal dari Australia. Bos saya orang yang mempunyai pengharapan tinggi terhadap anak buahnya, dan saya pun bekerja mengikuti standard dia yang tinggi. Di perpustakaan ini saya tidak hanya mengerjakan pekerjaan kataloging, tapi juga membantunya dalam menyiapkan bahan-bahan literatur penelitian anak-anak, juga menyiapkan teknologinya jika bos memerlukan untuk presentasi seperti LCD projector, komputer, yang sebenarnya menjadi tugas bagian tekhnologi. Namun bagi saya itu adalah kesempatan untuk belajar, dan saya pun mengerti cara mengoperasikan LCD projector, smartboard, dan perangkat pendukung lainnya.

Selain itu bos juga mendelegasikan saya untuk mempromosikan buku-buku yang baru datang di perpustakaan untuk menarik minat baca anak-anak. Isi promosi tersebut saya kemas dalam bentuk slide show yang bisa dilihat melalui screen TV dari jendela perpustakaan. Tak sedikit anak-anak yang datang dan meminta ‘buku yang dipajang di screen’ untuk dipinjam. Kemudian bos juga melimpahkan tugas membuat website untuk perpustakaan kepada saya. Meskipun ilmu saya belum sampai dan saya tidak mengerti apa-apa mengenai cara membuat dan mendesign website, saya menyanggupi dengan catatan meminta bos mendaftarkan saya kursus website. Bos pun setuju dan saya didaftarkan untuk mengikuti kursus dalam rangka mendukung pekerjaan tambahan saya tersebut.

Semua yang saya lakukan sekarang sudah melenceng jauh dari job deskripsi awal saya, namun saya tidak merasa rugi mengerjakan itu semua, karena banyak ilmu yang saya timba dari pekerjaan-pekerjaan tambahan tersebut. Setelah sepuluh tahun saya bekerja di sekolah ini, saya kini sudah mendapatkan banyak benefit yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya bekerja di tempat lain, dan itu yang membuat saya bersyukur masih memiliki pekerjaan yang bisa menopang kehidupan saya dan dua anak saya.

Kalau di awal niat saya bekerja adalah untuk mengaplikasikan ilmu, setelah menikah saya tetap bekerja dengan tujuan membantu perekonomian keluarga, serta alasan klise wanita bekerja, yaitu aktualisasi diri. Ya, mungkin karena sejak lulus kuliah saya tidak pernah merasakan menganggur, juga dorongan ibu saya agar saya terus bekerja, maka dalam diri saya terbentuk karakter wanita pekerja.

Namun kini alasan saya bekerja sudah berbeda. Saya sekarang adalah seorang single parent dengan dua anak. Mau tidak mau saya harus bekerja dan mencari nafkah bagi kehidupan kami. Jika datang masanya tidak bersemangat kerja, entah itu karena ada masalah dengan bos, atau masalah dengan pekerjaan yang tidak selesai-selesai, saya akan menatap foto buah hati dan melecut diri saya untuk kembali bangkit dan bersemangat lagi, demi mereka.

Perpustakaan selain sebagai tempat penyimpanan buku, juga gudangnya informasi. Banyak ilmu yang saya dapat selama bekerja di sini. Jika saya ingin mempelajari hal tentang alam semesta, saya bisa membaca di buku sains. Jika ingin mengetahui tentang mendidik anak saya bisa membaca dari buku koleksi parenting. Bahkan jika saya ingin membaca komik atau novel sebagai hiburan saya bisa meminjam dari perpustakaan tempat saya bekerja. Alhamdulillah selama sepuluh tahun bekerja di sini saya tidak merasakan bosan.

Bekerja di perpustakaan tidak seperti yang disangka orang-orang: membosankan, kerjanya ngelap debu buku saja, tidak ada perkembangan apa-apa, dan sebagainya.Tapi itu semua salah. Justru di kantor ini, saya menemukan bakat menulis saya. Saya yang dulu paling membenci pelajaran mengarang, kini malah bisa menulis berkat buku-buku yang menginspirasi saya di perpustakaan ini. Hasilnya, satu novel dan lima buah buku kumpulan cerpen yang saya tulis bersama teman-teman saya berhasil tembus penerbitan dan dijual di toko buku. Bangga rasanya melihat buku dengan nama saya terpajang di toko buku. Ditambah lagi bos saya yang mengetahui bahwa saya telah menerbitkan novel, membanggakan saya di depan kolega-koleganya membuat saya makin percaya diri dan bersemangat untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya. Saya berharap hal tersebut bisa memberikan motivasi pada anak-anak saya kelak, bahwa dengan bekerja maksimal dan memanfaatkan setiap sumber informasi dengan baik, maka kita semua akan bisa mendapatkan hasil yang baik pula.

Saturday, November 07, 2009

The Road to the Empire -- Sinta Yudisia

The Road to the Empire The Road to the Empire by Sinta Yudisia


My rating: 4 of 5 stars

Baguusss banget! Sama sekali nggak nyesel bacanya. Meskipun sempet jiper liat bukunya yang tebal itu.

Buku ini mengisahkan perjalanan Takudar, pangeran pertama kerajaan Mongol selama masa melarikan diri setelah terjadi pemberontakan yang membuat Kaisar dan Permaisuri tewas terbunuh. Takudar, memegang janji ayahnya sang Kaisar bahwa dia akan menjadi seorang muslim, akhirnya memeluk agama Islam dan tinggal bersama orang-orang Muslim.

Sementara itu adiknya, pangeran kedua Arghun Khan naik tahta menjadi Kaisar karena Takudar dianggap mati. Arghun Khan yang didampingi seorang penasehat yang juga kemaruk harta dan kekuasaan, menjadi seorang kaisar yang lalim. Tak memperdulikan bahwa perang merusak segalanya. Yang dipedulikannya hanyalah bagaimana dia bisa menaklukkan semua daerah di Mongol seperti halnya Jengis Khan, leluhurnya.

Buzun, sang pangeran ketiga awalnya tak ingin berpihak pada siapapun. Dia hanya pasif saja meskipun hati kecilnya menolak kekejaman kakak keduanya itu. Dalam gundahnya Buzun pun mencari Takudar, sekedar ingin memastikan bahwa kakak pertamanya masih hidup atau jika sudah mati dia ingin mengetahui dimana kuburnya.

Akhirnya Takudar dan Buzun pun bertemu. Takudar yang sudah menjadi seorang muslim berprilaku sangat lembut, begitu pula sahabat-sahabatnya di Madrasah Babussalam. Namun Buzun yang saat itu masih belum bisa menentukan sikap, memutuskan untuk kembali ke ibu kota.

Peperangan antara kaum muslim dan tentara Kaisar tak terelakkan lagi ketika Takudar akhirnya menerima kenyataan bahwa Arghun Khan harus dihentikan karena penaklukannya sudah banyak menelan korban. Apalagi kaisar Mongol hendak membantai kaum Muslim. Takudar tak bisa berdiam diri dan mereka pun akhirnya berhadap-hadapan beradu pedang demi mencapai tahta kekaisaran. Seperti halnya perang yang memakan begitu banyak korban, pertempuran satu lawan satu pun mengambil korban nyawa meskipun sudah diupayakan agar tak lagi banyak korban yang berjatuhan.

Ceritanya sangat memikat, dan membacanya seperti menonton film kolosal bertema kerajaan Mongol yang gegap gempita. Apalagi penggambaran pertempurannya yang demikian dahsyat. It really IS a GOOD book :)

View all my reviews >>

Sunday, October 11, 2009

Book of a Thousand Days -- Shannon Hale

Book of a Thousand Days Book of a Thousand Days by Shannon Hale


My rating: 5 of 5 stars
Kisah yang sangat menakjubkan! Tanpa ragu saya memberikan bintang 5 untuk buku ini.

Book of a Thousand Days bercerita tentang kehidupan yang dijalani Lady Saren dan pembantunya Dashti saat mereka dikunci oleh ayah Lady Saren di menara selama 7 tahun karena Lady Saren menolak perjodohan dirinya dengan salah satu penguasa daerah, Lord Khasar. Kisah ini diceritakan oleh Dashti yang memang pandai menulis dan membaca.

Dashti datang untuk bekerja pada Lady Saren di hari kesatu tanpa mengetahui apa yang akan menimpanya ketika Lady Saren menyuruhnya bersumpah tidak akan meninggalkannya. Dashti pun bersumpah dan dijebloskan ke dalam menara untuk menemani Lady Saren. Dashti menuliskan kegiatan dan kejadian yang menimpa mereka selama terkunci. Bagaimana persediaan makanan mereka perlahan-lahan digerogoti tikus, dan mereka harus berperang melawan tikus atau makanan mereka akan cepat habis.

Lalu kekasih Lady Saren, Khan Tegus, datang. Namun Lady Saren menyuruh Dashti untuk berpura-pura menjadi dirinya dan berbincang-bincang melalui sebuah lobang di menara tanpa pernah saling menatap wajah satu sama lainnya. Setelah tiga tahun mereka terkunci di menara dan tak ada seorang pun yang datang menolong mereka, kecuali Lord Khasar yang mengancam dan menakut-nakuti mereka, persediaan makanan pun menipis, dan Dashti harus berjuang agar mereka bisa keluar dari menara itu.

Setelah mereka berhasil keluar dari menara, mereka kembali ke kota Lady Saren untuk menemukan bahwa kotanya telah hancur dan semua anggota keluarganya mati. Kini tinggal dirinya dan Dashti yang tersisa. Tanpa memberitahu kemana mereka berjalan karena Lady Saren tak sudi menemui Khan Tegus, Dashti justru membawa Lady Saren ke kota Khan Tegus. Disana mereka bekerja sebagai pencuci panci kotor di dapur rumah Khan Tegus. Sementara itu Lady Saren tetap tak mau memberitahu jati dirinya karena khawatir dirinya akan dibunuh.

Keberuntungan sepertinya mengiringi Dashti terus, hingga akhirnya Dashti bisa menjadi juru tulis di rumah itu sementara Lady Saren tetap bekerja sebagai pencuci panci di dapur. Lady Saren yang rapuh perlahan mulai terlihat sembuh, sementara Lord Khasar dan pasukannya perlahan namun pasti menguasai hampir semua daerah sekitar, dan sebentar lagi kota mereka pun akan diserang.

Lord Khasar mengumumkan bahwa mereka tak akan menyerang kota itu, kalau mereka menyerahkan Lady Saren. Lagi-lagi Lady Saren menyuruh Dashti untuk menggantikan dirinya dan mengaku sebagai Lady Saren. Dashti tak bisa menolak karena dirinya sudah bersumpah setia. Dashti pun mengaku dirinya Lady Saren, dan mengorbankan dirinya ke Lord Khasar.

Apakah Dashti bisa terus menjaga Lady Saren dan tetap hidup setelah menghadapi Lord Khasar? Menjelang ending ceritanya makin seru dan saya kagum dengan cara bercerita Shannon Hale yang tidak mudah tertebak. Memang, saya berharap a happy ending (ya, saya memang kuno) tapi bagaimana happy endingnya, Shannon Hale mampu mengantarkan saya ke akhir cerita yang indah.

I really-really like this book *geleng-geleng ala Bollywood* Ide ceritanya orisinil dan alurnya tidak terlalu cepat juga tidak terlalu lambat. Pokoke pas dah :D

View all my reviews >>

Saturday, September 26, 2009

Speak -- Laurie Halse Anderson

Speak Speak by Laurie Halse Anderson

My rating: 3 of 5 stars

Di awal tahun ajaran, bukankah semua murid ingin menikmati hari-hari pertama sekolah bersama teman-temannya? Begitu pula Melinda. Dia ingin memasuki tahun ajaran sebagai seorang anak high school bersama teman-temannya dari SMP dulu. Namun ternyata di awal sekolah ini semua teman-temannya justru membencinya. Semua menjauhinya dan hanya seorang anak baru yang bersedia duduk makan siang bersamanya, namanya Heather.

Di pertengahan tahun ajaran keadaan makin memburuk. Heather masih setia mendampinginya, namun percakapan yang terjadi diantara mereka lebih ke percakapan satu arah. Melinda lebih banyak diam dan mendengarkan keluh kesah Heather yang ingin sekali diterima di salah satu clique di sekolah tersebut. Bagi Melinda, gak penting masuk ke dalam clique manapun. Toh semua orang sudah membencinya.

Kenapa semua orang bisa membenci Melinda sedemikian rupa sehingga dia mengalami masa sulit di sekolah? Semua itu terjadi karena Melinda menelpon polisi saat pesta di sebuah peternakan berubah menjadi ajang minum-minuman keras dan tak terkendali. Melinda memiliki alasan yang kuat untuk menelpon polisi, namun tak ada yang mau mendengarkan alasannya. Semua menyalahkannya.

Makin lama Melinda makin terbiasa diam. Kedua orang tuanya pun tak bisa membuatnya bicara. Apa yang ada dalam kepala Melinda? Kenapa dia tidak mau berbicara? Terlebih setelah Heather diterima di salah satu clique dan meninggalkannya, Melinda makin terpuruk sendiri. Hanya kelas Art tempat dia menumpahkan semua ekspresinya. Nilai-nilai pelajaran Melinda lainnya merosot jauh.

Di akhir bagian buku ini (yang juga di akhir tahun ajaran) barulah Melinda memiliki keberanian untuk mengungkapkan apa yang selama ini dia rasakan, apa yang dia alami saat pesta di peternakan dulu, dan bagaimana akhirnya Melinda mampu membela dirinya sendiri.

Cerita ini tidak terlalu berat dan pergulatan batin Melinda bisa dirasakan dari awal cerita. Hingga akhirnya saat Melinda berani melawan saya sedikit terlonjak karena kegirangan. Yay! Way to go, Melinda! :D

View all my reviews >>

Thursday, September 24, 2009

Anne of Windy Poplars -- L.M. Montgomery

Anne of Windy Poplars (Anne of Green Gables No. 4) Anne of Windy Poplars by L.M. Montgomery

My rating: 4 of 5 stars

Sweet. Gak ada kata lain yang bisa saya ungkapkan untuk buku ini selain kata itu. Kisah ke-4 Anne dari Green Gables ini mengambil lokasi di Summerside, dimana Anne bertugas menjadi kepala sekolah di sebuah sekolah menengah. Sementara Windy Poplars sendiri adalah nama tempat dia kost.

Di Summerside, terdapat keluarga besar yang menganggap diri mereka 'royal family'. Mereka bebas melakukan apa saja, dan semua orang tunduk pada mereka. Mereka bernama keluarga Pringles. Keluarga Pringles ini sangat sulit diambil hatinya. Even Anne yang pandai mengambil hati orang pun kesulitan mendekati mereka. Terlebih lagi salah satu sepupu keluarga Pringles ada yang melamar juga sebagai Kepsek. No wonder deh kalo Anne akhirnya dibenci oleh seluruh keluarga Pringles (baik yang murni berdarah Pringles, maupun yang hanya separo Pringles). Tapi bukan Anne dong kalo gak bisa memenangkan pertarungan :)

Masalah-masalah lainnya terlihat ringan dibanding masalah dengan keluarga Pringles. Antara lain masalah little Elizabeth yang ditinggal ayahnya sejak bayi dan diasuh oleh neneknya yang tidak menyayanginya, kemudian masalah wakepsek yang ngomongnya selalu nyelekit, trus ada juga masalah percintaan orang yang Anne coba bantu tapi ternyata salah kaprah! *kocak banget nih kasus yang satu itu* Belum lagi kesempatan Anne ngejagain dua anak kembar yang buandelnya super krn ibunya yang 'tidak percaya pada kekerasan dalam mendidik anak' padahal sebenarnya ibunya aja yang gak tegas.

But again, ending dari setiap masalah selalu manis, dan mendatangkan kebahagiaan pada semua pihak (termasuk saya yang membaca). Membaca buku serial Anne memang bukan untuk nyari konflik yang berat dan solusi yang hebat, melainkan sepenuhnya untuk hiburan semata, dengan dialog yang lucu, kejadian yang kocak, dan akhir dari permasalahan yang simple.

No.5: Anne's house of dreams. Lanjut...? ;)

View all my reviews >>

Wednesday, September 16, 2009

The Graveyard Book -- Neil Gaiman

The Graveyard Book The Graveyard Book by Neil Gaiman

My rating: 4 of 5 stars

A really, really great book! Beneran! Mulai dari ide ceritanya yang tob abis (never ever occured to me to write a book like this, darn!) sampe jalan ceritanya yang asik.

Semua dimulai dari malam ketika tragedi itu terjadi. Sebuah keluarga mati terbunuh dan yang selamat hanyalah seorang bayi yang merangkak keluar rumah dan terhindar dari pembantaian keji tersebut. Si bayi kemudian masuk ke dalam pemakaman dan di angkat anak oleh hantu-hantu yang bergentayangan di pemakaman tersebut.

Biasanya kalo baca cerita horror yang mengikutsertakan hantu dan sejenisnya, gw bakal terngeri-ngeri. Tapi baca buku ini, hantu-hantu itu kok ya sepertinya baik-baik semua ya? Seolah mereka itu adalah teman kita. Well, mereka mau menjaga bayi kecil itu, gitu loh!

Anyway, akhirnya si bayi diberi nama Bod, kependekan dari Nobody Owens. Secara yang ngadopsi dia adalah pasangan almarhum Owens. Bod tinggal di pemakaman itu dan diasuh oleh para hantu-hantu yang baik hati, dengan seorang penjaga bernama Silas.

Lalu apakah semua berlangsung baik-baik saja? Not really! Seiring bertambahnya usia Bod, dia juga makin penasaran dengan kehidupan di luar pemakaman. Apalagi ketika Bod bertemu seorang teman, Scarlett, yang tiap hari datang dan bermain dengannya di pemakaman. Namun pada akhirnya kedua orang tua Scarlett mungkin kuatir dengan keadaan Scarlett yang mereka anggap sudah terlalu besar untuk bermain dengan teman imajinasi, dan membawa Scarlett pergi jauh ke Scotland.

Karena keinginannya yang kuat untuk terus belajar, Bod pun meminta agar dirinya diperbolehkan pergi ke sekolah. Disana hampir semua orang tidak mengingatnya, dia dianggap seperti bayangan saja. Namun karena Bod terlibat masalah, semua anak di sekolah jadi memperhatikannya. Dan akhirnya Silas, menariknya lagi dari sekolah.

Kenapa Bod harus selalu low profile? Nggak boleh menarik perhatian orang? Silas menunda-nunda jawabannya, dan hingga akhirnya ketika Jacks of All Trades datang mencarinya, Bod pun mengetahui jawaban dari misteri yang menyelimuti kehidupannya.

Btw, penulis menyebutkan bahwa dia sangat terkesan dengan buku The Jungle Book karya Rudyard Kipling dan buku tersebutlah yang banyak memberinya inspirasi. Well, I should read the book too, then. Siapa tau inspirasi datang padaku :) Btw, The Jungle Book itu yang karakter utamanya si Mowgli itu kan ya?

View all my reviews >>

Wednesday, September 02, 2009

Mi Familia -- Sylvia L'Namira

Sefryana's review

Rating: 3 of 5 stars



Saya membaca novel Syl ini sebelum bertemu dengannya di WBD beberapa bulan lalu. Jujur, saya sangat tertarik saat pertama kali melihat bukunya mejeng di Toko Buku Gunung Agung Arion. :)

Ceritanya sederhana, tapi sangat menghibur. Seorang perempuan pasti tidak mau dimadu (atau sulit menerima), begitu juga saya. Bagaimana jika harus dihadapkan pada kenyataan suami kita menyuruh untuk berlapang dada menerima orang lain di dalam rumah tangga beserta anak-anaknya. Inilah yang terberat dihadapi Bia ketika menikah dengan Irham. Saat bulan madu, mereka pergi bersama tiga anak kecil dan ibunya.

Saya tidak akan menyalahkan Bia, tidak juga menyalahkan Irham. Posisinya sama-sama sulit. Namun, Syl dengan lihai membuat cerita dengan ending yang adil. Buat saya yang belum menikah, apa yang terjadi pada Bia sempat menjadi pikiran. It's a nice book. Really! :D

Tuesday, September 01, 2009

30 Hari Jadi Murid Anakku -- Mel

30 Hari Jadi Murid Anakku 30 Hari Jadi Murid Anakku by Mel

My rating: 3 of 5 stars

"The softest things in the world overcome the hardest things in the world." (Taoist sage, Lau-Tzu)

Quotation ini saya baca di akhir halaman, dan seperti halnya Mel, saya pun merasakan hal yang sama: ada saatnya merasa ditampar karena ucapan mereka yang seperti reminder buat saya, ada juga saatnya dilambung tinggi hanya oleh sebuah kecupan kecil di pipi di saat yang tak terduga.

Buku simple ini berisi hal yang nggak simple sebenarnya. Dituliskan dengan cara yang asik dan tidak menggurui, Mel seolah sedang ngobrol dengan kita tentang dua ksatrianya. Membacanya aku jadi malu, mengingat-ingat apakah aku bisa menuliskan hal sedetail itu tentang kedua angels-ku. Rasanya belum. Tapi Mel sangat mengenal kedua anaknya, dan mengakui bahwa dirinya belajar dari anak-anaknya adalah hal yang luar biasa untuk seorang ibu muda seperti Mel. Wawasannya luas dan dia sangat open mind terhadap opini anak-anaknya.

Saya sangat terkesan dengan kata-kata: "Aku tidak menyimpan kebahagiaan-ku pada mereka. Aku jelas bahagia mereka dapat mewarnai hidupku. Tapi bukan berarti menggantungkan kebahagiaanku pada mereka." (hal.147) That was a nice words!

Thank you Mel, for writing such a nice book for us, mothers. Kita perlu juga diingatkan bahwa memang anak kita bukanlah anak kita. Mereka titipan yang seharusnya kita jaga dan rawat. Bukan yang diharuskan menjaga dan merawat kita di saat tua nanti. Tapi kalo itu terjadi, what a blessing :D

View all my reviews >>

Monday, August 31, 2009

Matilda Bone -- Karen Cushman

Matilda Bone Matilda Bone by Karen Cushman

My rating: 3 of 5 stars

Apa jadinya kalau sejak kecil kita dibesarkan di sebuah rumah mewah, mendapatkan pengetahuan kita hanya dari seorang guru sekaligus penasehat spiritual, tanpa mengetahui dunia luar sana? Bagai katak dalam tempurung, bukan?

Itulah yang terjadi pada Matilda. Sejak ibunya meninggal, Matilda tinggal bersama ayahnya yang bekerja pada seorang kaya raya sebagai juru tulis di sebuah rumah yang besar. Matilda diajarkan membaca, menulis Latin yang suatu hari nanti akan bermanfaat baginya. At least demikian yang ditanamkan ke dalam pikirannya. Matilda pun menjadi sang katak dalam tempurung yang memiliki cita-cita dan hayalan tinggi menjadi orang besar dan penting.

Setelah ayahnya meninggal, Matilda diperbolehkan tinggal di rumah tersebut dan terus mendapatkan pengajaran dari seorang pendeta yang memberinya semua pengetahuan mengenai surga dan neraka (terutama tentang neraka) bahwa kalau Matilda nakal akan masuk neraka, Matilda mikir jelek akan dilempar ke neraka, dst, dsb.

Suatu hari pendeta tersebut mengantarkan Matilda ke sebuah desa terpencil. Matilda akan bekerja sebagai pembantu di rumah seorang bonesetter (mungkin sebutannya dukun patah tulang, ye?) Matilda yang bisa baca tulis Latin menganggap itu sebuah kesalahan, karena keahliannya dalam baca tulis Latin akan membawanya kepada cita-cita tinggi, bukannya sebagai pembantu di rumah dukun patah tulang. Matilda yakin, suatu hari nanti pendeta tersebut akan menjemputnya kembali dan mengatakan bahwa semua ini adalah kesalahan. Tapi pendeta itu tak pernah datang lagi, dan Matilda harus beradaptasi dengan lingkungan yang sekarang ditinggalinya.

Sekian lama tinggal di tempat tersebut, jika menemukan sesuatu yang berbenturan dengan ajaran sang pendeta, Matilda selalu bingung dan berkonsultasi dengan para saints yang dia ketahui (hanya dalam pikirannya, tentu saja). Namun berkat kesabaran Peg, si dukun patah tulang, dan orang-orang di sekelilingnya, lambat laun Matilda pun berhasil beradaptasi. Jika di awal kepindahannya Matilda tidak pernah mengungkapkan pendapat pribadinya (selalu 'kata pendeta begini', 'kata pendeta begitu') pada akhirnya Matilda bisa mengungkapkan pendapatnya sendiri, dan bisa memutuskan apa yang terbaik bagi dirinya.

Karen Cushman memang terkenal sebagai penulis cerita-cerita berlatar belakang kehidupan di abad pertengahan. Karyanya banyak mendapat penghargaan, diantara lain: Catherine, called birdy dan The midwife's apprentice dan Matilda Bone ini pun mendapatkan penghargaan dari: Newbery Medal, Notable/Best books (A.L.A.), Booklist starred, Child Study Children's Book Committee, Wilson's Children, dan masih banyak lagi. Terlihat sekali bahwa Cushman banyak melakukan penelitian untuk novel-novelnya sehingga terasa sekali kehidupan abad pertengahan tersebut dalam karyanya.

View all my reviews >>

Tuesday, August 25, 2009

The Tales of Beedle the Bard -- J.K. Rowling

The Tales of Beedle the Bard The Tales of Beedle the Bard by J.K. Rowling

My rating: 3 of 5 stars

Ho-oh, emang bagus-bagus ceritanya. Waktu megang pertama kali di bulan Januari 2009, mikir: buku apa lagi nih, maksa banget gak sih bikin cerita yang berakar dari Harpot, kok sepertinya maksa aja. Akhirnya buku itu kembali ke rak tanpa tersentuh.

Dua hari yang lalu baca review Dini dan tiba-tiba tertarik ajah buat baca. Hehehe... padahal ternyata Goodreaders udah banyak yang baca ya? Gw aja yang telat *as usual*. Buku itu pun gw pinjam. Gw lihat catatan peminjaman: kosong. Berarti anak-anak disini mikir hal yang sama juga ma gw, bahwa buku ini mungkin terlalu maksa :p

Secara di promosikan oleh Dini dan ditambah oleh Weni, kalau buku ini cocok untuk pembaca berkecepatan kura-kura dan ceritanya sangat singkat, gw bacalah buku ini sambil nunggu bedug magrib. Dan emang bener sih, spasinya lebar, marginnya kecil. Gw suka nih buku yg cetakannya begini, alamat cepet kelar :D

Dua hari *termasuk lama utk buku ini ya?* gw kelarin, dan ternyata gw suka. Ceritanya simple banget, dan bikin gw mikir: kenapa gak kepikiran ma gw buat bikin cerita seperti ini ya? Jawabnya sederhana saja: karena nggak kepikiran :p

Lima kisah fantasy ini pesan moralnya jelas, udah pada ngerti dong ah pesan moral buat anak-anak biasanya apa? Dan yang kocak, tiap kisah dikritik oleh Dumbledore. Kek kritik sastra gitu deh.. Trus pake footnote juga udah kek laporan ilmiah. Pokoknya idenya orisinil dah!

Kalo awalnya gw mikir: ini buku maksa deh! Sekarang gw mikir: JKR emang penulis fantasi yang fantastis! :D

View all my reviews >>

Monday, August 10, 2009

Change of heart -- Jodi Picoult

Change of Heart by Jodi Picoult


My rating: 4 of 5 stars


Kisah di novel ini diawali dengan pembunuhan. Apakah lalu bercerita tentang pencarian pembunuhnya? Pencarian bukti-bukti forensik? Nope. Di buku ini udah ketauan siapa pembunuhnya, bahkan kisah langsung lompat ke pengadilan dan ketok palu yang menandakan si pembunuh akan di hukum mati, alias eksekusi, alias di suntik mati. So, dimana serunya? Nahh.. justru itu!

Shay di vonis hukuman mati karena telah membunuh dua orang (anak dan ayah), meninggalkan June Nealon yang sedang hamil besar sendirian. Bayangkan betapa marah dan murkanya June ketika setelah dengan baik hati memberikan pekerjaan kepada Shay di rumahnya, malah menemukan anak dan suaminya terbunuh di tangan Shay.

Sebelas tahun setelah vonis, Shay mengungkapkan satu keinginannya setelah dia dihukum mati, yaitu dia ingin mendonorkan jantungnya pada Claire, anak kedua June Nealon yang mengalami kegagalan jantung. Namun ada satu masalah yang timbul: Shay akan dihukum mati dengan suntikan, dan suntikan itu bertujuan menghentikan jantung sehingga pendonoran akan mustahil. Kecuali, dia mati dengan cara lain yang menyebabkan otaknya mati (brain dead).

Disinilah sebenarnya kisah bermula. Muncullah Maggie (pengacara) yang bercita-cita ingin menghapuskan hukuman mati di negaranya tersebut. Maggie berjuang agar Shay dapat dihukum dengan cara lain agar jantungnya masih dapat didonorkan: digantung. Maggie seorang yang menganut ateisme, dia tidak percaya pada Tuhan meskipun ayahnya seorang rabbi Yahudi. Namun Maggie harus meyakinkan pengadilan bahwa Shay adalah penganut sebuah agama yang mengharuskan donor sebagai cara penebusan dosa.

Kemudian muncul pendeta Michael yang memiliki satu rahasia masa lalu yang berkaitan dengan Shay, dan menjadi penasehat spiritualnya selama di penjara. Pendeta Michael yang awalnya ingin mencari pengampunan dengan menjadi penasehat spiritual, malah mendapati dirinya mengalami keraguan pada keyakinannya sendiri.

Dialog-dialog pintar antara seorang ateis dan pendeta sungguh seru untuk diikuti. Belum lagi kejadian-kejadian luar biasa yang memicu orang-orang untuk percaya bahwa Shay adalah utusan Tuhan dan mereka berbondong-bondong ke penjara ingin bertemu Shay dengan membawa anggota keluarganya yang sakit dengan harapan Shay bisa mengembalikan kesehatan mereka (jadi inget Ponari). Pro dan kontra timbul dan halaman penjara ramai didatangi orang² yang ingin berobat.

Pada akhirnya, tak penting apakah Shay adalah seorang mesiah seperti yang diduga pendeta Michael dan orang² yang percaya, ataukah dia hanya seorang pembunuh biasa, atau seorang dengan jiwa besar. Yang terpenting adalah, bagaimana Shay telah menyentuh hati beberapa orang yang dekat dengannya di saat-saat akhir hidupnya: Michael, Maggie, Lucius, Jane, bahkan Claire.

Dan bukankah kita semua ingin selalu diingat oleh orang² terdekat kita? Sentuhlah hati mereka dan dijamin mereka tak akan melupakan kita.

Even after we die :)

View all my reviews >>

Wednesday, July 29, 2009

Silverfin the graphic novel -- Charlie Higson

Silverfin the Graphic Novel by Charlie Higson


My rating: 3 of 5 stars

Ini adalah James Bond jaman muda, jadi masih remaja gitu deeehh. Dia sekolah di ETON, kek asrama gitu. Nah disana dia ketemu ama seorang anak orang kaya yang suka nge-bullies. Biasa deh di semua sekolah kan juga ada tuh yang sok kuat, sok kaya, sok populer. Bisanya cuma ngegencet anak baru, adik kelas gitu. Gw jadi inget dulu temen gw pernah di gencet kakak kelas karena cowok yang ditaksirnya malah naksir temen gw. Idiihhh, norak ya? Para bullies itu setelah dewasa sadar gak sih kalo mereka dulu nyebelin? (hehe jadi curhat)

Anyway, James Bond ini gak punya orang tua lagi, keduanya meninggal waktu mendaki gunung. Jadi dia tinggal ama tantenya. James Bond mengetahui kalo pamannya ternyata seorang mata-mata dulunya. Jadi tau dong darah spy itu nurun dari mana? Ternyata bukan dari ayahnya.

Trus saat liburan, James ngebantuin seorang anak yang ingin menyelidiki kematian adiknya. Ternyata penyelidikannya sampai ke rumah orang tua si bullies yang bersekolah di ETON itu lho, yang suka ngerjain James. And you know what? Ternyata di rumah yang seperti istana itu ada ...#$@^*#.. *sensor* yang bertujuan untuk ...&^$#@*... *sensor lagi*

Nah, berhasil gak James membongkar kasus ...*&^%^$#...? Ada apa sebenernya di danau yang mengelilingi rumah besar tersebut? Kenapa sepertinya diselimuti misteri? Ya namanya juga cerita James Bond, pasti isinya petualangan ala spy dong? Trus, biasanya James Bond selalu selalu dikelilingi cewek kan? James remaja gimana? Ada juga sih ceweknya, tapi yah namanya juga masih remaja, gak ada seksi-seksi-bohay kek di film-film gt deh. So, jangan ngarep :p

View all my reviews >>

Monday, July 27, 2009

Coraline graphic novel -- Neil Gaiman

Coraline Graphic Novel Coraline Graphic Novel by Neil Gaiman


My rating: 3 of 5 stars

Sepotong kisah di acara kopdar GR II

MC 1: Acara yang kita semua tunggu-tunggu, yaitu launching novel grafis karya Neil Gaiman...

MC 2: Coraline!

MC 1: Kita dengarkan rekan kita yang akan membaca potongan kisah Coraline

(Lita membacakan potongan kisah dari novel grafis Coraline)

MC 2: Tepuk tangan dong untuk Lita

MC 1: Kini saatnya kuis yang akan memperebutkan lima copies novel grafis Coraline

MC 2: Kita panggilkan Indri untuk memberikan kuis

MC 1 (menyerahkan mic ke Indri dan berkata pada MC 2): Maaf ya partner, gw mo ikutan kuis. Loe kerja deh sendiri yaaa...

Dan MC 1 pun ikut bergabung bersama peserta kopdar dan berhasil mendapatkan satu copy. Betapa senangnyaaa...!


--

Membaca Coraline dalam bentuk novel grafis (sebut komik aja deh) dibanding dengan membaca novelnya tentu saja beda. Terlebih lagi di komik tergambar ilustrasi yang memukau yang membuat komik ini menjadi makin menarik.

Kisah dimulai dengan kebosanan Coraline yang tak menemukan apapun yang bisa dia lakukan. Terlebih lagi sejak hujan mulai turun, dia makin tak bisa keluar rumah, mengekplorasi dan menjelajah sekeliling rumahnya. Maka Coraline menjelajah seisi rumahnya dan menemukan sebuah pintu. Pintu yang tak menuju kemana-mana karena tertutup tembok. Namun suatu malam tembok di pintu itu hilang, terlihatlah sebuah lorong gelap yang menuju ke sebuah rumah yang sama persis seperti rumahnya.

Di dalam rumah itu bahkan ada ayah dan ibu yang mirip dengan orang tuanya, hanya saja mata mereka bukan mata biasa, melainkan kancing hitam besar (kok bisa-bisanya Coraline nggak takut ya? Kalo gw sih udah ngibrit pasti). Anyway, perlakuan ayah ibu bermata kancing itu sangat berbeda dengan perlakuan kedua orang tuanya yang asli. Mereka begitu perhatian dan sayang padanya. Tidak seperti kedua orang tua aslinya yang tidak peduli padanya.

Coraline diminta untuk tinggal di rumah itu, namun Coraline menolak dan kembali ke rumah aslinya. Namun ternyata sesampainya di rumah, kedua orang tua aslinya tak ada lagi disana. Coraline pun dengan keberanian setinggi gunung, kembali ke rumah orang tuanya yang bermata kancing untuk mencari kedua orang tua aslinya. Beruntung Coraline ditemani seekor kucing hitam, karena ternyata kucing itu cukup banyak membantunya dalam petualangannya di negeri aneh tersebut.

Ternyata selain jiwa ayah ibu aslinya yang diculik, ada juga jiwa ketiga anak kecil yang ditawan oleh si ibu bermata kancing. Coraline pun berusaha menyelamatkan mereka. Lumayan seru juga ketika Coraline menatap lewat batu berlubang dan bisa menemukan jiwa-jiwa yang disembunyikan tersebut.

Apakah COraline akan berhasil dalam usahanya tersebut? Tentu saja dia berhasil! Kalo nggak kan judulnya pasti KEGAGALAN CORALINE :p Tapi yang seru diikuti adalah bagaimana Coraline bisa menyelesaikan tugasnya dan bagaimana cara dia melarikan diri dari cengkraman si ibu bermata kancing itu. Ada satu pertanyaan Coraline yang tak terjawab oleh si kucing, "Sebenarnya dia itu makhluk apa sih?" Ada yang bisa jawab? :) *bukan, ini bukan kuis berhadiah Coraline* :p

Eh, eh, tapi setelah baca novel dan komiknya, jadi pengen nonton filmnya yaa... *bergegas menuju lapak vcd*

View all my reviews >>

Friday, June 05, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Fragaria's review

rating: 3 of 5 stars
status: read count: 1



Honeymoon keroyokan. Inilah situasi yang dialami oleh tokoh Bia dalam novel Mi Familia. Bulan madu, yang mestinya dihabiskan berdua saja dengan Irham sang suami, harus diganggu dengan adanya Mila dan ketiga anaknya. Bukan cuma itu, setelah honeymoon pun, Irham sendiri yang mengajak Mila dan ketiga anaknya itu ikut tinggal di rumahnya!

Jelas aja Bia cemburu. Siapa sih Mila? Kenapa Irham perhatian banget sama Mila? Kenapa hak-haknya untuk mengurus kebutuhan Irham harus direbut oleh Mila? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang membebani pikiran Bia.

Padahal masalah yang dihadapi bukan saja tentang 'persaingan'nya dengan Mila. Bia juga sempat harus menunggu lama untuk memperoleh anak pertamanya. Namun walaupun dipenuhi rasa sebal, Bia tetap sabar menjalani semuanya dengan sabar demi keutuhan rumah tangganya.

Sungguh sabar tokoh Bia ini. Sedangkan suaminya, Irham, cukup ngeselin, kok tega sih melakukan hal-hal itu tanpa pemberitahuan sebelumnya? Mila juga bi...more Honeymoon keroyokan. Inilah situasi yang dialami oleh tokoh Bia dalam novel Mi Familia. Bulan madu, yang mestinya dihabiskan berdua saja dengan Irham sang suami, harus diganggu dengan adanya Mila dan ketiga anaknya. Bukan cuma itu, setelah honeymoon pun, Irham sendiri yang mengajak Mila dan ketiga anaknya itu ikut tinggal di rumahnya!

Jelas aja Bia cemburu. Siapa sih Mila? Kenapa Irham perhatian banget sama Mila? Kenapa hak-haknya untuk mengurus kebutuhan Irham harus direbut oleh Mila? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang membebani pikiran Bia.

Padahal masalah yang dihadapi bukan saja tentang 'persaingan'nya dengan Mila. Bia juga sempat harus menunggu lama untuk memperoleh anak pertamanya. Namun walaupun dipenuhi rasa sebal, Bia tetap sabar menjalani semuanya dengan sabar demi keutuhan rumah tangganya.

Sungguh sabar tokoh Bia ini. Sedangkan suaminya, Irham, cukup ngeselin, kok tega sih melakukan hal-hal itu tanpa pemberitahuan sebelumnya? Mila juga bikin penasaran, kenapa Mila ga mau menikah lagi dan malah tinggal sama keluarga Irham-Bia?

Nah, kalo mau tau jawabannya, baca aja novelnya langsung. Sebenernya ceritanya lumayan sedih, tapi akhirnya happy ending kok. Dan gaya tulisannya cukup lucu dan menghibur, jadi insya Allah ga bakal bikin nangis. Novel ini juga cocok dibaca buat yang belum menikah... biar bisa siap-siap, kalo mendadak honeymoonnya harus dihabiskan bersama orang-orang lain, hhe

Wednesday, May 27, 2009

The Lovely Bones -- Alice Sebold

The Lovely Bones The Lovely Bones by Alice Sebold



My review


rating: 1 of 5 stars

Kisah ini sebenarnya biasa. Dimulai dari pembunuhan seorang gadis, Susie Salmon, setelah di perkosa. Tubuhnya dimutilasi dan dimusnahkan. Namun yang membuatnya unik adalah, kisah ini diceritakan dari sudut pandang Susie, si korban pembunuhan, which is the ghost. Awalnya terus terang saya cukup tertarik untuk meneruskannya. Gimana Susie mengawasi pembunuhnya dari surganya.

Susie juga mengawasi keluarganya, bagaimana mereka hidup setelah dia tiada, dan gimana keluarganya berusaha melanjutkan hidup mereka. Ibunya selingkuh dan akhirnya pergi meninggalkan Lindsey, Buck dan ayahnya. Mencari kehidupan baru berusaha menjadi seseorang yang lain. Sementara ayahnya tetap keukeuh kalau tetangganya si Mr Harvey lah pembunuh Susie, namun dia tidak bisa membuktikannya dan akhirnya menjadi terobsesi sendiri. Lindsey yang survive dengan caranya sendiri, dan Buckley yang menjadi sosok serius dan pendiam.

Anyway, kejadian-kejadian cukup menegangkan sempat terjadi, terutama ketika Susie menampakkan diri. Membuat bulu kuduk berdiri, terutama jika saya membacanya di malam hari, sendirian, dan hujan turun dengan lebatnya. Terus terang saya memang suka terbawa suasana kalau berurusan dengan yang namanya hantu, roh, spirit, ghost, makhluk halus, whatever.

Tapi yang membuat saya kurang sreg adalah alur ceritanya yang tidak jelas. Sebenernya Susie ini mau pembunuhnya ketangkep, atau hanya ingin memantau kehidupan di dunia aja? Dia mungkin belum rela meninggalkan kehidupan remajanya secara dia dan Ray belum benar-benar berciuman dengan serius. Mungkinkah itu yang membuat roh Susie gentayangan? Secara akhirnya ketika Susie berhasil 'meminjam' jasad Ruth dan bercinta dengan Ray, setelah itu barulah Susie tenang. Padahal di satu-satunya kesempatan dia bisa bicara dengan Ray, kenapa juga sih dia nggak ngasih tau Ray kalo Mr Harvey lah yang udah bunuh dia. Kenapa yang dipikirin cuma: kiss me. atau: Make love to me, Ray. *please deh, Sus* Udah gitu Ray kok ya cepet banget percaya kalo Ruth bukanlah Ruth. Bisa aja kan Ruth berkepribadian ganda? *maksa*

Trus dari deskripsi Susie tentang ibunya, dimana dia pernah mencuri motret sang ibu saat sedang sendirian, seolah ibunya ini burung yang terperangkap dalam kandang emas yang bernama pernikahan. Seolah memiliki anak menjadi beban baginya. Tapi nggak dijelasin, apa sih masalah si ibu? Kenapa dia begitu? Kenapa dia suka menyendiri dan berharap anak-anaknya pergi agar dia bisa merokok. Kenapa si ibu selingkuh dan dengan gampangnya bercinta dengan polisi yang notabene baru dikenalnya? (mungkin emang gitu ya culture mereka?) Harusnya Susie, yang sekarang udah di surga, bisa tau dong latar belakang kenapa si ibu sepertinya bukan menjadi dirinya sendiri dan akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarganya? Secara di surga bukannya semua ada jawabannya?

Tapi yang mengagumkan adalah cinta ayahnya terhadap Susie yang tak lekang di makan waktu. Kalau biasanya kita denger pepatah: Kasih ibu sepanjang jaman, di novel ini justru kasih ayah yang sepanjang jaman. Sementara ibunya nggak jelas tujuan hidupnya apa. Mau menjadi diri sendiri, tapi pergi nggak ketauan juntrungannya. Dan yang anehnya, si ayah dengan pasrah menerima kembali istrinya, bahkan jatuh cinta lagi saat istrinya kabur, itu benar-benar diluar akal pikiran saya. Hare gene?

Menjelang akhir halaman, duh... rasanya kok ya berat banget nyelesein. Bukan karena sayang dan ingin berlama-lama, tapi karena makin kesini kok ya makin nggak jelas mau dibawa kemana si Susie ini (Terutama setelah Susie mendapatkan keinginannya bersama Ray *tolong*) dengan seenaknya si Mr Harvey dimatiin dengan cara yang ajaib.

Secara keseluruhan, novel ini lumayan lah, tapi maaf saya kurang menyukainya. Banyak istilah yang saya kurang pahami. Mungkin novel ini terlalu nyastra :)


View all my reviews.

Sunday, May 24, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Anggia's review

rating: 3 of 5 stars
bookshelves: young-adult-and-romance

status: Read in June, 2009



Awalnya sempet mikir niy buku bakal nyeritain tentang anak2 bla,bla,bla
Ternyata bagus juga, bahasanya enak dibaca, ringan jadi ga ngebosenin

Irham nampak cowo perfect banget ya, heuheu...

Secara keseluruhan cukup menarik, membuat kita bertanya-tanya kenapa sih MIla ga mau nikah lagi?
Apa bener Irham tu ada rasa sama Mila?
dan masih banyak lagi,,

Untuk selengkapnya coba deh baca bukunya

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Suryati's review

rating: 4 of 5 stars
bookshelves: novel

status: Read in June, 2009



Hari Selasa dapat kiriman paket, Mi Familia, wow seneeeeeeng, soalnya emang sudah ditunggu-tunggu, thanks ya Syl. Malemnya dibaca sampai halaman 35 diterusin besoknya disela-sela ngurus suami yang tiba-tiba kejang perut... So, akhirnya malam ini Rabu, pk. 9.45 selesai juga, dan anak-anak & suami sudah tidur...

Kisah bercerita tentang Bia, dan suaminya Irham yang senang memberikan kejutan. Bahkan kejutan yang tidak menyenangkan diawal pernikahan...Subhanallah masak sih tega honeymoon ngajak sepupu dan tiga anaknya. Alasan Irham sempat bikin aku sebel persis sama dengan perasaan Bia. Ya iyalah, tega-teganya menghancurkan impian dan angan-angan penganten baru yang pengen bulan madu berdua sama suami tercinta. Belum lagi ditambah tinggal serumah dengan mereka dengan batas waktu tak tentu..kebayang deh kalo semua itu menimpaku.

Kekesalan Bia hampir pasti bisa dirasakan semua istri, karena semua istri pasti ingin jadi satu-satunya ratu dalam rumah tangga tanpa saingan d...more Hari Selasa dapat kiriman paket, Mi Familia, wow seneeeeeeng, soalnya emang sudah ditunggu-tunggu, thanks ya Syl. Malemnya dibaca sampai halaman 35 diterusin besoknya disela-sela ngurus suami yang tiba-tiba kejang perut... So, akhirnya malam ini Rabu, pk. 9.45 selesai juga, dan anak-anak & suami sudah tidur...

Kisah bercerita tentang Bia, dan suaminya Irham yang senang memberikan kejutan. Bahkan kejutan yang tidak menyenangkan diawal pernikahan...Subhanallah masak sih tega honeymoon ngajak sepupu dan tiga anaknya. Alasan Irham sempat bikin aku sebel persis sama dengan perasaan Bia. Ya iyalah, tega-teganya menghancurkan impian dan angan-angan penganten baru yang pengen bulan madu berdua sama suami tercinta. Belum lagi ditambah tinggal serumah dengan mereka dengan batas waktu tak tentu..kebayang deh kalo semua itu menimpaku.

Kekesalan Bia hampir pasti bisa dirasakan semua istri, karena semua istri pasti ingin jadi satu-satunya ratu dalam rumah tangga tanpa saingan dan semua istri pasti menginginkan suaminya membicarakan segala sesuatunya lebih dulu dengan istri sebelum mengambil suatu keputusan tentang apapun. Tapi untunglah Bia bukan aku karena Bia jauh lebih baik, soalnya dia bisa menerima alasan suaminya dan tetap menerima Mila dan ketiga anaknya, salut deh karena itu menunjukkan kebesaran jiwa Bia dan ketulusan cinta kepada suaminya, mengalahkan egonya sendiri untuk menjadi satu-satunya orang yang dicintai suami. Dia mau berbagi kasih suami dengan anak-anak yatim dan seorang janda yang masih saudara, mau menerima walaupun daerah teritori dia sebagai istri dan nyonya rumah juga terganggu. Dia juga punya seorang sahabat yang benar-benar sahabat sejati yang bisa diajak berbagi dan siap memberinya semangat. Bia juga punya orang tua dan keluarga yang mencintainya.

Pada saat Bia keguguran dan harus kehilangan janin yang dikandungnya, duuh...jadi ikut ngerasa sedih. Aku jadi teringat pengalaman yang sama nih, sama, anak pertama juga. Jadi aku ngerti banget perasaan yang di alami Bia. Yang jelas, Sylvia mampu menuliskan sebuah kisah yang bisa membuat pembacanya khususnya aku seolah larut dalam kisah tersebut. Salut...

Wednesday, May 20, 2009

Mi Familia -- Sylvia L' Namira

Jimmy's review

rating: 2 of 5 stars
status: Read in May, 2009



Menikah itu keputusan berdua
Punya anak juga keputusan berdua

Mengurus rumah urusan berdua
Mengurus anak juga urusan berdua

Salah satu lebih dominan…
Pertikaian di depan mata…

(Hallahhh…gua ngomong apa sih…)

Irham, kok loe ngga tegas amat sih jadi suami!!!! :D

Tuesday, May 12, 2009

Ocehan si Mbot: Gilanya orang kantoran -- Agung Nugroho

Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran Ocehan Si Mbot: Gilanya Orang Kantoran by Agung Nugroho



My review

rating: 3 of 5 stars

Giling... bener-bener giling! Ceritanya kocak abis..

Di bab awal sempet rada-rada gimanaaa gitu pas mbot cerita soal gimana dia sebagai tukang psikolog di psikotes. Dengan menjabarkan berbagai macam tes yang terbaru, dan gimana dia di tes dengan tes jadul, sempet mikir: ya emang beginilah Indonesia tercinta, apalagi yang namanya badan pemerintah, mana bisa sih menyediakan alat tes terbaru yang pastinya muahal tenan. Adik gw yang kerja di konsultan juga pernah bilang alat test utk psikotes yang mereka gunakan biasanya beli dari luar dan harganya gila-gilaan. Mana mungkin laaahhh kalo bukan swasta pake alat test semahal itu.

Tapi makin dibaca, beberapa cerita ada yang bikin gw ketawa, beberapa cerita lagi bikin gw ngakak. Terutama saat dibahas imel tentang indomie yang mengandung plastik. Gw pernah dapet tuh imel!!!

Tulisannya asik dibaca, dan meskipun gw nggak termasuk salah satu makhluk kubikel, gw bisa ngebayangin gimana kehidupan di kubikel-kubikel tersebut. Thanks to some sinetron or movie yang menggambarkan suasana perkantoran yang membiarkan ada sekat diantara kita.

Anyway, buku ini kocak abis dan gw senang telah membacanya :D


View all my reviews.

Monday, May 11, 2009

Once upon a time, the end (asleep in 60 seconds) -- Geoffrey Kloske

Once Upon a Time, the End (Asleep in 60 Seconds) Once Upon a Time, the End by Geoffrey Kloske



My review

rating: 4 of 5 stars

Huahahhaa!!! buku yang sangat kreatif! dan lucu.. :D


Jadi ada seorang ayah yang capeeekk tenan abis pulang kantor kali ye? Sebelum tidur anaknya selalu minta dibacain buku cerita. Nah, secara malam itu si ayah lagi capek-capeknya, dia bacainlah cerita dengan banyak korting disana-sini. Walhasil, cerita cepet kelar, dan si anak (semoga) bisa cepet tidur.

Mo denger salah satunya? Ini tentang putri yang nggak bisa tidur krn ada kacang di kasurnya (tau kan cerita ini?)


Princess Pea

Every young girl wanted to marry the prince.

To find a princess, the prince's mother put a pea under the mattress to see how each would sleep
They all sleep soundly, except one--she was so sensitive, she had not slept well.

And so she married the prince


Is there a pea under your bed?

Then what's your excuse?

Go to bed



Huahahaha! Ini versi desperado kalo dah ngantuk berat :D Ngaku deh, pasti pernah melakukan hal ini kan? Mengkorting cerita supaya cepet kelar? Secara anak-anak nggak kenal yang namanya to be continued :p Well, I did.

Tau cerita The Wizard of Oz? Buku itu tebeeell tenan! Pake gambar yang menarik pula sehingga harus diliat satu persatu. Untungnya cerita itu dalam bahasa Inggris, jadi yang didongengin nggak ngikut baca, jadi kalo gw korting kata-katanya nggak ada yang ngeh. Paling pertanyaannya: "kok udah dibalik aja? Kan tulisannya banyak." *teler*

Anyway, back to the story, karena si anak nggak mau tidur-tidur juga, si ayah akhirnya ngarang riddle nya sendiri:


Hey Diddle Diddle

Hey diddle diddle, the cat and the fiddle

The cow jumped over the moon

If you don't fall asleep,

I'll run screaming from the room

--

Riddle One

Why did the chicken cross the road?

To go to sleep

--

Riddle Two

Knock-knock.

Who's there?

Bed.

Bed who?

Bedder go to sleep.


:D

View all my reviews.

Sunday, May 10, 2009

What Does Peace Feel Like? -- Vladimir Radunsky

What Does Peace Feel Like? What Does Peace Feel Like? by Vladimir Radunsky


My review

rating: 3 of 5 stars

Peace. What does that word really mean? Ask children from around the world, and this is what they say...


What does peace smell like?

Like a bouquet of flowers in a happy family's living room, like pizza with onions and sausage that just came out of the oven...


What does peace look like?

Like a cat and a dog curled up together in a basket, like new babies just born yesterday...


What does peace sound like?

Like a silent day, like raindrops falling, like no bad words...


What does peace taste like?

Like vanilla ice cream, chocolate ice cream, like sweet, like your favorite food times two...


What does peace feel like?

Like hugs your friends give you when you cry, like someone stroking your back; you shiver a little, but it's a wonderful feeling...


And all the questions were answered by little children from age 8 to age 10, with wonderful illustrations. At the very back cover, the list of words of peace in every language, including in Bahasa: Damai.


View all my reviews.

Metropolis -- Windry Ramadhina

Metropolis Metropolis by Windry Ramadhina



My review

rating: 4 of 5 stars

I really like it!!! bener-bener sukaaa...!

Gw ngebayangin kisah the Godfather ketika membaca buku ini; hubungan antar geng mafia narkotika, persaingan mereka, perebutan wilayah, semua dipaparkan dengan baik oleh Windry. Risetnya pasti gila-gilaan mengingat plot dan jalan cerita yang jauh dari klise. Ceritanya mengalir dengan asik dan tiap muncul karakter baru, diceritain latar belakang si karakter jadi cepet nyambungnya. Alurnya cepat dan enak untuk diikuti.

Gw specially suka sama karakter Bram (hehe, who doesn't) gw ngebayangin dia inspektur polisi yang ganteng (nggak terlalu klimis, please), cool dan pintar, sesuai deh sama kriteria co idaman. Dan asiknya lagi, si Bram ini meskipun terlihat sempurna, dia sebenernya nggak sempurna-sempurna banget. Dia di cap sebagai polisi kotor. But it's okay, I still like him anyway :) Kira-kira bakal ada buku lagi tentang Bram gak ya? *ngarep*

Karakter lainnya di dalam novel ini juga kuat dan masing-masing menonjol dengan porsinya yang pas. Buku ini termasuk salah satu buku yang berhasil membuat gw begadang karena penasaran.

Thumbs up for you Windry!!


View all my reviews.

Friday, May 08, 2009

Sky Burial (Pemakaman Langit) -- Xinran

Sky Burial (Pemakaman Langit) Sky Burial by Xinran


My review

rating: 4 of 5 stars


A beautiful story, beautifully written, and beautifully translated. Rasanya membaca buku ini membawa kita ke alam pegunungan Tibet, serta ikut merasakan kedinginan, kepanasan, dan berbagai musim di sana.

Ketika lembaran terakhir buku ini ditutup, cuma bisa menarik nafas dan mikir: "Kok bisa sih dia nulis cerita sebagus ini?" jadi pengen baca versi english nya, mungkinkah ceritanya akan lebih bagus? Tapi penerjemahannya sangat indah kok, sama sekali tidak mengecewakan.

Anyway, kisah ini dimulai dengan keinginan yang kuat dari Shu Wen untuk mencari suaminya yang baru beberapa minggu menikah dengannya. Kejun, sang suami yang berprofesi sebagai dokter, dikirim ke Tibet untuk membantu tentara pembebasan rakyat yang sedang bertempur. Sebagai warga yang baik tentu saja Kejun menerima penugasan itu.

Tapi kemudian Wen menerima kabar bahwa suaminya meninggal, dan tak ada informasi lain mengenai kematiannya, penyebabnya, dan dimana jasadnya. Wen pun bertekad mencari suaminya ke Tibet. Dengan profesinya sebagai dokter, mudah baginya untuk bisa pergi ke sana dengan pertimbangan keahliannya bisa membantu tentara yang terkena penyakit ketinggian.

Tapi ketika sampai di Tibet, Wen justru terpisah dari kesatuannya, dan berkelana dengan teman barunya. Di sini sempet mikir, kok bisa kesatuannya nggak nyariin dia? Secara dia kan perempuan, masa dibiarkan aja berkeliaran tanpa pengawalan? Apa separah itu keadaan di sana, sehingga menghilang sedikit dianggap mati dan tak perlu dicari?

Anyway, 'petualangan' Wen dalam mencari kekasih sejatinya tidak terhenti setahun-dua tahun, namun berlanjut hingga puluhan tahun. Karena tak mengerti bahasa lokal dan tak mengerti juga daerah yang dilaluinya, Wen jadi harus hidup selama bertahun-tahun dengan sebuah keluarga Nomadik. Di sini diceritakan bagaimana keluarga tersebut hidup tanpa bantuan dari tetangga (secara nomaden gt loh, mana sempet punya tetangga), gimana mereka menjalani praktek poliandri (Ha! ada juga ternyata kan perempuan yang punya suami banyak?), dan kehidupan religius mereka.

Survey yang dilakukan penulis sepertinya sangat mendalam mengenai orang Tibet, sehingga tanpa terasa sudah separo halaman lebih dan Kejun belum ketemu namun bacaan masih terasa asik. Akhirnya misteri kematian Kejun pun terjawab di bab-bab terakhir, dan sumpe deeh terharu banget bacanyaaa. Wen harus cukup puas melampiaskan kerinduan pada sang suami lewat diary Kejun. Dan mengetahui kisah akhirnya dari seorang pertapa tua. Disini baru dijelasin dengan detil tuh apa sih maksudnya pemakaman langit? Yang ternyata memang pemakaman tanpa dikubur yang melibatkan adegan sadis dari burung-burung pemakan bangkai.

Yang sempat bikin penasaran sebenernya justru kisah Zhuoma dan Tiananmen. Sepanjang akhir cerita setelah mereka bertemu Tiananmen, sebenernya ngarep kalo mereka akan nekad melanggar aturan dan kawin lari or something. Tapi ternyata mereka benar-benar religius dan tidak ada dalam benak mereka untuk melakukan hal yang dilarang agama. Luar biasa!

Thanks to Ncing yang udah minjemin buku ini. Kalo gak harus dibalikin pasti udah gw keep ;)

View all my reviews.

The worry tree -- Marianne Musgrove

The Worry Tree (Pohon Cemas) The Worry Tree by Marianne Musgrove



My review

rating: 3 of 5 stars


Lagi-lagi buku tentang betapa sibuk dan repotnya menjadi anak-anak. Di buku The Retired Kid, diceritakan gimana seorang anak bosan menjadi anak-anak dan memilih untuk pensiun dini.

Di buku ini, karakter utamanya merasa cemas. Banyak hal yang dia cemaskan, mulai dari adiknya yang selalu usil, teman-temannya yang menyuruhnya memilih siapa yang terbaik, belum lagi persoalan ayah dan ibunya yang makin lama makin membuatnya lebih dari cemas, belum lagi neneknya yang susah dibilangin (namanya jg uyut-uyut). Pokoknya hidupnya selalu cemas, cemas dan cemas.

Tapi kecemasannya mulai berkurang sejak ia diperkenalkan oleh Sang Uyut ke hewan-hewan yang ada di pohon cemas. Tentu aja nggak ada yang namanya pohon cemas di penjual tanaman hias. Pohon ini adalah lukisan yang dibuat oleh buyutnya dulu dengan hewan-hewan yang bertengger di tiap cabangnya.

Tiap hewan memiliki keahlian khusus untuk menangani kecemasan: masalah keluarga serahkan pada hewan A, cemas masalah sekolah serahkan pada hewan B, begitu seterusnya (maaf, ingatan buruk kalo harus nginget²)

Sebenernya awalnya gw berharap hewan² itu akan hidup dan berbicara pada dia di malam hari ketika yang lain sudah tidur. Jadi semacam teman hayalan deh, tapi bisa buat curhat. Ternyata nggak... sedikit kecewa sih, tapi itu kan gara-gara imajinasi gw aja yang terlalu liar.

Anyway, ternyata kehadiran hewan-hewan ini sangat membantu Juliet untuk menjalani hari-harinya dengan lebih ringan. Ada satu saat ketika Juliet merelakan kamarnya diambil kembali, gw ikut ngerasa sedih... huu huu huu poor Juliet. Tapi tentu saja happy ending is coming, jadi semua baik-baik saja :D

Btw, buku ini diterjemahkan oleh Ninoez, ketua genk narziz. Good one, Noez! :D

View all my reviews.